MasukBerbakti terhadap orang tua adalah keinginan setiap anak, namun perhatian dan kasing sayng Guntur terhadap ibunya selalu menoreh luka. satu karung beras yang dia berikan untuk ibunya ditengah-tengah keterbatasan ekonomi keluarganya malah tidak disambut baik. semua pemberian Guntur selalu dianggap remeh oleh ibunya. hingga ibunya sadar jika orang yang paling menyayanginya adalah Guntur dan istrinya. apakah ibunya akan berubah perlakuan terhadap guntur?
Lihat lebih banyak"Sialan!”
Zoe memaki saat melihat lift sedang mengantri, dengan terpaksa ia membelokkan arah larinya ke tangga. Zoe nekat meski tujuannya adalah lantai enam. Menunggu lift akan membuatnya terlambat.
Perempuan itu tidak memiliki pilihan lain, paginya tadi diisi oleh makian sang kekasih yang memintanya untuk segera membawakan barang yang dianggap sebagai jimat keberuntungannya.
Zoe berlari menaiki tangga, sementara tangannya memegangi perut. Ia ingin berhati-hati, agar janinnya tidak terganggu. Jika bisa Zoe akan memilih tidak berlari, tapi tidak mau juga membuat penampilan Max---kekasihnya sendiri gagal.
Dengan langkah terseok, Zoe menuju ruang ganti tempat Max menunggu.
“INI!” Zoe menghambur membuka pintu, dan bergegas mengacungkan kaos kaki---jimat keberuntungan milik Max-- ke udara.
Tanpa kaos kaki bau itu, Max tidak percaya diri untuk bernyanyi---merasa penampilannya akan gagal. Kepercayaan bodoh, tapi Max sangat peduli. Ia tahu Zoe akan mendukung apapun yang dibutuhkan kekasihnya saat ini.
“Astaga, Zoe! Jangan mengagetkan seperti itu. Kau akan membuat Iris takut.” Max yang sudah rapi memakai kostum menegur sementara merebut kaos kaki itu dari tangan Zoe.
“Siapa…”
Sambil menghapus berkeringat, Zoe menatap wanita amat cantik dengan rambut panjang lurus tengah duduk di kursi rias Max.
“Iris White!” Zoe memekik. Dia penyanyi yang saat ini sedang naik daun, kepopulerannya bahkan mengalahkan Max.
Iris mengangguk samar menanggapi seruan Zoe, lalu kembali menunduk memandang kertas di tangannya.
“Program Director acara tadi datang, dan menyarankan aku untuk berduet dengan Iris sebagai penghormatan terakhir untuk salah satu penyanyi legenda yang meninggal kemarin. Kami akan membawakan lagunya.” Max menjelaskan keberadaan Iris pada Zoe, yang memandang dengan kebingungan.
"Itu luar biasa!” Zoe memekik girang. Kesempatan untuk berduet dengan Iris di acara televisi nasional dengan rating melebihi dua puluh persen---dan disiarkan hampir di seluruh negara bagian Amerika, adalah pencapaian cemerlang. Pasti banyak penggemar Iris yang akan melirik Max setelah ini.
Zoe mengangkat kedua tangan, ingin memeluk Max—merayakan, tapi Max menolak dan kerutan di kening. Teguran juga agar Zoe bisa lebih tenang, tidak membuatnya malu. Meski tanpa kata, Zoe menghafal isyarat mata Max itu, karena sudah sering melihatnya.
“Dia siapa?” Iris bertanya menunjuk Zoe.
“Ini Zoe. Managerku. Zoe Anderson.”
Max memperkenalkan sebelum Zoe bisa bicara. Jika sudah seperti itu, Zoe terpaksa tersenyum. Ia mengerti Max harus menjaga namanya. Penggemarnya kebanyakan adalah wanita. Produser Max dengan keras telah memperingatkan agar hubungan mereka tidak tersebar.
“Zoe Anderson.” Zoe mengulurkan tangan ke arah Iris.
Iris hanya mengangguk lalu berpaling pada Max yang sudah duduk di sampingnya, seolah tangan Zoe tak kasat mata.
Zoe bergegas menarik tangannya, menyibukkan diri. Zoe menyalahkan dirinya sendiri, karena mengira Iris akan mau menjabat tangannya. Penyanyi terkenal sepertinya jelas tidak akan menganggap Zoe berada dalam level yang sama.
Zoe mengambil botol minum setelah merasakan tenggorokannya kering akibat berlari. Sesekali matanya melirik ke arah Max dan Iris yang sibuk mendiskusikan bagian masing-masing dari lagu yang akan mereka bawakan.
Zoe iri dan cemburu. Bukan cemburu kepada Iris karena dekat dengan Max, tapi iri pada kesempatan yang didapat mereka berdua.
Zoe berangkat dari garis awal yang sama dengan Max. Sama-sama bermimpi untuk bisa bersinar bersama, tapi saat ini Max sudah jauh melesat, sementara Zoe masih berada di garis awal, bahkan mundur. Zoe tidak ingat kapan terakhir melatih suaranya. Menjadi manager Max sangat menyita waktu.
Tapi hanya itu yang bisa dilakukannya saat ini. Produser Max berjanji, akan memberinya kesempatan untuk bernyanyi lagi. Mungkin setelah anaknya lahir nanti.
“Kalian harus bersiap!” Salah satu kru siaran masuk mengabarkan.
Dengan gesit, Zoe mengambil gitar Max yang telah dipoles olehnya sampai mengkilat, dan menyerahkannya di dekat pintu.
“Rapikan dirimu. Kau membuatku malu, Zoe.” Max berbisik dengan wajah marah, lalu keluar sambil membanting pintu di depan hidung Zoe. Ia seharusnya mengikuti Max, untuk membantu memenuhi apapun permintaannya nanti, tapi Zoe tidak membuka pintu itu.
“Aku kacau karena kau.” Zoe bergumam. Ia tidak akan berani memprotes keras.
Emosi Max akhir-akhir ini mudah sekali terpancing. Ia akan marah pada kesalahan sekecil apa pun—seperti telur yang terlalu matang atau jendela yang terbuka terlalu lebar. Bahkan Max membuang kopi yang dibuatnya hanya karena kurang manis. Zoe tidak ingin mencari masalah lagi jika mengingat itu.
Ia bahkah belum membahas soal kehamilannya pada Max. Belum menemukan waktu yang tepat diantara semua kesibukan Max. Namun, Zoe paham kalau beban menjadi terkenal juga tidak mudah. Zoe akan mencoba untuk mengerti lagi hari ini.
Zoe menghempaskan diri di sofa, memejamkan mata untuk menghilangkan penat. Ia mengelus perutnya yang terasa sedikit nyeri akibat berlari tadi.
***
"Dimana Max?”
Zoe bangun tergagap, saat seseorang mengguncang bahunya.
“Di... bernyanyi.” Zoe menjawab sementara matanya melirik jam dan membelalak. Ia tertidur dan lebih dari dua jam. Zoe melewatkan semua durasi syuting.
Pria yang membangunkannya---produser Max, kini melotot marah. Ia sedang bersama dua orang yang juga tampak tidak sabar. Salah satunya menenteng kamera layaknya wartawan.
“Kau tidak becus! Bagaimana seorang manajer kehilangan artisnya?!” bentaknya.
“Maaf, mungkin Max bersama Iris. Mereka berduet tadi.” Zoe menunjuk ke luar ruangan. Ruang ganti Iris berjarak dua ruang dari tempat Max. Zoe melihatnya tadi saat berlari.
“Oh, aku melihatnya tadi. Mereka sangat luar biasa, suara mereka cocok berpadu. Apa setelah ini mereka akan bekerja bersama?” Wartawan itu tampak tertarik.
"Nanti... jangan ditulis dulu."
Tidak ingin mendengar apapun lagi, Zoe berjalan cepat keluar sambil merapikan rambut. Mereka semua mengikutinya.
“Max? Apa kau di dalam?” Produser itu berseru dari luar pintu ruang ganti Iris. Tapi, ia langsung membuka pintu sebelum ada balasan.
“Max…”
Zoe melihat bokong telanjang Max, berlari panik mencari celananya yang tercecer, sementara Iris tampak menggapai gaun yang tergeletak di lantai.
Guruh mendudukan ibunya di kursi khusus pelanggan, "Mbak tolong pangkas habis rambut Ibu saya!""Hah? Jangan! Jangan lakukan itu pada Ibu, Ruh!" Tega kamu Ruh. Darinkecil Ibu sayang-sayanh, udah besar, mentang-mentang kamu udah bisa cari uang sendiri malah mau berbuat seenaknya sama Ibu," Sri masih saja meronta-ronta.Pegawai salon hanya bingung melihat Guruh dan ibunya. Mereka belum berani mendekat. Mereka hanya berbisik-bisik antar sesama karyawan.Sri semakin meronta ketika melihat seseorang di luar salon tampak tengah merekam aksi Guruh yang ingin membotaki rambunya. Wanita paruh baya itu teriak meminta tolong untuk melepasnya dari Guruh."Tolong, anak saya mau membotaki rambut saya," ujar Sri.Pria jangkung itu akhirnya geram melihat seseorang yang tengah merekamnya. Dia bergerak menuju pintu masuk salon dan menghardik perekaman video itu."Apa? Kalian mau memviralkan saya?" Melihat Guruh melotot, orang tersebut langsung mematikan kameranya. Dan tanpa berkata sepatah katapun dia
****Dua tahun kemudian "Sin, Mbah minta ayamnya sedikit saja.""Ngak boleh, kata Mama, Mbah tu cuma boleh makan tempe goreng!" Wanita tua itu hanya menelan ludahnya berkali-kali karena melihat sang cucu menikmati gurihnya ayam krispi. Sudah sangat lama sekali Sri ingin sekali mencicipi ayam berbalut tepung yang renyah itu. Suara krenyes-krenyes di dalam mulut Sindi membuat liur Sri tak mampu ia tahanNamun angan hanya tinggal angan, ketika Sindi sang cucu lebih memilih memberikan sisa ayamnya kepada Cery--kucing kesayangannya dibanding memberikan oada neneknya.Hati Sri berdesir melihat pemandangan itu, teringat kejadian beberapa tahun silam, ketika dia lebih memilih memberikan beras yang dibelikan Guntur anak tengahnya kepada ayam kesayangan."Yaa Allah, apa ini balasan untukku?" Lirih Sri dalam tangisnya.Sudah dua tahun terakhir, Sri tinggal besama Guruh, anak bungsunya. Dan selama itulah dia hanya memakan makanan sisa anak dan menantunya makan. Bahkan lezatnya ayam gorengpun sud
"Nah ini orangnya datang." Ternyata di sana ada Fahri dan keluarganya. Apa mereka tengah membicarakan perihal tanah itu?Aku dan Dahlia dipersilahkan masuk oleh Ibunya Nia. Wanita berjilbab instan itu kemudian masuk ke dalam dapur.Di ruang tamu rumah orang tua Nia ada Fahri dan juga kedua orang tuanya. Laki-laki itu menatap sinis ke arahku. Sementara Nia tidak terlihat. Mungkin dia sedang menidurkan bayinya.Beberapa saat kami hanya saling diam. Aupun bingung harus memulai dari mana. Karena aku dan Dahlia merasa tidak enak jika memamg mereka datang untuk membicarakan masalah rumah tangga Nia dan Fahri.Fahri yang tadinya terlihat seperti ingin menerkamku, kini laki-laki itu diam seribu bahasa. Hanya menatap tak suka dengan kehadiranku dan Dahlia."Maaf, Pak. Saya boleh menyusul Ibu ke dapur," ucap Dahlia akhirnya membuka suara"Oh. Silahkan Lia. Itu si Nia lagi di kamar, tadi anaknya rewel," jawab Bapaknya Nia.Dahlia memang sudah akrab dengan orang tua Nia sejak mereka SMA dulu. Da
Aku tidak peduli dengan jal*ng itu. Dia sudah kuceraikan.""Jangan bercada kamu Fahri!"Fahri melirikku sinis, "sudah jangan banyak bicara! Sekarang katakan kau setuju yang mana?"Aku menatap laki-laki bermata bengis itu sejenak. Sepertinya pria ini tidak bisa di ajak berunding. Percuma saja aku menghubungi Nia, toh dia sudah di cerai dan tanah itu memang belum balik nama atas nama dia.Aku kira hanya dengan surat kuasa, maka semuanya akan beres, ternyata Nia memalsukan surat itu."Aku akan berunding dengan Dahlia terlebih dahulu," jawabku kemudian."Oke, satu hari. Kalau sampai besok belum juga ada keputusan, maka semua yang ada di sini akan aku robohkan rata dengan tanah!""Iya," jawabku. Laki-laki itu bangkit dari duduknya dan keluar tanpa berpamitan.Aku menarik nafas panjang dan kuhembuskan perlahan. Bersamaan dengan itu, Dahlia masuk tanpa Mariam di gendongnnya. Sudah di pastikan anak bayi itu sudah menjadi bahan candaan para karyawan di depan."Mas, ayo pulang!" Tiba-tiba Dahli
"Astaghfirullah," ucap Dahlia lirih.Beras satu karung yang kuletakkan kemarin sama sekali tidak disentuh oleh ibu, bahkan memindahkannyapun tidak. Sekarang beras itu sudah beserakan dimana-mana karena karungnya bocor dipatokin ayam, sementara cipratan air bercampur tanah mengotori permukaan karu
Kulangkahkan kaki menuju motor kembali, Dahlia sudah hendak masuk kedalam rumah ibu, namun urung dia lakukan. Beruntung Dahlia yang tadi sempat berbincang dengan mbak Yuli, tidak mendengar ucapan ibu. "Gak ketemu ibu dulu sama mbak Tika?" "Mbak Tika mungkin sudah di rumah mas Rahmat." Aku memundu
Perih rasa hatiku bagai tersayat sembiluh. Beras dua kilo jika untuku dan keluarga bisa dimasak untuk makan dua hari, terkadang lebih. Tapi dengan mata kepalaku sendiri beras yang mungkin sangat berharga itu harus kandas dilahap ayam.Gajiku bekerja di pabrik roti sebesar satu juta dua ratus ribu r
"Bu, Alhamdulillah ini ada beras bisa untuk tambah-tambah kebutuhan ibu," ucapku seraya meletakkan dua kilo beras diatas meja dekat kompor. Didalam plastik itu juga ada gula satu kilo dan teh satu kotak.Ibu membuka bungkusan plastik itu, seketika mukanya berubah masam, "kalau gak niat ngasih, lebi


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak