LOGINUntuk melunasi hutang pamannya, Khania Arkana terpaksa menikahi Leo Martin--sang pebisnis sukses. Sejak saat itu, kehidupan Khania mendadak berubah. Dari gadis sederhana, kini semua orang mengenalnya sebagai Nyonya Satu Miliar dari Keluarga Konglomerat. Hanya saja orang-orang tidak tahu bahwa hubungan antara keduanya hanya terikat kontrak satu tahun saja. Lalu, bagaimana kisah keduanya? Apakah akan terus berlanjut atau harus berakhir tepat setelah satu tahun?
View More***
Arunika Cahaya, Nika panggilannya. Ia merupakan karyawan staf bagian keuangan di sebuah perusahaan besar yang ada di Jakarta. Di usianya yang baru dua puluh lima tahun, ia bersyukur tidak pernah dipaksa untuk buru-buru menikah oleh Papanya. Sementara Mamanya? Sudah menikah lagi dan tinggal jauh di Pontianak. Nika hanya tinggal berdua dengan Papanya yang bekerja sebagai guru di salah satu SMA di dekat rumah nya. “Aku baru ingat, seminggu lagi ulang tahun perusahaan, kamu mau datang gak?” tanya Gendis. Teman kerja Nika. “Harus datang, kamu udah 3 tahun kerja di sini tapi belum pernah ikut acara kantor,” ucap Dean. Nika menghela napasnya, ia merupakan orang yang mudah bosan, tidak suka datang ke tempat yang begitu ramai. Menurutnya lebih enak tidur di rumah daripada harus datang ke acara seperti itu. “Kita liat aja nanti, kalau mood aku bagus berarti mau datang,” balas Nika. “Yaelah, pokoknya kamu harus datang. Nanti pulang kerja kita ke butik Tante aku,” ucap Gendis. “Gak perlu ke butik juga, aku punya kok beberapa gaun buat acara nanti,” ucap Nika. Nika harus tetap berhemat, soalnya setiap dua minggu sekali Ayahnya harus cuci darah karena penyakit ginjalnya. Uang dari ngajar jadi guru mana cukup, jadi Nika harus pintar-pintar membagi gajinya untuk ayah dan untuk dirinya sendiri. “Jangan nolak, aku yang bayar,” udah Dean. Mereka sudah tau soal ayahnya Nika yang harus cuci darah setiap minggunya. Nika buru-buru menggelengkan kepalanya, “Nggak ah, jangan terlalu baik sama aku, aku serius kok punya beberapa gaun yang belum sempat aku pakai.” ia tidak bohong, waktu dua tahun lalu pernah mau ikut acara kantor sampai harus menabung dulu untuk beli gaun, tapi setelah waktunya tiba malah jadi malas untuk pergi, dan gaunnya sampai sekarang belum pernah ia pakai. Dean menghela napasnya, “Yaudah kalau kamu gak mau.” Gendis menatap jam yang ada di layar komputernya, “Bentar lagi jam makan siang, pada mau makan di mana?” tanya Gendis. “Beli bakso seberang dekat penjual buah yuk,” ajak Dean. “Aku sih ayok, pengen makan mie ayam baksonya,” balas Nika. Untuk hari ini ia tidak membawa bekal. Biasanya selalu bawa. “Sepuluh menit lagi,” gumam Gendis. Bahkan ia sudah mematikan komputer nya dan bersiap untuk keluar dari ruangan tersebut. “Gak sabaran banget,” ucap Dean. “Takut gak kebagian tempat duduk” balas Gendis. “Kalau gak kebagian bisa makannya dimana aja,” ucap Nika. Sambil merapikan beberapa kertas di atas meja kerjanya. “Malas kalau harus bawa mangkok buat nyari tempat duduk” ucap Gendis. Beberapa menit kemudian, Gendis tersenyum lebar ia buru-buru keluar. Nika dan Dean hanya bisa saling tatap dan mengikutinya dari belakang. Keduanya baru juga keluar dari ruangan kerja mereka, pintu lift nya sudah keburu tutup. “Astaga, Gendis ini ada-ada aja, gak sekalian aja ya pake tangga darurat” ucap Dean geleng-geleng kepala. “Udah biarin, ada untungnya juga kalau dia begitu, jadi kita nanti tinggal duduk” ucap Nika sambil terkekeh dan masuk ke dalam lift. . Kini mereka sudah di warung bakso, benar kata Gendis. Banyak yang beli dan ada yang tidak kebagian tempat duduk. “Tuhkan, apa kata aku juga!” seru Gendis. Pesanan mereka sudah datang, ketiganya sama-sama pesan mie ayam bakso, Gendis dan Dean pesan minumnya teh, sementara Nika pesan air putih. Semenjak Ayahnya sakit, Nika tidak pernah minum minuman yang berwarna, selalu air putih. “Jangan banyak-banyak sambalnya, nanti jam tiga kita ada meeting. Tiba-tiba sakit perut kan gak lucu,” ucap Nika saat melihat Gendis menuangkan beberapa sendok sambal ke dalam mangkuknya. “Iya, cuma empat sendok,” ucap Gendis. “Heran, perut suka mules kalau makan pedas tapi gak kapok-kapok.” ucap Dean. Gendis hanya menatap sinis sekilas, tidak menghiraukan ucapannya Dean. Sudah terlalu sering dinasehati soal yang pedas-pedas, tapi gendis tidak pernah menghiraukannya. Di saat Nika sedang makan mie ayamnya, tiba-tiba saja ada notif masuk. Saat di cek ternyata pesan masuk dari no baru. 0838******: “Selamat siang, maaf mengganggu waktu jam makan siangnya, saya Ajeng. Istrinya Pak Daniel, nanti malam apa kamu ada waktu untuk bertemu?” Nika langsung menghentikan makannya, ia terus menatap layar ponselnya. Bingung dan terkejut. “Kamu kenapa?” tanya Dean saat melihat Nika hanya diam sambil menatap ponselnya. Gendis ikut menatap Nika, “Kenapa? Gak kesambet kan?” Nika tidak menjawab, tapi ia memberikan ponselnya kepada mereka, kebetulan posisi duduknya hanya Nika terpisah, duduk di depan mereka, sementara Dean dan Gendis duduk saling bersebelahan. Gendis dan Dean ikut membaca isi pesan tersebut, keduanya menutup mulutnya. “Waduh ada apa nih? Jangan bilang Bu Ajeng liat kamu sama Pak Daniel pas Minggu lalu,” ucap Gendis pelan agar tidak ada yang mendengar. Nika menghela napasnya, “Minggu lalu aku gak sengaja ketemu, terus ban motorku bocor, jadi aku diantar pulang, lagian kata Pak Daniel sudah ngasih tahu Bu Ajeng” “Harusnya gak jadi masalah,” lanjut Nika. “Terus ini kenapa tiba-tiba ngajak kamu ketemuan?” ucap Gendis. “Ini aku harus balas apa?” tanya Nika. “Ya kamu mau datang apa nggak?” tanya balik Dean. “Gak tau, bingung aku.” jawab Nika pelan. “Datang aja, kamu balas bisa ketemu, jangan takut nanti aku sama Dean ikut tapi mantau dari jauh” saran Gendis. “Nah benar tuh, kalau Bu Ajeng macam-macam nanti kita bantu.” ucap Dean. Gendis memberikan ponselnya lagi kepada Nika, “Nih balas,” Nika mulai mengetikan isi pesan pada Bu Ajeng, ia mengatakan ada waktu, tak lama kemudian ada balas lagi, di mana Bu Ajeng mengirimkan alamat tempat mereka ketemu. “Nanti aku minta izin ke Ayahnya gimana?” Tanya Nika. “Hari ini kita balik jam 5 sore, kamu bilang ke Ayah kamu lembur, jadi nanti ikut ke apartemen aku dulu.” Jawab Gendis. Nika hanya mengangguk, ia jadi deg-degan, takut tiba-tiba di tampar atau dijambak sama Istri bosnya. “Nanti kalau aku dipecat, aku harus nyari kerja dimana?” gumam Nika. “Astaga Nika, jangan terlalu overthinking. Siapa tahu Bu Ajeng ngajak ketemu itu mau ngasih bonus atau nawarin kerjaan yang gaji lebih gede,” ucap Gendis. “Ya kan siapa tahu gak gitu, aku gak mau jadi pengangguran, nanti ayah gak bisa cuci darah kalau aku nganggur,” keluh Nika. “Harus berpikir positif, jangan overthinking,” ucap Dean gemas. “Susah tau kalau begini, kamu juga kalau ada diposisi aku bakalan overthinking,” ucap Nika. “Terserah kamu,” balas Dean. Melanjutkan Makan Baksonya. Nika jadi tidak tenang dan tidak fokus saat makan, pikirannya terus tertuju pada isi pesan barusan.Suasana malam terlihat begitu indah dengan hamparan bintang juga bulan yang bersinar terang. Pemandangan yang cukup memanjakan mata sosok yang tengah terduduk dan menatap keluar jendela kamar. Manik hitamnya menatap ke atas langit. "Indah sekali," gumamnya. "Benarkah?." Suara berat itu lantas membuat Khania terlonjak kaget, diapun segera menoleh dan melihat Leo sudah memakai piyama. Penampilan pria itu sukses membuat wajah Khania merona. Dengan rambutnya yang masih basah dan baju piyama tanpa dikancing. "Rapikan bajumu, kenapa terlihat seperti itu?," tanya Khania sambil menoleh ke arah lain. Melihat respon sang istri membuat Leo tersenyum menyeringai. "Agar lebih erotis." "Astaga, dia memang serius tentang malam pertama!" batin Khania pasrah. Dengan penuh persiapan diri dan mental, Khania pun berjalan menuju tempat tidur lalu duduk. Gadis itu menutup mata dan menunggu Leo datang menghampiri. "Kau sedang apa?" tanya Leo bingung. "Jangan banyak bicara, ayo
