PUTRI YANG TERTUKAR
“Inez Valeria, I can no longer feign indifference, nor conceal that which dwelleth within my breast. Thou art my rest, my longing, my fear. Wilt thou be my woman?”
(Inez Valeria, aku tak lagi mampu berpura-pura tak peduli ataupun menyembunyikan apa yang berdiam dalam dadaku. Kau adalah ketenanganku, kerinduanku, juga ketakutanku. Maukah kau menjadi wanitaku?)
Inez mengerjap, tangannya gemetar. .
.
.
.
Noted:
Dear, my whole readers, terima kasih ya yang masih stand by baca Novel Putri Yang Tertukar hingga bab ini. Dan, aku juga mengucapkan selamat datang kepada pembaca baru. Semoga kalian terhibur dengan ceritanya ya.
الفصول الرائجة