แชร์

6. Gadis Bayaran Om Kama

ผู้เขียน: Miss Nonce
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-02 22:02:37

Kama menatap Mikha dengan tatapan penuh arti di bawah cahaya lampu remang ballroom hotel yang mewah. Gaun sutra hitam yang membalut tubuh ramping Mikha seolah menambah aura misterius dan memikatnya. Kulit cokelat eksotis Mikha berkilau lembut, memancarkan keindahan yang tak perlu berlebihan.

Beberapa teman Kama tak henti memuji, “Gadismu cantik sekali,” suara mereka terdengar berbisik penuh kekaguman.

Kama hanya membalas dengan senyum tipis, lalu dengan langkah ringan mendekat, meraih tangan Mikha dan mengajaknya berdansa.

Mikha yang sedang berdiri di dekat stand minuman terkejut, namun juga tak kuasa menolaknya. “Om ngagetin deh,” bisiknya dan menerima tangan Kama.

Di tengah irama musik yang mengalun lembut, Kama mencondongkan tubuhnya ke dekat telinga Mikha, suaranya berbisik hangat namun penuh peringatan, “Jangan terlalu lama tersenyum. Semua orang akan mengira kamu menggoda pria mereka.”

Tatapan Mikha membeku sekejap, matanya melebar karena terkejut. Dia tidak pernah bermaksud seperti itu—senyum yang keluar hanyalah spontan, tanda kebahagiaan berada di dekat Kama, bukan ajakan atau godaan.

“Kenapa memangnya?” tanya Mikha dengan nada manja ke arah telinga Kama.

Namun bisikan Kama membuat dada Mikha sesak, seolah beban tak terlihat mulai menekan hatinya, memaksa dia menahan diri untuk tidak terlalu leluasa mengekspresikan dirinya.

“Karena kamu gadis bayaran saya!”

*

*

Mikha menambah jadwal liburannya ke Bali, sedangkan Rara harus kembali duluan karena ada urusan. Ditinggal Rara, Mikha sibuk dengan sugar Daddy tampannya.

Beberapa hari ini, dia menemani Kama. Gala dinner, meeting, makan malam bisnis. Perannya jelas: plus one 26 tahun. Umur asli 22 tetap disembunyikan. Meski Kama juga curiga, karena wajah Mikha yang masih muda sekali.

Bayaran sudah masuk setiap hari. Cukup untuk melunasi UKT + sisa untuk biaya rumah sakit mamanya di Bandung.  

Malam ini terakhir.

Angin laut berembus pelan menerpa balkon suite hotel tempat Kama menginap. Dari kejauhan, suara ombak terdengar samar bercampur denting musik dari beach club yang masih ramai.

Kama berdiri sambil memegang gelas berisi wine. Menatap deburan ombak yang terasa begitu tenang.

Sementara itu, Mikha duduk santai di sofa balkon. Gaun putih yang dikenakannya berkibar lembut tertiup angin.

Selama satu minggu terakhir, gadis itu menemaninya menghadiri berbagai acara bisnis, makan malam, hingga pertemuan dengan klien.

Dan harus diakui, Mikha bekerja dengan sangat baik.

Cantik.

Cerdas.

Tahu kapan harus bicara.

Dan yang paling penting, tidak merepotkan. Erick, asisten Kama juga bekerja dengan sangat baik. Dia yang bertugas mengingatkan Mikha soal apa yang harus dilakukan dan tidak. Beruntungnya, Mikha mau menurut karena bayarannya mahal.

"Kamu tahu?" ujar Kama tiba-tiba.

Mikha mengangkat alis. "Tahu apa, om?"

"Saya biasanya bosan dengan orang dalam dua hari."

Mikha tertawa kecil. "Wah, berarti aku harus bangga." Mikha menjawab dengan nada centilnya. Hei, di sini dia sedang bekerja.

"Kamu memang harus bangga."

Mikha menyipitkan mata. "Itu pujian atau ancaman?"

"Pujiannya serius." Kama menatapnya beberapa saat. Lalu melanjutkan, "Malah mungkin terlalu serius."

Senyum Mikha perlahan memudar.

Ada sesuatu dalam cara Kama memandangnya malam itu.

Berbeda.

Tidak seperti hubungan profesional yang mereka jalani selama ini.

"Om Kama..."

"Hm?"

"Jangan bilang Anda mulai menyukai saya." Mikha test ombak saja sebenarnya.

Pria itu terkekeh pelan.

"Kamu selalu langsung ke intinya."

"Karena biasanya pria yang mulai bicara seperti itu akan menyusahkan."

Kama menggeleng. "Tidak. Saya justru ingin menawarkan sesuatu yang lebih sederhana."

Mikha menunggu, penasaran juga apa maksud dari si Om ganteng ini.

Kama meletakkan gelasnya. Kama menoleh, menatap kecantikan alami di depan matanya itu.

"Setelah kita kembali ke Jakarta, tetaplah bersamaku."

Mikha terdiam, beberapa detik berlalu. Belum paham, mau kemana arah pembicaraan ini.

"Bersama Anda?"

"Kamu mengerti maksud saya."

Mikha menghela napas pelan.

Tentu saja ia mengerti.

Kama bukan pria yang suka berbasa-basi.

"Jadi..." Mikha sengaja menggantung kalimatnya.

"Simpanan." Kama mengucapkannya dengan tenang seolah sedang membahas kontrak kerja biasa.

Mikha terkejut, walau ini juga yang dia harapkan. Kama pria yang baik, loyal tidak pelit. Bahkan gaun di kopernya, semua pemberian Kama untuk pesta, dan Mikha boleh memilikinya.

"Saya akan menyiapkan apartemen."

Mikha tidak menyela.

"Biaya hidup." Kama menyorot ke mata indah Mikha, "Kebutuhanmu.. dan sebagai gantinya?" Kama menatap lurus ke arahnya.

"Saat saya lelah, itu tugas kamu!"

Sunyi kembali menyelimuti balkon.

Mikha menunduk.. Dalam hidupnya, ia sudah terlalu sering berpindah dari satu pria ke pria lain.

Bukan karena ia menginginkannya, melainkan karena keadaan. Hubungan yang selalu sementara, selalu penuh ketidakpastian.

Setidaknya Kama jujur.

Tidak berpura-pura menawarkan cinta, tidak menjanjikan masa depan. Hanya sebuah kesepakatan. Dan anehnya, itu justru terasa lebih aman.

"Ada syarat lain tidak?" tanya Mikha pelan.

Kama mengangguk. "Hanya satu."

"Apa?" Mikha penasaran.

"Jangan jatuh cinta."

Mikha tersenyum miring. "Percaya diri sekali Anda."

"Bukan soal percaya diri." Tatapan Kama berubah dingin.

"Itu aturan."

Mikha memandangnya lama. Mencoba membaca arah semua kalimat yang Kama lontarkan padanya.

"Dan yang kedua." Kama melanjutkan.

"Jangan ikut campur urusanku."

"Bisnis?"

"Semua urusanku." Tegas Kama.

Mikha memahami maksud kalimat itu. Kama adalah pria yang memiliki banyak rahasia, dan ia tidak berniat membaginya kepada siapa pun.

Termasuk dirinya.

"Kalau aku melanggar bagaimana?"

"Kita selesai."

Jawaban singkat.

Tegas.

Tanpa kompromi.

Anehnya, Mikha malah tersenyum. "Om benar-benar tidak romantis."

"Kamu mencari pria romantis?"

"Tidak sih."

"Lalu?"

Mikha berdiri dan berjalan mendekatinya. "Aku mencari hidup yang lebih tenang."

Tatapan mereka bertemu, beberapa detik tanpa suara.

Otak Mikha sudah lelah mencari uang kesana kemari. Begitu menemukan harta karun, pantang ia lepaskan. Meski sampai saat ini, Kama belum menyentuhnya. Mikha tidak peduli, jika pun Kama mau menyentuhnya.

Prinsip Mikha, daripada diberi gratis. Lebih baik dibayar, jadi tidak double rugi. Sungguh, sebuah prinsip yang aneh bagi gadis seusianya.

Lalu Mikha mengulurkan tangan. "Baiklah."

Kama menatap tangan itu.

"Kita sepakat?"

Mikha mengangguk. "Kita sepakat." Peduli setan dengan anggapan orang di luar sana. Mikha butuh uang, dan untuk saat ini hanya Kama yang bisa membantunya. 

Kama menjabat tangannya.

Sebuah kesepakatan sederhana, tanpa janji cinta. Tanpa komitmen masa depan. Hanya dua orang dewasa yang memilih saling menemani dengan aturan yang sudah mereka pahami sejak awal.

