Pernikahan tanpa Bahagia
Di halaman pertama tertulis dengan huruf tegak, “Untuk seseorang yang mengajariku arti tenang.”
Naira membaca tulisan itu pelan, lalu menatap anak muda di depannya. Ada sesuatu dalam tatapan Arga — semacam kesungguhan yang jujur, juga keingintahuan yang belum ternodai.
“Kadang,” katanya pelan, “cerita tidak dimulai dari apa yang ingin kita tulis, tapi dari apa yang tak bisa kita diamkan.”
Arga memandangnya, berpikir lama, lalu berkata, “Aku ingin menulis tentang laut, Bu. Tentang seseorang yang terus kembali ke sana, karena laut menyimpan suara yang tidak bisa didengar siapa pun.”
Hot Chapters