Mag-log in“Apa? Menikah?” tanya Rara, “tapi, kita bahkan belum saling mengenal.” “Kita hanya pura-pura menikah, kamu tidak perlu mengenalku. Aku, pun, tidak ingin mengenal lebih jauh perempuan sepertimu.” Sejak hari itu, hidup Rara selalu dihadapkan dengan berbagai cobaan. Rara dihadapkan pada dua pilihan. Bertahan dengan suami yang tidak pernah mencintainya, atau pergi dengan sahabatnya sendiri yang menyukainya sejak lama.
view more"Ibu... sakit..." rintihan itu menyayat hati Alya.
Tsaqif, putra bungsunya, merintih dalam tidurnya. Tubuh bocah itu panas tinggi, menggigil hebat di balik selimut tipis yang sudah apek.
Alya ingat betul, ia menyimpan uang lima ratus ribu rupiah di bawah tumpukan baju dalam lemari. Uang hasil memeras keringat mencuci baju tetangga dan berjualan kue keliling.
Itu satu-satunya harapan untuk membawa Tsaqif ke klinik malam ini.
Dengan langkah tergesa, Alya menuju lemari.
Namun, saat tangannya meraba bagian bawah tumpukan baju, jantungnya hampir copot ketika tahu kalau amplop itu sudah lenyap..
Alya menyibak tirai kamar, melangkah lebar menuju ruang tengah.
Aldi, suaminya, sedang duduk bersila di depan laptop dengan mata merah menatap layar judi slot yang berputar. Di sebelahnya, seorang wanita dengan pakaian kurang bahan sedang menggelayut manja sambil memegang gelas kopi.
"Ayo Mas, pasang lagi, kali ini pasti jackpot!"
"Tenang, Sayang. Uang dari si Babu itu lumayan juga buat modal," sahut Aldi sambil terkekeh, jarinya menekan tombol spin dengan.
"Aldi!" teriakan Alya memecah tawa mereka.
Aldi menoleh, wajahnya tak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun. "Apa? Berisik banget malam-malam. Ganggu hoki orang aja!"
"Mana uang pengobatan Tsaqif? Itu uang untuk anakmu yang lagi demam tinggi, Mas!"
Aldi mendengus kasar, lalu kembali menatap layar laptopnya. "Udah habis. Kamu, sih, datang-datang marah, jadi kalah taruhanku. Lagian anak sakit itu biasa, dikerokin juga sembuh. Nggak usah lebay minta ke dokter segala."
"Habis?" Alya merasa kakinya lemas, tapi amarah menopangnya untuk tetap berdiri. "Kamu pakai uang nyawa anakmu buat judi? Dan kamu bawa perempuan lonte ini ke rumah kita saat anak-anakmu sedang sekarat kelaparan?!"
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi Alya hingga sudut bibirnya robek.
Aldi yang kalap mendorong tubuh ringkih Alya sekuat tenaga.
Alya terpental, punggungnya menghantam sudut meja kayu dengan keras sebelum jatuh tersungkur ke lantai dingin.
Aldi tidak menolongnya. Ia justru kembali duduk, merangkul wanita simpanannya yang tertawa mengejek.
"Udah, Mas. Biarin aja dia. Mending kita lanjut main di kamar," bisik wanita itu.
"Iya, bentar lagi. Ngungsi dulu sana kamu, Alya, dari pada di rumah, bkin sumpek aja!"
Saat itulah, sesuatu dalam diri Alya patah. Ia menyeka darah di sudut bibir dengan punggung tangan. Tatapannya berubah dingin, kosong, namun tajam.
Tidak ada lagi air mata untuk pria iblis ini!
Alya bangkit tertatih, membangunkan Aisya dan Zayyan yang tertidur pulas dengan guncangan pelan namun tegas. "Bangun, Nak. Kita pergi sekarang!"
"Ibu? Mau ke mana? Hujan, Bu..." Aisya mengucek matanya.
"Ke mana aja, asal kita cepat pergi dari rumah neraka ini," bisik Alya.
Tanpa membawa baju ganti, hanya bermodal tas berisi dokumen penting dan dompet kosong,
Alya menggendong Tsaqif yang tubuhnya semakin membara. Ia menggandeng Aisya dan Zayyan, menyeret mereka keluar menembus pintu depan.
"Heh! Mau ke mana lo bawa anak-anak?" teriak Aldi dari ruang tengah.
Alya tidak menoleh dan berlari menembus hujan.
Dia terus berjalan, memeluk Tsaqif erat di dadanya, berharap panas tubuh Tsaqif tidak tersentuh air hujan karena terlindung tubuhnya
"Ibu... Tsaqif kejang, Bu!" jerit Aisya histeris saat melihat adiknya mengejang dalam gendongan Alya.
"Tsaqif! Bertahan, Nak! Ya Allah, tolong!"
Tidak ada kendaraan yang lewat.
Alya berlari tak tentu arah, kakinya telanjang karena sandalnya putus beberapa meter di belakang.
"Tolong, siapapun tolong aku!" Alya berteriak di tengah deru hujan, suaranya parau tertelan petir.
Sebuah sorot lampu tajam dari mobil sedan hitam mewah melaju kencang.
Tanpa pikir panjang, Alya melepaskan tangan Zayyan dan Aisya, menyuruh mereka minggir ke trotoar. "Tunggu di situ!"
Alya nekat berlari ke tengah jalan. Dia merentangkan tangannya, menghadang mobil yang melaju cepat itu. Ia tidak peduli jika harus tertabrak.
Jika dirinya mati, setidaknya pengemudi itu bisa berhenti untuk menolong anaknya.
CIIIITTT!
Mobil itu berhenti hanya beberapa sentimeter dari lutut Alya yang gemetar.
Alya jatuh berlutut, memeluk Tsaqif yang kini diam tak bergerak.
Pintu mobil terbuka.
Di dalam sana, duduk seorang pria dengan setelan jas mahal yang tak tersentuh setitik pun noda. Wajahnya terpahat sempurna, namun tatapannya sangat dingin kepada Alya.
Pria itu menatap Alya yang basah kuyup, rambutnya lepek menempel di wajah, darah mengalir dari sudut bibir, dan lumpur mengotori kakinya.
"Apa kau bosan hidup?" suara Araska rendah, namun tajam menghunus.
Alya tidak peduli pada ancaman itu. Ia merangkak mendekat ke arah jendela mobil, mengabaikan harga dirinya yang sudah hancur lebur malam ini. Ia mengangkat tubuh Tsaqif tinggi-tinggi, memperlihatkan wajah pucat anaknya pada pria asing itu.
"Tuan, tolong anak saya, Tuan, saya mohon…" suara Alya serak, bercampur isak tangis yang akhirnya pecah. "Anak saya ini kejang, dia harus dibawa ke rumah sakit sekarang…"
Alya mencengkeram spion mobil mewah itu dengan tangan gemetar. "Saya tidak minta uang… Saya cuma minta tumpangan ke rumah sakit. Anak saya bisa mati kalau tidak ditolong sekarang!"
Araska menatap mata wanita itu.
Ada keputusasaan yang begitu dalam di sana, sebuah lubang hitam penderitaan yang entah kenapa menarik perhatiannya.
Namun, di balik keputusasaan itu, Araska melihat kalau wanita itu keras kepala.
Wanita ini tidak takut padanya.
Wanita ini lebih takut kehilangan anaknya.
"Kenapa saya harus menolongmu?" tanya Araska datar, menguji.
Alya menelan ludah, air hujan dan darah bercampur di lidahnya. Ia menatap Araska, tatapan seorang ibu yang siap menyerahkan nyawanya pada iblis sekalipun demi anaknya.
"Tolong anak saya, Tuan. Jika Tuan menyelamatkan nyawanya malam ini, saya rela, saya akan melakukan apapun yang Tuan minta. Tuan bisa ambil tenaga saya, kehormatan saya, bahkan nyawa saya… ambil saja kalau Tuan mau. Saya juga siap menjadi budak Tuan seumur hidup saya, asal anak saya selamat."
Hening sesaat.
Araska yang selama ini hatinya beku, yang tak pernah tersentuh oleh drama murahan wanita manapun, tiba-tiba merasakan retakan kecil.
Laki-laki itu melihat ketulusan yang mengerikan dari wanita basah kuyup ini.
"Apapun?" ulang Araska.
"Apapun, demi anak saya!" tegas Alya tanpa keraguan.
Araska menatap wajah Tsaqif yang membiru, lalu beralih ke dua anak kecil lain yang menggigil di trotoar sambil menangis memanggil ibunya.
Klik.
Pintu belakang terbuka.
"Masuk, sebelum aku berubah pikiran!" perintahnya dingin.
Dokter menjahit telapak kaki Clay yang robek, sedangkan Joe dengan sabar menenangkan Clay yang masih meringis kesakitan. Tak henti-hentinya Joe menggenggam tangan Clay dan mengusap lembut kepalanya.Setelah selesai, mereka lalu pulang ke rumah Clay. Sesampainya di sana, Joe segera menggendong Clay masuk ke dalam rumah dan membaringkannya di ranjang. "Aku akan pulang sebentar untuk mandi dan mengganti pakaian. Setelah itu, aku akan kembali sebelum berangkat ke kantor dan membawakan sarapan untukmu," ujar Joe sembari mengusap halus pipi Clay. "Baiklah, Joe. Aku akan menunggu."Joe pun beranjak dan melajukan mobilnya untuk pulang. Sepanjang perjalanan, Joe sangat frustasi memikirkan tentang bagaimana dirinya akan mengurus Clay selama dia sakit. Joe tidak mungkin berkata jujur pada Rara, lalu membuatnya terluka lagi.Tak lama kemudian, Joe pun sampai di rumah. "Joe? Kamu dari mana?" tanya Rara yang melihat Joe masuk. "Ah, tadi aku sedang ada sedikit masalah. Jadi aku pergi u
Joe baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat Clay yang sedang memengang ponsel miliknya. “Sayang? Kamu sedang apa?” tanya Joe. “Ah, aku hanya melihat-lihat isi galerimu,” jawab Clay berbohong. “Kemari Joe, aku ingin memelukmu.” Joe tersenyum gemas, lalu memeluk kekasihnya. “Kenapa kamu manja sekali, sih?” “Kenapa? Kamu tidak menyukainya?” “Suka, kok. Aku menyukai apapun yang ada padamu.” Clay tersenyum manis, lalu menyentuh kedua pipi Joe dengan tangannya. Dia menatap mata Joe lekat, lalu mencium bibir Joe dengan sekali kecupan. Joe tersenyum senang, kemudian mulai mencium Clay. Dia mengulum bibir ranum milik kekasihnya, lalu menggendong Clay menuju kamar tanpa melepas ciumannya. Joe menidurkan Clay di ranjang, lalu menahan tubuh mungil kekasihnya di bawah kungkungannya. Dia mencium Clay dengan intens, dan mulai turun ke leher hingga dada Clay. Tanpa sadar, Clay mulai melenguh pelan. Disaat yang bersamaan, Joe mendengar ponselnya terus berdering. Joe langsung m
Joe kembali ke ruangannya dan melihat Clay tertunduk lesu di kursi. Dia mendengus pelan, lalu berjalan menghampiri Clay. Joe pun duduk dihadapan Clay, lalu mengusap pipinya lembut. Clay menatap Joe sendu, “Joe, apa kamu akan meninggalkanku?” “Tentu tidak, Clay. itu tidak akan pernah terjadi.” “Lalu kenapa kamu sulit sekali dihubungi? Kamu bahkan meninggalkanku untuk mengejar Rara barusan.” “Sayang, Rara sedang sedih karena baru saja kehilangan janinnya. Keadaannya belum stabil, aku harus lebih sering menemaninya.” “Apa sekarang kamu mulai mencintainya?” tanya Clay dengan mata berkaca-kaca. Joe menatap Clay sendu, dia tidak tahu jawaban apa yang harus diberikan. “Joe? Kenapa kamu tidak menjawabku?” tanya Clay sekali lagi. “Clay, berhentilah berpikir yang tidak-tidak. Aku masih mencintaimu, akan selalu begitu.” Entah apa yang harus dikatakan Joe untuk menenangkan Clay. Saat ini, Joe hanya bisa memeluk dan meyakinkannya bahwa perasaan Joe tidak akan pernah berub
Sudah satu minggu Joe menemani Rara. Dia benar-benar menepati janjinya, meluangkan banyak waktu untuk Rara dan mengerjakan semua pekerjaan kantornya di rumah. Bahkan, Joe membuat sekertarisnya harus mondar-mandir dari kantor ke rumah Joe, untuk menyerahkan berkas penting atau sekedar meminta tanda tangan darinya. Selama di rumah, Joe benar-benar berubah. Dia sangat perhatian pada Rara, dan mencurahkan semua waktunya untuk Rara.Hari sudah mulai petang, Rara dan Joe sedang menonton film. Rara bersandar pada bahu Joe, sementara Joe merangkul Rara. Mereka sama-sama larut pada adegan demi adegan dalam film tersebut. Tiba-tiba, ponsel Joe berdering. Terlihat Clay meneleponnya berkali-kali, namun Joe enggan menjawabnya. Joe bahkan mematikan ponselnya, kemudian kembali fokus pada film. Rara menghela nafas, dia merasa sedikit bersalah pada Clay. “Berhenti menonton, aku mengantuk,” ucap Rara sambil beranjak pergi. “Masih pukul 8, benarkah kamu sudah mengantuk?” tanya Joe yang mengikuti R






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.