LOGINBarra Farzan, lelaki muda yang sudah menyandang status duda. Semua terjadi begitu saja, ia tak menyesal. Namun Barra mulai bosan dengan hidupnya yang selalu pahit, ada keinginan untuk bahagia. Memiliki istri secara benar adalah cita-cita Barra. Mimpinya di aminkan oleh semesta, gadis cantik putri dari konglomerat ibukota benar-benar jatuh dalam pesona Barra. Hubungan yang sempat ditentang itu akhirnya lolos ke jenjang pernikahan seperti apa yang Barra bayangkan setiap malam. Barra menegak manisnya kesempurnaan akad, di dampingi dua keluarga. Ini bukan mimpi, ini benar terjadi. Khayalannya terlaksana, sampai hubungan mereka berhasil diresmikan. Di atas pelaminan, Barra mencuri-curi kecupan di bibir Astra. Keduanya tertawa bahagia. Tanpa Barra sadari seorang wanita berjalan menuju altar pelaminan. Dipenuhi amarah. Plak! Tamparan keras mendarat di pipi Astra. "Dasar pelakor! wanita murahan! Aku ini masih istrimu, Mas. Kamu tega meninggalkan aku dan Beby?" Astra juga Barra terdiam beku, semua pasang mata menatap penuh intimidasi pada Barra dan Astra. Siapa yang tak sensitif saat kata 'pelakor' disebutkan? Rahasia apa yang Barra sembunyikan? Akankah keduanya bisa menjalani kehidupan sepasang suami-istri layaknya rumah tangga lain? Atau Barra akan habiskan hidupnya sebagai suami bayaran? Happy reading. Novel karya diara_di
View MoreS E A S O N III
୨ৎ D E R R I N જ⁀➴ "Ahh, siaaaaal!!" Kandung kemihku sudah enggak tahan lagi sama sisa alkohol semalam. Aku yakin kalau tadi malam aku sudah kebanyakan minum. Ada suara air mengalir dari kamar mandi. Aku masih enggak percaya kalau itu Marlin. Dia enggak mungkin bangun lebih pagi dari aku. Soalnya setiap hari, akulah yang biasanya tarik-tarik dia buat bangkit dari kasur. Aku singkap selimut, turun dari kasur, terus jalan pelan-pelan. Karena sedikit gelap, aku hampir saja terpeleset gara-gara menginjak baju-baju yang berserakan di lantai, untung saja aku masih sempat menyangga diri agar enggak terjatuh. "Arggg ... sumpah, semalam itu kita ngapain aja, sih?" gumamku. Aku masuk kamar mandi, bersyukur Marlin enggak menyalakan lampu, karena otakku pasti meledak kalau langsung terkena cahaya pagi-pagi buta begini. Lagi pula, aku juga enggak ingin lihat mukaku sekarang. Marlin sudah jadi sahabatku sejak kecil, jadi bukan hal aneh juga kalau aku kencing di depan dia. Jadi aku turunkan celana dalam, duduk di toilet, sambil mengeluh gara-gara kepalaku cenut-cenut. Idenya Marlin buat traveling keliling Bandung memang gokil. Karena aku benar-benar butuh refreshing. Apalagi dua kakak tiriku baru saja menemukan cinta sejatinya. Eh, kalau Alzian, sih lebih tepatnya dia sudah menemukan lagi. Tapi tetap saja, siapa sangka si Aldani yang batu itu bisa jatuh cinta? Dan sebentar lagi, semua orang pasti akan mencibirku. Soalnya aku anak perempuan yabg paling tua di keluarga Sunya. Orang-orang pasti berpikir kalau aku juga harus cepat-cepat punya keluarga, anak, dan segala macamnya. Memang harus, ya? Liburan kita kali ini seru, sampai akhirnya Marlin mengajakku menonton pertarungan MMA semalam. Kita nonton dua orang cowok yang saling pukul satu sama lain cuma buat hiburan. Aku mencoba menikmatinya, sih, tapi sumpah itu barbar banget. Akhirnya kandung kemihku lega juga, dan rasanya nikmat banget. “Gila, kamu Marlin! Kok, kamu bisa bangun sepagi ini?” Enggak ada jawaban. Aku cuma dengar suara air berhenti. “Aduh, aku pusing banget, Marlin. Ayo dong, bilang kalau kamu pingin sarapan di bawah! Aku ikut!” “Terserah kamu aja,” jawabnya, suaranya berat. Itu bukan suara Marlin. Otakku belum sempat mencerna, tiba-tiba pintu shower terbuka dan muncullah cowok telanjang, badannya penuh tato, ototnya kekar banget dan ya, ampun .. itu apa yang mengacung tinggi di bawah perutnya? Aku bisa lihat jelas karena ada cahaya redup dari meja kamar mandi. Wajahnya sedikit familiar, tapi aku enggak langsung mengenalinya. Apa dia bersama Marlin semalam? Sial. Aku enggak seharusnya melihat dia telanjang begini. “Sorry ya, semoga aku enggak ganggu kamu. Aku cuma harus bersihin sisa-sisa semalam,” katanya. “Ma—maaf, tapi kamu siapa?” Dia tertawa. “Ya, jelas suami kamu, lah!” Dia ambil handuk, melilitkannya di pinggang. Aku masih bengong di atas toilet, mulutku menganga. Refleks, aku pun menengok ke tangan kiri, ada cincin besar mengikat di jari. Ah, Sial. Berarti dia enggak bohong. Aku istrinya, aku baru saja jadi cewek Bandung, dan yang lebih parahnya lagi, aku lagi kencing di depan suami baruku, yang sebenarnya orang aneh, dan aku sama sekali enggak kenal. Dia sepertinya sadar sama ekspresiku yang antara syok dan takut. Soalnya dia tertawa, merapikan handuknya. Air masih menetes turun dari perut berototnya yang seperti baja itu. Barulah aku sadar ada beberapa memar di rusuk sama rahang sampingnya. “Petinju?” bisikku. Dia berkedip. Dia salah satu petarung semalam. Cowok yang memukuli lawannya habis-habisan di atas ring. Ada tendangan, pukulan, dan darah di mana-mana. Itu tontonan paling gila yang pernah aku lihat. Aku benar-benar menyaksikan pertarungan itu, dan aku benci kekerasan. Tapi Marlin ngefans berat sama MMA, dan entah bagaimana, dia bisa dapat tiket dadakan buat kita. Aku enggak mungkin mengecewakan dia. Yang aku enggak tahu, ternyata dia dapat kursi di barisan paling depan. Selama pertarungan dia heboh bersorak-sorak, sedangkan aku cuma bisa bengong, enggak menyangka ada orang yang benar-benar menikmati kekerasan seperti itu. “Setelah aku lihat kamu muntah semalam, ini sih masih enggak ada apa-apanya,” katanya sambil menunjuk ke arahku yang masih duduk di toilet. Mukaku langsung panas. Aku muntah di depan dia? Dan sekarang aku kencing depan dia? Ya ampun, apalagi yang sudah aku lakukan? Dia santai saja, seolah enggak ada apa-apa. “Tadi aku dapat telepon dari manajerku.” “Manajer?” Aku makin bingung, harusnya aku sudah berdiri, merapikan diri, tapi malah masih duduk di toilet sambil mendengarkan dia. “Ternyata kita enggak jaga privasi semalam.” Dia menyalakan lampu. Mataku pun langsung perih seperti ditusuk jarum gara-gara cahayanya. Aku buru-buru membereskan diri, tarik celana dalam sama kaus yang baru aku sadar, kalau ternyata itu milik dia. Gila. Berarti aku lagi ada di kamar hotelnya. Terus, bagaimana caranya aku bisa kabur dari sini sebelum ini makin runyam? Dia bersandar santai di wastafel, tangan memegang sikat gigi, kasih odol di atasnya. “Aku udah minta bellboy bawain perlengkapan mandi, soalnya kamu pakai sikat gigiku semalam.” “Aku … pakai sikat gigimu?” rintihku. Sumpah ini benar-benar memalukan. “Enggak usah malu. Aku santai aja, kok.” “Kamu santai, aku yang enggak bakal bisa santai!” Dia tertawa. “Ya, aku juga kaget pas bangun tadi pagi, terus baru ingat. Tapi ya gitu, deh ...” dia angkat bahu dan aku bengong. “... kayaknya kita harus ngobrolin hal ini. Tapi, mungkin habis kamu pakai baju dulu.” Aku buru-buru cuci tangan, karena serius, aku enggak bisa bernapas normal di kamar mandi ini, sementara dia cuma pakai handuk. “Enggak apa-apa, kita bisa ngobrol gini aja, kok,” balasku. Dia enak bisa bilang begitu. Kalau aku juga punya badan kotak-kotak seperti dia, mungkin aku juga santai. “Ya, udah, tunggu bentar.” Aku keluar dari kamar mandi. Beberapa detik kemudian, dia muncul. Kali ini sambil pegang remote, yang otomatis membuka semua gorden di kamar. Pemandangan jalanan kota Bandung langsung terbuka, cahaya menyorot masuk, membuat mataku makin perih lagi. Dan jelas-jelas ini bukan kamar hotel yang Marlin sama aku booking. Karena kita cuma pesan kamar standar dengan dua ranjang, sementara ini kamar suite mewah, ada ruang tamu lengkap, sofa, TV layar datar, sampai minibar. Terus Marlin ke mana, sih? Kok, bisa-bisa dia membiarkanku sampai sejauh ini?“Apa! Papi ditangkap polisi karena menyuruh seseorang menembak Kak Barra?” Nayumi terduduk lemah. Bukan kaget mendengar kabar sang ayah ditangkap, melainkan ia terkejut dengan tindakan sang ayah yang melampaui batas.Nayumi menyeka air mata, meskipun tak begitu dekat dengan Barra Farzan, tetapi mendengar selentingan cerita seorang Barra dari beberapa sumber, membikin ia prihatin. Bagus Nayumi, Barra adalah pria terbaik untuk Annisa sang Kakak. Kalau saja Barra bukan suami dari Astrata, mungkin Nayumi juga akan menyatukan keduanya.“Mbak Nay kenapa nangis?” tanya Bi Sumi.“Kak Barra ditembak Papi, Bi. Aku harus melihat keadaan Kak Barra, titip Kak Nisa sebentar ya, Bu.”“Tapi, Mbak ... Non Annisa kan sedang kritis.”“Sebentar saja, Bi. Kalau ada apa-apa langsung telepon aku, ya.”Nayumi melangkah cepat meninggalkan Bi Sumi sendiri, Laksmi sang ibu sudah pulang lebih dulu karena tidak memungkinkan menunggui Annisa bersama bocah balita.Nayumi berjalan menuju ruang UGD, sebab ia tidak ta
Brugh!Tubuh ringannya tumbang ... tepat di depan gerbang rumah sakit. Suasana pecah, kocar-kacir manusia ketakutan mendengar ledakan menggema. Petugas keamanan berpencar, beberapa pergi mengejar, dan ada sebagian yang menolong korban.Langit jingga menjadi kelabu bersama cerita pilu itu. Barra Farzan, inginnya menemui sang istri terhalang petaka.“Cepat kejar pelakunya, dia pake motor besar warna hitam ke arah sana,” seru seorang saksi.“Tolong ini, tolong ... cepat bawa brankar ke sini.” Suara-suara kekhawatiran terdengar jelas. Beruntunglah ia, banyak orang peduli dengan kemalangannya.Tubuhnya berlumur darah. Kaos coklatnya berubah kehitaman. Brankar didorong cepat oleh perawat. Satu tangan masih setia menggenggam map coklat.Sesekali pria itu terbatuk demi mencukupi oksigen dalam otak. Suaranya tertahan rasa sakit. Tangan kirinya mencoba menjawil perawat.“Buk ... to .... tolong ... panggil, uhuk ... uhuk.” Napasnya terpotong-potong, menyulitkan Barra Farzan untuk buka suara.“S
Di hari yang sama, usai kepulangan Barra Farzan, Nayumi mencoba masuk ruangan Astrata. Ia ingin menjelaskan banyak hal mengenai Barra Farzan. Namun, begitu mengetuk pintu, Nayumi mendapat perlakuan kurang mengenakkan dari Alfa Zen.“Permisi ... .” Nayumi melongok pintu yang terbuka. Meski tidak begitu mengenal Nayumi, tetapi Astrata tahu bahwa gadis yang tengah berdiri di ambang pintu ruangan adalah gadis yang pernah mengejar sang Kakak Alfa Zen. Astrata ikut tersenyum, juga dengan Mbok Yami.“Masuk, Kak ... eh ... hem ... .”“Panggil Nayumi saja.” Kaki Nayumi melangkah ke ruang rawat Astrata Bustomi.Sreet!“Auh,” pekik Nayumi terkejut.Tangan Nayumi ditarik dari belakang, bahkan tubuhnya terlempar hampir jatuh membentur kursi tunggu kalau saja kakinya tidak kuat menahan.Astrata terduduk, ia menurunkan kaki ingin keluar dan membantu Nayumi.“Kak ... jangan kasar-kasar sama perempuan.”“Eh, mau ke mana, Neng? Mas Zen, ini ... tolong Neng Berli mau turun.” Mbok Yami menahan tubuh Astr
Barra Farzan melangkah gontai meninggalkan ruang UGD. Seluruh sisa tenaga yang ia miliki seakan lenyap oleh penolakan. Kini, ia berencana pulang, menengok dua adik yang lama ditinggal. Tak ada lagi keluarga yang dipunya selain Alby dan Ervi.Barra meninggalkan rumah sakit tanpa berpamitan pada Nayumi dan Laksmi. Ia menaiki kendaraan umum untuk membawa ke alamat tinggalnya.Tak habis pikir kalau Pak Abbas sang mertua ternyata sudah meninggal dunia. Sungguh sesak menatap aura letih Astrata. Ia sangat Bu ingin mendekap dan saling bertukar kabar dengan perempuan yang dicintai tersebut. Namun, apa mau dikata, dokter sudah mengatakan bahwa Astrata tidak boleh terlampau stres agar kandungannya tetap sehat.Dari gerbang masuk perumahan daerah tinggalnya, Barra berjalan. Ia agak ragu untuk pulang, pasalnya ia sendiri yakin kalau kehidupan Alby dan Ervi baik-baik saja tanpa ada dirinya.“Maafkan Papa, Nak ... Papa tidak bisa menemani kamu dan ibumu. Namun, doa Papa tetap bersama kalian dan
Hari berikutnya, Barra sengaja bangun sebelum jam menunjuk pukul empat pagi. Barra mengendap-endap seperti seorang maling. Ia sangat hati-hati untuk mencapai pintu keluar, tak ingin gerakannya menimbulkan suara dan akhirnya membangunkan manusia yang tengah merajut mimpi di pulau kapuk. Sebenarnya A
Pukul empat sore Barra tiba di kediaman Annisa, kedatangannya langsung mendapat sambutan hangat dari sang istri. Barra menyunggingkan senyum datar. Tiba-tiba ada perasaan tak nyaman memasuki relung hati Barra. Annisa terlihat begitu menyedihkan. Pelipis sebelah kanannya tertutup kain perban, seda
Pagi-pagi sekali Alby sudah membangunkan Barra. Hari itu jadwal mereka belanja kebutuhan warung makan. "Catatannya mana, Al?" Barra bertanya pada Alby. Catatan yang dimaksud adalah daftar bahan makanan yang hendak mereka beli di pasar pagi. "Sudah di dalam tas, Da," sahut Alby. Selain kuliah, Alby
Dua tahun berpisah dari Annisa, hidup Barra dan keluarga naik satu tingkat. Uang perjanjian itu membawa manfaat untuk Barra dan keluarga. Ibunya berhasil melakukan transplantasi jantung. Alby adik pertama Barra masuk salah satu universitas dengan jurusan sesuai bidang yang ia sukai. Ervi adik bungsu












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews