เข้าสู่ระบบBug' Dengan marah, Xavier menendang paha kanan pria tersebut. Lagi-lagi itu membuat pria tersebut tersungkur kasar ke lantai, kali ini kepalanya sampai terbentur keras ke lantai. "Siapa yang memberimu keberanian untuk menghina istriku, Hah?!" geram Xavier, mendekat pada pria itu lalu menginjak punggung tangannya dengan kuat—melampiaskan kemarahannya pada bajingan tersebut. Melihat itu, Sera begitu ketakutan. Nafasnya memburu dan wajahnya panik. Demi Tuhan! Xavier sangat kasar dan dia seperti ingin membunuh!Sera berniat menghampiri Xavier untuk menghentikan Xavier. Namun, mendadak kakinya berhenti melangkah. Dengan jantung yang berdebar kencang dan tatapan intens, Sera diam sambil mengamati Xavier. Sera mengepalkan tangan lalu memilih menghampiri Xavier, dia memeluk lengan Xavier lalu menariknya supaya menjauh dari pria itu. "Mas, stop! Dia bisa mati," cicit Sera pelan, menjauhkan suaminya dari pria tersebut. Xavier tak mengatakan apa-apa. Akan tetapi dia memilih pergi dari sana
"Apa aku kabur saja yah?" gumam Sera, di mana saat ini dia berada di toilet. Tadi, dia izin pada ayahnya untuk ke toilet. Sera benar-benar muak di sana dan jijik secara bersamaan. Tadi, saat Xavier Ghazan Adam masih ada di sana, mereka semua sibuk membahas bisnis. Mereka berbicara seolah mengeluarkan isi otak terhebat mereka hanya demi terlihat unggul di hadapan sosok Xavier yang berwibawa dan mengagumkan. Untuk itu, Sera mengakuinya. Cara Xavier berbicara, menjawab pertanyaan menjebak dari eksekutif lain, dan sikapnya, terlihat sangat-sangat elegan dan penuh wibawa. Pantas orang-orang di sana berusaha menjaga sikap dan bertindak sopan. Namun, neraka bagi telinga Sera setelah Xavier dan Aiden pergi dari sana. Pembahasan yang awalnya berkelas dan berbobot, berubah jadi pembahasan murahan dan menjijikkan. Menurut Sera, pembahasannya dengan Kaina jauh lebih berisi daripada pembahasan mereka yang dipandang elit. Tidak semua dari mereka yang seperti itu, ayahnya dan beberapa lainnya me
Sera lagi-lagi menghela napas sambil menatap dongkol pada ayahnya. "Kan ada Pak Satria. Ayah bisa ajak Pak Satria saja, jangan aku. Aku masih pemula untuk pertemuan begitu, nanti aku malu-maluin Ayah gimana?""Itulah gunanya belajar. Kau harus ikut supaya kedepannya kau terbiasa dengan dunia elit." Diego berkata tegas. "Aku lebih suka menggembel, Yah." Sera berkata lelah. "Jangan membantah Ayah, Sera! Ini semua demi kebaikanmu."'Selalu demi kebaikan. Kamus basi!' batin Sera. "Tunggu di sini. Ayah pergi sebentar untuk menjemput dressmu." Sera hanya diam, tetapi menatap ayahnya yang keluar dari ruangan tersebut. Tak berselang lama, pintu ruangan ayahnya terbuka, dan yang datang adalah Vanessa serta Wilona. "Sera, kamu ini serakah sekali yah?!" Vanessa yang baru datang langsung menstahi Sera. 'Hidupku nggak pernah tenang, Anjing! Untuk sekedar napas normal saja berasa susah.' batin Sera, menatap dongkol pada Vanessa. "Wilona lebih layak jadi wakil direktur daripada kamu, tetapi
"Aku habis ngobrol sama Kaina," ucap Sera, menatap sejenak pada Xavier lalu segera berjalan ke ranjang. "Mengobrol sampai lupa waktu!" dingin Xavier, bangkit dari sofa lalu menghampiri Sera. Sera menatap Xavier secara waspada. Saat Xavier mendekat padanya, Sera yang ingin berbaring langsung mengurungkan niat. Dia takut pria ini melakukan sesuatu padanya. "Kenapa kau tidak jadi berbaring, Gajah?" Xavier menaikkan sebelah alis, menatap aneh pada Sera yang tadinya ingin berbaring akan tetapi mendadak kembali duduk. "Aku mau tidur." Sera meraih bantal guling lalu meletakkannya di tengah, "jangan dekat-dekat denganku."Xavier kembali menaikkan sebelah alis, akan tetapi smirk tipis terbit di bibirnya. "Jadi kau takut disentuh oleh suamimu sendiri, Nagos?"'Nagos.' Sera mengulang nama itu di kepala, dia menatap Xavier sekilas lalu melirik ke sana kemari dengan ekspresi wajah kaku dan gugup. Akhir-akhir ini, setiap kali Xavier memanggilnya dengan nama 'Nagos, selanjutnya pria ini akan men
"Ma-maaf, Ser. A-aku benar-benar nggak tahu kalau kamu ada janji ke Kak Xavier," cicit Kaina pelan. "Aku rasa kamu nggak perlu minta maaf, soalnya aku pun bingung kamu di sini salah atau a-aku yang berlebihan. Cuma … kan kamu tahu kalau aku sama Kakak kamu sudah menikah. Aku juga sahabatmu kan? Tapi kok kamu nggak ngasih tahu aku, yah, kalau kamu lagi pergi jemput sepupu kamu sama Mas Xavier. A-aku tahu kalau Mas Xavier itu kakak kamu dan hubungan kalian itu benar-benar dekat, nggak masalah seharusnya kalau kalian jalan ke mana-mana. Tapi kan … kamu tipe yang suka ngasih kabar ke aku. Kamu kalau lagi apa-apa suka ngirim pesan ke aku. Kenapa waktu itu kamu nggak ngabarin aku dan nggak pernah kirim pesan? Apalagi habis itu kamu bikin story kalau kamu habis senang-senang sama kakak dan sepupu kamu.""Aku minta maaf, Ra. Sumpah! Minta maaf banget!" ucap Kaina pelan, menatap Sera penuh perasaan bersalah campur gugup karena takut Sera tak mau memaafkannya. "Aku salah karena waktu itu aku k
"Kamu tahu kan kalau Kak Xavier itu sudah menikah?" ucap Aluna dengan tegas. Safara menganggukkan kepala secara pelan, menatap gugup dan was-was pada Aluna. "Tahu, Tante.""Berarti kamu paham dong kalau--" Aluna diam sejenak, menekan kata kalau sambil menatap penuh peringatan pada Safara, "dikit-dikit kamu nggak boleh ke Kak Xavier lagi. Sekarang Kak Xavier itu sudah punya istrinya. Waktu, tenaga, kesempatan, dan hidup, itu semua sudah dibagi ke istrinya. Kamu itu harus sadar diri kalau kamu hanya sebatas sepupu, bukan suatu hal yang harus diutamakan. Kemarin Kak Xavier sama istrinya bertengkar loh gara-gara kamu," tambah Aluna secara blak-blakan. "Maaf, Tante," ucap Safara secara pelan, "a-aku cuma merasa nggak punya siapa-siapa. Da-dan hanya Kak Xavier yang peduli sama aku. Sebelum ini, sekalipun Kak Xavier sibuk, dia selalu menyempatkan diri untuk memastikan kalau aku baik-baik saja.""Kamu bilang kamu nggak punya siapa-siapa? Padahal yang sering ngurus kamu itu Kaina loh, bukan
"Elleh." Sza menatap Aluna dengan mata berang, "katanya mau cerai?" ucapnya. Saat ini Aluna dan Sza berada di kursi tunggu rumah sakit. Kaizen sedang menemui dokter yang memeriksa Aluna untuk menanyakan kondisi Aluna agar lebih pasti dan meyakinkan. "Syuut! Pelan-pelan! Ada Pak Alan," bisik Aluna
"Karena Mas Zen sudah baik padaku, membantuku untuk mengantar bukti rekaman CCTV, hari ini aku mau masakin serba udang buat dia. Umm … sepertinya udang garlic butter enak," monolog Aluna, berjalan antusias ke dalam rumah. Dia baru pulang dari tempat kerja. Sekalipun wajahnya sudah terlihat lelah aka
Aluna dan Kaizen jatuhnya memang dijodohkan, karena selain insiden itu keduanya tidak pernah terikat apapun. Kaizen bukan pilihan Aluna dan Aluna juga bukan pilihan Kaizen. Keluarga mereka lah yang menentukan. Insiden itu bukan alasan mereka menikah, tetapi faktor yang menjadi alasan kuat mereka
"Kak, i-ini wanita yang tidur dengan Kaizen," bisiknya dengan nada gemetar, efek deg degkan bertemu dengan calon menantunya, sosok yang membuktikan pada dunia kalau Kaizen normal! "Hah?" Nindi menunjukan ekspresi kaget, menatap Aluna dengan raut muka kaku lalu kembali menatap adik iparnya dengan e







