Terpaksa Akad
ucap Om Zuan sambil menyodorkan sebuah ponsel miliknya.
“Gak baru sih, tapi masih bagus. Mungkin baru empat atau lima bulanan yang lalu,” ucapnya lagi.
Aku ternganga, benarkah ini bukan mimpi? Aku memiliki ponsel?
“Kamu gak suka? Ya sudah.”
“Zi, suka, Om,” jawabku sambil meraih ponsel tersebut yang hampir dimasukkan dalam saku celananya.
Aku menatap benda yang kupegang, merk ternama tertulis di belakang benda tersebut. Aku mengusap layarnya, membuatku tercengang ketika kulihat gambar wallpaper di benda tersebut.
Hot Chapters