Mag-log inShila memberikan kejutan pada suami dan madunya dengan membuat pusaka milik Bayu berbentuk aneh dan akhirnya Bayu dan istri barunya tidak bisa menikmati malam pertama mereka. Shila merasa sakit hati tatkala Bayu, sang suami menikah lagi demi keturunan meski itu hanyalah sebuah alasan. lelaki yang bertumpu hidup pada istrinya tega menorehkan luka pada Shila. Bahkan, seluruh keluarga Bayu sama benalunya seperti Bayu. Apa yang telah dilakukan Shila pada suaminya hingga menbuat pusaka Bayu berbentuk aneh ketika bersama madunya? Dan bagaimana cara Shila memberikan Bayu dan juga keluarganya sebuah pelajaran?
view more“Erwin, apa yang kamu lakukan?!”
Di hadapan Laureta, seorang pria tengah bergumul mesra dengan seorang wanita tanpa busana.
Pemandangan di depannya benar-benar membuat hatinya remuk redam!
“Tata!” bentak Erwin kasar. “Berani-beraninya kamu masuk kamar orang sembarangan!”
Seketika kegiatan pun terhenti. Erwin melepaskan diri dari sang wanita binal. Ia tampak kikuk saat menyadari Laureta ada di sana. Ia sibuk mencari celana dan segera mengenakannya. Berbeda dengan sang wanita yang tampak santai mengenakan kimono yang ia pungut di kasur.
Lutut Laureta terasa lemas. Ia sungguh tak percaya dengan apa yang tengah dilihatnya. Erwin tega mengkhianatinya. Mendadak, ia tidak tahu harus berkata apa. Mulutnya seolah terkunci rapat. Matanya membelalak menatap Erwin.
Pria itu mendekati Laureta dengan langkah cepat, lalu mendorongnya dengan kasar. “Keluar kamu!”
Laureta tetap bertahan. Ia hanya mundur sedikit sambil menunduk menatap lantai kamar hotel yang dilapisi karpet coklat muda. Sekujur tubuhnya gemetar.
“Kamu dengar aku, tidak? Pergi sana!”
“Kamu mengusirku …,” ucap Laureta lirih. “Aku ini tunangan kamu ….”
Ada sesuatu yang perih di dalam dadanya, bagaikan disayat-sayat ribuan pisau.
Erwin mendecak kesal. Lalu pria itu menekan bahu Laureta. “Kamu tidak seharusnya di sini.”
Laureta menepis tangan Erwin. “Jangan sentuh aku!”
Erwin mengangkat tangannya tanda menyerah. “Baiklah kalau begitu, kamu sebaiknya pergi. Hubungan kita sudah putus. Jangan menemuiku lagi, oke?”
Laureta menatap wanita yang sedang duduk di atas kasur sambil melipat kakinya. Ia tampak bosan dan tidak terganggu dengan kehadiran Laureta sama sekali.
“Ayo, Ta! Pergilah! Kenapa kamu diam saja?” desak Erwin.
Laureta terlalu syok melihat semua kejahatan di matanya hingga ia tidak sadar untuk segera pergi dari sini.
“Ah, dasar payah!” seru si wanita.
Tiba-tiba, si wanita binal mendecak kesal sambil memukul kasur. Ia mendekati Laureta dengan tatapan sinis, lalu mendorong Laureta hingga ia jatuh terjengkang.
“Erwin sudah menyuruhmu pergi!” seru wanita itu. “Seharusnya kamu langsung pergi! Mau apa kamu di sini terus? Mau melihat kami bermesraan? Dasar tidak tahu malu!”
“Sudahlah, Valentina Sayang. Kamu tunggu saja di sana ya,” ucap Erwin dengan lembut.
“Ya sudah. Cepat kamu usir wanita jelek itu dari sini ya. Urusan kita kan belum selesai.”
“Iya, Sayang.” Erwin tersenyum sambil mengangguk pada wanita itu.
Wanita jalang itu berlalu dengan gayanya yang centil sambil menyentuh lengan Erwin. Perlahan air mata Laureta meleleh. Tak pernah dalam sejarah ia berpacaran dengan Erwin dan pria itu memanggilnya dengan sebutan sayang.
Perih sungguh perih hati Laureta dengan semua sikap Erwin dan Valentina yang telah merendahkannya. Mereka yang sudah berdosa, tapi Laureta yang diusir dari sana. Laureta pun tak akan diam lebih lama lagi di sini.
Erwin kembali menatapnya, seolah merasa iba. Ia mengulurkan tangannya untuk membantu Laureta berdiri, tapi Laureta mengabaikannya. Laureta tidak butuh belas kasihan pria itu.
“Ta ….”
Laureta pun berhasil bangkit berdiri sambil mengelap air matanya. Dengan harga diri yang masih tersisa, Laureta melepaskan kalung tanda pertunangannya dengan Erwin dan melemparnya ke lantai.
“Selamat tinggal, Erwin!”
Ia segera pergi dari sana menuju ke parkiran motor dengan napas yang terengah-engah. Jantungnya berdegup dengan kencang hingga sekujur tubuhnya gemetar.
Sebelumnya, Laureta dihubungi sahabatnya yang melihat Erwin tengah masuk ke hotel The Prince. Tanpa mengganti baju selepas menjadi instruktur senam, ia pun langsung datang dan memergoki mereka.
“Dasar laki-laki berengsek!” ucap Lauretta yang terisak sambil menarik gas motornya dalam-dalam.
Brak!
Tanpa sadar, tiba-tiba sebuah mobil muncul dari arah kiri dan langsung menyenggol motor Lauretta sampai ia terpental.
Tubuh sebelah kanannya menggesek jalanan aspal hingga lecet. Untungnya, ia lekas melompat untuk menghindari luka yang lebih banyak lagi.
Diliputi amarah, ia berjalan dengan langkah mantap dan kemudian menghampiri mobil yang telah menabraknya itu. Lalu Laureta menghantam kaca jendela mobil itu dengan helm sekuat tenaga.
“Keluar kamu!” teriak Laureta dihiasi suara yang bergetar karena emosi.
Laureta pun melayangkan tendangan yang cukup keras ke pintu mobil. Semoga saja menimbulkan bekas yang cukup dalam. Namun, nyatanya kaki Laureta kesakitan. Ia harus berpegangan pada atap mobil supaya ia tidak jatuh sambil memutar-mutar pergelangan kakinya.
“Keluar, hei! Kamu sudah menabrakku! Ayo tanggung jawab!” teriak Laureta lagi yang sudah bisa berdiri dengan benar.
Pintu terbuka, lalu seorang pria jangkung keluar dari sana. Tubuhnya benar-benar tinggi hingga Laureta harus mendongak untuk melihat wajahnya.
“Ada apa?” tanya pria itu dengan suara bariton yang menggelegar.
Laureta menatap pria itu tanpa berkedip. Garis-garis wajah pria itu begitu tegas dan matanya sangat tajam hingga Laureta pikir, ia telah mati karena hujaman tatapannya.
“Sa-saya …,” cicit Laureta dengan suara yang sangat pelan hingga lumba-lumba pun tidak bisa mendengarnya. Ia seolah tak berdaya untuk mengucapkan kalimat apa pun lagi.
Pria itu menatap Laureta dari ujung kaki hingga ke ujung kepala.
“Kamu harus tanggung jawab,” ucap Laureta, pada akhirnya setelah suaranya berhasil kembali ke tenggorokannya.
Pria jangkung itu mengangkat sebelah alisnya dengan wajahnya yang dingin. Ia menghela napas, lalu mengeluarkan dompet dari saku belakang celananya. Pria itu mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu yang tampak masih baru dan berseri.
“Ini!” Pria itu melempar uang itu dengan asal ke depan wajah Laureta hingga tersebar di jalan raya.
Laureta tertegun selama beberapa detik sambil menatap uang-uang merah itu ternodai oleh debu jalanan.
“Tunggu dulu!” seru Laureta. Ia buru-buru memungut uang itu sebisanya. Kemudian ia berlari dan menghadang pintu masuk dengan tangan kirinya yang tidak terluka.
“Mau apa lagi?” Pria itu memasang wajah bosan.
Laureta balas melempar uang itu ke wajah si pria jangkung hingga pria itu memejamkan matanya sejenak.
“Kamu tidak boleh seenaknya melempar uang! Meski aku miskin, aku tidak butuh uang kotormu itu!” Laureta berteriak sambil menunjuk-nunjuk.
“Uang kotor?” Pria itu menautkan alisnya.
Tiba-tiba, pria itu berjalan mendekati Laureta dengan langkah perlahan. Otomatis Laureta mundur selangkah dengan lutut yang gemetar. Napasnya jadi semakin cepat dan pendek-pendek. Tatapan mata pria itu benar-benar mengerikan, seperti pembunuh berdarah dingin yang siap menghabisi korbannya. Dan di sini, Laureta sebagai korban.
Pria itu semakin mendekat sambil menundukkan wajahnya. Sebelah tangannya meraih dagu Laureta, menariknya ke atas dengan tegas. Pria itu memiringkan wajahnya sambil menatap Laureta, menatap lehernya entah pipinya—Laureta tidak mengerti.
Seketika tubuh Laureta melemas. Helm terlepas dari tangannya. “Apa yang kamu lakukan?” tanya Laureta takut-takut.
Pria itu mendekati kuping Laureta dan kemudian berbisik, “Kamu tidak perlu sok suci menolak uang dariku. Lebih baik kamu pungut uang itu dan pergi dari sini. Sebelum kamu melawan, sebaiknya kamu lihat dulu, siapa yang sedang kamu hadapi. Paham?”
KAU HIANATIKU, KU HILANGKAN PUSAKAMUPART EXTRA"Maaf, kalian siapanya pasien?""Kami yang tak sengaha menabraknya dok, dan kebetulan kami juga mengnal orang itu, lalu bagimana kondisinya?""Sebelumnya kami minta maaf, kalian terlambat membawanya kesini, nyawanya sudah tidak bisa di selamatkan karena kehabisan banyak darah.""Innalillahiwainnailaihiraji'un," ucao Farhan, Shila Dimas dan juga Vika serentak."Lalu bagaimana kepengurusan jenazahnya?" tanya dokter itu lagi."Kami juga bingung dok, karena biarpun kami mengenal orang itu tapi kami bukanlah keluarganya."
KAU HIANATIKU, KU HILANGKAN PUSAKAMUPART EXTRA2 tahun sudah pernikahan Shila dengan Farhan dan juga Vika dengan Dimas, dan saat ini baik Shila maupun Vika tengah mengandung buah hati pasangan masing-masingShila yang sudah memasuki kehamilan usia 7 bulan sedangkan Vika yang baru saja menginjak usia kehamilan 2 bulan, hal itu menjadikan keluarga besar mereka merasa sangat bahagia, terlebih lagi keluarga Shila, hal itu membuktikan jika Shila tidaklah mandul, melainkan hanya belum di beri kepercayaan oleh Allah, terlepas dari itu semua Shila sangat bersyukur tidak memiliki anak dari laki-laki sepertk Bayu, bukannya Shila menolak, tapi kemungkinan jika saat itu Shila memiliki anak dari Bayu maka akan semakin sulit untuk Shila berpisah dengan Bayu.****
KAU HIANATIKU, KU HILANGKAN PUSAKAMUBAB 79"Dari hasil itu jelas tertulis kalau anak yang di kandung oleh Ibu Tania bukanlah anak dari Bapal Dimas."Ucapan dokter bagaikan angin surga bagi Tante Anita, begitu lega hatinya karena ternyata itu memang bukan anak dari Dimas, tapi kini dirinya sangat marah karena merasa Tania sudah mempermainkannya."Terimakasih dok atas informasinya, kalau gitu saya permisi."Setelah Tante Anita keluar ruangan, dirinya mencari dimana Tania berada dan sialnya Tania sudah tidak ada di tempatnya."Tania kemana?" tanya Tante Anita pada Vika dan Shila sedangkan D
KAU HIANATIKU, KU HILANGKAN PUSAKAMUBAB 78"Vika tunggu, ini tidak seperti apa yang dia katakan, semua itu bohong, aku tidak pernah melakukannya!" sergah Dimas ketika Vika akan meninggalkannya."Nak Vika, tolong jangan begini, tante berani jamin jika apa yang di katakan perempuan murahan itu adalah kebohongan besar.""Aku tidak berbohong, aku memang sedang mengandung cucumu.""Baik kalau begitu, aku akan menerima anak yang kamu kandung sebagai cucuku," ucap tante Anita yang membuat Tania tersenyum senang."Mama apa apaan sih, itu bukan anak aku ma, aku tidak pernah melakukannya!" sentak
KAU HIANATIKU, KU HILANGKAN PUSAKAMUBAB 73"Ya bukan git
KAU HIANATIKU, KU HILANGKAN PUSAKAMUBAB 72"Iya aku serius mbak,""Emangnya ada gitu cowok yang mau sama preman kayak kamu?" ucap Shila menggoda Vika."Ish mbak mah gitu amat, emangnya suka ya liat adeknya menjomblo seumur hidup," ucap Vika sembari melipat tangannya di dada."Hahahahaha, iya iya maaf ya
KAU HIANATIKU, KU HILANGKAN PUSAKAMUBAB 71"Oke deh," kemudian Dimas melajukan mobilnya sedikit kencang menuju rumah makan favoritnya.
KAU HIANATIKU, KU HILANGKAN PUSAKAMUBAB 70"Oh, gak usah tante, nanti ngerepotin."












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.