Cinta Habis Tanpa Bekas
Dia menepuk bahu gadis itu dengan gerakan yang sangat menenangkan, lalu menatapku dengan nada tak berdaya sambil berkata, "Inge, dia masih muda, belum ngerti apa-apa."
Muda?
Umurnya sudah dua puluh lima, masih bisa dibilang muda?
Mataku terasa hangat, aku tersenyum sinis.
"Yohan, waktu aku umur dua puluh lima, aku udah berjuang di dunia kerja, cari uang untuk biayain kuliahmu. Setiap hari aku berangkat pagi dan pulang larut. Kerja sampai kewalahan demi revisi proposal, rambutku sampai rontok banyak sekali. Waktu itu, kenapa kamu nggak pernah merasa kasihan dan bilang aku masih muda?"
Hot Chapters