Pembantu Pemuas Nafsu Sang Majikan
Tatapannya menurun, ke arah bibir Ariana yang tampak bergetar menanti.
“Kau sadar,” katanya pelan, “semakin hari kau membuatku sulit membedakan antara keinginan dan kebutuhan.”
Ariana menelan ludahnya, berusaha tetap tenang meski jantungnya berdetak cepat.
“Bukankah itu hal yang sama?” tanyanya dengan suara lembutnya.
Jason menggeleng dengan pelan. “Tidak,” katanya dengan suara rendah. “Keinginan bisa kutahan. Tapi kebutuhan, itu membuatku kehilangan kendali.”