تسجيل الدخولEin behinderter Mensch ist bestimmt schwer, Liebe zu finden. Helena wurde schwerhörig geboren und von ihrer Mutter verachtet. Nach der Heirat wurde sie von ihrem reichen Ehemann und den Menschen in seiner Umgebung verlacht und beleidigt. Die Ex-Freundin ihres Mannes kam zurück und verkündete vor der ganzen Welt, dass sie alles zurückholen würde. Sie stand vor Helena und prahlte: „Du wirst wahrscheinlich in deinem Leben nie die Aromen der Liebe spüren, richtig? Hat Alex je gesagt, dass er dich liebt? Er sagte es mir oft.“ Helena wurde erst spät damit klar, dass sie sich geirrt hatte. Sie hatte ihre Zuneigung an die falsche Person verschenkt, und sie hätte nie mit jemandem heiraten sollen, der sie nicht liebt. Sie beschloss, zu lassen gehen und Alexander Freiheit zu geben. „Lassen wir uns scheiden, ich habe dich all diese Jahre behindert.“ Aber Alexander wollte das nicht. „Du willst scheiden? Das passiert erst, wenn ich tot bin!“
عرض المزيد"Ugh!" Suara lenguhan panjang terdengar memenuhi ruang kamar saat Andi menyelesaikan permainannya.
"Enak," ucap Andi, merasakan nikmat yang tiada tara. Namun berbeda dengan Febby yang tidak merasakan klimaks sama sekali. Wajahnya menyiratkan kekecewaan mendalam. "Sudah keluar Mas? Kok cepet banget, ngga sampai satu menit. Perasaan baru masuk." Febby mengeluh sambil menghela napas panjang. Sudah sering dia mengatakan kalau dia tidak pernah puas dengan permainan suaminya. Dia juga tidak pernah merasa ada yang keluar dari bagian inti tubuh, yang menandakan dia belum mencapai puncak. Namun Andi seolah masa bodo. Yang penting nafsunya tersalurkan. "Aku lelah. Tadi itu aku udah berusaha untuk lama, tapi malah keluarnya cepet." Selesai melampiaskan hasrat, Andi berbaring di sebelah istrinya tanpa merasa bersalah sama sekali. Raut kesal dan kecewa terlihat jelas di wajah Febby, yang selama dua tahun menjadi istri sah Andi. Selama dua tahun itu dia tidak pernah merasakan klimaks saat berhubungan dengan suaminya. Kenikmatan hanya dirasakan oleh Andi, bahkan Andi tidak pernah membuatnya nyaman di atas ranjang. Andi juga kurang perhatian, hanya memikirkan diri sendiri. Pernikahan dua tahun terasa semakin hambar bagi Febby. Namun tidak ada yang bisa dilakukan. Toh Febby yang memilih laki-laki itu menjadi suaminya dan mereka sedang menjalani program kehamilan. Ya, Andi dan Febby sudah didesak oleh kedua orang tua mereka agar secepatnya memiliki anak, tetapi sampai detik ini tidak ada tanda-tanda Febby mengandung buah cinta mereka. "Kamu mau langsung tidur Mas?" tanya Febby pada suaminya yang baru saja pulang kerja dan meminta dilayani. Selesai dilayani, Andi berbaring di ranjang sambil memejamkan mata. "Iya, aku ngantuk. Kamu masak makan malam aja dulu. Kalau udah mateng semua, bangunin." Febby menghela napas panjang, turun dari ranjang lalu memakai pakaian satu per satu. Matanya melirik Andi yang terlelap, padahal baru saja kepala suaminya itu bersandar ke atas bantal. Tidak ada ucapan terima kasih. I love you. Atau gombalan yang keluar dari mulut Andi, membuat Febby merasa tidak dicintai sama sekali. "Mandi dulu dong Mas, masa langsung tidur." "Hem," sahut Andi datar. Selesai memakai pakaian, Febby melangkah mendekati pintu lalu keluar. Sedangkan Andi sudah jauh mengarungi mimpi. Langkah kaki Febby dihentikan oleh ibu mertua di ambang pintu dapur. Wanita paruh baya itu menatap wajah menantunya yang lesu sambil mengerutkan kening. "Kamu kenapa, Feb?" "Ngga apa-apa Bu," jawab Febby, pelan, melanjutkan langkah kakinya mendekati kulkas. Ratih mengikuti Febby ke dapur, membantu menantunya menyiapkan bahan makanan. Sejak kemarin wanita paruh baya itu menginap di rumah kontrakan dua kamar tersebut. Satu bangunan rumah yang baru dua bulan ditempati itu berada di komplek perumahan Melati. Rencananya Andi ingin mencicil rumah yang mereka tempati sekarang agar tidak bayar kontrakan lagi. "Suami kamu mana, Feb?" tanya Ratih. "Mas Andi tidur Bu. Katanya capek," jawab Febby seraya mengeluarkan bahan makanan dari dalam kulkas dua pintu. Beberapa jenis sayur dan ikan segar dia letakan di dekat wastafel untuk dibersihkan. "Kamu udah konsultasi lagi ke Dokter Kandungan?" tanya Ratih pada menantunya. "Udah Bu, katanya aku sama Mas Andi harus sering minum vitamin biar subur. Aku udah dikasih resep vitamin itu. Semoga aja ada kabar baik bulan depan." "Amin," ucap Ratih. "Selain berkonsultasi ke Dokter, kamu juga harus pergi ke Dukun beranak. Atau ke mana kek. Biar kamu cepet isi." "Udah Bu, tapi emang dasarnya belum dikasih aja. Kalau memang belum rejekinya, ya mau gimana lagi." "Kalau gitu, coba kamu konsultasi ke Dokter lain. Misalnya ke Dokter Dirga. Dia sepupunya Andi. Siapa tahu dia bisa bantu kalian. Kasih saran apa untuk membantu mempercepat kehamilan kamu." Febby terdiam. Sebenarnya sudah beberapa kali mereka gonta-ganti dokter, tetapi tidak ada perubahan sama sekali. Beberapa dokter juga menyarankan untuk memeriksa kesuburan satu sama lain, namun Andi selalu menolak dan mengatakan kalau dia sehat. Sementara, selama berhubungan Febby tidak pernah merasa puas. Bahkan durasinya hanya sebentar, tidak sampai tiga menit langsung crott. "Lebih baik kamu coba dulu saran Ibu," ucap Ratih yang selalu mendesak Febby agar cepat hamil. Andai kehamilan bisa dibeli, Febby akan membelinya agar bisa secepatnya memberi gelar ayah pada sang suami. "Kalau kamu ragu, mending komunikasikan dulu sama Andi. Biar kalian lebih yakin. Ibu sih percaya sama Dokter Dirga. Banyak kok pasien dia yang berhasil hamil." Febby menghela napas panjang. "Nanti aku coba bicarakan sama Mas Andi. Kalau dia mau, besok aku dan Mas Andi ke tempat praktek Dokter itu." Ratih tersenyum, "Nanti alamatnya Ibu kasih ke kamu. Kamu dan Andi langsung ke sana aja. Nanti Ibu bikin janji biar kalian ngga antri." "Iya Bu, makasih." Saat sedang berbincang, Andi datang mendekati kedua wanita di dapur. Pria yang memiliki tinggi 170cm itu duduk di depan meja makan dengan lesu. "Bikinin aku kopi," katanya memerintah Febby. "Tunggu sebentar Mas. Aku lagi masak." "Ck! Aku maunya sekarang!" Andi mengeraskan suaranya, membuat Febby terhenyak kaget. Ratih dan Febby saling tatap, Ibu mertuanya itu memutar bola mata meminta Febby menurut saja. "Biasa aja dong Mas, jangan marah begitu," sahut Febby kesal. "Kamu ini. Suami minta kopi malah nanti-nanti. Utamakan melayani suami dulu, baru yang lain! Gimana sih!" cecar Andi memarahi Febby. Ratih hanya diam, tak membela menantunya ataupun menasehati Andi. Baginya pemandangan seperti itu sudah biasa terjadi. Dia pun mengalami di rumah. "Sabar Mas." Terpaksa Febby menunda masakannya dan membuat kopi untuk Andi yang sudah tidak sabar. Dengan perasaan kesal, Febby meletakkan kopi hitam pesanan suaminya ke atas meja. "Mau apa lagi Mas? Sekalian aja, aku mau masak." Andi melotot, menatap istrinya seperti ingin menelan hidup-hidup. "Kamu ngga iklhas?" "Bukan ngga ikhlas Mas, aku kan cuma nanya sama kamu. Kamu mau apa lagi? Biar aku ambilin sekalian." "Ngga ada, aku cuma mau kopi." "Ya udah," sahut Febby pelan. Ia kembali melanjutkan memasak makan malam, meski perasaannya kesal. Sikap dingin Andi sudah berlangsung lebih dari satu tahun. Tanpa alasan yang jelas, Andi tiba-tiba jadi kasar dan bahasanya tidak pernah lembut seperti dulu. Febby curiga suaminya memiliki wanita idaman lain di luar sana, namun ia tidak pernah mendapatkan bukti apapun perselingkuhan itu. Suasana hening. Di ruang dapur yang tidak luas itu hanya terdengar suara dentingan sendok dan panci. "Mumpung ada Andi di sini. Ibu ngomong aja langsung sama kalian berdua." Ratih membuka pembicaraan di ruang sunyi itu. Andi mendongak, "Ngomong apa Bu?" tanyanya datar. "Ibu mau ngasih saran, gimana kalau kamu dan Febby konsultasi aja ke Dokter Dirga. Sepupu kamu itu. Dia kan Dokter kandungan terkenal. Kebetulan dia buka praktek di Jakarta. Kalian bisa ke sana. Kalau kamu mau, nanti Ibu bikin janji sama dia. Biar kalian ngga antri panjang. Maklum, pasien dia kan banyak." Andi manggut-manggut. "Oke, aku setuju. Aku dan Febby akan ke sana." Ratih tersenyum. Ia tatap menantunya yang tengah sibuk mengaduk sayur di dalam panci. "Kamu dengar kan. Suami kamu setuju. Kamu juga setuju kan?" tanya Ratih pada menantunya itu. "Iya Bu, aku setuju," jawab Febby.Alexander hatte sich die medizinischen Berichte von Helena angesehen und wusste, dass sie unter schwerer Depression litt. Er hatte sich auch über diese Krankheit informiert, die zu einem Verlust des Gedächtnisses führen konnte, aber nie war er auf die Idee gekommen, dass sie jemanden komplett vergessen würde!Sie kannten sich seit über zehn Jahren!Als Alexander schwieg, sah Helena ihn an und fragte: „Bist du vielleicht jemand, der mir jemals Schaden zugefügt hat? Andernfalls, wie könnte es sein, dass ich mich nicht an dich erinnere?“Diese Worte trafen Alexander wie ein Dolchstoß.Er öffnete leicht die Lippen, und seine Stimme trug einen eisigen Ton: „Frau Schulz, du überdenkst das zu viel. Wir haben uns nur zufällig begegnet.“Alexander hatte es verstanden. Wenn Helena so tun wollte, als ob sie sich nicht an ihn erinnerte, dann würde er sie gewähren lassen.Er hatte von Anfang an nie geglaubt, dass sie ein Ehepaar waren. Bevor er ging, ließ Alexander jemanden kommen, um den K
Alexander spürte ein Enge in seiner Kehle, und ein seltsamer Ausdruck blitzte in seinen tiefen Augen auf. Er sagte nichts, aber Jonas verstand sofort und ging hinaus.Im Geschäftsbereich der Schwarz Group verbreitete sich das Gerücht, dass ein großer Unternehmer kommen würde, um großzügig Spenden für das „Hoffnungsprojekt“ der Schwarz Group zu leisten, eine Art kostenlose Wohltätigkeitsaktion. Einige Mitarbeiter begannen, darüber zu reden.„Welcher große Unternehmer kommt da, um den Narren zu spielen?“ „Wer weiß das schon? Vielleicht hat er einfach so viel Geld verdient, dass er nicht mehr weiß, wohin damit.“ „Es soll jemand aus dem Ausland sein...“Zur gleichen Zeit saß Helena bereits im Auto und war auf dem Weg zum Hauptsitz der Schwarz Gruppe. Sie blickte auf die imposanten Gebäude, die noch größer und beeindruckender waren als vor vier Jahren. Die Entwicklung war deutlich schneller und umfassender vorangeschritten, was zweifellos auf Alexanders eiserne Hand und die tie
Eine schwache, quengelnde Stimme drang aus dem Video, und der kleine Junge, der genauso aussah wie Lukas, lag blass auf dem Krankenbett. Weich und kläglich rief er nach Helena. Ein weiches Gefühl durchflutete Helenas Herz. „Tim, Kuss.“Tim sah sie mit traurigen Augen an: „Mama, du hast mich gestern nicht angerufen, um nach Tim zu fragen.“Im Gegensatz zum älteren Sohn Lukas, der ein fürsorglicher, etwas nerviger „Warmherz“ war, war der jüngere Sohn ein verwöhntes, unsicheres Kind – zumindest dachte Helena so. „Es tut mir leid, Mama hat es vergessen. Kuss, Tim, sei nicht böse, okay?“Weil Tim von klein auf körperlich schwach war und nun auch Leukämie diagnostiziert wurde, widmete Helena ihm besonders viel Aufmerksamkeit. Tim schmollte: „Diesmal verzeihe ich dir.“„Es gibt kein nächstes Mal.“Als sie den kleinen Jungen sah, wie er versuchte, sich niedlich zu machen und zu schäkern, verschwand der Schatten in Helenas Herz, und sie nickte immer wieder.„Mama hat schon wieder
Ohne weiter mit ihm zu reden, zog Helena einfach einen Scheck heraus und drückte ihn ihm in die Hand. „Das Geld habe ich bezahlt, die Ware kannst du jetzt mitnehmen.“Alexander hielt den Scheck in der Hand und sah der Frau nach, die sich ohne ein weiteres Wort von ihm abwandte. Er befahl: „Haltet sie im Auge.“...Im Anwesen Nr. 9.Nachdem Helena zurückgekehrt war, stand sie auf dem Balkon und trank immer wieder aus ihrem Glas.Früher hatte sie nie die Gewohnheit, Alkohol zu trinken. Doch seit sie ins Ausland gegangen war, griff sie jedes Mal zur Flasche, wenn sie mit ihren Gefühlen nicht mehr zurechtkam, um sich mit Alkohol zu betäuben.Nachdem die beiden Kinder geboren worden waren und sie ihre Gesellschaft hatte, hatte Helena diese schlechte Angewohnheit langsam abgelegt. Doch nach der Begegnung mit Alexander heute konnte sie sich nicht mehr beherrschen...Wenn sie von Amnesie sprach, hatte sie eigentlich nicht gelogen. Nach ihrer Ausreise ins Ausland war ihre körperliche V
In diesem Moment.In der Villa Am Waldesrand.Nachdem Alexander zurückgekehrt war, setzte er sich auf das Sofa im Wohnzimmer, ohne das Licht anzuschalten. Er hielt sich erschöpft die Schläfen und ruhte sich für einen Moment aus, doch wurde er plötzlich wieder aus dem Schlaf gerissen.Es war selts
Helena spürte, wie ihr ganzes Blut in ihren Adern erstarrte. Sie konnte nicht fassen, was gerade geschah. Sie wollte ablehnen, sich wehren, doch es war sinnlos. Erst als der letzte Moment vorüber war, schien Alexander sich zu beruhigen. Draußen begann es langsam zu dämmern. Alexander bet
Helena öffnete die Nachrichten, und das Erste, was ihr ins Auge fiel, war die Pressekonferenz der Schwarz-Gruppe. Es wurde verkündet, dass Alexander erfolgreich das Unternehmen der Schulz-Familie übernommen hatte. Von diesem Moment an existierte die Firma Schulz nicht mehr auf dieser Welt... .
Die Hörgeräte waren rot gefärbt... Helena zuckte zusammen, ihre Augen füllten sich mit einem Hauch von Panik. Hastig wischte sie sich mit einem Taschentuch das Ohr ab, dann nahm sie die Bettlaken und wusch sie schnell sauber. Sie wollte nicht, dass Helga von ihrer Krankheit erfuhr und sich Sor












المراجعات