Dilema Suami Bayaran

Dilema Suami Bayaran

last updateLast Updated : 2023-01-04
By:  diara_diCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
10
5 ratings. 5 reviews
38Chapters
5.9Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Synopsis

Barra Farzan, lelaki muda yang sudah menyandang status duda. Semua terjadi begitu saja, ia tak menyesal. Namun Barra mulai bosan dengan hidupnya yang selalu pahit, ada keinginan untuk bahagia. Memiliki istri secara benar adalah cita-cita Barra. Mimpinya di aminkan oleh semesta, gadis cantik putri dari konglomerat ibukota benar-benar jatuh dalam pesona Barra. Hubungan yang sempat ditentang itu akhirnya lolos ke jenjang pernikahan seperti apa yang Barra bayangkan setiap malam. Barra menegak manisnya kesempurnaan akad, di dampingi dua keluarga. Ini bukan mimpi, ini benar terjadi. Khayalannya terlaksana, sampai hubungan mereka berhasil diresmikan. Di atas pelaminan, Barra mencuri-curi kecupan di bibir Astra. Keduanya tertawa bahagia. Tanpa Barra sadari seorang wanita berjalan menuju altar pelaminan. Dipenuhi amarah. Plak! Tamparan keras mendarat di pipi Astra. "Dasar pelakor! wanita murahan! Aku ini masih istrimu, Mas. Kamu tega meninggalkan aku dan Beby?" Astra juga Barra terdiam beku, semua pasang mata menatap penuh intimidasi pada Barra dan Astra. Siapa yang tak sensitif saat kata 'pelakor' disebutkan? Rahasia apa yang Barra sembunyikan? Akankah keduanya bisa menjalani kehidupan sepasang suami-istri layaknya rumah tangga lain? Atau Barra akan habiskan hidupnya sebagai suami bayaran? Happy reading. Novel karya diara_di

View More

Chapter 1

Prolog

S E A S O N III

୨ৎ D E R R I N જ⁀➴

  "Ahh, siaaaaal!!" Kandung kemihku sudah enggak tahan lagi sama sisa alkohol semalam. Aku yakin kalau tadi malam aku sudah kebanyakan minum.

  Ada suara air mengalir dari kamar mandi. Aku masih enggak percaya kalau itu Marlin. Dia enggak mungkin bangun lebih pagi dari aku. Soalnya setiap hari, akulah yang biasanya tarik-tarik dia buat bangkit dari kasur.

  Aku singkap selimut, turun dari kasur, terus jalan pelan-pelan. Karena sedikit gelap, aku hampir saja terpeleset gara-gara menginjak baju-baju yang berserakan di lantai, untung saja aku masih sempat menyangga diri agar enggak terjatuh.

  "Arggg ... sumpah, semalam itu kita ngapain aja, sih?" gumamku.

  Aku masuk kamar mandi, bersyukur Marlin enggak menyalakan lampu, karena otakku pasti meledak kalau langsung terkena cahaya pagi-pagi buta begini. Lagi pula, aku juga enggak ingin lihat mukaku sekarang.

  Marlin sudah jadi sahabatku sejak kecil, jadi bukan hal aneh juga kalau aku kencing di depan dia. Jadi aku turunkan celana dalam, duduk di toilet, sambil mengeluh gara-gara kepalaku cenut-cenut.

  Idenya Marlin buat traveling keliling Bandung memang gokil. Karena aku benar-benar butuh refreshing. Apalagi dua kakak tiriku baru saja menemukan cinta sejatinya. Eh, kalau Alzian, sih lebih tepatnya dia sudah menemukan lagi. Tapi tetap saja, siapa sangka si Aldani yang batu itu bisa jatuh cinta?

  Dan sebentar lagi, semua orang pasti akan mencibirku. Soalnya aku anak perempuan yabg paling tua di keluarga Sunya. Orang-orang pasti berpikir kalau aku juga harus cepat-cepat punya keluarga, anak, dan segala macamnya.

  Memang harus, ya?

  Liburan kita kali ini seru, sampai akhirnya Marlin mengajakku menonton pertarungan MMA semalam. Kita nonton dua orang cowok yang saling pukul satu sama lain cuma buat hiburan. Aku mencoba menikmatinya, sih, tapi sumpah itu barbar banget.

  Akhirnya kandung kemihku lega juga, dan rasanya nikmat banget. “Gila, kamu Marlin! Kok, kamu bisa bangun sepagi ini?”

Enggak ada jawaban. Aku cuma dengar suara air berhenti.

“Aduh, aku pusing banget, Marlin. Ayo dong, bilang kalau kamu pingin sarapan di bawah! Aku ikut!”

  “Terserah kamu aja,” jawabnya, suaranya berat.

  Itu bukan suara Marlin.

Otakku belum sempat mencerna, tiba-tiba pintu shower terbuka dan muncullah cowok telanjang, badannya penuh tato, ototnya kekar banget dan ya, ampun .. itu apa yang mengacung tinggi di bawah perutnya?

Aku bisa lihat jelas karena ada cahaya redup dari meja kamar mandi. Wajahnya sedikit familiar, tapi aku enggak langsung mengenalinya.

  Apa dia bersama Marlin semalam?

  Sial.

  Aku enggak seharusnya melihat dia telanjang begini.

  “Sorry ya, semoga aku enggak ganggu kamu. Aku cuma harus bersihin sisa-sisa semalam,” katanya.

  “Ma—maaf, tapi kamu siapa?”

  Dia tertawa. “Ya, jelas suami kamu, lah!”

  Dia ambil handuk, melilitkannya di pinggang. Aku masih bengong di atas toilet, mulutku menganga. Refleks, aku pun menengok ke tangan kiri, ada cincin besar mengikat di jari.

  Ah, Sial. Berarti dia enggak bohong. Aku istrinya, aku baru saja jadi cewek Bandung, dan yang lebih parahnya lagi, aku lagi kencing di depan suami baruku, yang sebenarnya orang aneh, dan aku sama sekali enggak kenal.

  Dia sepertinya sadar sama ekspresiku yang antara syok dan takut. Soalnya dia tertawa, merapikan handuknya. Air masih menetes turun dari perut berototnya yang seperti baja itu. Barulah aku sadar ada beberapa memar di rusuk sama rahang sampingnya.

  “Petinju?” bisikku.

  Dia berkedip. Dia salah satu petarung semalam. Cowok yang memukuli lawannya habis-habisan di atas ring. Ada tendangan, pukulan, dan darah di mana-mana. Itu tontonan paling gila yang pernah aku lihat.

  Aku benar-benar menyaksikan pertarungan itu, dan aku benci kekerasan. Tapi Marlin ngefans berat sama MMA, dan entah bagaimana, dia bisa dapat tiket dadakan buat kita.

  Aku enggak mungkin mengecewakan dia. Yang aku enggak tahu, ternyata dia dapat kursi di barisan paling depan. Selama pertarungan dia heboh bersorak-sorak, sedangkan aku cuma bisa bengong, enggak menyangka ada orang yang benar-benar menikmati kekerasan seperti itu.

  “Setelah aku lihat kamu muntah semalam, ini sih masih enggak ada apa-apanya,” katanya sambil menunjuk ke arahku yang masih duduk di toilet.

  Mukaku langsung panas.

Aku muntah di depan dia?

Dan sekarang aku kencing depan dia?

Ya ampun, apalagi yang sudah aku lakukan?

  Dia santai saja, seolah enggak ada apa-apa. “Tadi aku dapat telepon dari manajerku.”

  “Manajer?” Aku makin bingung, harusnya aku sudah berdiri, merapikan diri, tapi malah masih duduk di toilet sambil mendengarkan dia.

  “Ternyata kita enggak jaga privasi semalam.” Dia menyalakan lampu. Mataku pun langsung perih seperti ditusuk jarum gara-gara cahayanya.

  Aku buru-buru membereskan diri, tarik celana dalam sama kaus yang baru aku sadar, kalau ternyata itu milik dia.

  Gila.

  Berarti aku lagi ada di kamar hotelnya. Terus, bagaimana caranya aku bisa kabur dari sini sebelum ini makin runyam?

  Dia bersandar santai di wastafel, tangan memegang sikat gigi, kasih odol di atasnya. “Aku udah minta bellboy bawain perlengkapan mandi, soalnya kamu pakai sikat gigiku semalam.”

  “Aku … pakai sikat gigimu?” rintihku. Sumpah ini benar-benar memalukan.

  “Enggak usah malu. Aku santai aja, kok.”

  “Kamu santai, aku yang enggak bakal bisa santai!”

  Dia tertawa. “Ya, aku juga kaget pas bangun tadi pagi, terus baru ingat. Tapi ya gitu, deh ...” dia angkat bahu dan aku bengong. “... kayaknya kita harus ngobrolin hal ini. Tapi, mungkin habis kamu pakai baju dulu.”

  Aku buru-buru cuci tangan, karena serius, aku enggak bisa bernapas normal di kamar mandi ini, sementara dia cuma pakai handuk.

  “Enggak apa-apa, kita bisa ngobrol gini aja, kok,” balasku.

  Dia enak bisa bilang begitu. Kalau aku juga punya badan kotak-kotak seperti dia, mungkin aku juga santai.

  “Ya, udah, tunggu bentar.”

  Aku keluar dari kamar mandi. Beberapa detik kemudian, dia muncul. Kali ini sambil pegang remote, yang otomatis membuka semua gorden di kamar. Pemandangan jalanan kota Bandung langsung terbuka, cahaya menyorot masuk, membuat mataku makin perih lagi.

  Dan jelas-jelas ini bukan kamar hotel yang Marlin sama aku booking. Karena kita cuma pesan kamar standar dengan dua ranjang, sementara ini kamar suite mewah, ada ruang tamu lengkap, sofa, TV layar datar, sampai minibar.

  Terus Marlin ke mana, sih?

  Kok, bisa-bisa dia membiarkanku sampai sejauh ini?

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

yenyen
yenyen
ini udah ending?kok gantung ya?
2022-11-01 00:22:42
0
0
diara_di
diara_di
Terima kasih untuk seluruh pembaca DSB. Bab 1-23 masih proses revisi. Jangan lupa vote dan kasih ulasan ya, Kak. Supaya penulis lebih semangat up.
2022-08-20 15:08:17
0
0
diara_di
diara_di
cerita ini akan lanjut bulan Agustus, ya. Mohon maaf untuk para pembaca. Tengkiyu ...️...
2022-07-12 18:14:55
0
0
Bee Yangfa
Bee Yangfa
Novelnya bagus kak... Alurnya selalu bikin penasaran, ditunggu upnya ...
2022-03-28 21:05:13
0
0
Isna Arini
Isna Arini
Semangat kakak, jangan lupa mampir di tempat ku yaa
2022-03-28 20:26:19
0
0
38 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status