LOGINRina Satyawati adalah seorang ibu rumah tangga yang mengurus 2 anak-anak nya sendiri, dulu dia sebenarnya adalah seorang model terkenal, nama panggungnya adalah Rose. Suaminya bernama Hanif, dia seorang fotografer professional, rina dan Hanif dulu menikah diusia yang masih muda, rina menikah diusianya 21 tahun disaat karirnya sebagai model sedang ada di puncaknya, sedangkan Hanif saat itu berusia 25 tahun. Mereka menikah karena rina sering menjadi model di setiap project fahmi. selama 9 tahun mereka menikah, mereka dikaruniai 2 anak, , anak pertama mereka berumur 7 tahun dan anak kedua mereka masih berusia 6 tahun. Keseharian rina setelah menikah dengan hanif adalah fokus dengan keluarga, sehingga rina tak punya waktu untuk mengurus dirinya. Dulu dia sangat cantik dan punya tubuh ideal, namun setelah anak kedua nya lahir, semua itu berubah. Namun nyata nya, suami nya tak terima itu dan memilih meninggalkannya dan berhubungan dengan wanita lain. Bagaimana kah cerita ini? simak terus cerita nya.
View MoreIt all started when I was 6.
I was about to fall asleep after I heard my father howl, his reassurance towards me that he's safe while he’s on patrol. I shut my eyes and let sleep take over.
I was awoken in the early morning hours to my mother shaking my shoulder. "Celeste. Celeste, wake up honey. We need to go," her voice held an urgency as she spoke.
"Mommy?" I asked questionably, "What's going on?" By now I could hear growls and whimpers coming from outside.
"We have to go. Everything will be alright," she said, picking me up. I wrapped my arms around her neck. She ran out my bedroom and to the back door, where she grabbed the emergency bags that everyone in the pack has (just in case), an idea my grandpa started after one of his cousin's packs' got ambushed.
She held the bags and ran out the door. She ran as fast as she could and others joined us along the way. I saw wolves fighting, everywhere. Some had blood on their mouths, others looked like they just shifted to aid in the fight. Eventually the images of flesh being torn out of wolves necks got to me and I buried my head in my mother's frizzy brown hair.
"Where's Daddy?" I asked, scared of the answer I was hoping wasn't true.
"I'm so sorry baby," she whispered as she kept on running.
*~*~*~*
By daybreak, the fight was no longer audible. The ones who had run had stopped, my mother and I included. There were about 30 of us, all women and children.
We had taken it that either everyone else was dead or ran in a different direction. I, like many, was aware of where my unseen family was. My father was dead. If you looked in my mother's eyes you could no longer see the light that only goes out at the loss of a mate. She had wandered off when we had stopped running, to grieve, but she wouldn’t go too far away from me. I was all she had left.
Most people had started to break away from us, to go to their old packs or the pack of a close family member. Then there were the people like my mom and I who decided to stay together until we find a place to call home, if we can find a place to call home.
When my mom and all the other people who are still grieving got back we decided to start running again. We would run in human form, for the children who could not shift wouldn't be able to keep up. My mother picked up our emergency bags, which are filled with food and clothes, in one hand and picked me up with her other as we all started our descent to an unknown place.
We would run till we meet our own ends if we had to but for now the children stay in their mother's arms as we begin our descent. Because that's what we have to do, to keep ourselves safe.
Tanpa meminta maaf, ibu-ibu itu meludah ke dagangan bapak lalu menepis semua tangan yang memegang nya dan pergi dengan menghentakkan kakinya.“Jangan iri bu sama rejeki orang lain. Kalau ibu sekali lagi begini. akan saya laporkan ke polisi.” Ucapku dengan tegas.Ibu-ibu itu malah meludah lagi kearah kami.“Astaga, ada ya orang begitu? Nanti saya coba laporkan ke Pak Irwan kepala pasar nya. Enggak bisa di biarin itu. Nanti orang seperti itu malah makin menjadi-jadi.” Sahut pak Hilman.Kejadian ini, aku cukup yakin bahwa ibu-ibu itulah yang sengaja membuat lubang pada lapak jualan bapak.“Nduk, ayo kita pulang sekarang saja.” Ajak bapak yang dari wajahnya terlihat sangat kecewa dan sedih.Aku melihat lagi ke dagangan bapak lalu aku mengangguk dan membantu bapak beberes semua sayuran yang sudah kotor itu.“Yang sabar pak Soleh, jangan dengarkan si penjual baru itu. Nanti saya lapor kan dia biar dia di tendang dari lapak nya
Setelah semua beres, aku masuk ke dalam rumah untuk beristirahat sebentar, Aku buka ponsel dan membalas semua pesan dari adikku yang dari kemarin tidak sempat aku baca. Rupanya, adikku dari kemarin berusaha memberitahu aku bahwa temannya Farah sudah mengupload video review kue-kue yang dia beli dariku. Aku melihat video itu dari kiriman adikku. Setelah melihat videonya, Aku mengerti bahwa orang-orang yang memesan kue-kue ku tadi pasti juga penasaran dengan kue yang Farah makan. Tak lupa aku meminta adikku agar mengucapkan terima kasih pada Farah.Setelah aku membalas semua pesan dari adikku, Sebuah nomor lain muncul di notifikasi ponselku. “Mba Yeni. Ini Bintang mba. Maaf ya mba bintang minta nomer mba ke mama. Mba, Bintang boleh pesan kue box mini nya engga 7? Terus yang cheese burn 3? Teman ku di kost pada minta pesan mba. Kue ku sampai habis di makan teman kemarin.” Membaca itu, aku langsung membalas, “Iya bintang enggak papa kok. Mba Yeni tulis ya? Tapi, Mba Y
(Keesokan harinya) Pukul 4 pagi ini aku terbangun dan langsung membersihkan diriku di kamar mandi. Namun Ibu mengetuk pintu kamar mandi dan memanggilku.“Yen.. Yeni..” panggil Ibu dengan sedikit cepat.“Iya bu, sebentar.”5 menit kemudian, aku keluar. “Nduk, itu di luar kok ada banyak orang nduk. Bapak mau berangkat ke pasar pun engga jadi karena takut itu ada apa.”Hari ini aku tak berjualan di meja depan rumah, Karena banyaknya pesanan tumpeng jumbo tinggi itu, aku tak kuasa lagi membuat kue untuk jualan lain. Namun aku terkejut karena di depan rumah ku sudah berkumpul orang-orang yang entah darimana asalnya. Aku pun memberanikan diriku keluar dan menanyai orang—orang itu.“Mba Yeni ya?” Ucap salah seorang laki-laki yang sepertinya sepantaran dengan adikku Salma.“Iya, saya Yeni. Eh ini ada apa ya?”“Mba, saya nonton review nya Farah tik tokers itu mba. Saya pengen sekali beli kue nya mba. Kata Farah, kue nya
Kami duduk dan memalingkan wajah kami kearah berlawanan dari arah berjalan mereka. Aku sungguh tidak ingin bertemu dengan mereka lagi. Aku merasa dunia ini sangat sempit sehingga kemanapun aku pergi pasti bertemu dengan mereka.“Udah mba, mereka udah enggak ada” Ucap Salma mencolek lenganku.Aku menoleh kearahnya, “Sal, mending pesan mobil sekarang saja ya? bisa kan? Mba, enggak mau lagi pas-pasan sama mereka. Mba takut kesorean juga sampai di rumah.”“Ya sudah mba, sebentar ya. Salma pesan dulu grab nya. Pak supirnya suruh masuk saja ya mba. Sebentar.” Ucap adikku lalu dia segera melalukan apa yang aku minta.Hampir 15 menit kemudian, Mobil pun berhenti tepat di depan kami. Pak supir dengan baik hati membantu memayungi kami hingga masuk kedalam mobil. Setelah itu, mobil pun melaju ke kost adikku lebih dulu barulah setelah itu Adikku memesankan lagi untuk aku pergi ke terminal.“Mba, Seharusnya langsung saja ke terminal. Salma kan mau ant


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews