NINE
Kali ini Tulus.
"Kau hebat, Nina! Hebat!” Pria itu ber-yeah senang, “malaikat maut kecil ini memang dapat diandalkan. Lupakan tradisi ‘The Number’ tentang alfabet, terbunuhnya target jelas lebih penting." Ia tertawa gembira, lalu mengecup dahi iblis kesayangannya, tidak sia-sia latihan yang diberikan sejak dini.
"Untung kau tadi memakai topeng, jadi wajah cantikmu tidak tergores." goda pamannya disambut tawa.
Hot Chapters