LOGINFarah baru saja lulus SMA dan di saat beraamaan, hubungan dua tahun bersama orang yang sangat ia cintai harus berakhir begitu saja. Ia merasa sangat kesepian dan terpuruk di saat bersamaan. Dia sangat ingin melanjutkan pendidikan, namun keadaan ekonomi keluarga yang tidak mendukung membuatnya tidak mampu menggapai mimpinya. Di tengah rasa putus asanya , hadirlah sosok tak terduga. Arga, adik kelasnya dulu, yang sudah menjadi mahasiswa kedokteran. Arga bukan sekadar datang kembali, ia hadir dengan ketulusan yang membuat Fara merasakan kenyamanan. Namun, dibalik semua yang sedang dihadapkan padanya akankah dia mampu menjalaninya dengan baik bersama Arga? Ataukah cinta mereka tidak bisa setara? Yuk, baca untuk menjawab kekepoan anda...
View MorePernahkah kau merasa, satu kalimat mampu meruntuhkan dunia yang kau bangun selama bertahun-tahun?
Itulah yang terjadi padaku sore itu. Kami duduk di sebuah kafe kecil dekat sekolah, tempat yang biasanya penuh dengan tawa dan percakapan ringan. Namun, hari itu berbeda. Tatapannya dingin, suaranya terdengar asing. “Aku rasa kita cukup sampai di sini, kau selalu bertingkah berlebihan!!!” katanya singkat, tanpa menatap mataku terlalu lama. Aku hanya bisa menahan napas. Ada ribuan pertanyaan yang berkecamuk di kepala, tapi aku memilih diam. Air mataku sudah hampir jatuh, tapi aku tidak ingin memberinya kesempatan melihat aku lemah. Jadi aku tersenyum tipis, padahal hatiku begitu remuk. Hari itu resmi berakhir. Hubungan yang terjalin selama dua tahun yang kukira ada masa depan, ternyata bisa runtuh hanya dalam beberapa kalimat. Pulang dari kafe, aku berjalan kaki sendirian. Sepanjang jalan, pertanyaan menyesakkan terus berputar di kepalaku, apakah aku tidak cukup baik? Malam-malam ku pun berubah. Aku sering menangis dalam diam, menatap dinding putih kamar yang terasa seakan menertawakan ku. Sementara teman-temanku sibuk persiapan kuliah. Ada yang ke Jakarta, Medan, bahkan luar negeri, sedangkan aku? hanya membantu nenek di rumah. Keinginanku untuk kuliah masih ada, tapi kondisi membuatku tak berdaya. Beasiswa yang ku incar selalu gagal. Aku semakin takut tertinggal, semakin takut tak akan pernah mengejar mimpiku. Sampai akhirnya, sebuah pesan singkat masuk dari nomor tak dikenal. “Kak… Assalamualaikum.” “Walaikumsalam.. maaf ini siapa?” Apa ini dia yang sedang mengujiku? Pikiranku ini adalah tes kesetiaan darinya. “Ini Arga kak, masi ingat nggak??” “Oh… kamu, Arga? Apa kabar? Tumben nih..” “Iya, cuma mau tanya kabar kakak aja sih, katanya kakak nggak jadi lanjut kuliah ya? Oh ya.. Aku dapat nomor kakak dari kak Ayu. Bolehkan?” “Boleh aja.” Aku mulai menjawab ketus, aku merasa kesialan ini bertambah. Aku ingat Arga yang selalu menjahili ku kapanpun ada kesempatan. Dulu aku jelas lebih senior darinya di sekolah, tapi dia berani. Apalagi sekarang, pasti hanya ingin mengejek keadaanku. Desas-desus aku putus dengan kak Rian pasti sudah tersebar, belum lagi aku tidak bisa melanjutkan kuliah. Benar -benar sudah jatuh tertimpa tangga pula. “Kak, besok aku jemput nonton yuk jam 5 sore. Pirates of the Caribbean uda keluar neh yang terbaru! Aku traktir deh! ” Aku mendengus, ”nggak bisa, ada kerjaan. ” Sengaja ku tolak, aku benar-benar tidak punya lagi tenaga untuk berdebat dengan bocah jahil ini. Gak lama Ponselku berdering lagi, kali ini telpon dari Ayu. ”Raa.. Besok nonton yuk! Pirates of the Caribbean uda keluar. Temenin aku yah.. aku traktir! Jangan sibuk ya! ” Aku sempat ragu, tapi akhirnya setuju. Ternyata keesokan harinya aku baru tahu, Ayu tidak datang sendirian. Ada Sadam, pacarnya, dan satu lagi… Arga. "Hai, Kak Fara. Katanya ada kerjaan?” ujarnya sambil tersenyum. Senyum yang dulu selalu membuatku kesal, kini tampak berbeda. Lebih dewasa, lebih tenang. Ku sikut pinggang Ayu, dia sudah utang penjelasan padaku. Aku kaku sepanjang jalan, mereka? Yah tentu saja terlihat akrab. Sadam dan Arga sepupuan, pasti mereka sudah sering jalan bertiga dengan Ayu. Selesai nonton kami malah tertahan di rumah Ayu. Aku jelas mulai gelisah, nenek pasti khawatir kalau aku terlalu lama. Waktu juga semakin malam, Arga sepertinya membaca gerak- gerik gelisah ku. “Mau pulang sekarang nggak? ” Dia berbisik pelan di dekatku, aku mengangguk setuju. ”Anu omm.. Arga anter kak Fara pulang dulu ya om, tadi janji nggak lama soalnya” ”Oh.. iya, iya. Nanti nenek jadi khawatir. Silahkan Arga, tapi jangan singgah - singgah lagi ya” ”Ah.. iya om, ini Arga juga besok ada kuliah, kita langsung pulang kok om” Aku dan Arga hanya pulang berdua, karena Sadam tentu saja masih ditahan oleh Ayu. Di perjalanan pulang aku merasa begitu kikuk, rasanya ingin sekali cepat sampai rumah dan merebahkan badan. Tapi kemudian Arga mulai membuka percakapan. Dari obrolan, aku baru tahu kalau Arga sekarang sudah jadi mahasiswa baru di Fakultas Kedokteran. Tapi aku tidak kaget. Arga dari keluarga berada yang memang berkecimpung di dunia kedokteran. Ayahnya Spesialis Bedah, Ibunya Spesialis Anak. Tidak heran dia mengikuti jejak orang tuanya, ditambah lagi Arga memang anak yang pintar. “Wah, hebat juga ya bocah kakak. Kakak kira kamu bakal jadi berandal, ternyata keterima di kedokteran juga ya,” kataku. Dia tertawa kecil, menggaruk tengkuknya. “Alhamdulillah, Kak. Masih baru sih, jadi masih adaptasi juga. Tapi Arga bersyukur banget bisa sampai di sini.” Aku mengangguk. Entah kenapa, mendengar ceritanya membuatku sedikit sedih. Aku yang sudah duluan lulus justru tidak ke mana-mana, sedangkan dia sudah melangkah jauh. Namun, bukannya balik menyombongkan diri, Arga justru terlihat lebih peka. Dia malah balik bertanya soal keadaanku. “Kakak sekarang gimana? Sibuk apa?” tanyanya hati-hati. Pertanyaan itu membuat dadaku sesak. Aku hanya bisa tersenyum hambar. “Ya begini aja, bantu - bantu di rumah dulu. Belum bisa lanjut kuliah.” Arga menatapku cukup lama. Matanya tidak menunjukkan rasa kasihan, melainkan seolah mengerti. Dia sedikit menoleh, “nggak apa-apa, Kak. Rezeki orang kan beda-beda. Arga yakin...Kakak juga pasti dapat jalan yang lebih baik nanti. Kalau nggak bisa tahun ini, bisa tahun depan juga.” Kalimat sederhana dari Arga membuatku terdiam sejenak. Rasanya sudah lama tidak ada yang menguatkan aku dengan cara seperti itu. Malam itu, setelah Arga pulang, aku duduk di teras rumah sambil memandang langit. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa tidak sendirian. Ada seseorang yang datang di saat aku sedang berada di titik yang terendah. Sejak pertemuan itu, Arga mulai sering muncul. Kadang dia mampir setelah pulang kuliah, kadang hanya sekadar menyapa lewat pesan singkat. Awalnya aku heran, kenapa dia begitu perhatian. Sampai akhirnya dia menyatakan rasa sukanya. "Kak.. Sebenarnya, sudah lama Arga punya perasaan lebih sama kakak. " Arga menatap ku dalam, berharap aku memberikan respon. "Aku tahu kakak bingung, tapi aku serius kak. Nggak harus dijawab sekarang juga nggak apa kak, aku orangnya sabar kok" Arga tampak tersenyum, lalu bangkit mengelus kepalaku. Aku terpaku, masih bingung apakah dia serius atau bercanda seperti biasanya?Arga mengangguk pelan. "Sudah dua hari. Dia dipindahkan ke sini karena kondisinya terlalu parah untuk perjalanan internasional, dan keluarga memutuskan membawanya ke rumah sakit terdekat. Tapi, kondisinya tidak membaik."Aku merasakan kakiku gemetar. Aku tidak tahu harus merasakan apa. Sedih? Lega? Atau kebingungan yang tak berujung?"Dia di mana?" tanyaku."Ruang ICU, lantai dua. Tapi kamu nggak perlu ke sana, Far. Tidak ada yang bisa kamu lakukan. Biarkan dia diurus oleh keluarganya," pinta Arga lembut."Aku hanya ingin melihatnya," kataku, dengan tekad yang membuat Arga terdiam.Arga menatapku lama, akhirnya menghela napas. "Baiklah. Aku akan menemanimu."Kami berjalan menuju ICU. Suasana di lantai dua terasa berat. Di depan ruang ICU, Tante Rita duduk seorang diri, menangis tanpa suara. Rambutnya acak-acakan, wajahnya sembab, ia terlihat hancur. Ia tidak menyadari kedatangan kami.Arga berbicara dengan perawat di balik meja, lalu menoleh padaku. "Hanya lima menit, Farah."Aku meng
Arga menaruh lengan besarnya di atas kepalaku, "kamu tersenyum. Sedikit, tapi itu senyum," ulangnya lembut. "Aku tahu kamu masih berduka. Aku nggak akan memintamu bercerita atau melupakan segalanya. Tapi aku mau kamu tahu, nggak apa-apa untuk merasa senang lagi, meskipun itu hanya untuk sedetik."Aku terdiam, menatap pantulan diriku di permukaan cangkir. "Aku merasa bersalah. Bagaimana aku bisa merasa senang sementara Azura... dan Rian...""Jangan," potong Arga. "Jangan pernah merasa bersalah karena mencoba bertahan hidup, Farah. Kamu sudah melalui batas maksimal penderitaan yang bisa ditanggung seseorang. Sekarang, giliranmu untuk diselamatkan."Ia mencondongkan tubuh ke depan lagi, tatapannya lekat dan tulus. "Aku tahu kamu nggak butuh belas kasihan, tapi kamu butuh teman yang melihatmu, bukan melihat tragedimu. Dan aku... aku senang kamu dibawa kembali oleh takdir ke dekatku.""Arga...""Aku tahu. Aku nggak akan memaksa. Tapi biarkan aku ada di sekitarmu, Far. Aku nggak akan gangg
Hari pertamaku bekerja berjalan lebih cepat dari perkiraanku. Pagi itu, aku ditempatkan di loket administrasi rawat inap. Belajar sistem, mempelajari alur pasien, dan menghafal prosedur standar membuat waktuku penuh. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, otakku bekerja untuk hal lain selain rasa sakit.Jam menunjukkan pukul empat sore ketika aku memutuskan untuk mencari minuman hangat di kantin rumah sakit. Tenggorokanku kering setelah berbicara dengan puluhan pasien dalam sehari. Aku berjalan pelan, memijit pelipis, tubuhku mulai terasa letih.Suara ramai dari kantin langsung menyambutku begitu aku melangkah masuk. Perawat, dokter, dan staf berseliweran, sebagian besar sedang mengobrol santai melepas penat. Aku mengambil teh hangat dan mencari bangku kosong di sudut.Baru saja aku duduk, seorang pria memasuki kantin dengan langkah santai. Ia mengenakan seragam dokter berwarna biru dengan jas putih tersampir di lengan. Rambutnya tersisir rapi kebelakang, wajahnya tampak lebih ma
Awalnya ide itu terasa berat. Meninggalkan tempat ini rasanya seperti meninggalkan Azura. Tapi kemudian aku sadar, Azura tidak pernah benar-benar "hidup" di rumah ini. Dia hanya singgah di rahimku yang penuh tekanan batin.Mungkin Ibu benar. Aku butuh udara baru. "Terserah Ibu saja," jawabku akhirnya, kembali menatap langit yang mulai menggelap. "Aku ikut saja."Sore itu, di tengah keremangan senja, aku menyadari bahwa hidupku kini seperti kanvas putih yang ketumpahan tinta hitam. Kotor, rusak, dan berantakan. Aku tidak tahu bagaimana cara membersihkannya, atau apakah aku masih punya tenaga untuk melukis ulang di atasnya.Namun, takdir sepertinya belum bosan mempermainkan hidupku. Rencana kami untuk pindah ke Jakarta buyar bahkan sebelum kami sempat mengemasi satu helai pakaian pun.Sore itu juga, sebuah taksi berhenti di depan pagar rumah Nenek. Jantungku berdegup kencang, takut jika keluarga Rian kembali untuk membuat keributan. Namun, sosok yang turun dari mobil itu bukanlah Om He






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews