Share

Duel

Penulis: Azzurra
last update Tanggal publikasi: 2026-03-06 19:00:18

Saat Viktor tertawa penuh kemenangan dan hendak melakukan perbuatan bejatnya ...

BOOOOOOOM!!!

Dinding kastel di sisi timur meledak hebat. Getarannya membuat seluruh bangunan terguncang.

Suara tembakan senapan mesin terdengar bersahutan di luar. Dalton tidak datang untuk bernegosiasi. Ia datang dengan dua helikopter tempur yang menghujani markas Vorkuta dengan roket.

Dalton melompat dari helikopter sebelum menyentuh tanah, ia bergerak menembus salju dengan a
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Pertemuan dengan Mama

    "Pesawat sudah lepas landas," ucap Daniel begitu sambungan terhubung. "Target aman secara fisik, tapi mental mereka terguncang ,mengetahui kenyataan.""Aku sudah menduganya," jawab Dalton di seberang sana, suaranya terdengar datar namun ada nada kelegaan yang terselip. "Sam selalu tahu cara menanamkan keraguan. Apa yang dia katakan pada mereka?"Daniel melirik ke arah kabin belakang tempat si kembar berada. "Dia menggunakan kartu 'kewajiban darah'. Dia mengatakan bahwa Maria-lah yang memisahkan mereka secara paksa. Mikail mulai mempertanyakan alasan di balik semua rahasia ini, sementara Julian tetap teguh pada komandonya—tapi aku tahu dia pun mencari kepastian.""Sam mencoba memutarbalikkan sejarah untuk menyelamatkan dirinya sendiri," sahut Dalton dingin. "Tapi dia lupa bahwa bukti finansial dan perlindungan yang di berikan ibu selama puluhan tahun lebih nyata daripada sekadar kata-kata manis tentang DNA.""Mereka ingin bertemu Maria segera setelah mendarat," Daniel memberi peringata

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Kabut di Kepala.

    Mobil terus melaju membelah jalanan Jenewa yang mulai sepi. Cahaya lampu jalan masuk bergantian lewat jendela, menerangi wajah Mikail yang tampak gelisah. "Apakah kita salah meninggalkannya sendiri?" gumam Mikail, suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin, namun telinga tajam Julian menangkapnya. Julian menoleh sedikit, matanya masih menatap jalanan yang basah. "Dia meninggalkan kita lebih dulu, Mikail. Tanpa Maria, kita tidak akan pernah menjadi seperti sekarang. Kita mungkin hanya akan menjadi pion di papan caturnya." "Tapi dia bilang Maria yang memisahkan kita," ucap Mikail lagi. Kalimat Sam tentang Maria yang menyembunyikan mereka terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Sebagai pengacara, Mikail terbiasa melihat dua sisi cerita, dan keraguan itu mulai menyelinap. Daniel, yang duduk di kursi depan, tetap diam. Ia mencerna setiap kata yang keluar dari mulut si kembar. Ia tahu mereka sedang dalam persimpangan, mereka belum mengenal Maria juga belum mengetahui tentang mas

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Pertemuan dan Penolakan.

    "Jarak tak menghalangiku untuk menghancurkan mu, Sam," jawab Dalton melalui sistem komunikasi yang telah ia retas sepenuhnya. "Kau bilang kau yang menciptakan Julian dan Mikail? Tidak. Kau hanya menyumbangkan darah. Maria-lah yang menghidupi mereka, kau tak berhak atas hidup mereka."Mikail dan Julian terhenyak mendapati kenyataan lelaki tua di hadapannya ini adalah benar-benar ayahnya. Tiba-tiba, layar laptop Mikail yang tadinya menampilkan file dari Sam, berubah menjadi tampilan radar satelit yang mengunci koordinat dermaga itu. "Mikail, jalankan protokol 'Ghost Protocol' yang sudah aku tanam di sistem mu," perintah Dalton tegas. Tidak memberikan Mikail waktu untuk berfikir. Mikail, yang otaknya bekerja secepat kilat, langsung mengerti. Jari-jarinya menari di atas keyboard. "Protokol aktif, Kak!" Dalam hitungan detik, semua ponsel dan alat komunikasi para pengawal Sam mengeluarkan suara melengking yang memekakkan telinga, diikuti dengan matinya semua lampu dermaga secara total.

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Pertemuan

    Malam itu, Danau Jenewa diselimuti kabut tebal yang merayap dari permukaan air menuju dermaga kayu tua yang nampak rapuh. Suara ombak yang menabrak tiang-tiang dermaga menciptakan irama yang mencekam, seolah sedang menghitung mundur ledakan konflik yang tak terelakkan. Daniel berada di posisinya, mendekam di balik tumpukan kontainer tua yang menghadap langsung ke dermaga pribadi itu. Napasnya teratur, namun matanya tak lepas dari teropong malamnya. Ia sudah meminum dosis terakhir obat dari Dokter Obsidian, membuat indranya bekerja berkali-kali lipat lebih tajam. "Julian, Mikail, posisi kalian?" bisik Daniel melalui earpiece terenkripsi. Mereka merencanakan penyergapan ini beberapa hari setelah Daniel bertemu Mikail di galeri lukis tempo hari. "Aku di titik buta, arah jam dua dari dermaga. Sniper sudah siap, tapi aku hanya akan menembak jika kau memberi aba-aba," suara Julian terdengar dingin dan stabil. "Aku di dalam kabin kecil di ujung dermaga," timpal Mikail. Di depannya, l

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Kecurigaan.

    Julian mengenakan rompi antipeluru tipis di balik mantelnya, sementara jemarinya dengan cekatan merakit perangkat komunikasi mikro. Sebagai ahli strategi keamanan, ia tahu bahwa informasi adalah senjata utama, namun peluru adalah titik terakhir jika negosiasi gagal. "Aku sudah menandai area dermaga," ucap Julian sambil menunjukkan tabletnya pada Mikail. "Ada tiga titik buta di sana. Jika Sam datang membawa pasukan, mereka akan terjebak di area terbuka sebelum bisa mendekati dermaga pribadi itu." Mikail hanya mengangguk kecil. Ia duduk di depan laptopnya, jemarinya menari di atas tuts keyboard. "Aku sudah memasang firewall berlapis pada semua server firma hukumku. Begitu ada upaya peretasan atau akses ilegal menggunakan namaku atau namamu, sistem akan langsung melacak lokasi GPS pengirimnya secara real-time." Mikail berhenti sejenak, menatap layar yang menampilkan foto buram Sam yang dikirim oleh Daniel. "Aku masih bertanya-tanya apa maksud Daniel dengan 'kewajiban darah'. Di dun

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Strategi.

    Daniel melangkah menyusuri trotoar batu yang basah oleh embun malam. Di bawah lampu jalan yang temaram, ia mengeluarkan ponsel satelitnya, menekan serangkaian kode keamanan sebelum menghubungi Dalton di Jakarta. "Bos, Oprasi sudah selesai. Mikail sudah memakan umpannya," lapor Daniel tanpa basa-basi. "Bagus. Julian?" tanya Dalton di seberang sana, suaranya terdengar berat dan letih. "Aku akan mengirimkan data pertemuan ku dengan Mikail ke Julian melalui jalur anonim perusahaan keamanannya malam ini. Dia pasti akan datang ke Jenewa begitu menyadari adiknya dalam bahaya. Sam tidak boleh mendapatkan akses ke satu pun dari mereka." Daniel masuk ke dalam sebuah mobil sewaan yang terparkir di sudut jalan gelap. Di dalam, ia sudah menyiapkan peralatan pemantauan tingkat tinggi—warisan dari teknologi Obsidian yang masih berfungsi sempurna. Matanya menatap layar laptop yang menampilkan peta digital dermaga pribadi di Danau Jenewa. "Kamu harus berhati-hati, Daniel," suara Dalton terden

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia    Malam panas.

    Malam ini, bau mesiu berganti dengan semerbak mawar putih dan peony merah marun—warna favorit Ana yang Dalton pesan khusus dari belahan dunia lain. Mansion Obsidian telah disulap menjadi istana kristal yang menyilaukan. Bagi para tamu, ini adalah pesta kemewahan, namun bagi Dalton, ini adalah penguk

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Kebimbangan

    "Adrian, hentikan..." Suara Ana parau, bergetar di antara hasrat dan sisa akal sehatnya. Tubuhnya menginginkan, namun jeritan di sudut hatinya mengingatkan, Jangan sekarang, Ana. Kalian belum sah. Adrian, yang meski didera gairah namun tetap menghormati Ana, segera menjauh. Wajahnya tampak kacau, f

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia   Cinta atau Nafsu

    “Kamu memata-mataiku, kamu menerorku lagi?” suara Ana melengking di pendengaran Dalton. “Ada apa? Aku tak melakukan apa-apa. Aku kerumahmu sekarang!" “Ini sudah malam, aku tak terima tamu. Kamu tarik orang kamu atau aku lapor polisi.” Tak ada jawaban dari Dalton setelah itu sambungan telpon pu

  • Pesona Obsesi dan Dominasi Sang Mafia    Teror.

    Anastasia kembali bekerja seperti biasa, setiap langkahnya begitu ringan, dia kehilangan sesuatu yang paling berharga tapi dia merasa mendapatkan kehidupannya kembali. Selama ini dia terjerat oleh ambisi dan validasi, kini dia menjalani hidup sesuai jalan hidupnya. Tanpa butuh pengakuan dari orang l

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status