FAZER LOGINRhea adalah wanita yang dikenal dengan sebutan gadis besi. Dengan kelayakan keluarga serta bakatnya, dia menjadi wanita sombong dan tidak ramah. Reputasi buruknya telah menyebar ke seluruh penjuru kota, membuat para pelamarnya mengundurkan diri. Rhea tidak peduli akan reputasinya. Dia memiliki calon suami yang setia, mereka akan memiliki kehidupan yang bahagia setelah pernikahan. Itu sebelum selingkuhan calon suaminya menampilkan diri di hari pernikahan mereka dan membuat drama. Rhea memutuskan pacarnya saat itu juga. Hanya saja pernikahan harus berjalan. Dia membutuhkan mempelai dan dengan putus asa, Rhea mengumumkan putusan. "Siapapun pria layak yang berani maju kedepan mendatangiku, aku akan menikahinya sekarang juga!" Tak disangka seorang pria yang duduk di barisan paling akhir berdiri dan berjalan kedepan untuk mengajukan diri. "Saya Hansa Adiwinata. CEO grup Prisma. Lajang. Umur 32 tahun. Apakah saya bernilai di mata anda?" Semua orang melotot tidak percaya. Bujangan yang diinginkan nomor satu, pria yang terkenal berperangai dingin, kejam, dan tak berperasaan, petinggi perusahaan raksasa yang menguasai berbagai lapisan industri, dan pria itu sekarang tengah menawarkan dirinya sendiri pada wanita bereputasi rendah di kota. Setelah pernikahan, Rhea menyerahkan surat perjanjian cerai di hadapan Hansa. "Mari berpura-pura menikah selama satu tahun lalu berpisah dengan baik-baik." Hansa menatap kertas tersebut dan tersenyum manis kepadanya. "Cerai? Jangan bermimpi wanita, kamu akan menjadi istriku selamanya."
Ver mais“Faster!”
Halos madapa na ako sa pagtakbo ko nang sumigaw na si Rome. Hindi ko sinasadyang manakit ang paa ko dahil sa heels na suot-suot ko. Ang bibigat pa ng mga box of bondpaper na pinabuhat niya. “Aren’t you having breakfast?!” he faced me irritably. “I feed you well at my house and then you’re going slow like a snail?!” “Sir, hindi na po kaya ng paa ko,” may pakiusap kong sabi at pinarinig ko ang pagod na pagod kong paghinga. Napalunok ako nang sunod-sunod nang bigla siyang tumigil at ilang segundo na ang nakakalipas hindi niya pa rin ako hinaharap. Nang humarap siya halos gusto ko nang magpalamon sa sahig dahil sa sama ng kanyang tingin. Nag-iwas ako nang tingin at mas niyakap ang mga buhat-buhat kong kahon. “Sa mundo ng kumpanyang ‘to, walang sino man ang humarap sa akin na nagrereklamo at pagod na pagod. Kung gusto mo nang umuwi, lumayas ka rito.” Madiin niyang sabi. “Hindi ko pinupulot ang mga perang pinapasweldo ko sa inyo. Nagtatrabaho ako ng maayos at sinasakripisyo ko ang pagod ko kahit wala na akong tulog. How dare you complain? Ganyan ba talaga ang gusto mo, ang makaramdam na masarap na buhay na walang ginagawang mabibigat na trabaho sa mismong workplace mo?” Huhu! Galit na naman siya... Umiling ako ng dahan-dahan. “Hindi ako aalis sa trabaho ko, sir,” determinadong sabi ko. “Sorry po, hindi na mauulit,” humina ang boses ko. “Then, good. Pakibilisan dahil kakailangan ko ‘yan para sa printing. Sinabihan na kita n’ong una pa lang, ‘di ba? Ayoko ko nang mabagal, ayoko nang tatanga-tanga.” Tinalikuran niya ako nang basta-basta kaya patakbo ko siyang hinabol. Muntikan pa akong masubsob nang matapilok nang bahagya ang suot-suot ko na heels. Jusko! Kailangan ko lang talagang pagtiisan lahat-lahat nang nararanasan ko ngayon para sa lalaking mahal ko. Hiyang-hiya ako sa mga kasama ko sa trabaho nang madaanan ko sila sa kanya-kanya nilang counter, pero ang mahalaga ay hindi ako malayo kay Rome na napakabilis ang lakad. Mayroon pa ngang gustong lumapit sa akin para tulungan ako pero takot na takot sila sa pamatay na tingin pa lang ni Rome. Alam ko na madali kay Rome ang magtanggal ng mga empleyado kaya nangangamba rin ang iba at wala silang ibang choice kundi hayaan at panoorin na lang akong nakasunod kay Rome. Sa wakas at nakarating na kami sa ikalawang office niya sa first floor kaya kaagad kong binitawan ang mga box ng mga bondpaper at naupo agad sa couch. Huminga ako nang malalim at pinunasan ang tagaktak kong pawis sa leeg ko. “Did I allow you to plop yourself at the couch?” Baritonong tanong ni Rome kaya’t mabilis pa sa alas-kwatro akong tumayo. Pinunas ko ang mga kamay ko sa skirt ko. “May i-uutos pa po ba kayo, sir?” Pinilit ko pa ring ngumiti kahit ang lakas lakas ng tibok ng puso ko sa pagod. “Oo. Anyway, I didn’t notice that I still have a lot of bondpapers here. Pakibalik na ang mga ‘yan sa office,” kaswal niyang utos na para bang hindi niya ako nakita na halos mamatay na sa pagod sa pagbubuhat ng mga bond papers. Napaawang ang bibig ko sa sinabi niya. Seryoso ba siya?! “P-Po?” Pagkaklaro ko at nagbabaka sakaling nagkamali lang ako ng pandinig. “Bingi ka ba? I told you I don’t want to repeat what I already said! Iniinis mo ba ako?” Kinabog niya ang table office niya kaya umiling ako ng ilang beses. “Pwedeng magpahinga muna?” napakahawak ako sa mga tuhod ko at huminga ng malalim. “Please po?” “No. After you get that things back from my office, you get me a coffee and a piece of cake, also clean my office too since I can perfectly see the tiny dirts every inch of my office. Understand, Faye?” Gusto ko na lang biglang magresign dahil sa sinabi niya. Seryoso ba talaga siya sa inuutos niya? Naiiyak na ako rito oh. “BILIS!” Napatalon ako sa gulat. “Yes po!” Patakbo akong lumabas at napahawak sa pader. Napapikit ako ng mariin at pinigilan ang pagngawa ko. Sobra ka talaga, Rome! “Kung hindi lang talaga kita mahal hindi ako magiging sunod-sunuran sa ‘yo,” naiiyak kong sabi at pumasok ulit sa office para kunin ang mga bond papers. Pero dahil love kita, lahat pagtitiisan ko para lang mapatunayan ko na sincere ‘yung love ko sa ‘yo.Rhea menatap dirinya di cermin. Jelas dia sedang tidak dalam keadaan baik. Rambutnya kusut karena ia sendiri lupa kapan menyisir rambut. Pelupuk matanya sedikit bengkak karena habis menangis satu malam. Rhea tidak menyukai tampilannya.Dia melewatkan sarapan bersama pagi ini karena ingin menghindari ibunya. Dia juga akan keluar rumah hari ini, pergi ke tempat baru yang akan ia tuju mengikuti seberapa jauh dia bisa mengendarai mobilnya. Sendirian, tanpa memberitahu Kay atau siapapun. Dia ingin menghilang sejenak, menenangkan diri, dan berpikir mengenai masa depannya yang baru.Dia memakai jaket dengan kaos putih dibaliknya dan ripped jeans yang ia beli beberapa tahun yang lalu yang untungnya masih muat. Dia memakai pakaian yang seadanya yang masih tertinggal di lemarinya.Ketika dia keluar, dia berpapasan dengan Eda.Adiknya bertanya, "Mau kemana?""Pergi." Balasnya singkat.Eda menatapnya selama beberapa detik sebelum mengangguk, lalu pergi.
