Wiro sang Penakluk
pintanya, suaranya hampir hilang di antara erangan.
Wiro mengangguk, mempercepat sedikit dorongannya secara alami—masih pelan, tapi lebih tegas di ujung, menyentuh titik paling sensitif setiap kali. Jarinya terus menggosok klitoris dengan gerakan melingkar yang lembut tapi konsisten. Beberapa detik kemudian, Cintami mencapai puncak—tubuhnya menegang keras, punggungnya melengkung ke belakang, mulut terbuka lebar tanpa suara dulu, lalu keluar desahan panjang yang serak dan panas, seperti hembusan napas yang tertahan terlalu lama. Dinding dalamnya berdenyut kuat, berulang-ulang, mencengkeram Wiro dengan gelombang-gelombang hangat yang membuat pemuda itu tak bisa menahan lagi.