Meski jauh di dalam hati, keduanya belum menyadari bahwa aturan yang paling sulit dipatuhi justru adalah yang pertama:

Jangan jatuh cinta. **

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   8, Executive Package

    Keheningan kembali memenuhi kamar mandi, Mikha sudah selesai menggosok punggung Kama. Sekarang ia duduk di kursi kecil dekat bathtub sambil memainkan ponselnya.Sesekali melirik saldo rekeningmya, kebiasaan orang miskin yang mendadak kaya."Kau menginap malam ini." Suara Kama terdengar begitu saja.Mikha yang sedang menghitung bunga deposito hampir menjatuhkan ponselnya."Hah?""Menginap."Mikha menoleh. Kama masih santai di dalam bathtub.Seolah baru saja meminta tambahan sendok, bukan meminta seorang wanita menginap.Mikha langsung memasang ekspresi pebisnis."Om." Suara manjanya mulai terdengar manis di telinga Kama."Hm.""Itu layanan premium."Kama menatapnya, tatapan datar. Tatapan yang biasanya membuat bawahan perusahaan berkeringat. Sayangnya Mikha kebal, yang penting rekeningnya gemuk."Premium?""Iya."Kama tertawa sinis, "Kau sedang menjual paket?""Tentu."Mikha berdiri lalu menghitung dengan jari. "Temenin makan, satu paket. Temenin ngobrol, paket regular-""Kalau mengina

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   7. Benci, Dendam, dan Seorang Sugar Daddy

    Bottom of FormKuliah selesai. Koridor Gedung B penuh mahasiswa yang buru-buru pulang. Mikha berjalan pelan, buku tebal Strategi Bisnis dipeluk di dada. Wajah tegas, judes, tapi langkahnya tenang.Tidak buru-buru, tidak menoleh kiri kanan.Tidak perlu tebar pesona, tapi bisa dipastikan semua mata memandang padanya. Mikha mahasiswa cantik, jurusan bisnis memang sudah dikenal di kalangan mahasiswa lainnya.Dari arah berlawanan, Viola Debby datang. Berjalan kelewat santai dengan dua dayang-dayangnya Priska dan Citra. Entah apa yang mereka bicarakan sambil tertawa cekikikan tidak jelas. Tas Chanel nyantol di bahu, HP di tangan. Tidak melihat depan.Bugh..Tabrakan kecil. Buku Mikha menyenggol bahu Vio. Kopi di tangan Vio tumpah ke blouse putih yang ia kenakan.Vio berhenti mendadak. Lihat noda di baju. Langsung meledak.Arkh..“Anjin*! Lo buta apa, hah?!”Mikha berhenti, tidak panik. Tidak angkat suara, hanya menatatap Vio, tenang.“Jalan lihat ke depan, lo. Kopinya mahal, sayang kalau keb

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   6. Gadis Bayaran Om Kama

    Kama menatap Mikha dengan tatapan penuh arti di bawah cahaya lampu remang ballroom hotel yang mewah. Gaun sutra hitam yang membalut tubuh ramping Mikha seolah menambah aura misterius dan memikatnya. Kulit cokelat eksotis Mikha berkilau lembut, memancarkan keindahan yang tak perlu berlebihan.Beberapa teman Kama tak henti memuji, “Gadismu cantik sekali,” suara mereka terdengar berbisik penuh kekaguman.Kama hanya membalas dengan senyum tipis, lalu dengan langkah ringan mendekat, meraih tangan Mikha dan mengajaknya berdansa.Mikha yang sedang berdiri di dekat stand minuman terkejut, namun juga tak kuasa menolaknya. “Om ngagetin deh,” bisiknya dan menerima tangan Kama.Di tengah irama musik yang mengalun lembut, Kama mencondongkan tubuhnya ke dekat telinga Mikha, suaranya berbisik hangat namun penuh peringatan, “Jangan terlalu lama tersenyum. Semua orang akan mengira kamu menggoda pria mereka.”Tatapan Mikha membeku sekejap, matanya melebar karena terkejut. Dia tidak pernah bermaksud sepe

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   5. Temani Saya Selama di Bali!

    Erick meringis, kusut melanda saat sang bos mulai uring-uringan. Hanya kesalahan kecil, dia menyewa jasa wanita untuk dijadikan plus one bagi sang bos. Sialnya, bos tidak suka karena wanita itu terlalu pendiam.‘Kemarin agresif salah. Sekarang pendiam, makin salah.’ Erick mendesah, bosnya ini maunya apa sih.“Siap bos, saya akan mencari yang lain,” kata Erick.Kama menatap asistennya, “Kau bisa kerja tidak. Mencari wanita saja tidak bisa, padahal kau hanya tinggal membayar dan memberinya arahan!” omel Kama pada asistennya.Erick mengangguk, mengaku salah saja jangan membantah nanti jadi panjang. Pikiran Erick kini mulai menyortir wanita mana yang memenuhi kriteria pak bos.“Kemana wanita kemarin. Siapa namanya?”Erick merengutkan kening, berpikir. “Hmm, Mikha.. ya itu namanya. Dia, hmm sepertinya ada klien, pak.” Erick memberikan alasan, karena Kama sendiri yang meminta ganti. Kenapa sekarang malah menanyakan wanita itu.“Klien?” beo Kama.Ah Kama lupa, Mikha gadis panggilan. Sudah te

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   4. Menyentil Harga Diri Mikha

    Mikha duduk di kursi bar yang remang, sorot matanya tajam menatap Kama yang tengah asyik berbincang dengan rekan bisnisnya. Ia harus menyingkir sejenak, karena akan ada pembicaraan khusus antara Kama dengan kliennya, yang juga membawa wanita. Mikha berbincang santai dengan beberapa wanita yang menjadi pasangan klien Kama.Setelah selesai, mereka dipanggil. Duduk dengan anggun di samping para bos besar. Kini acara lebih santai, pesta minum. Ada juga yang ke lantai dansa, menari melepas penat.Dengan suara lembut dan manja, Mikha menyapa, "Om, mau tambah minum?" Kama hanya menoleh sebentar lalu menggeleng, tanpa melepas pandangan dari lawan bicaranya.Mikha tahu, perhatian Kama lebih tertuju pada urusan bisnis daripada dirinya. Namun ia tak patah semangat. Ia harus bisa membuat Kama memilihnya lagi jika ada acara butuh plus one.Saat pembicaraan semakin serius, Mikha dengan sengaja menggeser tubuhnya mendekat dan mengelus pelan paha Kama. Sentuhan itu begitu ringan, tapi cukup membuat K

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   3. Plus One om Duda

    Mikha sudah siap dengan job-nya. Berdandan cantik, duduk anteng di meja rias. Di belakangnya, Rara bertindak sebagai hairstylist, bergantian. Rara memegang catokan, Mikha mau diluruskan rambutnya.“Njrit, pegel gue tiap catok elu, Mikh. Akuin aja sih udah, rambut lo kribo.” Rara mengeluh, sudah setengah jam baru sebagian yang lurus.“Enak aja kribo, keriting ya rambut gue.”“Sama aja!”Rara meneruskan kerjanya, Mikha memoles pipi dengan blush on warna pink, membuatnya lebih segar. Lipstick dia pulas warna merah menyala, kontras dengan kulit eksotisnya yang berkilau.“Badai banget lu, Mikh.” Rara tidak segan melontarkan pujian pada temannya yang memang cantik itu.“Demi Ra, demi.. demi om potensial,” canda Mikha.“Gue doa’in, om lo ganteng ya. Nggak pelit, jadi lo bisa traktir gue kain bali.”“Pekara kain Bali doang, kudu dapat om kaya,” gurau Mikha tertawa geli.Rara juga ikut berdandan, soal make up Mikha memang jagonya. Dia menyerahkan itu pada ahlinya. Dengan gerakan cepat, Mikha m

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   2. Sugar Daddy Potensial

    Masih di Beach Club, Seminyak-Bali.“Kesana saja yuk,” ajak Mikha, lebih baik mereka cari angin dulu.Toh mereka sampai minggu depan di Bali, jadi aman kalau hari ini mereka tidak dapat mangsa.Mikha berdiri tegap di tepi pantai, angin laut menerbangkan helai rambut keritingnya yang terurai panjang

  • Dekapan Hangat Papa Rivalku   1. Cari Mangsa = Cowok Tajir

    “Ra, yakin aman?” tanya Mika mendadak gugup masuk ke sebuah beach club di Bali.Biasanya dia rajin ke night club, tapi berbeda. Jika biasanya bersenang-senang, kali ini dia akan mencari mangsa.“Amanlah,” ujar Rara, teman malam Mika.“Lo yakin kan, nggak ada yang kenal kita?” sambung Mikha lagi, ma

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status