Ada sesuatu yang bikin aku selalu penasaran sama ending 'Pertama Sakit'—gimana sih akhirnya kisah cinta yang awalnya berdarah-darah itu? Setelah ngejar ceritanya sampe bab-bab terakhir, ternyata endingnya cukup realistis. Karakter utamanya, yang sempat terjerat toxic relationship, akhirnya memutuskan untuk move on dan belajar mencintai diri sendiri. Pengarangnya nggak ngasih ending cliché kayak balikan atau hidup bahagia selamanya, tapi lebih ke proses penyembuhan. Adegan terakhirnya malah bikin terharu, pas tokoh utamanya berdiri di depan cermin sambil tersenyum kecil, tanda dia mulai pulih.
Yang keren dari cerita ini adalah pesannya tentang self-worth. Meskipun judulnya 'Pertama Sakit', endingnya justru tentang 'pertama sembuh'. Aku suka cara pengarangnya nggak glamorize toxic relationship, tapi malah ngasih ruang buat pembaca buat refleksi. Cocok banget buat yang pernah ngerasain hubungan nggak sehat dan butuh reminder bahwa melepaskan itu oke.