DIPTA
Ia tidak bertanya langsung, hanya memperhatikan.
“Kamu capek?”, tanyanya akhirnya, suaranya rendah tapi jelas.
Aira menggeleng kecil. “Enggak.” Ia menatap papan petunjuk keluar seolah mencari alasan lain. “Cuma… nggak kerasa aja.”
“Nggak kerasa apa?”, tanya Dipta.
“Harinya.”, jawab Aira singkat.
Dipta memperhatikannya lebih lama dari biasanya. Ada jeda yang sengaja ia biarkan menggantung. “Hari yang nggak kerasa itu biasanya berarti kamu menikmati”, katanya pelan.
Hot Chapters