MasukRina Satyawati adalah seorang ibu rumah tangga yang mengurus 2 anak-anak nya sendiri, dulu dia sebenarnya adalah seorang model terkenal, nama panggungnya adalah Rose. Suaminya bernama Hanif, dia seorang fotografer professional, rina dan Hanif dulu menikah diusia yang masih muda, rina menikah diusianya 21 tahun disaat karirnya sebagai model sedang ada di puncaknya, sedangkan Hanif saat itu berusia 25 tahun. Mereka menikah karena rina sering menjadi model di setiap project fahmi. selama 9 tahun mereka menikah, mereka dikaruniai 2 anak, , anak pertama mereka berumur 7 tahun dan anak kedua mereka masih berusia 6 tahun. Keseharian rina setelah menikah dengan hanif adalah fokus dengan keluarga, sehingga rina tak punya waktu untuk mengurus dirinya. Dulu dia sangat cantik dan punya tubuh ideal, namun setelah anak kedua nya lahir, semua itu berubah. Namun nyata nya, suami nya tak terima itu dan memilih meninggalkannya dan berhubungan dengan wanita lain. Bagaimana kah cerita ini? simak terus cerita nya.
Lihat lebih banyakThe truth is, I have always been a good girl.
When I saw an old ma'am broke her back, I carried her from the stop light to her apartment. It is, by the way, a few miles away. Til' this day, I still don't understand why she had to go that far to buy grocery when there is already one nearby the apartment.
I live with my roommate who never cleans the room. I took on the responsibility to do so, but all I have ever got in return is carbon dioxide—which is quite inexpensive if you ask me.
My parents bid me to become a doctor, since I had a passion for health and wellness as a teen. Throughout my progress, I have realized that education is learning what you didn't even know you didn't know.
I followed their instructions until I attended college; I gradually grew apart from medicine because it just wasn't for me. It was then I decided to become a writer. I gravitated towards historical novels; you know, the kind that makes your heart tingle and makes you chuckle like a twelve year old girl.
As a filial daughter, however, I still promised them I will study something close to medicine.. turns out, I chose to study plants.
You know what they say, never go to a doctor whose office plants have died. Botany was my best bet to study aside; I actually favored studying and experimenting with plants, although not as much as writing.
I question my decision now, of course, considering I am quite broke as a creator. Eating cup noodles and spending days and nights writing drafts have exhausted me to the point I seriously contemplate my life. Did I say it is difficult to pay for rent as a writer? And I have to constantly ask my parents for money?
The embarrassment!
Gee, I sure wish money grows on trees. Sure, money doesn't buy happiness. It does, however, pay for sesame Korean barbecue chicken wings and that is practically equivalent to happiness. At least to me.
And so when trouble knocks at the door, I greatly welcome it. After all, I am ready for a change.
But this is not the change that I meant.
Oh no, it is not even close.
I ended up being robbed in the streets. And it was under the broad day light.
Are you kidding me?!
This young man stole my purse out of my bare hands. But hey, it's not like I care anyways. I didn't even have any money left in there. I did have my food coupons in there though. Hopefully it'll be of use to him.
I found refuge in sleeping. I slept to relieve the feelings of inadequacy. That is the only way to escape my capricious life. I occasionally cried, which in response, caused my eyes to be swollen. The bags under my eyes become larger; I see a panda when I see my reflection in the mirror. Now, I am ugly AND broke.
How tragic.
My sheltering, perhaps conservative parents are growing grey, and yet I cannot even care for them. Such pitiful life.
I am such a loser.
And then something strange happens.
At first it is just a voice.
Then, I hear incoherent voices whispering to each other. I proceed to see faces— blurry faces.
The next day, it becomes more apparent. I even feel something warm and soft caress my cheeks. This time, I hear a cry. It isn't long until I smell fire powder.
Soon, I hear screams and yells loud and clear. It's unmistakable. Someone shakes me, hoping that I would regain consciousness.
The shaking is ineffective and to no avail, because everything went blank and I lost all my consciousness.
Tanpa meminta maaf, ibu-ibu itu meludah ke dagangan bapak lalu menepis semua tangan yang memegang nya dan pergi dengan menghentakkan kakinya.“Jangan iri bu sama rejeki orang lain. Kalau ibu sekali lagi begini. akan saya laporkan ke polisi.” Ucapku dengan tegas.Ibu-ibu itu malah meludah lagi kearah kami.“Astaga, ada ya orang begitu? Nanti saya coba laporkan ke Pak Irwan kepala pasar nya. Enggak bisa di biarin itu. Nanti orang seperti itu malah makin menjadi-jadi.” Sahut pak Hilman.Kejadian ini, aku cukup yakin bahwa ibu-ibu itulah yang sengaja membuat lubang pada lapak jualan bapak.“Nduk, ayo kita pulang sekarang saja.” Ajak bapak yang dari wajahnya terlihat sangat kecewa dan sedih.Aku melihat lagi ke dagangan bapak lalu aku mengangguk dan membantu bapak beberes semua sayuran yang sudah kotor itu.“Yang sabar pak Soleh, jangan dengarkan si penjual baru itu. Nanti saya lapor kan dia biar dia di tendang dari lapak nya
Setelah semua beres, aku masuk ke dalam rumah untuk beristirahat sebentar, Aku buka ponsel dan membalas semua pesan dari adikku yang dari kemarin tidak sempat aku baca. Rupanya, adikku dari kemarin berusaha memberitahu aku bahwa temannya Farah sudah mengupload video review kue-kue yang dia beli dariku. Aku melihat video itu dari kiriman adikku. Setelah melihat videonya, Aku mengerti bahwa orang-orang yang memesan kue-kue ku tadi pasti juga penasaran dengan kue yang Farah makan. Tak lupa aku meminta adikku agar mengucapkan terima kasih pada Farah.Setelah aku membalas semua pesan dari adikku, Sebuah nomor lain muncul di notifikasi ponselku. “Mba Yeni. Ini Bintang mba. Maaf ya mba bintang minta nomer mba ke mama. Mba, Bintang boleh pesan kue box mini nya engga 7? Terus yang cheese burn 3? Teman ku di kost pada minta pesan mba. Kue ku sampai habis di makan teman kemarin.” Membaca itu, aku langsung membalas, “Iya bintang enggak papa kok. Mba Yeni tulis ya? Tapi, Mba Y
(Keesokan harinya) Pukul 4 pagi ini aku terbangun dan langsung membersihkan diriku di kamar mandi. Namun Ibu mengetuk pintu kamar mandi dan memanggilku.“Yen.. Yeni..” panggil Ibu dengan sedikit cepat.“Iya bu, sebentar.”5 menit kemudian, aku keluar. “Nduk, itu di luar kok ada banyak orang nduk. Bapak mau berangkat ke pasar pun engga jadi karena takut itu ada apa.”Hari ini aku tak berjualan di meja depan rumah, Karena banyaknya pesanan tumpeng jumbo tinggi itu, aku tak kuasa lagi membuat kue untuk jualan lain. Namun aku terkejut karena di depan rumah ku sudah berkumpul orang-orang yang entah darimana asalnya. Aku pun memberanikan diriku keluar dan menanyai orang—orang itu.“Mba Yeni ya?” Ucap salah seorang laki-laki yang sepertinya sepantaran dengan adikku Salma.“Iya, saya Yeni. Eh ini ada apa ya?”“Mba, saya nonton review nya Farah tik tokers itu mba. Saya pengen sekali beli kue nya mba. Kata Farah, kue nya
Kami duduk dan memalingkan wajah kami kearah berlawanan dari arah berjalan mereka. Aku sungguh tidak ingin bertemu dengan mereka lagi. Aku merasa dunia ini sangat sempit sehingga kemanapun aku pergi pasti bertemu dengan mereka.“Udah mba, mereka udah enggak ada” Ucap Salma mencolek lenganku.Aku menoleh kearahnya, “Sal, mending pesan mobil sekarang saja ya? bisa kan? Mba, enggak mau lagi pas-pasan sama mereka. Mba takut kesorean juga sampai di rumah.”“Ya sudah mba, sebentar ya. Salma pesan dulu grab nya. Pak supirnya suruh masuk saja ya mba. Sebentar.” Ucap adikku lalu dia segera melalukan apa yang aku minta.Hampir 15 menit kemudian, Mobil pun berhenti tepat di depan kami. Pak supir dengan baik hati membantu memayungi kami hingga masuk kedalam mobil. Setelah itu, mobil pun melaju ke kost adikku lebih dulu barulah setelah itu Adikku memesankan lagi untuk aku pergi ke terminal.“Mba, Seharusnya langsung saja ke terminal. Salma kan mau ant












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan