LOGINPenghianatan sang kekasih dan juga sahabatnya membuat Kiara nekad menyentuh alkohol di sebuah bar di sudut kota. Namun, kesialannya seolah tak berhenti saat ponselnya mati kehabisan baterai. Kiara pun terpaksa menerobos guyuran hujan lebat untuk segera pulang, tetapi sebuah kilat aneh yang sangat menyilaukan mata mengenainya, membuat matanya memejam dan.... Byur! Saat dia membuka mata,dia tersadar jatuh dalam sebuah kolam! Matanya lalu bertatapan dengan mata seorang pria yang menatapnya secara tajam, "Siapa Kau menerobos masuk kolamku?"
View MoreMahyadin dengan tegang dan penasaran yang tinggi menatap kakek di depannya ini, pria tinggi tegap dengan body kokoh ini mulai mendengarkan Kakek Zainul bercerita…!
Pet Jan Terling adalah seorang perwira Belanda yang ditugaskan untuk melawan kaum pribumi yang memberontak. Pet Jan Terling yang berpangkat Kapten ini mengepalai 500 lebih pasukan Belanda.
Mereka sampai masuk ke pelosok-pelosok untuk mengejar perlawanan kaum pribumi yang menolak pendudukan Belanda saat itu.
Pet Jan Terling berubah total saat bentrok dengan perlawanan gigih kaum pejuang, dan bersama pasukannya dia terdesak dan sudah banyak anggota pasukan Pet Jan Terling yang terbunuh oleh senjata kaum pejuang.
Pet Jan Terling sendiri sudah menderita luka-luka ditubuhnya, sudah banyak pasukan Peter yang kabur meninggalkan pertempuran.
Agaknya dalam waktu yang tak terlalu lama lagi sisa pasukan Pet Jan Terling akan habis di bunuh para pejuang yang terus merangsek maju tanpa takut mati.
Akhirnya pasukan sisa yang bertahan terbunuh, ada sekitar 80 orang yang tewas, sisanya melarikan diri dan tertinggallah Pet Jan Terling yang terluka parah dan saat akan di tombak pasukan pejuang, ada seorang pejuang tua yang sangat di hormati, yakni Ki Janos, yang meminta agar Pet Jan Terling jangan di bunuh, tapi di tahan sebagai tawanan.
Pet Jan Terling di kurung di sebuah rumah di hutan dan dia diperlakukan dengan baik, luka-lukanya juga di rawat.
Yang membuat Pet Jan Terling melongo, Ki Janos yang memberikan perawatan dengan cara yang tak biasa, yakni mengusap-ngusap luka bekas tembakan dibadannya.
Badannya yang terkena peluru mengering dan lama kemudian malah sembuh. Ini sulit diterima akal sehatnya, yakni ada pengobatan yang baginya mirip sihir.
Setelah seminggu di tahanan dan menerima perlakuan baik dari para pejuang, penjagaan juga dikurangi, sehingga Pet Jan Terling bisa melihat bagaimana para pejuang yang makan seadanya dan terlihat akrab dan juga sangat setia satu dengan yang lain.
Pet Jan Terling yang sudah lama tinggal di Kalimantan karena bertugas, juga paham Bahasa Indonesia, bahkan Bahasa daerah, sehingga dia mengerti apa yang diomongkan semua pejuang ini. Intinya dia mulai mengerti, negerinya adalah penjajah dan para pejuang ini bukanlah pemberontak, mereka hanya ingin merdeka dan tak mau di belengu Belanda lagi.
Simpati Pet Jan Terling mulai timbul dan dia malah menyesali ada pribumi yang berkhianat dengan perjuangan mereka.
Pet Jan Terling ternyata memiliki istri dari kalangan pribumi di Banjarmasin, yang mulai dia sadari berperilaku tak baik, karena justru membela negara asal Pet Jan Terling, bukan membela negeri sendiri.
Salitin, wanita pribumi itu janda punya anak satu bernama Tungga yang sudah beranjak remaja, pernikahan sebelumnya dengan suami pertamanya, Pet Jan Terling sendiri saat ini berumur hampir 40 tahun.
Tungga ternyata ikut para pejuang dan tentu saja dia jarang menjenguk ibunya yang dianggapnya berkhianat kepada bangsa sendiri.
Setelah 3 bulan di tawan, kini Pet Jan Terling bukan lagi dianggap tawanan, tapi dia dianggap biasa saja.
Para pejuang pun tak lagi menyebut nama lengkap Pet Jan Terling, tapi mereka hanya memanggil Peter saja, Peter pun bisa bebas berkeliaran di sarang para pejuang di tengah hutan lebat Kalimantan ini.
Yang makin membuat Peter kecewa, pasukan Belanda tak pernah ada niat mencarinya, dia sudah dianggap gugur alias tewas di tangan pejuang, itu dia dengar dari pasukan pejuang yang sering turun ke desa dan kota memantau perkembangan dengan cara menyamar.
Peter diam-diam juga sering berdiskusi dengan Ki Janos tentang perjuangan mereka melawan pasukan Belanda, simpati yang timbul karena melihat aslinya para pejuang ini baik-baik dan ramah.
Lama-lama Peter mulai menyadari negerinya lah yang salah dan selama ini mencaplok negeri indah ini.
Saat akan menyerbu benteng pasukan Belanda dan berencana merampas senjata-senjata di benteng itu, tanpa disangka-sangka semua pejuang, Peter menawarkan diri ikut melawan pasukan negerinya sendiri.
Ki Janos lalu menyakinkan para pejuang, kalau niat Peter ini tulus dan dia sudah sadar kalau negerinya salah menjajah Indonesia.
Peter dan pemimpin pejuang lalu menyusun rencana, yakni para pejuang akan melepaskan Peter ke pasukan Belanda, lalu para pejuang akan menyerbu secara tiba-tiba, setelah Peter yang nantinya masuk ke benteng pasukan Belanda akan membokong dari belakang.
Semua setuju dengan rencana ini…!
Peter diserahkan dua pejuang ke pasukan Belanda yang tak sadar kalau mantan komandan ini diam-diam telah berkhianat dan memihak kaum pejuang.
Selama dua hari Peter di interogasi komandan nya Mayor Van Cook di benteng itu, dia ditanya macam-macam, terutama di mana sarang para pejuang itu.
Peter pun sengaja menyebut daerah-daerah para pejuang bersembunyi, Mayor Van Cook senang sekali dan dia memerintahkan 5 anak buahnya segera ke Kadipaten (kini Kabupaten) minta tambahan pasukan, karena Mayor Van Cook akan membasmi habis para pejuang itu yang dia sebut kaum ekstremis alias pemberontak.
“Jadi jumlah pasukan ekstremis itu hanya sekitar 300 orang…hemmm…cukup tambah 250 pasukan, habis para pemberontak itu!” kata Mayor Van Cook tertawa, ketika melihat wajah Kapten Pet Jan Terling alias Peter mengangguk.
Di benteng ini sendiri ada sekitar 350 orang pasukan Belanda asli, ditambah 200 orang pasukan pribumi yang disebut dengan Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger atau KNIL, pasukan yang diambil dari warga pribumi.
Sesuai rencana, Peter akan memberi tanda para pejuang yakni tengah malam saat para serdadu ini istirahat. Peter akan membakar gudang makanan dan saat itulah tanda agar para pejuang datang menyerbu.
Target awal adalah 3 hari…tapi sampai hari ke 5 belum juga ada tanda dari Peter, pasukan pejuang mulai gelisah dan menganggap Peter berbohong dan hanya siasat saja untuk kembali ke pasukannya.
Ki Janos tetap sabar dan minta para pejuang tidak gegabah dan harus percaya dengan Peter. Untung komandan pasukan yakni Farhan juga sabar, pria gagah perkasa yang di dapuk pemimpin para pejuang dengan pangkat Letnan ini sama dengan Ki Janos, yakni percaya dengan Peter.
Ki Janos sendiri sudah di anggap sebagai penasehat pasukan. Ki Janos sangat di segani karena memiliki ilmu-ilmu kanuragan yang sangat hebat, Ki Janos bahkan dikatakan bisa menghilang dan kebal senjata.
Hari ke enam, Ki Janos yang mempunyai batin kuat, ternyata berkomunikasi secara batin dengan Peter, Peter memberitahu malam ini pasukan pejuang diminta bersiap.
Tepat jam 12 malam, tiba-tiba benteng terlihat heboh, karena ada kebakaran di gudang yang berisi makanan. Saat pasukan terbangun dan sibuk memadamkan kebakaran itu, menyerbulah 300 an pasukan pejuang.
Suasana kacau balau, para pejuang yang rata-rata nekad ini menyerbu dengan ganas, semua pasukan Belanda yang belum siap benar-benar kocar-kacir, Mayor Van Cook bukan main marahnya mendapati pasukannya di serbu para pejuang.
Dengan senjata di tangannya, dia menembaki pejuang-pejuang yang mencoba mendekatinya, sudah ada dua pejuang yang tewas kena tembakannya.
Tapi tembakannya terhenti, saat sebuah peluru menembus dadanya dan dia makin mendelik dan kaget bukan main, karena yang menembaknya adalah Kapten Pet Jan Terling.
Letnan Farhan yang menyaksikan itu kini yakin, kalau Peter memang sudah menjadi bagian dari kaum pejuang.
Tewasnya Mayor Van Cook membuat pasukan Belanda kabur menyelamatkan diri, Letnan Farhan memerintahkan pasukannya jangan mengejar pasukan Belanda yang kabur, tapi fokus untuk mengambil senjata-senjata di Gudang amunisi.
Peter yang jadi petunjuknya ikut bersusah-payah angkut senjata-senjata milik pasukan Belanda.
Tak sampai 3 jam, pasukan Letnan Farhan langsung kabur dari benteng itu, 95 pasukan Belanda tewas, sisanya kabur menyelamatkan diri.
Pasukan pejuang yang tewas hanya 5 orang dan diangkat ramai-ramai kaum pejuang, ada sekitar 45 pejuang yang di tawan di benteng itu, semuanya di bebaskan pejuang dan diminta ikut bawa senjata yang baru di rampas, terutama yang badannya masih sehat dan kuat, sedangkan yang sakit dipapah tawanan pejuang yang masih sehat.
Penyerbuan yang menggegerkan itu terutama kabar pembelotan Peter sampai ke telingga Gubernur Jenderal Belanda di Banjarmasin, luar biasa murkanya sang Gubernur ini, dia sampai meminta 2.500 tambahan pasukan untuk membasmi komplotan Letnan Farhan yang kini di bantu Kapten Pet Jan Terling yang berkhianat.
Kapten Peter kini diminta Letnan Farhan melatih para pejuang menggunakan senjata api dan membidik dengan benar.
Di satu sisi, Peter juga mulai menyukai seorang gadis pribumi yang sering bertugas di dapur umum. Dia tak tahu, kalau salah satu tawanan pejuang yang dibebaskan dari benteng itu adalah anak tirinya, yang bernama Tungga.
Tungga kaget juga, suami ibunya ini malah ikut bergabung dengan pejuang, dia menjadi simpati dengan Peter dan blakan-blakan Tungga mengaku anak sambungnya dan ibunya Salitin, Peter pun juga tak menyangka bertemu Tungga, dan akhirnya ia malah sangat akrab dengan Tungga.
Secara diam-diam Tungga mengatakan ke Peter ada sebuah peta harta karun di benteng itu, yang diketahuinya saat dia jadi tawanan.
“Selain kamu, siapa lagi yang tahu soal peta itu!” tanya Peter ke Tungga,
“Bino dan Jabir…yang lain tak tahu!” sahut Tungga. Peter kemudian meminta Tungga memanggil Bino dan Jabir, akhirnya mereka berempat berunding bagaimana caranya kembali ke benteng itu.
“Saat ini pasti benteng itu jaga super ketat oleh pasukan Belanda, apalagi kamu sudah nyata-nyata berkhianat, kalau kita ke sana akan jadi masalah besar!” kata Tungga.
Peter, Bino dan Jabir manggut-manggut, mereka kini sama-sama terdiam memikirkan bagaimana caranya agar bisa masuk ke benteng itu.
“Kita terus cari akal bagaimana kembali ke benteng itu…sementara kita jangan cerita ke pejuang lain dulu!” kata Peter yang disambut ungkapan setuju Tungga, Bino dan Jabir.
*****
BERSAMBUNG
"Hachi.....," dia mengusap hidungnya yang gatal. "Siapa yang membicarakanku?" keluhnya. "Pangeran..., anda tidak apa - apa?" tanya seorang kasim."Sebaiknya anda segera masuk, udara di luar sedang tidak bagus.""Anda bisa terkena flu."Sean melirik kasim disampingnya."Memangnya aku bisa kenapa?" ucapnya dengan nada sinis.Sejak Sean dipaksa pulang ke Kerajaan Albama dia hidup dibawah tekanan ayahnya lagi.Dulu Sean sering kabur karena tidak mau mewarisi tahta Kerajaan Albama dan menjadi penguasa.Jiwa Sean lebih suka hidup bebas, dan bisa pergi kemanapun yang dia sukai."Ah... aku jadi merindukannya....," ucap Sean sambil menghela napas. "Kau...!!, panggilkan Sabo ke sini!!!" perintahnya pada kasim. "Baik Pangeran," kasim itu segera pergi mencari orang yang bernama Sabo. "Kiara...""Seandainya kau disini, mungkin aku akan tetap tinggal."Dia benar - benar merindukannya. ......Kekacauan di perbatasan timur akhirnya terdengar juga di telinga Kaisar Yufen. Saat rapat pagi dia
"Bagaimana keadaanmu hari ini?" tanya Pangeran Huanzhe pada Kiara. "Lumayan lancar, lagi pula ini semua karenamu," ucap Kiara. "Terima kasih Pangeran Huanzhe. Pangeran Huanzhe tersenyum kemudian duduk di meja bersama Kiara yang sibuk dengan pekerjaan barunya. "Kau bersemangat sekali, aku bahkan jadi iri dengan perhiasan yang kau buat, karena mendapat perhatian khusus darimu." "Ha... ha... ha...," Pangeran Huanzhe tertawa. Kiara menoleh. Memandang aneh ke arah Pangeran Huanzhe. "Kenapa anda berkata begitu?" tanya Kiara memandang bingung Pangeran Huanzhe. Pangeran Huanzhe yang dipandang oleh Kiara menjadi salah tingkah. Dia memalingkan wajahnya ke sisi lain. "Tidak apa -apa, kau lanjutkan saja apa yang kau kerjakan," ucap Pangeran Huanzhe terbata. Kiara belum mengetahui bahwa Pangeran Huanzhe menyukai dirinya.Dengan cekatan Kiara membelah mengasah beberapa baru warna warni dengan bentuk bentuk yang sesuai seleranya. Dia membuat gelang, kalung, bros dan hiasan kepala. Un
Bab29"Tuan.....""Ah... tuan...."Nada - nada manja terdengar dari mulut para wanita penghibur. Seorang pria, lumayan tampan sedang minum di bar itu. Dia bahkan tidak memesan wanita penghibur. Tapi para wanita penghibur itu datang padanya dengan sukarela. "Tuan.... tidakkah kau mau minum bersamaku?""Aku tidak akan memberimu harga," tawar salah seorang wanita itu. Dengan isyarat tangan pria itu menolak. Tapi para wanita lain tidak berhenti begitu saja. Mereka tetap memaksa pria itu dengan berujung penolakan semua. Bahkan sikap manja dan menggoda mereka tidak dilirik satupun oleh pria tampan itu. Para wanita penghibur itu menjadi penasaran dengan identitas pria tampan itu. "Siapa pria tampan itu?" tanya salah seorang wanita penghibur pada temannya. "Aku juga tidak tau, sepertinya dia baru pertama kali datang ke sini.""Karena aku baru melihatnya," jawab temannya. "Kurasa benar...., aku juga baru pertama kali melihatnya.""Dia tampan sekali....," timpal yang lainnya. Para
Tuan...!!!" Dengan terburu - buru seorang pelayan laki - laki berlari menuju kediaman besar. Itu adalah kediaman keluarga Mirza. "Ada apa?!!!""Ini rumah bukan hutan, seenaknya saja kau berlarian!!" ucap tuan Mirza. "Maafkan saya tuan, tapi ini.... ada surat mendesak dari wilayah timur," dengan cepat pelayan itu mengeluarkan surat dari dalam bajunya. Tuan Mirza mengambilnya dan membukanya dengan cepat. Dia membaca apa isi surat itu dan sesekali mengerutkan alisnya. "KETERLALUAN...!!!" dia menggebrak meja dengan keras. "Apa - apaan ini, mereka pikir sedang berurusan dengan siapa!!""Panggilkan Jordan!!! CEPAT!!!""Ba.. baik," pelayan itu dengan tergesa keluar dan mencari keberadaan Jordan. Setelah mencari beberapa lama, Jordan sedang duduk di depan dapur. "Kak Jordan... kak Jordan..., tuan memanggilmu.""Ini penting dan kau disuruh segera kesana," dengan napas yang masih memburu, pelayan itu menyampaikan pesan pada orang yang bernama Jordan. Jordan segera berdiri dan melang
"Nona..." panggil Dayang Arni karena sedikit mengkhawatirkan Kiara.Dayang Arni tau, tujuan dari nona Aira adalah untuk memperingatkan nona Kiara.Tapi dia bisa apa? Dia hanyalah pelayan yang tidak punya kuasa. Mesti belum pasti dengan nona Kiara, t
Pandangan Aira dengan cepat melirik ke arah kamar tempat Kiara berada.“Seorang tamu yang jatuh ke kolam kemarin malam jatuh sakit." "Aku ingin memastikan keadaannya,” jawab Yufen tanpa basa-basi.“Apakah Kaisar akan sering menjenguk... tamu ini?” Aira menatap lurus, mencoba menahan nada tajam dal
"Kaisar....."Kasim Leo berlari masuk dengan cepat ke dalam Istana Naga. Dia begitu cemas. Kaisar Yufen yang sedang sarapan menghentikan aktivitasnya. Dia menoleh, "Ada apa?"Kasim Leo mengatur nafasnya. "Ada kabar dari paviliun Merpati.""Nona yang semalam jatuh dalam kolam anda, pagi ini mend
Kiara dibawa menuju paviliun Merpati oleh para pengawal. Jalanan yang dilaluinya diterangi menggunakan lentera.Kiara tampak kagum dengan dekorasi yang sangat indah. Detail setiap hal terlihat begitu dibuat dengan sangat cermat.Kiara menjadi bersemangat, sebagai seorang desainer perhiasan, dia s
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore