Mag-log inHubungan Pradipta dan Linggar, menyentuh angka tujuh tahun digadang-gadang akan naik ke pelaminan sesuai dengan hasil kesepakatan. Sayangnya, tepat di hari H pernikahan terdengar kabar lain yang mengejutkan keluarga dan berujung pernikahan akan digagalkan. Tepat satu jam sebelum acara Gendhis datang dengan berita bahwa dirinya telah tidak perawan akibat direnggut oleh calon suami adik sepupunya sendiri. Berita ini membuat Linggar mengambil keputusan singkat, membatalkan acara pernikahan dengan Pradipta. Kepalang malu, akhirnya keluarga pun mencari solusi lain dengan mencari pria pengganti. Akhirnya Pramudita yang maju menikahi Linggar. Mereka saling tidak kenal satu sama lain. Hingga akhirnya Pramudita memberikan kontrak pernikahan ke Linggar. Akankah Linggar menyetujui kontrak pernikahan tersebut? Bagaimana kelanjutan pernikahan mereka?
view moreChapter One
The wind howled violently as Grey stared outside his window, people could be seen running Helter skelter to seek for shelter from the violent wind, thunder suddenly struck to warn those underneath the earth that it would rain violently soon. The fierce resound of thunderstorms was heard and then the heavens seemed to pour down their anger in form of rain. Grey frowned as he saw some familiar figures trying to find shelter where he was.He snickered and walked out of the building he was in."Let's go!" A man who seems to be the leader yelled to those who followed him.Grey shook his head and growled."Where do you think you're going?" He thundered angrily, his voice rhyming with the resounding thunder.The people froze as his eyes scanned all those who were present. Grey hissed as he seethed in anger, they were all drenched by the rain which now poured down on him as well."We seek shelter here, after all you were the one who asked for our presence." The man replied.Grey stared daggers at him and the man instantly regretted his bravery. He sucked in air into his lungs and clenched his fists angrily, it took all his willpower not to melt out his frustrations on the werewolves you stood before him."Get out of the pack." He ordered.Murmurs and gasps escaped from the lips of all who where there, was their alpha playing a prank on them? But it was raining heavily and he was known not to only be cold-hearted but also vicious and unforgiving, the chances of his joking with them were slim but why would he chase them out of the pack."Noah , we don't understand what you mean." The man spoke up again, trying to clarify things.Grey cast a disgusted look at him."Did I stutter?" Grey asked sarcastically."No, but I.... We, but why?" The man asked curiously.It was out of the blues, it was even unimaginable. They had lived their entire lives in the pack, though Grey had been alpha not for long yet they had grown to love and respect him, they were scared of him as well but only because his means of eliminating his enemies were ruthless. He had earlier called all omegas to the pack that evening and they honored his invitation.Though the sky darkened as it was pregnant with dark clouds yet the Alpha's call was not one to be ignored even if it was raining brimstone and fire, getting there; they were delayed for half an hour and then the rain began to fall heavily hence they sought shelter in the huge pack castle but was stopped by the Alpha himself.Their initial thoughts was that he wanted to assign them a mission, no one was sure of he reason behind his sudden actions but they were curious to know what it was but here he was standing before them and expelling them from the pack, wasn't that weird? Was he trying to test their resilience?One of the omegas came forward and went on his knees."Alpha, we beg of you, if this is a test then do tell us and ease us of this anxiety of ours, what do you mean by telling us to leave the pack? Are we to go hunting or a mission? Is this a job for all omegas?" Gareth; a prominent omega asked.The answers from the crowd showed that they supported his questions and they looked longingly at their Alpha to respond, though the rain began fierce yet he raging storm inside of them after being abruptly told to vacate the pack was fiercer, one had to naturally bow to the other.Grey felt his blood boil as he stared at their faces, the rain seemed to wash down every year of his hence it was invincible. How dare they ask of their offence? Didn't they know they were doomed just because they were omegas?"You all are banned from the pack, you are to never step foot in here else you'd have yourself to be blamed." Grey said dismissively and turned to leave ignoring their loud protest.He suddenly paused as he felt a weight pull him down, he looked down to see a girl clenching to his legs and crying out loud."Please Noah, don't do this to us! Where would we go? Where would we start from? We were all born into this pack, our ancestors died in this pack as well. How grave is our offense that it is only punishable by expelling us from our family? We've built our entire life here. We'd rather die on this soil than wander the face of the Earth like some criminal or rogue. Have mercy on us." The girl cried.I scoffed."Mercy? You're only alive because I had mercy on you, by daybreak I don't want to see you, your family, relatives or anything related to you in my pack hence you'd die the most gruesome death ever known and I'd have your carcass fed to the animals of the wild." Grey spat out venomously and made to leave but she still clung to his legs.He growled and yanked her away which sent her dozens of meters away, he turned to go and didn't look back, he paid a deaf ear to all their pleas, cries sobs and shouts of pain and agony as the guards fought whoever defied his orders, there was no going back. He went back inside and watched how the guards dealt with the recalcitrant one and a large number of them died in the process.Grey got bored of seeing the useless scene and proceeded into his chamber, the penalty he them was nothing compared to the pain they made him go through. The screams still managed to surpass the thunder and Grey somehow managed to fall asleep though it took longer than usual, and slowly the noise dissipated."Kamu, kenapa senyam-senyum sendirian?" Wanita itu tampak tertawa, menatap wajah teman pria yang sedang tersenyum memegang ponsel di tangan. "Apa yang kamu lihat?" lanjutnya.Pria itu berdehem, wajahnya sumringah, kebahagiaan memancar begitu kental. Tidak ada keraguan sedikit saja. Ia memperlihatkan foto itu ke teman wanitanya, membuat tawa itu sirna dari garis wajahnya."Sudah lama aku suka sama dia, sayangnya aku tidak berani untuk mengungkapkan perasaan ini. Sepertinya selama ini pun dia hanya menganggap aku sebagai teman biasa saja. Menurut kamu bagaimana?" Pria itu menoleh.Kerutan di dahinya tampak semakin jelas. "Kamu kenapa cemberut? Apa kamu nggak suka aku ada perasaan sama dia?"Wanita itu menggelengkan kepalanya kuat, kemudian memunculkan senyuman penuh dengan kehangatan. "Siapa bilang? Aku bahagia sekali!""Apa saja yang sahabat aku lakukan, pasti aku bahagia!" Wanita itu bersorak dengan mengepalkan tangan ke depan."Terima kasih, Rim. Kamu tahu tidak bagaimana cara mende
"Aku dengar, kamu sempat menikah. Lalu, kenapa sekarang kamu ada di sini?" Wanita dengan rambut cokelat gelap itu menoleh, mengerutkan dahinya.Pria itu membuang napas, wajahnya tampak seperti tak ingin membahas permasalahan tersebut. Sayangnya, wanita itu bertanya lebih detail mau tak mau harus ia jelaskan lebih detail. Tidak mungkin ia biarkan wanita cantik yang beberapa bulan terakhir ini mengisi harinya menunggu lebih lama lagi."Dari siapa?" "Bukankah seharusnya kamu menikah dengan temanku, mengapa bisa bertukar menjadi kakakmu? Aku menunggu penjelasan darimu," jawabnya.Pradipta termenung sesaat, ia membenarkan jaket bulu tebal yang membungkus tubuhnya. Pandangan mata lurus menatap danau di hadapannya. Bibirnya tampak kelu untuk memberikan penjelasan lebih sebenarnya, hanya saja ia tidak ingin membuat wanita itu semakin bertanya-tanya.Wanita itu membuang napas, kemudian menundukkan wajahnya. "Mungkin pertanyaanku terlalu sensitif untukmu, tidak masalah jika kamu tidak ingin me
Linggar dan Pramudita dianugerahi anak laki-laki yang sehat dan tampan. Kelahiran putra pertama mereka disambut hangat dan sukacita oleh kakek dan neneknya dari keluarga Linggar dan juga Pramudita, maklum saja dia adalah cucu pertama mereka. Abimanyu, nama sapaan si ganteng keturunan Pramudita.Wajah Abimanyu tampan seperti ayahnya sayangnya sikap dan perilaku menurun dari ibunya. Ibarat kata Abimanyu adalah Linggar versi laki-laki. Terkadang bisa teramat cerewet layaknya anak perempuan pada umumnya. Tapi, di usianya yang menginjak empat tahun ini banyak progres dari pertumbuhannya.Bahkan Abimanyu gemar membaca buku tentang IPA dan Matematika, membuat Linggar takut jika anaknya terlalu cepat dari anak-anak sebayanya. Apa lagi Abimanyu juga belum ikut paud, masih belajar atau tidak bersama dirinya. Tapi kecerdasan yang dimiliki Abimanyu sudah melebihi seusianya, antara sedih dan senang Linggar malah bingung sendiri. Ia takut jika kelebihan yang anaknya miliki adalah sebuah beban di ke
7 bulan kemudian.Linggar yang sedang hamil tidak bisa menahan nasabnya untuk ngemil. Setelah melewati masa tiga bulan yang penuh beban seperti sering muntah, tidak bisa makan apa pun kecuali bubur dan sering lemas di pagi hari, menginjak bulan keempat dan hingga sekarang, bulan ketujuh kandungannya membaik. Berbagai makanan mulai dari rujak sampai camilan ingin ia coba semua kecuali olahan dari susu sapi, iya mual tiap kali mencium bau susu. Kehamilannya justru membuat Pramudita senang, karena setiap pulang kerja selalu ada makanan yang diminta untuk dibelikan.Selama hamil ia juga merasa perlu badan cantik dan wangi, iya juga tidak suka parfum miliknya dan lebih suka menggunakan parfum milik sang suami. Alhasil, beberapa deret parfum yang telah ia beli isi botolnya masih terisi penuh. Berbeda dengan milik Pramudita yang tersisa hanya seperempat botol saja setiap minggunya."Mas Pram mana sih, kok nggak pulang-pulang." Linggar kembali menggerutu dengan memangku satu toples keripik si
Dahi semakin mengerut di kulitnya yang tidak lagi kencang, tampak bagaimana raut wajahnya cukup khawatir. Ia takut jika apa yang direncanakan berakhir kegagalan. Sejak pagi, ia memilih menyendiri dan merenung di taman belakang. Sembari memandang tanaman hijau di depannya. Awan hitam menggumpal, sebe
"Urus urusanmu sendiri," tegas pria yang tengah sibuk memakai jam tangannya. Rahangnya tampak tegas, tidak terlalu peduli dengan ratapan melas dari sang istri. Ia malah enggan menoleh, bahkan tatapannya lurus dan tajam. Wanita itu berjalan mendekat, berupaya menggoda dan merayu sang suami. Meski ber
"Bagaimana ini, Jodi? Mas Pramudita pasti akan berbuat sesuatu. Aku yakin Mas Pram tidak akan tinggal diam begitu saja, Jodi. Apa yang harus aku lakukan? Mas Dipta belum tentu membela aku," ucap Gendhis.Tubuh Jodi bersandar di kursi, rambutnya di atas telinga dan tidak terawat. Ia menyugar rambutnya
"Kamu pergi ke sana saja, Mas, sendiri ya? Aku nggak mungkin ikut kamu," ucap Linggar di bawah gulungan selimut.Hanya wajahnya yang terlihat, seluruh tubuhnya terbalut dengan selimut tebal. Hidungnya memerah. Bahkan matanya pun turut memerah dan berair. Sejak subuh, tubuhnya panas dan menggigil.Ling












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu