Mag-log in"Sedang apa kau di ranjangku?!!!" Serena membuka matanya perlahan dan menyadari jika matahari pagi menyinari tubuhnya. Ia mengucek matanya yang masih asing dengan pantulan matahari. Senyumnya mendadak hilang ketika mendengar teriakan yang begitu keras di sampingnya. "Hei. Apa yang sedang kau lakukan di atas ranjangku?!" Serena menoleh ke samping dan menyadari jika sesosok tubuh besar sedang setengah berbaring di atas tempat tidur yang sama dengannya. Hal itu membuat Serena berjingkat. "Tu... Tuan Dominic! Sedang apa anda di sini?!" tanyanya kaget. Yang ditanya hanya bisa mengepalkan tangan. "Hei, Jalang. Seharusnya aku yang bertanya sedang apa kau di sini?!!" Serena bergeser hingga ujung tempat tidur begitu menyadari jika Mr Dominic tidak memakai sehelai baju pun dalam selimut tebal itu. Buru-buru Serena mengintip tubuhnya sendiri yang terbungkus selimut tebal itu. Dan betapa kaget dirinya ketika ia mendapati fakta jika ia juga sama tidak berpakaiannya dengan pria itu. Shittt! Apa yang sudah mereka lakukan semalam?!
view moreEmily POV
The shrill ring of my alarm jolted me awake. Still groggy from too little sleep, I groaned and fumbled to switch it off. Before I could bury my face back in the pillow, the door creaked open and my mom walked in. “Get up, Emily, or you’ll be late for work,” she said, pulling the curtains wide. Bright morning sunlight flooded the room. “Can’t I sleep for just a few more minutes, Mom? Please…” I begged, already turning over. “Stop being lazy and get up. Didn’t you say you have a presentation today?” The word “presentation” hit me like cold water. I shot out of bed. “Oh no! The presentation!” I dashed into the bathroom, showered in record time, threw on my clothes, and shoved my feet into my heels. My colleagues and I had spent weeks perfecting this pitch. I couldn’t afford to mess it up now. I raced downstairs, nearly tripping over my own feet. “Why are you in such a hurry, dear?” my dad asked from the dining table. “She woke up late. Today is the big presentation,” Mom answered for me. “Goodbye, Mom! Goodbye, Dad!” I called, grabbing my bag and bolting out the door. There was no time to wait for the bus. I flagged down a taxi and jumped in. While the driver weaved through the chaotic streets of Los Angeles, I pulled out my laptop and frantically worked on the final touches of the presentation. “We’re here, miss.” I paid quickly and stepped out, heart racing. As I turned, I collided hard with someone. My laptop flew from my hands and crashed onto the pavement. “Oh no! Oh no!” I dropped to my knees, picking up the broken pieces. I tried powering it on, but the screen stayed black. Panic surged through me. All our work was on that laptop. If it was damaged, the entire presentation would be delayed. “Are you okay, miss?” a deep voice asked. “Okay?” I snapped, thrusting the broken laptop toward him. “Does this look okay to you?” The man stared down at me, irritation clear on his strikingly handsome face. “I didn’t mean to bump into you. You should have watched where you were going.” “I was getting out of a taxi! You were the one walking on the sidewalk like you owned the street!” I shot back, voice rising. “Don’t I have the right to be mad?” He glanced at his expensive watch. “Look, miss, I have an important appointment. I’ll give you my number. Call me later and I’ll compensate you generously for the laptop. Right now, I really must go.” He tried to walk past me, but I blocked his path. “Miss!” His tone grew impatient. “Mr., I didn’t go through all of this just for your stupid money. I have a very important meeting too, and everything I need is—” Without waiting for me to finish, he pulled out a thick wad of cash from his wallet and pressed it into my hand. “This is all I have on me. That should cover it. Now we’re even.” He moved to leave again. Fury boiled over. I stormed after him, shoved him hard in the chest, and watched as he stumbled and fell onto the pavement. “Are you crazy?” he growled, eyes flashing with anger. “You think your money fixes everything, don’t you?” I yelled. “A simple sorry would have been enough, but no — you had to be arrogant! How much do you even have that you throw it around like that?” I flung the money back at him. “Take your damn cash! You clearly need it more than I do to fix that arrogance.” “How dare you—” “No, how dare you!” I cut him off. “Who do you think you are? You’re nothing but a rude, mannerless jerk. Your parents clearly failed to teach you basic manners.” I didn’t wait for his reply. I turned on my heels and stormed toward the building, leaving him sitting on the ground.Serves him right. Moments later, I stepped out of the elevator on my floor, still fuming. My colleagues immediately surrounded me. “Emily, what took you so long?” Gracie asked as we hurried toward the presentation room. “Something came up,” I muttered, setting my laptop on the table and plugging it in. To my relief, it finally turned on. “You look stressed. Is something wrong with the presentation?” Michael asked. “I just bumped into an arrogant idiot on the way here. But it’s fine. We’re ready.” “Is Emily here?” Our boss, Rose Brighton, strode into the room. “Yes, I’m here.” “Why were you late? Do you want us to lose this contract?” she snapped. Before I could explain, she continued, “I don’t want excuses. This is the biggest opportunity this agency has ever had. Give it your absolute best. No mistakes!” She turned to Gracie. “Did you research the client’s profile?” “I tried, but there’s almost nothing online. All we know is that he’s a wealthy billionaire who likes to keep his life private.” Rose let out an exasperated sigh. “You’re not doing your job properly, Gracie!” After another sharp lecture, she waved her hand. “Enough! You all will give me wrinkles before my fiftieth birthday. Emily, take over.” She stormed out. Gracie mimicked her dramatically once she was gone, and we all laughed, the tension easing slightly. Everyone was on edge. Our small advertising agency needed this win. Landing the Callaghan contract would change everything for us. “Guys! They’re here!” Mary, the receptionist, burst in. While Gracie and Michael went to welcome the guests, I quickly finished setting up the room. A cable lay loose on the floor. I bent to pick it up just as Gracie’s voice floated in. “Come in, sir.” “This better be worth my while,” a familiar deep voice replied. My stomach dropped. I stood up slowly… and froze. Standing in the doorway, looking just as shocked as I felt, was the rude man from the sidewalk. “Emily,” Gracie said cheerfully, “meet Cade Callaghan, owner of the Callaghan Empire.” My mouth fell open.Serena baru saja mengecek kembali kondisi Tania dengan memeriksa suhu badannya. Mulai turun. Meskipun belum bisa dikatakan normal, ketika Aarav datang. Pria itu terlihat menghentikan mobilnya di halaman. Tadinya Serena memang sempat melihat Aarav keluar. Tapi ia tidak sempat menanyakan kemana gerangan pria itu pergi. Lagipula kalau dipikir-pikir kenapa ia harus menanyakan hal tersebut pada Aarav? Pria itu pasti akan menghujatnya dengan melabeli Serena sebagai orang yang kepo dan cerewet. Toh, ia bukanlah istri sebenarnya yang harus mengetahui kemana suaminya pergi. Ia hanyalah istri yang tidak dianggap. Lebih tepatnya, istri yang dianggap hanya sebagai pembantu. Jadi, Serena memilih tidak bertanya. Karena... Sepertinya lebih baik memang begitu...Pria itu terdengar membuka pintu dan menghampiri Serena yang sedang menyiapkan air panas untuk mengompres Tania lagi. "Apa yang sedang kau lakukan dengan air panas itu?" tanya pria itu heran ketika melihat Serena menuangkan air panas ke da
Aarav memasuki kelab yang dipenuhi lautan manusia baik sadar maupun dalam keadaan mabuk dengan langkah panjang. Malam minggu begini memang banyak sekali muda-mudi yang menghabiskan waktu mereka dengan dunia malam. Aarav khawatir pada Evelyn yang masih di dalam. Bagaimana bisa manajer wanita itu meninggalkannya sendirian seperti itu?Aarav mulai mencari-cari Evelyn diantara banyaknya orang yang berada dalam ruangan pengap tersebut. Lampu blits menyala-nyala, menyilaukan pandangannya yang berusaha mencari-cari Evelyn. Ditengah usahanya mencari wanita itu, banyak sekali wanita yang melambai padanya. Mereka bahkan melihat kedatangan Aarav dengan pandangan memuja. Mereka mendekati pria itu sembari menawarkan segelas wine. Aarav menggeleng. Dan para wanita itu akhirnya berlalu setelah berdecih kecewa. Tujuannya datang kemari adalah untuk mencari Evelyn. Dan..Itu dia!Sosok wanita cantik terlihat sedang menyilangkan kakinya di sofa VIP. Wanita itu terlihat sedang mengobrol dengan orang la
Serena menyuapi Tania dengan telaten. Ia selalu berusaha mengajak ibunya mengobrol. Dan entah bagaimana, ibunya yang sakit itu terlihat sedikit riang karena menimpali ucapan Serena dengan senyum atau tawa kecil. Aarav menyesal karena mendapati fakta jika ibunya tidak pernah seriang itu ketika mengobrol dengannya. Aarav memang mengakui jika ia adalah anak yang kaku. Kehidupannya selama ini hanya berpusat pada pekerjaan dan pekerjaan saja. Pasti sangat membosankan mengobrol dengannya. Namun Tania seolah mendapatkan teman baru saat bersama Serena. Mereka berdua membicarakan banyak hal seputar makanan. Serena lebih banyak bicara dan menceritakan apa saja. Sementara Tania hanya bisa tersenyum dan memukul menantunya itu dengan sayang sesekali. "Ibu tahu tidak. Terkadang Aarav selalu mendengkur saat tidur. Yah memang tidak setiap malam. Tapi bukankah itu lucu... Hahahha..." ucap Serena pada Tania. Aarav mencoba mengalihkan pandangannya. Mendengar dua orang membicarakan dirinya dengan tawa
"Aku ikut. Aku akan mencoba membantu merawat ibumu!"Untuk sedetik, Aarav merasa ia begitu terpana. Pada kalimat yang diutarakan oleh Serena. Wanita itu terlihat panik meraih tas mungilnya yang kusam. Lalu mengambil jaket yang berada di gantungan dengan kecepatan kilat dan langsung menyusul Aarav. "Aarav, ayo!" ucap Serena ketika Aarav malah bengong sembari menatapnya. Sebenarnya Aarav terpana pada sikap Serena yang langsung berniat ikut ke rumah ibunya tanpa ragu sedikitpun. Ekspresi khawator benar-benar ditunjukkannya sepanjang wanita itu melangkah menuju mobil dan duduk di samping kemudi Aarav. Semua ekspresi dan perilakunya sama sekali tidak luput dari perhatian Aarav. Bagaimana ada seorang wanita manipulatif yang begitu khawatir pada ibunya? Aarav bertanya-tanya apakah itu hanyalah samdiwara? Tapi bagaimana bisa seseorang bisa bersandiwara sehebat itu? Rasanya tidak mungkin. Serena bahkan berulang kali menangkupkan tangannya seolah sedang berdoa untuk kesembuhan ibunya. "Sem
Aarav menatap Evelyn. Wanita itu baru saja mengganti bajunya. Ia sengaja mengajak wanita itu untuk beralih ke hotel yang lainnya. Ia tidak mau berada dalam satu hotel dengan keluarga ataupun Serena. Berada dalam acara tersebut membuatnya muak. Pernikahan itu juga membuatnya muak. Dan Serena... Enta
Ada satu cerita yang selalu dibacakan mendiang ibunya ketika Serena kecil. Sebuah dongeng manis yang mengantarkannya pada angan-angan bahwa suatu hari ia akan menjadi puteri yang akan menemukan cinta sejatinya. Sebuah dongeng yang sering dibaca ibunya berulang-ulang tanpa bosan. "Ibu harap, suatu
Serena mendapatkan begitu banyak kado, ucapan selamat, dan doa dari semua yang hadir. Bukan tanpa alasan, keluarga Dominic adalah salah satu keluarga yang memiliki banyak relasi dan kolega. Seharusnya Serena bahagia, tapi entah kenapa ia merasa amat sedih. "Selamat, Serena. Aku tidak menyangka kau
Serena Williams menatap pantulan cermin. Menunjukkan wajah cantiknya yang dibalut make up cantik hasil dari penata rias terkenal. Juga rambut hitamnya yang dicepol sederhana dengan tambahan mahkota mewah membuatnya tampak anggun. Jangan lupakan betapa cantik gaun yang ia pakai. Gaun putih dengan pa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu