แชร์

Chapter 121

ผู้เขียน: Nyctus
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-30 11:42:21

Malam mulai turun ketika Arkana akhirnya menyelesaikan seluruh urusan kuliahnya. Begitu keluar dari gedung fakultas, hal pertama yang dilakukannya adalah mengambil ponsel. Nama Anindya berada di urutan paling atas. Senyum tipis langsung menghiasi wajahnya. Tak lama kemudian, sambungan telepon tersambung.

"Halo?" Suara Anindya terdengar lembut dari seberang.

"Lagi sibuk?"

"Nggak. Baru selesai beresin beberapa catatan."

"Kamu?"

"Baru selesai rapat kelompok."

"Oh."

Beberapa detik mereka hanya sali
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 121

    Malam mulai turun ketika Arkana akhirnya menyelesaikan seluruh urusan kuliahnya. Begitu keluar dari gedung fakultas, hal pertama yang dilakukannya adalah mengambil ponsel. Nama Anindya berada di urutan paling atas. Senyum tipis langsung menghiasi wajahnya. Tak lama kemudian, sambungan telepon tersambung."Halo?" Suara Anindya terdengar lembut dari seberang."Lagi sibuk?""Nggak. Baru selesai beresin beberapa catatan.""Kamu?""Baru selesai rapat kelompok.""Oh."Beberapa detik mereka hanya saling mendengar napas satu sama lain. Bahkan keheningan seperti itu terasa nyaman."Anin.""Hm?""Aku mau kasih kabar.""Apa?""Tadi siang aku sempat ditelepon Kakek."Anindya langsung lebih fokus. "Beliau bilang apa?""Beliau menerima usulku.""Usul?""Untuk makan malam bersama."Anindya terdiam."Maksudmu... Kamu, aku, dan Kakek?""Iya."Arkana tersenyum kecil. "Awalnya kupikir hanya Kakek. Tapi... Ternyata beliau ingin mengajak Kakek dari pihak Ayah juga."Kalimat itu membuat Anindya tanpa sadar

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 120

    Sore itu, Tuan Adipati duduk sendirian di ruang kerjanya. Secangkir teh hangat di atas meja telah lama kehilangan uapnya. Namun lelaki tua itu sama sekali belum berniat menyentuhnya. Pikirannya masih dipenuhi percakapan dengan Arkana beberapa jam sebelumnya."Aku serius dengan Anindya, Kek."Kalimat itu terus terngiang di telinganya. Selama bertahun-tahun, ia belum pernah mendengar cucunya berbicara dengan keyakinan seperti itu tentang siapa pun. Sejak awal, hanya Anindya yang pernah disebut oleh cucunya.Arkana bukan tipe laki-laki yang mudah membuka hati. Karena itulah, Tuan Adipati tidak bisa mengabaikan kesungguhan yang ia dengar dalam suara cucunya. Meski demikian... Keraguan di dalam hatinya belum sepenuhnya menghilang.Ia memang mengakui bahwa Anindya telah banyak membuktikan diri, baik kepada Arkana maupun kepada lingkungan sosial mereka. Perempuan itu juga jauh lebih dewasa dibanding beberapa tahun lalu. Lebih tenang. Lebih santun. Lebih mampu mengendalikan emosinya. Namun pe

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 119

    Rafael berdiri beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Amplop undangan yang tadi telah berpindah ke tangan Arkana kini tak lagi menjadi pusat perhatiannya. Yang terus memenuhi pikirannya justru pemandangan sederhana di meja makan itu.Anindya yang duduk dengan santai. Arkana yang sesekali mencuri pandang ke arah Anindya tanpa menyadarinya. Dan senyum kecil yang beberapa kali muncul di wajah keduanya. Semuanya tampak begitu... alami. Begitu nyaman. Begitu berbeda dengan hubungan yang selama ini ia jalani bersama Citra."Rafael?" Suara Arkana menyadarkannya."Hm?""Kamu nggak apa-apa?"Rafael tersentak kecil. "Oh... iya. Aku cuma sedikit kepikiran pekerjaan." Ia memaksakan senyum yang bahkan terasa asing bagi dirinya sendiri. "Kalau begitu, aku pamit dulu."Arkana mengangguk sopan. "Terima kasih sudah mengantar undangannya. Sampaikan salamku untuk Paman dan Bibi.""Pasti."Rafael menoleh kepada Anindya. "Sampai ketemu lagi."Anindya membalas dengan senyum sopan. "Iya. Hati-hati

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 118

    Pagi itu, suasana kediaman keluarga Pratama terasa jauh lebih hidup. Sinar matahari yang masuk melalui jendela besar ruang makan memberikan kehangatan yang berbeda.Anindya duduk berhadapan dengan Arkana. Rambutnya masih sedikit lembap setelah mandi. Beberapa helai rambut yang belum benar-benar kering jatuh di bahunya, membuat penampilannya terlihat sederhana, tetapi justru semakin anggun.Arkana diam-diam beberapa kali mencuri pandang. Melihat itu, Anindya mengangkat sebelah alis."Apa?"Arkana langsung menggeleng. "Nggak.""Nggak apa?""Nggak apa-apa."Anindya tersenyum geli. "Kamu dari tadi lihat aku terus.""Aku lagi memastikan.""Memastikan apa?""Kalau semalam benar-benar terjadi."Pipi Anindya langsung memerah. "Arkana!"Laki-laki itu terkekeh pelan. "Maaf. Tapi aku memang masih merasa seperti mimpi."Anindya menunduk malu sambil menyibukkan diri mengaduk teh hangat di depannya. Melihat reaksinya, senyum Arkana semakin lebar.Entah mengapa, pagi itu ia merasa jauh lebih ringan.

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 117

    Hangat. Itulah hal pertama yang dirasakan Anindya ketika perlahan membuka matanya. Sinar matahari pagi menyelinap lembut melalui celah tirai, menerangi kamar yang masih diselimuti suasana tenang.Beberapa detik, Anindya hanya memandangi langit-langit kamar. Lalu perlahan kenangan semalam kembali memenuhi benaknya. Pipinya langsung memanas. Tanpa sadar, senyum kecil menghiasi bibirnya. Perlahan ia memiringkan tubuh.Di sisi ranjang, Arkana ternyata sudah terbangun sejak beberapa waktu lalu. Laki-laki itu tidak sedang membaca buku ataupun memainkan ponselnya. Ia hanya duduk bersandar di kepala ranjang, memandang Anindya yang masih terlelap sejak tadi.Tatapan Arkana begitu lembut. Begitu damai. Seolah ia tidak ingin melewatkan sedetik pun wajah perempuan yang kini berada di sisinya. Melihat bulu mata Anindya mulai bergerak, senyum tipis langsung menghiasi wajahnya."Morning." Suara Arkana terdengar pelan.Anindya tersenyum malu. "Morning."Belum sempat ia mengatakan apa pun lagi, Arkana

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 116

    Arkana masih terpaku. Bibir Anindya baru saja meninggalkan bibirnya. Namun laki-laki itu sama sekali belum bergerak.Tatapannya hanya tertuju pada perempuan yang masih duduk di pangkuannya, menatapnya dengan mata yang jernih tanpa sedikit pun penyesalan.Keheningan menyelimuti lorong menuju kamar tamu. Begitu sunyi hingga suara napas mereka terdengar jelas. Anindya mulai merasa gugup. Keberanian yang tadi mendorongnya mencium Arkana perlahan berubah menjadi rasa cemas. Apakah ia terlalu terburu-buru? Apakah ia justru membuat Arkana semakin menjauh?"Arkana..." panggil Anindya lirih.Namun kata-kata itu berhenti di tenggorokannya ketika Arkana perlahan mengangkat tangan. Jemarinya bergerak sangat pelan. Begitu pelan hingga Anindya nyaris tidak merasakannya, seolah Anindya adalah porselain rapuh yang mudah pecah. Ujung jarinya menyentuh pipi perempuan itu. Hangat. Lembut.Arkana seperti sedang memastikan bahwa perempuan di hadapannya benar-benar nyata. Tatapan Arkana mulai berubah. Tak

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 5

    Kabar tentang senyum tipis Arkana Pratama menyebar lebih cepat daripada gosip apa pun di Nusantara Academy. Bukan karena senyumnya luar biasa manis, justru sebaliknya. Karena hampir tak seorang pun percaya pria sedingin itu bisa tersenyum. Sepanjang pagi, bisik-bisik terdengar di setiap sudut korid

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 4

    Sejak istirahat siang berakhir, suasana kelas XI-A tidak pernah benar-benar tenang. Tatapan siswa terus berpindah antara Anindya Wijaya dan Arkana Pratama. Namun, tidak ada yang bisa menyalahkan mereka.Pagi tadi Anindya mendorong kursi roda siswa pindahan itu masuk kelas seolah hal paling normal d

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 3

    Begitu kata-kata Anindya jatuh di udara, halaman sekolah yang tadi sudah sunyi menjadi semakin hening. Beberapa siswa menatapnya seolah baru saja melihat orang gila, bahkan Rafael yang biasanya penuh percaya diri terlihat membeku di tempat. “Mulai hari ini... tolong biasakan dirimu membelaku.” Ka

  • Memilihmu di Kesempatan Kedua   Chapter 2

    Suara ramai memenuhi telinga Anindya sebelum ia sempat membuka mata sepenuhnya.Teriakan siswa, langkah kaki berlarian, dan tawa remaja yang bercampur dengan suara bel masuk pagi. Angin menerpa wajahnya, membuat Anindya bertanya-tanya berada di manakah dia. Anindya membuka matanya, ia mengerjap pe

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status