เข้าสู่ระบบDengan suara agak gugup yang berusaha ia tutupi, Raymond cepat-cepat menarik tangannya dan membuat jarak dari Jovita. "Eh, Bibi...” Meski Raymond salah tingkah, tapi tetap mampu menguasai dirinya. “Saya kira tadi Vio, soalnya Jojo pakai baju Vio," alibi Raymond spontan. “Oh…” Bi Lastri langsung tercekat, tidak tahu harus memberi reaksi bagaimana. Alasan yang diberikan Raymond cukup masuk akal, karena pakaian santai yang saat ini dikenakan Jovita memang dipinjam dari Viola. Meskipun dalam hati Bi Lastri merasa ada yang janggal dan tidak percaya begitu saja, tapi wanita tua itu memilih mengangguk patuh. Sebagai asisten rumah tangga yang sudah lama mengabdi, ia sadar betul posisinya untuk tidak ikut campur dalam urusan pribadi sang majikan dan hanya fokus pada tugas pekerjaannya. "Ini Tuan… bibi cuma mau ambil minum hangat.” Sudah kebiasaan perempuan tua itu menjaga k
Di dalam kamar Viola, kedua sahabat itu duduk berhadapan di tepi tempat tidur, berbincang begitu akrab seolah hubungan mereka baik-baik saja. Tak ada kebencian di hati Viola, dan tak ada rahasia di sisi Jovita. “Kalau sudah lulus nanti, apa rencanamu, Jo?” Sambil memangku bantal, Viola terlihat sangat penasaran. Jovita sempat terdiam sejenak. Ingatannya mendadak melayang pada pembicaraan hangat bersama Raymond, rencana mereka untuk melakukan promil setelah Jovita lulus. Dan nasihat Bi Siti agar dia segera hamil sempat terlintas di pikirannya. Namun, menyadari posisinya, Jovita dengan cepat mengubur rapat kenyataan itu dan menjawab menggunakan impian lamanya, impian sebelum garis takdir menyatukannya dengan Raymond. “Aku bakal langsung cari kerja, Vio. Apa pun pekerjaannya, yang penting halal dan hasilnya jelas.” Terdengar klise, tapi itulah impian Jovita di masa-masa sulitnya. “Aku ha
Viola yang duduk di kursi depan merogoh layar konsol tengah, mengganti pemutar lagu yang tadinya mengalunkan musik jazz instrumental pilihan Raymond menjadi musik Indie Pop yang lebih berenergi.Raymond tidak menegur atau melarang tindakan putrinya itu. Pria dewasa itu hanya mengembuskan napas kasar tanpa kata, lalu kembali mengemudikan mobilnya dengan tenang, menyadari sepenuhnya bahwa selera musiknya dan generasi sang putri memang terpisah jarak yang cukup jauh.Untuk memecah keheningan kabin, Viola memutar badannya sedikit ke belakang, membuka percakapan dengan Jovita.“Jo, skripsimu gimana? Kamu sudah dapat judul dan kerangkanya?”“Sudah, aku kan sudah memikirkan dan mengumpulkan konsep skripsi ini sejak awal magang kemarin. Jadi sekarang tinggal fokus eksekusi rancangan maket dan penyusunan berkasnya saja.”Viola menyunggingkan senyum tipis, ada nada menyindir yang agak tajam terselip dari balik cara bicaranya.“Wah, sepertinya buru-buru banget. Di kejar target apa? Mau buru-buru
Seperti biasa, setiap kali di studio arsitektur kampus, Jovita akan selalu tekun berkutat dengan pemotongan bahan dan perekat untuk menyelesaikan maket skripsinya.Tak jauh dari meja kerja Jovita, Dylan berdiri berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Tapi, sesekali matanya mencuri pandang ke arah Jovita.Bukan hanya terpesona oleh kecantikan Jovita yang fokus dengan desainnya, tetapi Dylan juga terpesona oleh presisi dan detail luar biasa pada karya gadis itu.Sentuhan desain Jovita kini jauh berbeda. Tampaknya gadis itu telah menyerap banyak sekali ilmu dan teknik kelas atas langsung dari Raymond.Dylan perlahan melangkah mendekat, membungkuk sedikit untuk mengamati maket Jovita dari jarak dekat.“Bagus banget, Jo... Struktur dan proporsinya terlihat sangat profesional.”Dylan tidak bohong, sebagai calon penerus Hadiningrat Group sejak kecil dia sudah dijejali dengan berbagai bentuk desain arsitektur kelas dunia. Karya Raymond selalu punya pembeda bagi Dylan, dan kini hal itu
