Mag-log inSari, seorang ibu muda yang baru saja melahirkan anak keduanya, harus menghadapi suatu kondisi yang disebut Baby Blues. Membuat Sari tanpa sadar menghabisi nyawa anaknya sendiri. Lian, sang suami, bukannya mendukung agar kondisi Sari membaik, justru ia seakan membantu sang ibu untuk semakin memperburuk kondisi psikis Sari. setelah melalui badan kehidupan selama satu tahun lamanya, akhirnya, Sari menemukan kebahagiaannya sendiri tanpa Lian dan mantan keluarga suaminya itu.
view more"Guys, what do think about a guy named Ben." Belle asked as she looked at the man's bio on her phone. She just newly downloaded an app named sex mate, where she could meet a random person to hook up with.
She was new in city S and was staying with her cousin and her roommate, who just discovered she was a virgin and suggested the app for hook ups.
It was Belle's choice to remain a virgin all this while, but now she didn't find it such a good choice anymore, especially since she knew her cousin wasn't.
They both used to live with their grandma who believed strongly in abstinence till marriage but Belle was older now, she knew she didn't want to be a virgin anymore
In their small town, where she used to live alone with her grandma after her cousin left for the city, she knew many of the boys and men weren't keeping themselves so why did she have to.
"Ben what?" Brie, her cousin asked applying lotion to her body even though she was about to go to sleep.
"Just Ben." Belle replied.
"But you did read his bio, is he the kinda man you would wanna have sex with?" Cherry, Brie's roommate asked.
"I don't know, there isn't much on his profile."
"There isn't much on your profile either, just pick any of them and fix a date." Her cousin urged, getting into the big bed they all shared.
"And pick a date before Monday, you have to go to that media office, you applied for internship, remember?" Cherry added.
"Alright alright, I'll pick Ben, he seems okay." Belle said tapping the green button which meant accept.
"I'm going to sleep." Brie announced yawning, while cherry just sat there scrolling through her phone.
"How do I know he's online?" Belle asked again, referring the question to no one in particular.
"I don't know, I think there should be like a green dot or something." Cherry suggested.
"I'm not seeing it, I guess he isn't online." Belle said almost disappointedly. She was hoping she could fix a date now with him because tommorow she still had to send an email to the media house concerning her internship.
Switching off her phone, she turned in bed trying to get a perfect sleeping position and before she slept, she said good night to Cherry but then heard her phone's notification sound beep. Checking the phone, she saw that there was a notification from the Sex mate alpand it was a message from him.
It was just a waving hand emoji. She didn't know what to reply since she was not the best to start a conversation.
"Ben." She just typed.
"Belle Miller." He texted back."You do know that you don't have to use your full name on this app right?" He added.
"My first time here, you must be active on this app." She texted again smiling, hoping it was a good joke.
"It's my first time actually, some things aren't hard to figure out, common sense." She read and didn't know what to reply. "You do stay here in city S right?" He texted after she didn't text back.
"Yeah."
"Good." She read his text not knowing what to reply again." You are beautiful." He let her know and was a little surprised when he didn't get a thanks from her.
"Let's fix a date." She finally typed after a short while.
"Pick a place." He replied when he noticed she wanted to go straight to the point.
"I don't know anywhere here yet to be the one to pick a place."
"So you are not from here?" He asked and didn't get a reply from her.
"Cherry?" Bell whispered when she noticed Brie was already asleep. Cherry turned to her to know why she called."He's asking me to pick a place."
"Like a hotel?" Cherry wanted to know.
"Like a hotel?" She ignored his last question and replied directly to 'pick a place.'
"Yes." She saw his reply and nodded for cherry.
"Pun." Cherry whispered.
"Pun?" Belle had to ask.
"Yeah, it's a new hotel, should be okay."
"Pun." She texted him.
"Took quite a long time to think of a place." She didn't know what reply to give again. "Is 7 O'clock good for you?" He asked.
"7 O'clock when?"
"Saturday."
"Tommorow, Okay. Goodnight." She typed just because she was used to it but didn't wait for his reply.
She kept her phone on the drawer next to the bed and laid beside her cousin, trying to adjust to a comfortable position before sleeping.
"Are you done chatting with him?" Cherry asked looking up from her phone.
"Yeah, we fixed tomorrow, 7pm."
.
"Okay, tommorow you fill us in."Cherry chuckled.
"Goodnight." Belle said before finally laying her head on the pillow, thinking about what he would look like, and how it would work out.
She hoped it went well tommorow.
SATURDAY EVENING
"Belle, come walk me to the laundromat, please." Brie begged as it was her turn this week to do the laundry.
"Let her be, she needs to rest for tonight." Cherry said.
"It just first time sex, it's not like she's going to a boxing game or something."
"I shouldn't have told you guys about any of this." Belle slapped her forehead and the two girls laughed.
"Are you coming with me?" Brie still asked.
"No, I'm sorry, it's past six already, I should be getting ready."
"Don't be sorry Belle, she had all day to take them." Brie rolled her eyes at Cherry's statement.
*****************
"Sir, I shifted the meeting you asked me to cancel yesterday to today." A woman walked into an office with a tablet in hand.
"When will it be?" The man she had just informed asked, looking up from the laptop on his neatly arranged desk.
"In the next twenty five minutes, sir."She answered and he looked at his watch.
"7 pm?"
"Yes sir."
"Reschedule the meeting." He said looking back at his computer.
"but Sir, I already..." She stopped speaking when he looked at her, she knew how much he didn't like to repeat himself so she just walked away.
********
A/N
Heyy, you reading, thanks for reading this far please don't stop, support me in any way that you can. Your reviews, your comments, your criticism, all of it, I would really appreciate them. I love you.
Really I do, I don't know you but you are reading, so I love you.
Sari turun dari mobil yang ia tumpangi bersama Damar. Seperti biasa, Sari mempersilakan Damar untuk sekadar duduk di kursi teras untuk menikmati secangkir teh buatannya."Terimakasih karena udah anterin aku hari ini ya, Mas."Damar buru-buru menelan air teh yang masih berada dalam mulutnya dan segera meletakkan cangkir teh ke atas meja."Sama-sama."Sari menyandarkan punggungnya dan menghela napas panjang. Ia sendiri tak tahu mengapa rasanya bisa selega ini. Tanpa sadar, Sari tersenyum sendiri membayangkan jika nanti saatnya Kia akan ikut bersamanya.Lamunan Sari buyar saat mendengar suara dering ponsel milik Damar. Buru-buru lelaki itu menjawab panggilan telepon untuknya."Ya, Bu?"Rupanya sang ibu yang menghubungi Damar. Sari tak ingin menguping pembicaraan ibu dan anak itu. Ia sendiri memilih untuk mengutak-atik ponsel miliknya sendiri."Aku tanya dulu ya, Bu. Bisa jadi dia sedang lelah. Kami baru saja pulang setelah berbelanja."Sari jadi merasa bahwa Damar dan ibunya tengah membi
Wajah Hesti seketika berubah cemberut saat Lian membentaknya di depan umum. Dalam hati, Hesti semakin merasa bahwa ia harus segera membalas dendam pada Lian.Setelah membentak Hesti, Lian berlalu menuju bagian baju anak perempuan yang tadi disambangi oleh Sari dan Damar.Saat ini, Sari sudah berpindah tempat. Mungkin sedang mencari barang-barang lain yang ingin ia berikan pada putrinya.Seketika Lian menelan ludahnya kasar saat melihat harga yang tertera pada baju tersebut.Itu baju yang hampir sama dengan yang Sari ambil tadi. Lian tidak menyangka jika baju anak-anak seperti itu harganya bisa mencapai lima ratus ribu.Ia jadi teringat masa dimana Sari meminta uang pada Lian untuk membelikan baju untuk anaknya itu karena baju-baju milik Kia sudah banyak yang tak muat."Eh, buat apa uang itu, Lian?" tanya bu Tri saat Lian menyerahkan uang senilai dua ratus ribu pada Sari.Padahal, Sari sudah merasa sangat senang karena ia akan pergi ke pasar guna membelikan anaknya itu baju baru."Buat
Hari cepat sekali berganti. Setidaknya, itu yang dirasakan oleh Lian. Akhirnya, perceraiannya dengan Sari pun sudah sah secara hukum negara. Tuntutan Sari akan harta gono gini juga terkabul. Dalam waktu dekat, Lian harus menjual rumah itu agar hasil penjualan bisa ia bagi dengan Sari. Atau, jika Lian masih ingin mempertahankan rumah itu, Lian harus membayar separuh harga rumah pada Sari. Dan tentu saja Lian tak punya uang untuk itu.Berbeda dengan yang Sari rasakan. Selain perasaan lega karena kini statusnya sudah jelas, Sari juga merasa lebih baik karena tak ada lagi ikatan yang menyambung dirinya dan juga keluarga Lian selain Kia.Namun, Sari berjanji untuk tidak menciptakan permusuhan di antara keduanya. Bagi Sari, yang terputus darinya dan Lian hanyalah status suami dan isteri. Tapi, untuk menjadi orang tua Kia, mereka tetaplah berada di posisinya masing-masing."Udah, sih, Mas. Ikhlasin aja rumah itu. Toh, kamu bilang kalau bangun rumah itu pakai uang mbak Sari juga, kan? Berart
Sari dan Damar saling berpandangan. Merasa sia-sia kebohongan yang mereka buat untuk mengelabuhi orang tua Damar."Ibu gak lagi becanda, kan?"Ibu dari Damar itu tertawa. Sesekali menepuk pundak sang suami karena merasa lucu, sebab sudah berhasil menipu anaknya sendiri."Ya enggak, lah, Damar. Namira itu memang saudara jauh kita. Tepatnya, dari keluarga ayah kamu. Ya, kan, dari dulu kamu jarang kumpul sama keluarga dari ayah kamu. Kebetulan juga, Namira kuliahnya di luar negeri, dapat beasiswa kuliah di China."Damar hanya bisa menggaruk kepalanya yang mendadak terasa gatal. Gara-gara ia yang tidak terlalu dekat dengan keluarga ayahnya, apalagi saudara jauh, ia jadi mudah ditipu."Tapi gak apa-apa ya, Pak. Kita nipu kamu juga ada hasilnya, kan? Sekarang, akhirnya kamu pulang bawa perempuan juga. Seneng Ibu rasanya, Mar.""Ngomong-ngomong, sudah berapa lama kalian berhubungan?" Ayah Damar yang sedari tadi diam, akhirnya mengeluarkan suaranya.Sari melirik ke arah Damar, seakan menyuruh






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu