登入Dua puluh tahun Fadly mencari istrinya. Akhirnya, ia menemukan wanita itu di sebuah rumah sakit jiwa. Menurut pengakuan, sebelum dibawa ke rumah sakit itu, dia terlebih dahulu diperkosa. Dina namanya, bahkan selama di rumah sakit itu dia sempat melahirkan seorang bayi yang disangkakan oleh pihak rumah sakit adalah bayi hasil pemerkosaan. Dengan mengambil keputusan, bayi itu di titipan di sebuah panti karena tidak ada yang bisa mengasuh. Fadly yakin bayi yang dilahirkan Dina adalah anaknya sebab saat memutuskan pergi dari rumah, sang istri meninggalkan sepucuk surat yang mengabarkan bahwa dirinya sedang hamil. Akankah Fadly bisa menemukan kembali anaknya?
查看更多[Vivienne]
The dinner at the table turned cold an hour ago but no sign of Caden.
I check the time on the wall clock for the hundredth time perhaps, and try to suppress the hurt that once again rises to the surface like an angry volcano beneath my chest.
It’s our third anniversary, and it’s almost midnight now, but like every single day in the past three years, he’s late as usual.
I don’t know why I even try. My husband has dismissed me, rejected my efforts, and broken my heart so many times in the past, one would think I would have learned my lesson.
But unfortunately, I have been cursed to be always hopeful.
“Madam, should I reheat the dinner?” The head maid asks, pulling me out of my thoughts.
I suck in the hurt and wipe away the tears from my eyes, not wanting to look as devastated as I feel.
I smile at her like I always do.
“No. That won’t be necessary,” I say and get up from the chair, pretending to yawn, hoping to look tired. “I think Caden got caught up in the meeting again,” because that happens so often that now it has become the best excuse of my life. “You can clean the table and leave when you’re done.”
I start to leave when she speaks again. “And what about the cake? Should I—?
Before she gets to finish, a tear finally rolls down my face. I’m just glad with my back turned to her, she can’t see how miserable I feel right now. “Distribute it among the staff. It’s been a long, tiring day for all of us. Let them treat themselves.”
Doesn’t matter the fact that I baked the cake myself, that I spent almost my whole day preparing for the dinner and the celebration after. Nothing matters anymore.
I head upstairs to my room, wanting to get rid of the red gown I wore for the occasion. It wasn’t myfavourite color, but back in time when we dated for a few weeks, he once complimented me during one of our dates, saying that red looked good on me. It brought my hazel eyes out.
At that time, I was the girl over the moon at his words. I thought no one was more beautiful than me, luckier than me, fortunate than me.
I was wrong.
I discard the dress on the couch and walk into the bathroom to get fresh. By the time I return, my phone is already crying for my attention. With a strength that I no longer feel in my bones, I somehow drag myself to where I left it on the bed and almost frown at the name that flashes on the screen,
Samuel: Wanna see what Caden’s up to tonight?
Not again, I think.
Samuel is Caden’s older brother and although he’s nice to me and all, I don’t like the way he talks about Caden. He’s always trying to paint a bad picture of my husband in front of my eyes, always trying to prove how I do not deserve him, how Caden hasn’t moved on from his first love—Astrid—and still meets with her behind my back, and how everything I do for my husband is nothing but a waste of my time.
The truth is he’s right. And I know that because at the time we got married, Caden made it pretty clear that Astrid holds a special place in his heart and that no matter what happens between us, no matter how long we stay in this marriage, nothing I do would change that fact ever.
I scoff at my stupid heart, because even though deep down I always knew he would never love me like he loved Astrid, I still stupidly acted like a lovesick puppy around him.
I tap on the screen and the text message opens with a picture on display. A screenshot of a News channel, showing my husband walking to an after-party with a blonde woman in his arm.
Not only is my husband glued to the hip of that woman, but they also seem to be sharing a passionate kiss.
On the lips.
What the fuck?
I throw the phone away and slump on the bed, crying my heart out.
I don’t even know for how long I stay like that, curled up in myself, that when the next time I open my eyes, I feel a little disoriented.
I feel warm hands on my body, and someone whispering hot breath next to my ear.
It takes me a moment to catch up with what’s going on around me and another moment to realize that it’s not a dream.
Caden yanks at the strings of my night dress, revealing my breasts to him. Without wasting any time, he latches his mouth on one of my nipples, while pinching the other one roughly.
I hiss in pain. “Caden—” I say, my voice hoarse from crying.
