Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 41. Tak Mau Kalah

Share

Bab 41. Tak Mau Kalah

Author: juskelapa
last update publish date: 2026-01-16 23:56:04

Beberapa jam sebelumnya; hari kamis malam di kediaman keluarga Kertasoedibyo.

Nadine duduk di depan meja riasnya dengan wajah serius. Ia sedang bicara melalui ponsel dengan siku tangan bertumpu di meja rias. Ia memandang pantulannya melalui cermin mewah yang selalu menampilkan rupanya yang cantik.

Lampu kamar menyala terang. Cahayanya memantul di botol-botol parfum impor dan deretan makeup yang disusun nyaris simetris. Bau bunga putih dan alkohol mahal bercampur di udara.

“Bicaranya pelan-pe
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (36)
goodnovel comment avatar
Esti Eritia
Keluarga Jahat
goodnovel comment avatar
Daanii Irsyad Aufa
paling kasian ko Nayla
goodnovel comment avatar
Ratu Tety
Ruwet nih keluarga... Apa yg bakal direncanakan, Pak Salim pada, Mas Satria???
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KAMAR KEDUA   Bab 185. Merasa Sendirian

    Telepon itu berakhir begitu saja.Tangannya masih memegang ponsel. Pikirannya kosong. Kekesalanmya tidak tersalurkan. Terasa bertumpuk-tumpuk di dadanya. Sampai akhirnya Satria pulang tiba-tiba bersama Nayla. Sheza bahkan belum sempat menenangkan dirinya sendiri.Di pintu, Nayla berlari ke arahnya dengan wajah cerah. Mereka sempat berpelukan sebentar dan ia mengusap pipi gadis kecil yang wajahnya seperti Satria.Sheza sudah membayangkan akan menghabiskan seharian itu bersama Nayla. Mungkin akan mengobrol soal sekolahnya, atau mereka akan menggunting dan menempel stiker seperti kemarin.Tapi belum lagi rencana itu diwujudkan, perutnya kembali terasa kencang. Entah karena ia melihat Nayla, lalu teringat soal Nadine. Atau kekhawatiran tentang bagaimana sikap ibunya di depan Satria.Sheza meringis.Detik itu, senyum Nayla langsung hilang dan Satria terlihat sedikit panik. Ya. Satria panik. Bisa dibilang baru kali itu ia melihat Satria gugup. Raut wajahnya berubah dan tangannya ikut mera

  • KAMAR KEDUA   Bab 184. Firasat Beberapa Hari Terakhir

    Entah itu bisa disebut firasat atau tidak. Atau hanya kecemasan kecil yang belakangan datang diam-diam dan menyusup di sela malam ketika kantuk justru enggan datang.Beberapa hari terakhir, Sheza tidak pernah benar-benar merasa tenang.Setelah Satria meninggalkan rumah pagi itu dalam keadaan belum sarapan, seperti yang diminta pria itu, Sheza langsung menghubungi ibunya lagi. Bukan karena panik atau benar-benar membutuhkan. Lebih seperti … berjaga-jaga.Ia ingin memastikan ada orang lain di rumah. Seperti saran Satria.Perutnya sudah sering terasa kencang. Datang dan pergi. Tidak teratur, tapi memang belum sakit. Meski cukup untuk membuatnya waspada.Sheza belum berani menyebutnya kontraksi.Hari kelahiran bayinya memang sudah sangat dekat. Bisa beberapa hari ke depan. Bisa juga … lebih cepat dari itu.Sebelum pergi, Satria selalu memeluknya lebih lama dari biasanya. Tidak pernah terburu-buru di bagian itu. Seolah waktu bisa ditahan sebentar di sana.Tangan Satria akan turun ke perutn

  • KAMAR KEDUA   Bab 183. Dengan Sengaja

    Satria menarik napas pendek.Ia tidak terbiasa bergerak tanpa perhitungan. Tapi kali ini ia memilih bertindak sebelum pikirannya sempat terlalu jauh menahan.“Sebentar, Ratri,” katanya pelan, masih dengan nada sopan yang tidak berubah. Tangannya sudah lebih dulu meraih gagang pintu mobil Ratri.Ia membukakan pintu penumpang depan.Gerakannya tenang seperti orang lama yang sudah terbiasa sedekat itu dengan Ratri. “Anak kamu dulu,” katanya.Ratri mengangguk, masih tersenyum, masih belum membaca apa pun yang sedang bergerak di kepala Satria.Anak kecil itu naik lebih dulu. Satria menutup pintu dengan pelan dan tenang. Sengaja menahan diri agar maksudnya tersamar.Lalu Satria melangkah.Satu langkah ke depan.Dua langkah memutar.Tidak langsung kembali ke sisi semula. Justru ia memilih memutari bagian depan mobil. Menyusuri kap yang memantulkan cahaya siang, melewati garis bayangannya sendiri.Langkahnya tetap stabil. Tapi arah langkahnya jelas. Satria menuju sisi kiri mobil.Menuju pria

  • KAMAR KEDUA   Bab 182. Jejak yang Kembali

    Zaman baru masuk ke dunia shipping di pelabuhan, Satria sering menghadiri makan malam yang tidak pernah benar-benar disebut sebagai pertemuan bisnis.Biasanya makan malam itu tidak ada label apa-apa. Bahkan bisa dibilang tanpa undangan resmi karena biasanya ia diajak oleh satu dua rekan yang lebih senior.Meski tuan rumah makan malam itu seakan tidak terlihat, semua orang yang duduk di meja itu tahu persis siapa yang memegang kendali.Termasuk siapa yang menentukan harga, dan siapa yang bisa membuat satu kapal berhenti berlayar hanya dengan satu keputusan.Mereka orang-orang lama. Orang-orang tua. Nama-nama yang sudah hidup jauh sebelum Satria masuk ke lingkaran itu.Keluarga yang tidak hanya mewariskan uang tapi juga pengaruh, jalur, dan orang-orang.Di meja seperti itu, Satria dulu hanya dipandang sebagai pendatang.Ia datang hanya dengan nama ayahnya yang dikenal bersih dan ibu yang terlalu cerdas untuk diabaikan. Kemungkinan besar, cara kerjanyalah yang membuat orang-orang lama it

  • KAMAR KEDUA   Bab 181. Petunjuk yang Mendebarkan

    Selesai mengikuti Satria berjalan ke sana kemari, Arga tidak langsung masuk ke mobil. Ia berdiri di samping pintu, menahan Satria dengan satu kalimat pendek yang jarang ia ulang dua kali.“Makan dulu.”Satria sudah membuka pintu mobilnya. Tangannya berhenti di gagang. Ia tidak menoleh. “Gue nggak lapar.”Arga mendengus pelan. “Lo bukan nggak laper. Lo lagi kebanyakan mikir.”Satria diam saja. Tatapannya beralih ke kapal-kapal yang terparkir di bawah terik matahari.Angin pelabuhan masih membawa sisa debu batubara yang menempel di lengan dan kerah baju mereka. Siang mulai naik. Terik, tapi tidak cukup untuk mengusir tegang yang masih menggantung di tubuh Satria.“Sat,” Arga menurunkan suaranya, lebih serius sekarang. “Lo dari pagi belum makan. Gue tau.”Kalimat itu menggantung beberapa detik.Dan entah kenapa … yang terlintas di kepala Satria bukan kata-kata Arga.Tapi suara Sheza barusan.Nada pelan yang berusaha tidak mengganggu. “Mas udah sarapan?”Tadi ia langsung mengiyakan. “Udah

  • KAMAR KEDUA   Bab 180. Kelam Pelabuhan

    Langkah Satria tidak melambat sejak keluar dari ruang kontrol.Ia berjalan lurus ke arah stockpile tanpa menoleh, tanpa memberi aba-aba. Arga hanya mengikuti di belakang, cukup dekat untuk melihat, tapi tidak mengajak temannya bicara.Angin pelabuhan menyapu debu hitam tipis ke udara. Bau batubara pekat, terhirup dan menempel di tenggorokan.Hamparan stockpile berdiri seperti bukit-bukit gelap yang diam tapi menyimpan sesuatu.Satria langsung turun ke area bawah.Tanpa sarung tangan ia menggenggam batubara dari lapisan atas. Menggosoknya di telapak tangan. Menghancurkannya sedikit dengan ibu jari.Serbuknya halus dan terlihat normal. Ia menjatuhkannya kembali. Lalu melangkah lebih dalam. Kali ini ia menunduk lebih lama. Tangannya masuk sedikit lebih dalam ke lapisan tengah.Mengambil segenggam batubara dan menekannya dengan jemari. Wajahnya mengeras dan ia belum mengeluarkan sepatah kata pun.Arga memperhatikan dari samping. “Gimana?”Satria belum langsung jawab. Ia mengangkat tangan

  • KAMAR KEDUA   Bab 33. Suara Batin Satria

    Ada malam-malam di mana Satria tak bisa memejamkan matanya. Bisa jadi karena terlalu lelah secara fisik, terlalu bersemangat akan sesuatu, atau beban-beban sebagai seorang pria yang terasa amat banyak dan perlu dikeluarkan. Seperti malam itu. Entah karena dia mulai gelisah akan sesuatu atau entah

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • KAMAR KEDUA   Bab 31. Bukan Tempat Pulang

    “Kami ada surat perjanjian khusus, Bu. Bawa surat dari KUA ke Rukun Warga. Kemarin dibantu tim legal perusahaan Mas Prabu. Aku kurang paham gimana tapi Mas Satria yang urus. Katanya karena kondisi khusus, demi keamanan aku dan Dio.” Sheza menghela napas. Setelah sekian lama mondar-mandir ke pengad

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • KAMAR KEDUA   Bab 35. Isak Seorang Anak

    Satria tidak menjawab cepat. Ia menunggu sampai Nayla mengangkat wajahnya. “Kamu nggak usah mikir sejauh itu,” katanya akhirnya. “Papa urus bagian Papa.” Nayla tersenyum kecil. “Iya. Aku cuma ngomong.” “Kita ke ruang keluarga, yuk. Dio pasti nunggu kamu.” Satria berdiri dari kursi. Nayla ikut

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • KAMAR KEDUA   Bab 36. Hari yang Hampir Normal

    Kalau dihitung dengan benar, hari pernikahan yang sudah mereka daftarkan ke KUA itu dilaksanakan tepat empat hari lagi. Sheza sudah memastikan kalau Athar yang akan menjadi wali nikahnya. Ibunya mengatakan dengan jelas tidak akan hadir dan memilih menjaga Dio di rumah. Entah kenapa Sheza sedikit leg

    last updateLast Updated : 2026-03-20
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status