Jovita menghangatkan makanan yang dibawakan Bi Siti. Tapi, sebelum seluruh hidangan di atas kompor sempat siap disajikan, Raymond sudah berjalan mendekatinya dengan setelan rapi.“Maaf, aku tidak sarapan di sini dulu ya pagi ini,” ujar Raymond dengan suara yang sedikit sengau. “Kemarin aku sudah janji mau sarapan bareng Vio di rumah.”Jovita menghentikan tangannya, lalu perlahan mematikan kompor. Ia berbalik menghadap Raymond, menatap wajah suaminya yang tampak agak pucat dengan pangkal hidung yang memerah akibat flu.Mengingat rayuan dan peringatan Raymond agar tidak tertular, Jovita urung mencium bibir atau pipi suaminya. Sebagai gantinya, ia maju mendekat dan mendaratkan ciuman hangat tepat di dada bidang Raymond.Raymond tersenyum lembut, lalu menunduk untuk membalas dengan sebuah kecupan hangat di pucuk kepala Jovita.“Padahal Jojo pengen lebih...” bisik Jovita manja, mengelus dada suaminya pelan.Raymond terkekeh pelan, matanya menyipit menggoda. “Padahal baru tadi malam lho...
“Gimana tadi risetnya di kantor?” tanya Raymond lembut seraya mengusap pelan punggung Jovita. “Data untuk skripsimu sudah siap semua?”Jovita miring menghadap Raymond, menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.“Sudah, Om. Mas Aris baik banget, dia langsung nyiapin dan ngumpulin semua berkas data yang aku butuhkan.”Mendengar nama itu terlontar dari bibir istrinya, tatapan mata Raymond mendadak berubah. Dahi pria itu sedikit berkerut, menatap Jovita dengan raut cemburu tipis yang tak bisa disembunyikan.“Mesra banget panggilnya... 'Mas Aris',” sindir Raymond dengan nada suara yang sengaja diberat-beratkan.Jovita mendongak, tertawa kecil melihat ekspresi wajah suaminya.“Lho, terus harus panggil apa dong? Kan dari awal pas pertama magang di Vastu Chandra memang sudah panggil gitu. Kalau tiba-tiba berubah nanti bisa curiga.”“Kalau begitu yang berubah panggil suaminya. Masak panggilnya om terus, rasanya kaya predator.”Raymond menatap Jovita dalam-dalam, ada keraguan manis di dala
Raymond terdiam sejenak, menatap lekat sudut bibir Jovita yang masih sedikit membiru akibat hantaman Joni. Ucapan Jovita yang menuntut talak mengandung keangkuhan dan kepasrahan penuh ironi.“Aku tidak sebajingan itu, Jo,” suara Raymond melunak, namun tetap tegas. “Jika aku menalakmu malam ini
Teriakan Joni berhasil memicu kehebohan. Tetangga yang terbangun langsung berkerumun di depan pintu, menatap Raymond dengan pandangan curiga dan penuh amarah.“Dia mau memperkosa Jojo, Pak! Dia memaksa masuk dan memukuli saya!” fitnah Joni pura-pura kesakitan di lantai.“Itu tidak benar!” Jovita
Jovita mencengkeram erat tali tasnya, syarat dari Raymond seperti ujian akhir kelulusan, berat dan tak mudah.Meyakinkan Viola menerima wanita lain menjadi ibunya.“Om, maaf…” Jovita menelan ludah, menatap ragu pria matang di sampingnya. “Kita sama-sama tahu Vio itu keras kepala. Saya tidak yaki
“Argh….”Basah, dingin, dan lengket.Cairan kemerahan koktail buah merembes mengotori seragam katering Jovita. Matanya terpejam mencengkeram kuat nampan yang dia bawa menahan amarah.“Maaf! Sengaja,” cibir salah satu teman Jovita di kampus, meletakkan gelas kosong ke nampan Jovita dengan kasar. “Se