Seakan terkena petir di siang bolong, kini gadis itu terdiam seribu bahasa, membuat lawan bicaranya bingung."Bagaimana?" tanya Leo yang sedari tadi menunggu jawaban.Wajah cantik Khania semakin pucat, dia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa, baginya hal ini sungguh di luar dugaan."Itu ...""Hm?"Entah kenapa kini gadis itu merasa sebal dengan ekspresi sang suami yang sedang menggodanya."Aku tahu ini akan terjadi, tapi ... Kenapa terasa sangat memalukan?" jerit Khania dalam hati. "Lihat wajahnya! Menyebalkan!""Aku tidak ingin ada penolakan, kau mengerti?" bisik Leo dengan senyum menyeringai."HIIYYY!" Seketika tubuh Khania merinding saat mendengar ancaman itu. Dia tidak menyangka sampai seperti itu Leo menunjukkan keinginannya."Baiklah, jika sudah selesai akan aku antar kalian pulang," ujar Leo beranjak dari tempat duduknya. "Mari, nyonya." Sambungnya sambil mempersilahkan Khania berdiri."Mereka berdua sangat romantis.""Khania benar-benar beruntung.""Tuan Leo sangat gentle
"Khania, semua ini ... Yang benar saja," ujar Rosi tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Berlian dengan berbagai ukuran dan warna berjejer di depan mereka, terlihat pula para pegawai toko tengah sibuk mencari stok lain karena Khania memintanya. "Pilihlah saja dulu, aku yang akan bertanggung jawab." Khania menjawab sambil melihat salah satu berlian dengan ukuran sedang. "Aku ingin, tapi ... Apa ini mimpi?" tanya Dina sambil mencubit pipinya. "Khania, semua ini, beneran tidak apa-apa?" tanya Rosi berulang kali. Khania menjawab keraguan teman-temannya dengan senyum manis. "Ya, sepertinya Leo memang sudah sengaja mempersiapkannya untuk kita." Keraguan Khania hilang saat mendapat pesan dari Leo, pria itu memberikan secarik kertas lewat pelayannya dan bertuliskan agar Khania tidak membatasi keinginannya, karena sebagai seorang Duchess, dia berhak mendapatkan itu semua. Di sisi lain Leo tidak mau dibilang suami yang pelit karena tidak memberikan kebebasan dalam hal keuanga
"ARRGGHH! HENTIKAN!" Teriak sosok itu saat Leo mencengkram pergelangan tangannya semakin keras, satu orang lainnya hanya melihat kejadian itu dengan tatapan ngeri. "Hey! Ada apa ini?" "Ya ampun!" Dina dan Riki sangat kaget saat masuk ke dalam rumah Rosi dan melihat apa yang sedang terjadi. "Akan kupatahkan semua tulang-tulangmu," gumam Leo penuh amarah. "AARGHH!" "Leo! Hentikan!" teriak Khania merasa tidak tega. "Yah, aku tahu kau pasti berkata begitu," ujar Leo menghela napas, dengan cepat dia pun melepaskan tangan pria itu. "Sebenarnya siapa kalian berdua?" Khania pun menghampiri Leo dan menjelaskan apa yang terjadi. "Mereka adalah paman Rosi, kedatangannya kemari untuk mengambil alih rumah ini, padahal Rosi membayarnya dengan mencicil dan sudah berjalan selama lima tahun." "Pantas saja, jika dilihat dari sikap mereka yang berani, sepertinya mereka memiliki hak yang lebih kuat," batin Leo. "Aku tidak boleh gegabah." "Kalian orang luar jangan ikut campur, ini adalah urusa
"Kau demam," ujar Khania khawatir. "Aku akan panggil kepala pelayan." "Jangan," pinta Leo tanpa melepas genggaman tangannya. "Aku tidak mau orang lain tahu kondisiku saat ini." Khania terlihat bingung saat pria itu berbicara demikian. "Baiklah, biar aku yang merawatmu." Tak ada pilihan lain bagi
Semua orang yang melihat itu pun saling berbisik, membuat Leo terusik dan kesal karena pasti akan tersebar kabar yang merepotkan. "Leo! Kenapa kau melakukan ini padaku? Aku ini kekasihmu!" bentak wanita itu. "Tutup mulutmu, jangan bicara omong kosong," jawab Leo sambil meminta orang-orangnya untu
Khania tersentak. Dia melihat Leo yang juga sedang menatapnya. "Apa aku salah dengar?" tanya gadis itu dalam hati. "Khania!" Khania begitu kaget saat mendengar suara yang sangat familiar. Sontak dia melepaskan genggaman tangan Leo dan melihat sosok yang memanggilnya. "Bibi Astuti?" ujar Khania
Khania terdiam dan menatap dirinya di depan cermin, penampilan yang tidak pernah dia sangka, ternyata akan dikenakannya hari ini. Gaun serba putih dengan renda yang indah, rambut cokelat sebahu yang biasa terurai kini dibentuk sanggul kecil dihiasi mutiara, dan riasan tak biasa di wajah cantiknya






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews