LOGINMenginjak 39 tahun, Gevan mulai resah saat umurnya terus bertambah. Didesak dengan pernikahan yang tak ia inginkan membuatnya gelisah. Jika bukan karena ibunya, Gevan tidak mau melakukan kencan buta dan memilih untuk berserah. Namun semuanya berubah saat ia bertemu dengan seorang gadis muda. Gadis yang bernama Olin itu mampu membuat Gevan ingin segera menikah. Penolakan yang Olin berikan tidak membuatnya menyerah. Justru Gevan semakin bersemangat untuk membuat gadis itu bertekuk lutut di hadapannya dengan pasrah. "Kamu itu kayak permen," ucap Gevan. "Permen?" "Iya, enak diemut." "Dokter gila!" teriak Olin.
View More“Jadi … kau mau memberikan nomor kontak siapa, heh?”
Nathan meremas tangannya, terlihat ragu-ragu. Sang petugas yang sudah tidak sabar menunggu jawaban Nathan pun mengetukkan penanya pada besi sel penjara. “Cepatlah!” “Kau pikir hanya kau saja yang harus aku urus?” Sebetulnya Nathan tidak ingin merepotkan siapapun, tapi dia terpaksa menjawab, “Istriku. Aku akan memberikan nomor telepon istriku.” Begitu Nathan memberikan nomor kontak istrinya, polisi yang bertugas menghubunginya dengan cepat. Hanya dalam kurang dari dua jam, Nathan pun dinyatakan bebas berkat jaminan dari sang istri. Pria berusia dua puluh sembilan tahun itu berjalan keluar dari kantor polisi dengan langkah cepat. Dia tersenyum lebar saat melihat Angela, istrinya yang sedang bersandar pada mobil sembari menatapnya dengan menampilkan ekspresi kesal di wajah cantiknya. “Angela.” Angela mendengus jengkel, “Masuk!” Wanita itu membuka pintu kemudi dan masuk ke dalam mobil merah. Nathan tidak berniat membantah dan langsung masuk ke dalam mobil lalu duduk di samping Angela. “Angela, Sayang. Maafkan aku.” Angela mengabaikannya dan hanya berfokus mengemudi. Nathan tidak menyerah, “Sayang, ini bukan salahku. Aku difitnah.” “Oh ya? Lalu mengapa kau bisa ditahan, hah?” Wanita itu tidak memberikan kesempatan Nathan untuk menjawab. “Nathan, apa kau tidak tahu kalau hari ini aku sedang ada rapat penting? Mengapa kau tidak berhenti membuat masalah untukku?” “Aku sungguh-sungguh tidak bersalah. Wanita itu memfitnahku.” “Jelaskan kalau begitu!” Angela memerintah tanpa menoleh ke arah suami yang dinikahinya dua tahun yang lalu itu. Nathan pun mulai bercerita, “Aku sedang membersihkan taman seperti biasa. Lalu, aku melihat ada seorang wanita yang terpeleset. Jadi aku-” “Kau tergoda, begitu? Apa wanita itu cantik? Lebih cantik dariku?” Angela memotong dengan tidak sabar. Nathan tersenyum, “Kamu cemburu ya?” “Sialan, Nathan. Kau ….” Nathan mengangkat tangan. “Baiklah, baiklah. Aku tidak akan bercanda lagi. Aku hanya membantunya untuk duduk di bangku taman dan memakaikan sepatu untuknya, tapi tiba-tiba ada seorang pria yang datang.” Nathan mengerutkan kening dan menceritakan semua yang terjadi tanpa ada sedikitpun kata yang dikurangi atau ditambah. “Singkirkan tangan kotormu itu dari kaki tunanganku!” Nathan sontak memutar kepala ke arah suara yang terdengar dingin dan penuh amarah itu. Pria yang baru saja datang itu berpenampilan sangat rapi dan elegan. Nathan langsung tahu bahwa lelaki itu pastilah berasal dari kalangan atas. Dia bergegas mendekati wanita yang tengah duduk di bangku taman. Dia melirik sekilas dengan ekspresi jijik ke arah Nathan yang telah berdiri sambil memegang sapu di tangan kanan. Dia dengan mudah bisa mengetahui profesi laki-laki berpakaian lusuh itu. “Hugo.” Sang wanita cantik memanggil dengan tatapan terkejut. “Maaf, Tuan. Saya tidak bermaksud-” “Apa yang terjadi denganmu, Amanda?” Pria bernama Hugo itu mengabaikan Nathan sepenuhnya dan menyentuh pundak wanita cantik itu. “Aku terpeleset dan pria ini ….” Amanda tidak melanjutkan perkataannya dan malah menundukkan kepala. Hugo mengerutkan kening, mulai curiga. Sementara Nathan yang merasa aneh buru-buru menjelaskan, “Tuan, saya hanya membantu nona ini untuk duduk dan membantunya memakai sepatu.” “Bo-bohong! Dia bohong, Sayang!” Amanda berkata dengan terbata-bata. Tanpa menatap Nathan, Amanda memegang tangan Hugo, “Dia mencoba melecehkan aku, Sayang. Dia menyentuh kakiku dan ….” “Tidak, Tuan. Itu tidak benar. Saya tidak melakukan hal itu. Saya hanya-” “BRENGSEK!” Hugo menggeram marah. Hugo pun menarik kerah baju Nathan dan hendak memukulnya. Tapi, seorang pria yang baru saja datang mencegahnya dengan cepat, “Tuan Muda, jangan!” “Bernard, kau tidak tahu apa yang baru saja dilakukan oleh si tukang bersih-bersih ini?” “Sa-saya … maafkan saya, Tuan Muda. Apapun itu, lebih baik kita laporkan saja dia pada polisi. Bagaimana, Tuan Muda?” saran Bernard. Hugo mengernyitkan dahi, tampak ragu. Bernard pun berbisik pelan, “Ingatlah bahwa Tuan Besar sedang mengawasi Anda, Tuan Muda. Polisi … pasti akan bisa menangani masalah ini dengan baik.” Ekspresi Hugo pun mendadak berubah. “Baiklah, kalau begitu … kau urus dia. Pastikan dia dihukum dengan berat.” “Baik, Tuan Muda.” Bernard mendesah lega. “Amanda, ayo pergi!” Hugo memegang tangan kekasihnya. Setelah sepasang kekasih itu pergi, Bernard lalu memerintah beberapa pengawal untuk menyeret Nathan ke kantor polisi. Dia ditahan atas tuduhan pelecehan terhadap pengunjung taman. Usai mendengar cerita itu, Angela memukul kemudi mobil untuk melampiaskan kekesalannya. “Itulah kenapa aku ingin memiliki suami yang memiliki status tinggi.” “Angela, aku-” “Gara-gara kau berasal dari kaum kelas bawah, kau jadi mudah ditindas. Mengapa dulu kakek menyuruhku menikah denganmu?” gerutu Angela. Nathan mendesah pelan. Dia tidak bisa menyalahkan wanita cantik itu. Bagaimanapun juga, pernikahannya dengan Angela memang tidak didasari oleh rasa cinta sedikitpun. Dia menikahi Angela sebagai kesepakatan dengan Ian Jackson, kakek Angela setelah Ian menyelamatkan nyawanya hampir tiga tahun yang lalu. Ian mengetahui identitas asli Nathan, tapi dia berjanji untuk tidak membicarakan hal itu pada orang-orang. Namun, sebagai balasan, Ian meminta Nathan untuk menikahi cucu perempuannya. Nathan memejamkan mata, mencoba untuk tidak memikirkan masa lalunya yang sangat rumit. Tapi tiba-tiba saja dahi Nathan mengerut ketika dia baru tersadar bahwa Angela mengambil jalur kiri. “Angela, kau salah jalur.” “Kita harus ke rumah Paman John.” Mendengar nama dari pemimpin keluarga istrinya itu disebut, Nathan membatu di tempat duduknya. “Ada jamuan makan malam.” Nathan semakin tidak suka mendengarnya. Jelas ada beribu-ribu alasan mengapa dia tidak ingin bertemu dengan seluruh anggota keluarga istrinya, terlebih lagi setelah Ian Jackson meninggal sejak dua tahun yang lalu. Nathan melihat Angela berbelok ke pom bensin. “Mandi dan ganti bajulah!” Angela menunjuk ke kursi belakang. Ada sebuah tas besar di sana. Nathan langsung mengambil tas itu tanpa banyak bertanya dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi umum di pom bensin itu. Sekitar tiga puluh menit kemudian, mereka telah tiba di rumah keluarga besar Jackson. Nathan melihat ada banyak mobil yang terparkir di halaman rumah mewah itu. “Jamuan makan malam apa sebenarnya? Mengapa banyak tamu yang diundang?” “Kalaupun aku memberitahumu, kau juga tidak akan mengerti.” Angela berkata dengan ketus dan berjalan terlebih dulu, meninggalkan Nathan yang hanya bisa mendesah pasrah. Lelaki itu telah terbiasa dengan sikap ketus dan dingin Angela sejak mereka bertemu. Akan tetapi, Nathan tidak pernah sedikitpun memprotesnya. Meskipun Angela terpaksa menikahinya dan selalu bersikap kasar, wanita itu tidak pernah sekalipun mengkhianatinya. Begitu Nathan memasuki area bagian dalam rumah itu, dia mendapati setidaknya ada lebih dari sepuluh orang yang tidak dia kenal ada di dalam ruang tamu. Ketika dia hendak menyusul istrinya yang tengah berbicara dengan seorang kepala pelayan, dia mendengar seorang pria berbicara, “Wah! Kukira kau tidak ikut datang, Nathan.” “Aku kira kau masih harus lembur membersihkan sampah-sampah di taman,” sahut seorang wanita yang berdiri di dekat pria itu. Mereka adalah Lucy dan Harry yang merupakan anak-anak John Jackson, paman istrinya. “Waktu kerjaku telah selesai.” Nathan membalas singkat. Pria itu memutar kepala dan ingin mendekati istrinya, tapi lagi-lagi dia mendengar Lucy berkata, “Eh, tunggu dulu! Mengapa aku mencium bau tidak sedap ya?” “Kamu benar, Lucy.” Harry mengusap-usap hidungnya, “Nathan, kamu … belum mandi ya?” Suaranya sengaja dikeraskan agar orang-orang di ruangan itu mendengarkan mereka. Dari arah kiri Nathan seorang wanita berujar pelan pada temannya, “Eh, apakah itu … menantu laki-laki keluarga Jackson yang berprofesi sebagai tukang bersih-bersih di taman itu?” “Sepertinya iya. Astaga, di sini jadi sangat bau,” sahut temannya. Nathan mengepalkan tangan, menatap tajam ke arah dua sepupu istrinya yang sedang tersenyum mengejek ke arahnya Ketika mereka mulai sibuk membicarakan soal bau yang menyengat itu, John Jackson yang baru memasuki area ruang tamu utama itu menatap Nathan dengan alis terangkat, “Siapa yang mengizinkan kau berdiri di sana, Nathan?”Di kantin sekolah, Lana mengaduk makanannya dengan tidak nafsu. Hari ini adalah hari ulang tahunnya, tetapi rasa bahagia itu tidak ia rasakan. Keluarganya memang telah mengucapkan selamat ulang tahun semalam di jam 12 malam, tetapi tetap saja permintaan Lana akan pesta ulang tahun tidak terkabul. Kenapa sulit sekali untuk meyakinkan orang tuanya? Bahkan Alif juga tidak bisa meyakinkan ibunya. "Diaduk mulu sotonya, ntar pusing," tegur Sheila. Lana membanting sendoknya dengan wajah yang kesal. Bibirnya sudah melengkung ke bawah ingin menangis. "Kan, nangis lagi," ucap Sheila jengah. "Lo kok nggak bantuin gue sih? Tenangin gue kek? Galau nih!" Sheila menggaruk lehernya bingung, "Ya gimana, Lan? Lo mau gue ikut yakinin orang tua lo?" "Iya! Kan lo bisa minta bantuan Om Tama buat yakinin Papa gue." "Iya, deh. Ntar gue bilangin Papa gue buat yakinin Om Gevan." "Telat!" Sheila mendengkus. Lagi-lagi dia salah. Memang sulit menghadapi bidadari keluarga Prakarsa itu. "Ciyee
Malam minggu tidak menjadi malam yang spesial untuk anak-anak Gevan dan Olin. Mereka semua berada di rumah dengan tugas di mana Arkan, Ardan, dan Lana harus menjaga Zaine. Terlihat aneh memang di usia mereka yang sudah remaja, tiba-tiba ibunya hamil dan melahirkan Zaine. Kebobolan, itu yang sering neneknya ucapkan. Namun kehadiran Zaine memberikan kebahagiaan tersendiri bagi mereka. Bocah kecil itu sangat lucu dan menggemaskan. "Zaine udah tidur?" tanya Arkan saat Lana datang dengan satu toples makanan ringan dan duduk di tengah-tengah kedua kakak kembarnya. "Udah." Saat ini mereka berada di ruang tengah, menonton film horor di tengah malam. Bukan bermaksud uji nyali karena baik Arkan dan Ardan tidak menunjukkan ekspresi lain selain datar. Kadang Lana merasa heran, bagaimana bisa dia memiliki dua kakak laki-laki yang sikapnya sedingin es? Selain dingin, mereka juga menyebalkan. Apalagi jika sudah bersatu untuk mengerjainya. "Kak?" panggil Lana. "Hm?" jawab Arkan dan Arda
Suara berisik dari dalam dapur terdengar ke seluruh area rumah. Dari jauh, terlihat seorang bocah laki-laki yang tengah bermain dengan adonan tepung di island table. Tinggi badan yang tidak seberapa membuatnya harus menggunakan kursi kecil untuk bisa mencapai meja. Jari-jari kecilnya masih fokus bermain dengan bibir yang maju. Begitu lucu karena umurnya juga baru menginjak lima tahun. Ting! Bunyi oven yang terdengar membuat kegiatan Olin terhenti. Dia melihat anaknya sebentar sebelum beralih ke oven. Senyumnya mengembang melihat kue buatannya yang berhasil ia buat. "Udah mateng, Ma?" tanya Zaine mulai tertarik. Wajahnya sangat lucu dengan pipi bulat yang dipenuhi tepung. "Udah, dong. Tinggal dihias aja." Olin membawa kuenya ke hadapan Zaine. Zaine bertepuk tangan senang. Dia tidak sabar mencicipi kue buatan ibunya. "Zaine mau coba." Dengan lancarnya tangan Zaine bergerak menyentuh kue yang masih panas itu. Beruntung dengan cepat Olin menahannya, "Masih panas. Kita hias
Kehidupan Olin benar-benar berubah setelah menikah. Dia menjadi wanita yang paling bahagia. Meskipun tidak selamanya pernikahan itu indah karena ada saat di mana dia harus beradu mulut dengan Gevan, tetapi semuanya kembali membaik karena mereka sama-sama tidak egois. Seperti pesan ibu mertuanya dulu, komunikasi adalah hal yang terpenting dalam suatu hubungan. Tiga bulan menikah telah memberikan banyak pelajaran yang berharga untuk Olin, bukan hanya Olin melainkan juga Gevan. Meskipun sifat jahilnya masih ada, tetapi pria itu benar-benar bertanggung jawab sebagai suami. "Om Gevan nggak ke sini, Kak?" tanya Alif sambil memakan kentang gorengnya. "Kan Om Gevan kerja, Lif." "Nanti kalau udah besar aku mau jadi dokter juga kayak Om Gevan." Olin tersenyum dan mengelus kepala Alif sayang, "Belajar yang pinter ya." Saat ini Olin tengah berada di kafe Tama bersama Alif. Kali ini dia tidak membawa Alif secara diam-diam. Ada alasan kenapa Olin jarang bertemu Alif akhir-akhir ini,
Menjelang resepsi pernikahan, semua orang terlihat sangat sibuk. Undangan sudah mulai disebar dan tentunya itu menimbulkan banyak keterkejutan dari banyak pihak. Akhirnya seorang Gevan Prakarsa melepas masa lajangnya. Itu juga membuat banyak hati wanita —yang pernah berkencan dengan Gevan— patah
Hawa dingin mulai mengganggu tidur Olin. Dengan mata yang terpejam dia bergerak mengeratkan selimut di tubuhnya. Setelah itu Olin akan kembali tidur. Dengan memeluk guling di sampingnya, Olin semakin nyaman untuk kembali terlelap. Tunggu... Guling? Mata Olim seketika terbuka. Dia menatap guli
Satu bulan telah berlalu. Baik Gevan dan Olin sudah kembali ke rutinitas seperti biasanya. Bedanya, kali ini Olin sudah tidak lagi bekerja. Meskipun berat, tetapi ia melakukannya juga untuk Gevan. Olin tahu jika suaminya itu ingin dirinya berada di rumah. Namun Olin tetaplah Olin, dia tidak bisa
Suara ombak pantai yang beradu dengan batu karang tidak membuat tidur Gevan terganggu. Dia semakin mengeratkan pelukannya pada Olin dengan nyaman. Cahaya matahari yang masuk dari cela-cela jendela juga tidak membuat mereka terbangun. Ini karena mereka kelelahan. Semalam, Olin dan Gevan baru sam






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore