Garis akhir ceritanya benar-benar membuatku melongo. Dalam novelnya, 'Jatuh dalam Permainan Cinta' berakhir dengan nada yang lebih datar dan reflektif: protagonisnya memilih untuk mundur dari romansa yang ideal karena sadar bahwa hubungan itu lebih berupa permainan ego daripada cinta sejati. Ending novel menekankan monolog batin, ingatan masa lalu, dan metafora game yang dibiarkan menggantung—pembaca diajak merenung soal pilihan, kehilangan, dan apa arti kemenangan dalam cinta.
Aku suka bagaimana penulis memberikan ruang untuk ambiguitas; adegan terakhir bukan klimaks dramatis, melainkan sebuah keputusan kecil yang membekas. Karena fokusnya pada psikologi dan detail, subplot seperti persahabatan dan motivasi antagonis dipertahankan sehingga pembaca merasakan beratnya konsekuensi. Sementara itu, film mengubah hal itu menjadi akhir yang lebih tegas: ada adegan rekonsiliasi visual, musik yang mengangkat suasana, dan montase yang memperlihatkan kedua tokoh belajar satu sama lain. Film menutup beberapa subplot demi ritme yang lebih cepat dan menukar refleksi panjang dengan gestur visual—sebuah pelukan, sebuah permainan yang dimenangkan bersama—yang terasa menghibur tapi kurang kompleks.
Jadi, kalau mau merasakan lapisan psikologis dan ambiguitas moral, versi novel lebih kuat. Kalau mencari kepuasan emosional instan dengan payoff visual, versi film memberikan closure yang hangat. Aku tetap terharu oleh keduanya, tapi cara mereka mengakhiri perjalanan cinta itu jelas menunjukkan prioritas medium masing-masing.