Mag-log inIjab kabul tidak membutuhkan gedung mewah untuk menjadi sah. Di sebuah ruangan sederhana di KUA, Leon dan Aurora duduk berdampingan di hadapan penghulu dengan keluarga serta beberapa kerabat dekat sebagai saksi. Tidak ada pesta besar, tidak ada sorotan kamera, hanya suasana khidmat yang membuat keduanya sadar bahwa setelah semua kekacauan yang mereka lewati, akhirnya hubungan itu memiliki ikatan yang sah. Aurora duduk tenang dengan wajah sedikit tegang. Di sampingnya, Leon terlihat jauh lebih serius daripada biasanya. Penghulu menyampaikan nasihat singkat sebelum wali hakim memulai akad. Leon menarik napas, kemudian menjawab ijab dengan suara mantap tanpa keraguan. "Qabiltu nikahaha wa tazwijaha..." Setelah saksi menyatakan sah, suasana langsung berubah hangat. Ibu Leon mengusap air mata, ayahnya tersenyum bangga, sementara Florina yang hadir sebagai salah satu kerabat dekat Aurora segera memeluknya. "Selamat, sekarang tidak ada lagi yang boleh menyebut kalian pasangan tanpa st
Di rumah sakit, satu kabar bisa berpindah lebih cepat daripada roda brankar menuju ruang operasi. Begitu seorang pasien dipanggil, beberapa detik kemudian namanya sudah terdengar di meja perawat; begitu seorang dokter keluar dari ruang tindakan, pertanyaan mengenai kondisinya segera menyebar dari satu ruangan ke ruangan lain. Karena itu, Leon selalu tahu bahwa rahasia sebesar apa pun pada akhirnya akan sulit disimpan, terlebih jika menyangkut dua orang yang hampir setiap hari terlihat bersama. Namun pagi itu, yang memenuhi pikiran Leon bukanlah pasien, bukan pula operasi yang sudah menunggunya. Melainkan Aurora. Perempuan yang kini membawa kehidupan kecil di dalam tubuhnya. Leon berdiri di depan jendela ruang dokter sambil menatap halaman rumah sakit. Tangannya masih menggenggam hasil pemeriksaan Aurora, sementara pikirannya berputar pada satu kenyataan yang baru benar-benar mereka sadari. Mereka akan memiliki seorang anak. Kabar itu seharusnya menjadi kebahagiaan. Tetapi di b
Bunyi monitor pemeriksaan terdengar teratur di ruangan kecil itu, berbanding terbalik dengan jantung Leon yang sejak beberapa menit lalu tidak mau mengikuti ritme yang sama. Dokter yang biasanya mampu berdiri tenang di tengah operasi paling rumit kini justru mondar-mandir di depan pintu, sesekali melihat jam, kemudian kembali menatap layar hasil pemeriksaan Aurora.Aurora memperhatikannya dari atas tempat tidur."Leon, duduklah.""Aku baik-baik saja.""Kamu sudah berjalan dari tadi."Leon berhenti."Karena hasilnya belum keluar."Aurora tersenyum tipis. "Kamu dokter, bukan orang yang bisa memaksa hasil pemeriksaan keluar lebih cepat.""Aku tahu.""Tapi?""Aku tetap tidak suka menunggu."Aurora tertawa kecil."Dokter galak ternyata gugup."Leon menatapnya."Aku gugup karena kamu."Jawaban itu membuat Aurora terdiam.Leon mendekat lalu berdiri di samping tempat tidurnya. Tangannya meraih jemari Aurora dan menggenggamnya erat."Seharusnya aku lebih memperhatikan keadaanmu.""Aku juga tid
Kesibukan rumah sakit tidak pernah mengenal kata berhenti. Roda brankar terus melintasi koridor, monitor jantung berbunyi dari balik pintu ruang perawatan, perawat bergantian menerima laporan pasien, sementara dokter berpindah dari ruang pemeriksaan menuju ruang operasi tanpa sempat memikirkan jam kerja yang sudah melewati batas. Di tengah rutinitas itu, kehidupan Leon dan Aurora justru berjalan dengan cara yang berbeda. Mereka masih tinggal di rumah singgah yang disediakan rumah sakit. Tempat itu seharusnya hanya menjadi perlindungan sementara sampai ancaman terhadap mereka selesai, tetapi hari demi hari berlalu dan keduanya mulai terbiasa menjalani kehidupan bersama. Pagi mereka dimulai dengan kesibukan masing-masing. Leon menyiapkan perlengkapan kerja, Aurora memeriksa jadwal dinas, kemudian mereka berangkat bersama menuju rumah sakit. Sore atau malam hari, mereka pulang bersama. Tidak ada lagi kecanggungan seperti beberapa minggu sebelumnya. Aurora bahkan sudah terbiasa me
Ruang arsip mendadak terasa lebih sempit setelah nama itu disebut. Tidak ada seorang pun yang langsung bicara. Bahkan suara pendingin ruangan terdengar lebih jelas daripada sebelumnya, sementara Aurora hanya mampu menatap pria di hadapannya dengan napas tertahan.Leon masih menggenggam tangan Aurora."Ulangi namanya."Pria itu menatap Leon tanpa gentar. "Viona Magnolia."Aurora membeku.Florina langsung menggeleng. "Tidak mungkin."Dimas menatap pria itu tajam. "Kamu yakin?""Aku tidak datang ke sini untuk menebak."Leon tetap diam. Tatapannya justru beralih kepada Aurora, seolah ingin memastikan perempuan itu baik-baik saja.Aurora akhirnya bersuara, "Viona memang pernah terlibat dalam masalah ini, tetapi dia sudah menerima hukuman. Dia bahkan tidak mungkin memiliki akses sebesar itu."Pria tersebut menggeleng."Viona bukan dalang utama."Leon langsung menatapnya."Barusan kamu menyebut namanya.""Karena dia bagian dari rantai itu. Dia menerima perintah, melakukan kesalahan, lalu men
Pintu ruang operasi terbuka ketika brankar didorong masuk dengan kecepatan penuh. Bunyi roda yang beradu dengan lantai, instruksi perawat, suara monitor yang terus berbunyi, serta panggilan dokter dari berbagai ruangan membuat rumah sakit kembali menjadi tempat yang tidak pernah benar-benar tidur. Leon berdiri di tengah kesibukan itu dengan jas operasi masih melekat di tubuhnya. Baru beberapa menit lalu ia meninggalkan rumah singgah setelah menerima kabar mengenai pasien darurat, sementara persoalan orang yang datang mengetuk pintu rumah mereka tadi malam terpaksa ditinggalkan untuk sementara. Aurora berada di sisi meja operasi, mengenakan perlengkapan bedah lengkap. "Tekanan turun, Dok." Leon langsung menatap monitor. "Berapa?" "Delapan puluh lima per lima puluh." "Pantau terus. Jangan sampai turun lagi." Aurora menyerahkan instrumen yang diminta tanpa menunggu perintah kedua. "Ini." Leon menerimanya. "Bagus." Operasi berjalan cepat. Tidak ada ruang untuk membicarakan anca
“Aurora Lilian! Bisa-bisanya kamu melakukan kesalahan seperti itu di ruang operasi!”Bentakan Leon Rosmarin terdengar, membuat Aurora mengerut ketakutan di depannya.Operasi sudah selesai sejam yang lalu, berakhir dengan sukses. Tapi, kini Aurora mendapat evaluasi akibat kesalahannya tadi. “Sudah
Aurora menghela napas panjang sambil menatap pantulan dirinya di cermin kecil ruang ganti perawat.Wajahnya terlihat pucat. Ada lingkar hitam samar di bawah matanya akibat kurang tidur.Semalaman ia tidak bisa tidur karena terus memikirkan kejadian tadi malam. Wajah Leon yang mengerikan terus memen
Pria itu berdiri di sana dengan wajah datar. Tatapannya perlahan menyapu orang-orang di depannya. Memberikan ketegangan kepada mereka sehingga tidak ada yang berani untuk bereaksi.Viona yang tersadar duluan langsung tersenyum kaku.“Dokter Leon,” sapanya cepat, diikuti beberapa orang lain yang iku
Aurora Lilian berdiri kaku di pintu masuk ballroom. Tangannya mencengkeram ujung kemejanya dengan gugup. Ia masih merasa tidak percaya dirinya benar-benar datang ke pesta ini.Apalagi… Ia datang bersama dokter Leon Rosmarin.Aurora melirik sekilas ke sampingnya.Leon berjalan dengan langkah tenang.







