Share

98. Kangen...

Author: Henny Djayadi
last update publish date: 2026-07-23 21:51:12

“Jo, kamu harus kuliah sungguh-sungguh, belajar yang bener. Jangan sampai bikin Tuan Raymond kecewa. Tuan itu sudah baik sekali mau bantu dan tampung di sini.”

Dengan tangan yang sibuk membalik tumisan di atas wajan, mulut Bi Siti meluncurkan wejangan yang tak pernah absen setiap kali ada kesempatan berdua dengan Jovita.

Perempuan paruh baya itu sudah menganggap Jovita seperti anaknya sendiri. Apalagi setelah ada Jovita, banyak pekerjaannya yang terbantu.

Seperti sekarang, Jovita berdiri di sam
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
vyv
aaaa berasa banget kangennya om wkwk. Bik siti asli bakalan sekaget apa kalau tau jojo itu nyonya chandra ...
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
berapa hari ga ketemu KANGEN BERAT ya oom..oke gas keun oom
goodnovel comment avatar
Nindry Ayangcrut
Gas om gas jngn kasih kendor 3 ronde 4 ronde sah
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Istri Rahasia Om Raymond   303. Semobil

    Sepulang dari kantor, Raymond dan Jovita menyempatkan diri mampir ke sebuah toko perlengkapan bayi yang cukup mewah. Pasangam suami istri itu bermaksud membeli kado untuk kelahiran bayi Elvi.Sesuai saran dari Jessica, membeli perlengkapan bayi seperti pakaian atau peralatan perawatan jauh lebih berkesan ketimbang membawa bingkisan makanan.“Kalau makanan kan langsung habis sekali makan, Jo. Itu pun belum tentu yang habis lahiran atau babynya yang makan. Tapi kalau barang, bakal dipakai dan jadi kenang-kenangan manis yang tahan lama.” Begitu pesan Jessica yang diingat betul oleh Jovita.Di dalam toko, Jovita tampak antusias mengamati deretan stroller dan set pakaian bayi berwarna pastel yang menggemaskan. Jemarinya memegang dua buah baby jumper berbahan organik yang amat lembut.“Om, lihat deh... yang warna hijau ini lucu banget, kan?” ujar Jovita berbinar, memperlihatkan baju mungil itu pada Raymond. “Bahannya halus banget, pasti nyaman di kulit bayi baru lahir.”Raymond tersenyum me

  • Istri Rahasia Om Raymond   302. Tak Percaya Begitu Saja

    “Kita ke rumah sakit sekarang?” tanya Raymond tiba-tiba dengan nada serius.Mendengar itu, Viola langsung menghembuskan napas kasar. Gemuruh di dadanya semakin menjadi. Baru saja dia menikmati kebersamaan dengan papanya, Jojo sudah gatal ingin mengganggu.‘Tuh kan, benar dugaanku! Pasti Jojo beralasan sakit perut atau apa, padahal mungkin bayinya cuma nendang-nendang biasa. Sengaja banget cari alasan biar Papa terpaksa pulang malam-malam begini!’ Di dalam hatinya, gadis itu merasa kesal dan semakin yakin dengan dugaannya.Viola langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, menekuk bibirnya rapat-rapat untuk menyembunyikan ekspresi wajahnya yang penuh dengan kekesalan.Raymond yang menangkap perubahan raut wajah putrinya seketika paham. Tanpa membuang waktu, ia meraih tangan Viola dan menggenggamnya lembut, sementara tangan kanannya mendekatkan ponsel ke telinga.“Kata Dylan, besok saja, Om. Bunda sekarang sedang istirahat. Tadi Dylan cuma mau ngabari kalau Bunda sudah lahiran, anaknya c

  • Istri Rahasia Om Raymond   301. Pulang Saja ke Istri Muda!

    Melihat tatapan intens dan gestur protektif Raymond, Aris yang kebetulan mejanya tepat di samping Jovitalangsung berinisiatif menyingkir sejenak. Bukan sekadar tahu diri karena ini menyangkut percakapan pribadi, melainkan sebagai sesama lelaki, Aris sangat paham dengan getaran perasaan dan gelagat posesif Raymond terhadap Jovita.Sebenarnya, untuk urusan semacam ini Raymond bisa saja mengirim pesan singkat atau menelepon. Tapi, ia lebih memilih mendatangi istrinya secara langsung, tentu saja bukan hanya untuk menyampaikan kabar, melainkan juga sebagai bentuk 'sidak' halus untuk memastikan tidak ada lagi mata-mata pria di kantor yang berani melirik sang istri.“Terima kasih, Ris,” ucap Raymond singkat saat Aris beranjak pergi dan merelakan kursinya agar Raymond bisa duduk dan berbicara lebih nyaman di samping Jovita.Jovita menatap suaminya lekat-lekat, lalu mengangguk samar. “Enggak apa-apa, Om. Pergilah.” Ia kemudian menunduk perlahan, mengusap perutnya sembari berujar lembut, “Yang

  • Istri Rahasia Om Raymond   300. Bukan Lagi Prioritas

    Brak!Suara gebrakan meja bergema begitu keras hingga beberapa pengunjung kafe memalingkan kepala, menatap terkejut ke arah meja mereka bertiga.Dada Viola tampak kembang-kempis, naik-turun menahan amarah yang meledak.Sadar mereka sedang berada di tempat umum, Viola mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Ia sengaja merendahkan volume suaranya, namun setiap intonasinya terdengar begitu tajam, kaku, dan tegas menusuk.“Mengapa sih... kalau setiap kali obrolan sama kalian, yang diomongin ujung-ujungnya warisan terus?” bentak Viola lurus memotong. “Capek tahu nggak! Bosan!”Felisa yang panik refleks memajukan tubuhnya, berusaha meredakan emosi putrinya. “Ini penting, Vio! Mama cuma enggak mau kamu sampai kehilangan hakmu di keluarga Chandra!”“Aku enggak peduli lagi sama warisan dari Opa!” potong Viola lantang, menatap mamanya dengan mata membara. “Melihat kalian berdua dari dulu terus-terusan kayak gini... aku malah kadang sampai berharap, moga-moga Opa bangkrut sekalian!”“Vio!” bentak Jul

  • Istri Rahasia Om Raymond   299. Saingan Berat

    Kehadiran Jovita yang melangkah mendampingi Raymond pagi itu tak ayal kembali menarik perhatian jajaran staf perempuan.Pandangan mereka yang dulu sinis kini berubah penuh takjub, terutama saat pancaran cahaya menyilaukan dari cincin berlian mewah di jari manis Jovita menangkap pantulan lampu ruangan.“Wah, sekarang sudah berani tampil beda ya,” bisik salah seorang staf wanita sembari mengamati Jovita dari kejauhan. “Lihat deh, berlian di jarinya gede banget... bikin silau mata!”Staf lain di sebelahnya ikut menyahut pelan, “Dengar-dengar dari sekretariat, setelah gala dinner semalam kantor kita langsung kebanjiran penawaran klien baru. Katanya kebanyakan tertarik gara-gara melihat konsep desainnya Bu Jovita. Yah, wajar sih kalau langsung dikasih hadiah cincin semewah itu sama Pak Su.”“Aduh, mau iri juga percuma, otak kita mah enggak bakal nyampai ke levelnya Bu Jovita,” timpal staf lainnya terkekeh.Mereka bertiga akhirnya tertawa kecil bersama, lebih tepatnya menertawakan ketololan

  • Istri Rahasia Om Raymond   298. Rejeki Anak

    Pagi hari di kediaman keluarga Chandra, suasana meja makan terasa begitu kaku dan dingin. Di tengah denting sendok dan piring, Elle menatap suaminya yang tengah menikmati hidangan, lalu sengaja membuka pembicaraan untuk meloloskan ambisi putranya.“Pa, bagaimana dengan proyek untuk Julian,” ujar Elle dengan nada menuntut. “Ini salah satu cara terbaik untuk dia membuktikan kalau dia mampu memimpin. Tapi belakangan ini, sepertinya kamu tidak pernah lagi memberinya proyek.”Mendengar ocehan itu, Roberto seketika kehilangan nafsu makannya. Pria tua itu langsung menyilangkan sendok di atas piring, meraih serbet kain, lalu menyapu bersih sisa makanan di ujung bibirnya dengan gerakan lambat dan dingin.“Aku sudah bilang berkali-kali pada Julian,” sahut Roberto dengan suara berat yang kaku. “Kalau dia memang menginginkan proyek, suruh dia bikin dan kirim proposalnya dulu ke meja saya. Tapi sampai detik ini, dia sama sekali tidak pernah menyerahkannya.”Roberto menjeda kalimatnya sejenak, mera

  • Istri Rahasia Om Raymond   6. Hilang Kendali

    Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang. Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.​Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"​Jovita sedikit tersentak, lalu me

  • Istri Rahasia Om Raymond   5. Tumbler Maut

    “Papa jahat!”​Pekikan nyaring Viola seketika memutus tautan bibir Raymond dan Karina. Kedua orang dewasa itu menoleh terkejut, mendapati Viola berdiri dengan dada naik-turun menahan amarah, sementara Jovita mematung di belakangnya dengan wajah pias.​Raymond segera melepaskan dekapannya pada Kari

  • Istri Rahasia Om Raymond   4. Dilema Jovita

    ​Raymond terdiam sejenak, menatap lekat sudut bibir Jovita yang masih sedikit membiru akibat hantaman Joni. Ucapan Jovita yang menuntut talak mengandung keangkuhan dan kepasrahan penuh ironi.​“Aku tidak sebajingan itu, Jo,” suara Raymond melunak, namun tetap tegas. “Jika aku menalakmu malam ini

  • Istri Rahasia Om Raymond   7. Miliki Aku, Om!

    Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status