DIARY SKIZO
Lalu kembali menemui Mas Ichsan.
"Maas ...." Kusentuh punggungnya. Dia bergeming, "Maas ... kenapa?" Dia hanya menggeleng. Kudekap kepalanya dengan satu lengan sambil menciumi rambut cokelat gelap di sana. Dia memang suka mewarnai rambut dengan warna itu, alasannya, agar kulit putih pucatnya tak terlalu kentara.
"Nangis dah, Mas, nggak papa. Kalau itu bisa bikin kamu lega."