Suami Dadakanku Ternyata Bos Kaya Raya
Aku menggeleng lemah, semua akan kulakukan jika itu bisa menyembuhkan bapak, satu-satunya yang harus kuperjuangkan kebahagiannya kini.
Bapak meraih tanganku, menyerahkan secarik kertas. “Nomor telepon baru bibikmu, bapak mau ngomong,” pintanya.
Aku menatap kertas yang kini telah berada di genggamanku. Jika mengingat dulu kami dihina saat meminta hak kami untuk mengobatkan ibu, rasanya aku enggan menghubungi kerabat bapak lagi. Luka ibu cukup parah saat itu, kami tak memiliki banyak biaya, bapak kesana kemari meminta haknya kepada adik-adiknya, tetapi sedikit pun mereka tak pernah merasa iba. Mas Danu datang membawa uang, tetapi ibu tak dapat tertolong.
Hot Chapters