Aku memandangi jas putih yang biasa digunakan suamiku saat bertugas. Dia sangat tampan ketika memakai jas ini. Menjadi istri dari seorang dokter, sungguh tak pernah ada dalam khayalan. Terlahir di panti asuhan, dirawat oleh wanita buta. Memiliki kedua orang tua utuh saja aku tak pernah mau membayangkan. Tapi ternyata, rahmat Allah itu pasti. Kebahagiaan buah kesabaran selama ini sempurna kurasakan sekarang.Tiga bulan sudah pernikahanku dengan Mas Fandy, tak satu kalipun dia membuat perasaan ini terluka. Dia benar-benar suami idaman. Lembut perangainya, santun suaranya bahkan setiap perlakuannya membuatku selalu merindui dan berharap ia cepat-cepat sampai ke rumah. Meski pada kenyataannya semua itu tak mungkin terjadi. Sebab sebagai seorang dokter, dia cukup sibuk dengan segala kerjaannya.Lebih sering sampai di rumah saat matahari sudah hampir tenggelam. Belum lagi kalau kena dinas malam, aku terpaksa tidur bertemankan bantal. Tapi yah sudah resiko menjadi istri seorang dokter. Mau t
Jika aku tahu, pertemuan itu adalah untuk kesempatan terakhir kita bertemu. Aku berjanji tidak akan beranjak, sekalipun di sana, pengantin lelakiku sudah menunggu. Maafkan anakmu, Mama.***Mas Sabri keluar dari kamar mandi, tubuhnya masih mengenakan kemeja lengan panjang. Dengan wajah yang tampak basah, lelaki itu berhasil membuat degup jantung ini berpacu kencang. Dia berjalan mendekatiku yang hendak membuka berbagai aksesoris di kepala.Mas Sabri menatap wajahku dari pantulan kaca cermin. Kedua tangannya diletakkan pada pundak. Sungguh, sesuatu semakin bergelenyar aneh di dalam dada."Biar Mas bantu."Cekatan tangan Mas Sabri memindahkan mahkota yang ada di puncak kepala. Sambil terus menatap di cermin.Lalu dia sedikit menekuk dan membalikkan posisi dudukku. Mas Sabri mengajak berdiri.Tatapan kami bertemu. Mas Sabri meminta ijin membuka khimar yang kugunakan. Dia menghela napas sesaat setelah penutup jilbab itu berhasil lepas dari kepala ini."Pertama kali lihat bidadari sedeka
"Kita jalan-jalannya naik motor aja mau nggak?"Mas Fandy bertanya setelah kami kembali ke kamar. Sehabis menikmati makan malam bersama. Kami juga baru selesai melaksanakan shalat isya berjamaah."Em, boleh juga Mas.""Asyik. Yuk ah pergi."Seketika Mas Fandy menggandeng tanganku. Membuat diri ini terhenyak dan menatapnya sejenak."Lo kenapa, 'kan udah halal. Seperti ini pun boleh."Tangan Mas Fandy yang tadinya memegang lenganku kini berpindah ke pundak. Aku hanya tersenyum, aneh jika menolak. Sebab benar kata Mas Fandy, kami sekarang sudah halal. Apapun itu boleh, kecuali yang satu itu. Belum siappp ...Kami melangkahkan kaki bersamaan, menuruni tangga namun terhalangi oleh papa dan mama."Lo pengantin baru mau kemana malam-malam?"Aku meremas jemari, ini semua ide konyol Mas Fandy. Harusnya kami di kamar saja, nonton mungkin atau tidur barangkali. Ck! Mbak Mira sama Mas Sabri aja stay di kamar."Kami mau cari angin segar, Pa. Em, pengen jalan-jalan keliling Magelang sama Sabrina.
"Duduknya dekat lagi, Mbak."Kugeser posisi duduk mendekati Mas Fandy, sesuai instruksi dari photografer. Rasa bahagia bercampur haru menyeruak di dalam dada. Ya Allah, inilah hari yang paling kutunggu-tunggu seumur hidup. Memandanginya tanpa takut dosa, menyentuh kulitnya tanpa takut dilaknat malaikat. Serta yang paling tak bisa kubayangkan, sebuah kecupan kening untuk pertama kalinya juga kurasakan di hari ini."Ditahan dulu ya Mas posisinya."Ucapan itu didengungkan oleh sang fotografer saat bibir Mas Fandi menyentuh keningku. Bisa kalian bayangkan gimana rasanya? Saat benda kenyal berwarna ranum itu sedang mengecup penuh keromantisan, namun seseorang justru meminta agar perlakuan tersebut dipertahankan. Seketika suasana romantis digantikan oleh kecanggungan.Mas Fandy menarik wajahnya lalu kami saling terkekeh."Yah Mas, tadi hasil fotonya kurang bagus. Yuk sekali lagi."Sang fotografer kembali menyemangati. Sedang di sekeliling, sanak keluarga termasuk Mira Dan Mas Sabri menan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
評論