Dua hari setelah dia bangun dari koma dan dinyatakan sehat, dia akhirnya bisa meninggalkan rumah sakit. Rhea senang dengan hal itu karena dia tidak menyukai berlama-lama tinggal di ruangan dengan alat-alat kesehatan dan bau obat yang menguar di setiap dindingnya.Berbeda dengan sikap penuh bunga yang ditampilkan Rhea. Christina menampilkan aura sebaliknya. Bukan karena dia tidak suka anaknya sembuh, Christina bahkan hampir gila ketika menunggui Rhea agar terbangun dari komanya yang berjalan selama sepuluh hari. Hanya saja, dia sebal dan ingin mulutnya gatal untuk memarahi anak sulungnya itu yang sekarang duduk di kursi belakang mobil suaminya dengan Edward disampingnya.Rhea tidak seharusnya pulang kerumahnya. Dia harusnya pulang bersama Hansa, bukan bersama mereka.Christina sebagai ibu sudah menyadari hubungan Rhea dengan suaminya sedang kisruh alias tidak sedang baik-baik saja. Itu membuatnya bingung, dia hanya tidak mengerti jalan pikiran anaknya yang sepert
Hansa seketika mematung. Dia sangat terkejut dengan perkataan Rhea yang tiba-tiba mengungkit soal perceraian. Tangannya berhenti bergerak dan dia menatap Rhea yang sekarang tengah memalingkan muka dan menolak menatapnya.Kedua mertuanya yang berdiri disampingnya juga sangat terkejut atas perkataan Rhea. Bagaimana tidak? Kalimat pertama yang diucapkan Rhea selepas terbangun dari komanya adalah meminta perceraian didepan suaminya yang merawatnya dengan baik ketika dia tenggelam dalam koma."Rhea, apa kau sadar apa yang kau katakan?" Christina bertanya dengan penuh kehati-hatian. Dia melirik menantunya yang wajahnya langsung berubah drastis dari kebahagiaan menjadi penuh tanda tanya.Rhea menolak untuk melihat mereka. Matanya menunduk dan lebih memilih melihat selang infus yang menyalurkan nutrisi ke tubuhnya."Kalian keluar saja. Aku ingin sendirian bersama Hansa." Ucapnya enggan.Christina ingin mendebat namun tangan Theodorus yang menyentuh bahunya
Rhea terduduk saking tidak bisa berdirinya dia setelah mengetahui akhir kisah dari Sekar yang ada dalam mimpinya. Itu bukan kisah yang akan dia harapkan. Rhea tidak pernah menebak Sekar akan berakhir mati di tangan Arya, juga tidak pernah menebak kehidupan pernikahan Sekar akan lebih sering terselimuti duri dibanding bahagia.Tanpa sadar air mata telah mengalir dari kedua matanya yang ia tujukan kepada Sekar yang masih duduk didepannya."Sekarang kamu telah tahu ceritaku." Sekar menatap Rhea dengan pandangan yang tak terbaca.Itu membuat Rhea semakin tidak mengerti kenapa dia harus memiliki pengalaman seperti ini. Dia sendiri tidak tahu dia masih hidup atau mati, dan sekarang dia sedang berhadapan dengan tokoh di mimpinya. Rasa-rasanya Rhea sudah tahu seperti apa keterkaitan antara mereka berdua tetapi dia mencoba untuk tidak berpikir kearah itu."Jatuh cinta membuat kita bodoh bukan?" Tanya Sekar, melanjutkan kisahnya dengan
Tepat hari minggu pertama sejak istana berduka atas kematian permaisuri, alun-alun kota ramai dengan berbagai kalangan yang kesemuanya punya satu tujuan. Melihat perang tanding antara rajanya dengan patihnya hingga salah satu diantara mereka mati.Mereka semua sudah tahu mengenai beri
Arya langsung melepaskan gagang pedangnya. Seluruh tubuhnya gemetar ketika menyadari apa yang baru saja ia lakukan."Tidak," bisiknya.Dia terduduk lemas ditanah. Matanya menatap siapa yang ia hunus dengan pandangan tidak percaya.Ini semua tidak ada dalam rencananya.
Sekar jelas-jelas sangat terkejut dan tersinggung dengan tuduhan yang Ayushita arahkan kepadanya. Bagaimana tidak? Dia tidak peduli dan sama sekali tidak ikut campur dengan kehamilan Ayushita sejak awal. Jika bukan karena adat pun dia tak akan mengunjungi selir itu. Kemarin pun dia datang hanya u
Bulan-bulan berlalu seperti lintasan sekejap mata. Kediaman Sekar masih tertutup dan tampak terlihat dingin dibanding rumah-rumah lainnya. Dia lebih suka tinggal di pendopo belakang rumahnya sambil menyesap teh dan melihat senja berakhir.Hubungannya dengan Ayudhipa masih renggang, sesekali


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
avaliações