Malam Membara Bersama Pamanmu
Suaranya gemetar, tapi kali ini tidak seperti getaran yang terakhir kali ia rasakan saat datang ke sini kala berpamitan tak akan pernah kembali.
“Tidak banyak yang ingin aku katakan, hanya aku yang akhirnya masih diberi kesempatan untuk hidup lebih baik, jadi Mama tidak perlu khawatir padaku.”
Senyum Liora itu berhias luka, dari samping Kayden berada, ia bisa merasakan ketidakrelaan yang besar dari caranya bertutur. Kemuraman, kerinduan yang tak ada obatnya.
“Seandainya ada kesempatan, sekali saja agar aku bisa bertemu lagi dengan Mama, aku ingin memeluk Mama lebih erat, lebih lama. Maaf ... untuk tidak ada di saat-saat terakhir Mama yang menyakitkan itu.”