LOGINSatria menarik napas pendek.Ia tidak terbiasa bergerak tanpa perhitungan. Tapi kali ini ia memilih bertindak sebelum pikirannya sempat terlalu jauh menahan.“Sebentar, Ratri,” katanya pelan, masih dengan nada sopan yang tidak berubah. Tangannya sudah lebih dulu meraih gagang pintu mobil Ratri.Ia membukakan pintu penumpang depan.Gerakannya tenang seperti orang lama yang sudah terbiasa sedekat itu dengan Ratri. “Anak kamu dulu,” katanya.Ratri mengangguk, masih tersenyum, masih belum membaca apa pun yang sedang bergerak di kepala Satria.Anak kecil itu naik lebih dulu. Satria menutup pintu dengan pelan dan tenang. Sengaja menahan diri agar maksudnya tersamar.Lalu Satria melangkah.Satu langkah ke depan.Dua langkah memutar.Tidak langsung kembali ke sisi semula. Justru ia memilih memutari bagian depan mobil. Menyusuri kap yang memantulkan cahaya siang, melewati garis bayangannya sendiri.Langkahnya tetap stabil. Tapi arah langkahnya jelas. Satria menuju sisi kiri mobil.Menuju pria
Zaman baru masuk ke dunia shipping di pelabuhan, Satria sering menghadiri makan malam yang tidak pernah benar-benar disebut sebagai pertemuan bisnis.Biasanya makan malam itu tidak ada label apa-apa. Bahkan bisa dibilang tanpa undangan resmi karena biasanya ia diajak oleh satu dua rekan yang lebih senior.Meski tuan rumah makan malam itu seakan tidak terlihat, semua orang yang duduk di meja itu tahu persis siapa yang memegang kendali.Termasuk siapa yang menentukan harga, dan siapa yang bisa membuat satu kapal berhenti berlayar hanya dengan satu keputusan.Mereka orang-orang lama. Orang-orang tua. Nama-nama yang sudah hidup jauh sebelum Satria masuk ke lingkaran itu.Keluarga yang tidak hanya mewariskan uang tapi juga pengaruh, jalur, dan orang-orang.Di meja seperti itu, Satria dulu hanya dipandang sebagai pendatang.Ia datang hanya dengan nama ayahnya yang dikenal bersih dan ibu yang terlalu cerdas untuk diabaikan. Kemungkinan besar, cara kerjanyalah yang membuat orang-orang lama it
Selesai mengikuti Satria berjalan ke sana kemari, Arga tidak langsung masuk ke mobil. Ia berdiri di samping pintu, menahan Satria dengan satu kalimat pendek yang jarang ia ulang dua kali.“Makan dulu.”Satria sudah membuka pintu mobilnya. Tangannya berhenti di gagang. Ia tidak menoleh. “Gue nggak lapar.”Arga mendengus pelan. “Lo bukan nggak laper. Lo lagi kebanyakan mikir.”Satria diam saja. Tatapannya beralih ke kapal-kapal yang terparkir di bawah terik matahari.Angin pelabuhan masih membawa sisa debu batubara yang menempel di lengan dan kerah baju mereka. Siang mulai naik. Terik, tapi tidak cukup untuk mengusir tegang yang masih menggantung di tubuh Satria.“Sat,” Arga menurunkan suaranya, lebih serius sekarang. “Lo dari pagi belum makan. Gue tau.”Kalimat itu menggantung beberapa detik.Dan entah kenapa … yang terlintas di kepala Satria bukan kata-kata Arga.Tapi suara Sheza barusan.Nada pelan yang berusaha tidak mengganggu. “Mas udah sarapan?”Tadi ia langsung mengiyakan. “Udah
Langkah Satria tidak melambat sejak keluar dari ruang kontrol.Ia berjalan lurus ke arah stockpile tanpa menoleh, tanpa memberi aba-aba. Arga hanya mengikuti di belakang, cukup dekat untuk melihat, tapi tidak mengajak temannya bicara.Angin pelabuhan menyapu debu hitam tipis ke udara. Bau batubara pekat, terhirup dan menempel di tenggorokan.Hamparan stockpile berdiri seperti bukit-bukit gelap yang diam tapi menyimpan sesuatu.Satria langsung turun ke area bawah.Tanpa sarung tangan ia menggenggam batubara dari lapisan atas. Menggosoknya di telapak tangan. Menghancurkannya sedikit dengan ibu jari.Serbuknya halus dan terlihat normal. Ia menjatuhkannya kembali. Lalu melangkah lebih dalam. Kali ini ia menunduk lebih lama. Tangannya masuk sedikit lebih dalam ke lapisan tengah.Mengambil segenggam batubara dan menekannya dengan jemari. Wajahnya mengeras dan ia belum mengeluarkan sepatah kata pun.Arga memperhatikan dari samping. “Gimana?”Satria belum langsung jawab. Ia mengangkat tangan
Sarapan adalah salah satu hal penting yang tidak pernah dilewatkan Satria. Perutnya tak pernah kosong saat meninggalkan rumah. Namun pagi itu, ia bahkan tidak ingat soal sarapan.Ia melangkah keluar dari restoran Jepang tanpa meneguk air setetes pun. Tidak pernah ada keinginan untuk makan dan minum saat bicara dengan Pak Salim—juga Nadine. Seakan tiap topik yang diluncurkan setajam pisau yang harus ia siapkan perisainya.Walah raut wajah Nadine masih menyiratkan kepuasan, ia tahu wanita itu tidak mudah dibuat percaya. Nadine pasti akan selalu mencari tahu soal dia dan keluarganya.Sekali lagi, ini bukan soal cinta.Satria tahu betul mana wanita yang bertindak karena cinta dan kepedulian. Juga tahu mana wanita yang marah karena disebut-sebut kalah dari mantan suami yang lebih dulu memiliki keluarga baru.Udara di halaman kantor polisi terasa lebih panas dari biasanya meski matahari belum benar-benar naik di atas kepala.Satria turun dari mobil tanpa banyak pikir. Pintu ia tutup lebih k
Satria menggeleng pelan. “Saya nggak bilang siapa pun,” katanya. “Tapi saya cukup tau jalur ini terlalu bersih untuk tiba-tiba kacau tanpa ada yang pegang kendali.” Nadine bergeser sedikit. Ia melepaskan sendok teh yang sejak tadi ia pegang. Kini pembicaraan itu semakin membuatnya tertarik. Salim tertawa pendek. Tidak ada kehangatan dalam tawa itu. “Kamu terlalu percaya diri,” kata Pak Salim. “Baru pegang sedikit, sudah merasa bisa baca semua.” Satria menyandarkan punggungnya. “Sedikit?” Ia ikut tertawa mengejek. “Kalau sedikit harusnya nggak sampai bikin seorang Pak Salim duduk di sini,” balasnya tenang. Ucapannya tepat sasaran. Nadine menoleh cepat. Memandang Satria dengan tatapan sengit. Lebih tajam. “Jangan lupa diri, Satria,” ucap Nadine akhirnya. “Kamu ada di posisi sekarang karena siapa.” Satria tidak berkedip—ia menoleh Nadine. “Dan kamu juga tau aku bertahan di posisi ini karena apa,” jawabnya. Suasana tiba-tiba hening. Seakan setiap orang sedang mempersiapkan kat
Satria tahu jawabannya kenapa ia sampai mengucapkan kalimat tolol barusan. Ia takut terlalu dekat. Takut melampaui batas persahabatan dengan Prabu. Takut berniat terlalu jauh padahal ia sendiri belum paham apa yang ia rasakan. Tapi … begitu membayangkan Sheza menangis, wajah letihnya, suaranya yang
Begitu mereka masuk mobil, Satria menutup pintu dengan cepat dan menghubungi seseorang. Suaranya yang datar memberi instruksi singkat. Satria kembali ke dalam rumah sebentar untuk mengecek jendela yang berlubang. Sheza melihat dari mobil. Siluet pria itu dalam hujan tipis, sendirian menilai kerus
Di parkiran rumah sakit, Nayla masuk ke mobil lebih dulu dan duduk masih dengan hasil cetak USG di tangannya. Sesekali ia mengangkat foto itu ke atas, lalu memandanginya seksama. Entah apa yang sedang dipikirkan gadis kecil itu, tapi usai memandang, ia kemudian mengangguk.“Aku duduk di belakang, y
Papan kayu itu terangkat sepenuhnya.Debu tipis beterbangan saat Satria menyelipkan jarinya lebih dalam dan mengangkatnya hati-hati. Di bawahnya ada rongga yang dibuat rapi dan memang sengaja disiapkan untuk menyimpan sesuatu.Di dalamnya tersimpan map-map tebal yang dibungkus plastik bening, dilip







