เข้าสู่ระบบPenghianatan sang kekasih dan juga sahabatnya membuat Kiara nekad menyentuh alkohol di sebuah bar di sudut kota. Namun, kesialannya seolah tak berhenti saat ponselnya mati kehabisan baterai. Kiara pun terpaksa menerobos guyuran hujan lebat untuk segera pulang, tetapi sebuah kilat aneh yang sangat menyilaukan mata mengenainya, membuat matanya memejam dan.... Byur! Saat dia membuka mata,dia tersadar jatuh dalam sebuah kolam! Matanya lalu bertatapan dengan mata seorang pria yang menatapnya secara tajam, "Siapa Kau menerobos masuk kolamku?"
ดูเพิ่มเติมMyra's POV
I never planned on falling for my best friend’s Alpha father. But here I was, years deep into this secret, my heart racing for a man who barely knew I existed. My name is Myra, and I’ve been Sophia Thorn’s best friend since we were awkward teenagers navigating our first shifts under the full moon. Sophia’s family mansion became my second home, especially after my own pack life turned complicated. Her father, David Thorn, was the reason I kept coming back long after we outgrew sleepovers and gossip sessions. The first time I truly met him wasn’t dramatic. No fated sparks or instant connection. I was seventeen, nervous and trying not to trip over my own feet while carrying a stack of textbooks into their sprawling estate. Sophia had dragged me along for a study weekend before exams. He’d walked through the grand foyer in a crisp black shirt, sleeves rolled up to reveal powerful forearms. His scent hit me first—dark cedar, smoke, and the unmistakable presence of a dominant Alpha that made my newly awakened omega instincts stir. “Sophia,” he’d said, voice low and steady, barely glancing my way. “Your friend staying the night?” That was it. A polite nod in my direction, those piercing golden-flecked eyes sliding over me without really seeing. I was just “Sophia’s friend.” Invisible. Safe. And completely undone. That night, alone in the guest room, I couldn’t stop thinking about him. The way he carried himself. The quiet authority in his voice. Something about him settled under my skin and never left. Now, at twenty-two, nothing had changed on the surface. I still visited Sophia almost every weekend. We laughed, shifted together in the woods behind the property, and complained about pack politics. But inside, I carried a quiet, forbidden longing for her father. Tonight was no different. I’d arrived earlier while Sophia was still at a pack meeting across town. She’d texted me to let myself in and wait in the living area. The mansion was quiet except for the low hum of distant staff and the occasional creak of old wood. I wandered into the kitchen for water, wearing one of Sophia’s oversized hoodies that reached mid-thigh and loose shorts underneath. There was nothing special about it. It just made me comfortable. Yet my thoughts kept drifting to him. I pictured David walking in—tall, broad-shouldered, and carrying that quiet intensity that always unsettled me. My pulse quickened at the thought. He was twice my age, a ruthless billionaire Alpha who commanded loyalty from packs across the region. A widower who raised Sophia alone after losing his mate years ago. He moved in circles with powerful, elegant she-wolves. Not someone who would ever look twice at a quiet, bookish girl like me. I leaned against the counter, gripping it tightly as another wave of awareness rolled through me. The house always felt different when he was nearby. A real sound pulled me out of my thoughts—the heavy front door opening and closing. Footsteps approached. Confident and measured. My heart slammed against my ribs. David entered the kitchen a moment later, loosening his tie with one hand, phone in the other. He looked every bit the powerful Alpha: dark hair slightly tousled from the day, sharp jaw shadowed with stubble, shoulders filling out his charcoal suit jacket perfectly. His scent filled the space—calm, commanding, impossible to ignore. I froze, trying to look casual. “Hi, Mr. Thorn.” His eyes flicked toward me briefly, before he responded with a small, distracted nod. “Myra. Sophia’s not back yet?” His voice was deep and professional. Polite. He didn’t pause, moving to the fridge to grab a bottle of water as if I were simply part of the furniture. “No, she’s still at the meeting,” I managed, keeping my voice steady. Up close, I could see the quiet strength in the way he carried himself. Everything about him felt larger than the room. He set the bottle down, checking something on his phone again. “Tell her I’ll be in the study if she needs me.” Another polite glance. Distant. No lingering. No recognition beyond the usual. To him, I was still the quiet girl who’d been tagging along for years. Harmless. Invisible. As he turned to leave, I watched him go, my chest tight. The longing I tried so hard to ignore pressed harder against my ribs. I wanted him to see me—really see me—but he never did. This quiet ache had gone on for years. Stolen glances. Late-night thoughts I never admitted out loud. Silent moments in their guest bed, staring at the ceiling and wondering what it would feel like if he ever looked at me the way I looked at him. I knew it was wrong. Sophia would be horrified. The pack would talk. But the feeling refused to fade. I wandered into the living room and curled up on the oversized couch with a book I wasn’t really reading. My mind kept circling back to him. What if tonight he finally noticed? What if the careful distance between us cracked, even for a moment? The sound of footsteps made me sit up straighter. David passed through the open archway toward his study, not even looking in my direction. Just a tall, powerful figure carrying the weight of his responsibilities. He closed the study door with a soft click. I let out a shaky breath. Part of me was relieved he hadn’t noticed the way my pulse raced around him. Another part felt quietly devastated. The front door opened a short while later. Sophia was finally home. I forced a bright smile, pushing the restless feelings down as best I could. But as laughter filled the house and my best friend hugged me, my eyes drifted toward the closed study door. David was in there. Close enough to reach. Completely unaware of the quiet, persistent longing I carried for him just a few rooms away. And somehow, that only made the feeling stronger."Hachi.....," dia mengusap hidungnya yang gatal. "Siapa yang membicarakanku?" keluhnya. "Pangeran..., anda tidak apa - apa?" tanya seorang kasim."Sebaiknya anda segera masuk, udara di luar sedang tidak bagus.""Anda bisa terkena flu."Sean melirik kasim disampingnya."Memangnya aku bisa kenapa?" ucapnya dengan nada sinis.Sejak Sean dipaksa pulang ke Kerajaan Albama dia hidup dibawah tekanan ayahnya lagi.Dulu Sean sering kabur karena tidak mau mewarisi tahta Kerajaan Albama dan menjadi penguasa.Jiwa Sean lebih suka hidup bebas, dan bisa pergi kemanapun yang dia sukai."Ah... aku jadi merindukannya....," ucap Sean sambil menghela napas. "Kau...!!, panggilkan Sabo ke sini!!!" perintahnya pada kasim. "Baik Pangeran," kasim itu segera pergi mencari orang yang bernama Sabo. "Kiara...""Seandainya kau disini, mungkin aku akan tetap tinggal."Dia benar - benar merindukannya. ......Kekacauan di perbatasan timur akhirnya terdengar juga di telinga Kaisar Yufen. Saat rapat pagi dia
"Bagaimana keadaanmu hari ini?" tanya Pangeran Huanzhe pada Kiara. "Lumayan lancar, lagi pula ini semua karenamu," ucap Kiara. "Terima kasih Pangeran Huanzhe. Pangeran Huanzhe tersenyum kemudian duduk di meja bersama Kiara yang sibuk dengan pekerjaan barunya. "Kau bersemangat sekali, aku bahkan jadi iri dengan perhiasan yang kau buat, karena mendapat perhatian khusus darimu." "Ha... ha... ha...," Pangeran Huanzhe tertawa. Kiara menoleh. Memandang aneh ke arah Pangeran Huanzhe. "Kenapa anda berkata begitu?" tanya Kiara memandang bingung Pangeran Huanzhe. Pangeran Huanzhe yang dipandang oleh Kiara menjadi salah tingkah. Dia memalingkan wajahnya ke sisi lain. "Tidak apa -apa, kau lanjutkan saja apa yang kau kerjakan," ucap Pangeran Huanzhe terbata. Kiara belum mengetahui bahwa Pangeran Huanzhe menyukai dirinya.Dengan cekatan Kiara membelah mengasah beberapa baru warna warni dengan bentuk bentuk yang sesuai seleranya. Dia membuat gelang, kalung, bros dan hiasan kepala. Un
Bab29"Tuan.....""Ah... tuan...."Nada - nada manja terdengar dari mulut para wanita penghibur. Seorang pria, lumayan tampan sedang minum di bar itu. Dia bahkan tidak memesan wanita penghibur. Tapi para wanita penghibur itu datang padanya dengan sukarela. "Tuan.... tidakkah kau mau minum bersamaku?""Aku tidak akan memberimu harga," tawar salah seorang wanita itu. Dengan isyarat tangan pria itu menolak. Tapi para wanita lain tidak berhenti begitu saja. Mereka tetap memaksa pria itu dengan berujung penolakan semua. Bahkan sikap manja dan menggoda mereka tidak dilirik satupun oleh pria tampan itu. Para wanita penghibur itu menjadi penasaran dengan identitas pria tampan itu. "Siapa pria tampan itu?" tanya salah seorang wanita penghibur pada temannya. "Aku juga tidak tau, sepertinya dia baru pertama kali datang ke sini.""Karena aku baru melihatnya," jawab temannya. "Kurasa benar...., aku juga baru pertama kali melihatnya.""Dia tampan sekali....," timpal yang lainnya. Para
Tuan...!!!" Dengan terburu - buru seorang pelayan laki - laki berlari menuju kediaman besar. Itu adalah kediaman keluarga Mirza. "Ada apa?!!!""Ini rumah bukan hutan, seenaknya saja kau berlarian!!" ucap tuan Mirza. "Maafkan saya tuan, tapi ini.... ada surat mendesak dari wilayah timur," dengan cepat pelayan itu mengeluarkan surat dari dalam bajunya. Tuan Mirza mengambilnya dan membukanya dengan cepat. Dia membaca apa isi surat itu dan sesekali mengerutkan alisnya. "KETERLALUAN...!!!" dia menggebrak meja dengan keras. "Apa - apaan ini, mereka pikir sedang berurusan dengan siapa!!""Panggilkan Jordan!!! CEPAT!!!""Ba.. baik," pelayan itu dengan tergesa keluar dan mencari keberadaan Jordan. Setelah mencari beberapa lama, Jordan sedang duduk di depan dapur. "Kak Jordan... kak Jordan..., tuan memanggilmu.""Ini penting dan kau disuruh segera kesana," dengan napas yang masih memburu, pelayan itu menyampaikan pesan pada orang yang bernama Jordan. Jordan segera berdiri dan melang
"Nona..." panggil Dayang Arni karena sedikit mengkhawatirkan Kiara.Dayang Arni tau, tujuan dari nona Aira adalah untuk memperingatkan nona Kiara.Tapi dia bisa apa? Dia hanyalah pelayan yang tidak punya kuasa. Mesti belum pasti dengan nona Kiara, t
Pandangan Aira dengan cepat melirik ke arah kamar tempat Kiara berada.“Seorang tamu yang jatuh ke kolam kemarin malam jatuh sakit." "Aku ingin memastikan keadaannya,” jawab Yufen tanpa basa-basi.“Apakah Kaisar akan sering menjenguk... tamu ini?” Aira menatap lurus, mencoba menahan nada tajam dal
Dengan tatapan ketakutan Kiara bertanya, "Si.. Si.. Siapa kau?"Laki - laki di depannya memiliki aura kekuasaan yang sulit untuk diartikan.Dia tampan, dan memiliki aura ketegasan di sorot matanya yang tajam.Laki - laki yang memandangnya tajam, bukan hanya tidak menjawab pertanyaan Kiara, bahkan t
"Ah...lebih cepat sayang," rancau wanita itu. Desahan - desahan itu lolos dari sepasang pria dan wanita di kamar itu.Dari celah pintu, Kiara Grace menutup mulutnya rapat agar tidak keluar suara tangisnya. Kue di tangannya bahkan terjatuh bergitu saja di lantai. Harusnya hari ini adalah hari peri






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
คะแนน
ความคิดเห็นเพิ่มเติม