MasukHelena terbangun setelah menghabiskan malam pertamanya yang begitu panjang. Namun, bukanlah sang suami yang ia dapati melainkan kakak iparnya sendiri. Tanpa sadar mereka telah melewati malam panas bersama. Helena dan Willson sepakat untuk menyembunyikan aib mereka. Segala upaya pun Helena lakukan demi melupakan kejadian tersebut. Tapi sayangnya tak semudah itu. Tinggal bersama Willson di bawah atap yang sama membuat Helena terus merasakan kehangatan dan perhatian yang diberikan oleh pria tersebut. Ya, kehangatan yang bahkan tak pernah ia dapatkan dari suaminya sendiri.
Lihat lebih banyakCHAPTER 1
“Don’t panic.” That’s literally the first thing I told myself as I pushed through the glass doors of Cole & Reign Global, even though my heart was doing full gymnastics in my chest. I wasn’t supposed to be here. I knew it. Everyone here knew it. But when you accidentally send your résumé to the wrong email–specifically to the private inbox of a billionaire CEO–what else do you do? You show up, apparently. The lobby swallowed me. Tall ceilings. Colder than my landlord’s heart. Workers in sleek suits moving like they were late for a royal coronation. I clutched my bag tighter. “Okay, Maya. Smile. Pretend you belong.” I smiled. A guard gave me a look that said, 'No, you don’t.' Great. I reached the marble counter. The receptionist didn’t even look up. Her nails were long and red and expensive. Her voice was flat. “Name? ” “Maya Brooks. I–uh–I have a meeting with Mr Reign.” That made her look up. “Mr. Reign doesn’t have meetings with applicants.” “I’m…not exactly an applicant.” Why did my voice shake like that? I hated that. She raised one brow. A slow, perfect arch. “Then what are you? ” “A mistake,” I muttered. “I mean....I sent something by accident. And he replied. So I came.” Her brows pulled together. “He replied? ” “Yep.” I pulled up the email on my cracked phone. She leaned in, read it, then blinked. Twice. “Oh.” She straightened. “You need the top floor.” “The… top… floor? ” “No one goes there without direct permission.” She paused and studied me again. “You must’ve impressed him.” I definitely did not. I sent him a résumé meant for a small café job, plus a cover letter I typed half-asleep at 2 AM. It even opened with, 'Hey, I really need this job.' Impressed? No. It's more like entertained. But I wasn’t about to run after coming this far. Or after borrowing transport money from my neighbour again. The elevator doors slid open with a soft ding. I stepped in My stomach dropped as we shot upward–too fast, too smooth, too expensive. Everything about this place screamed money. The doors opened to silence. The entire floor looked like a magazine spread. Black glass. Clean lines. A city view so wide it made me dizzy. I took two steps–and froze. A man stood with his back to me, looking out the window. Tall. Broad shoulders. The suit is so sharp it probably cost more than my yearly rent. “Mr. Reign? ” I said. He didn’t turn immediately. When he did, I almost forgot how breathing worked. Sharp jaw. Dark hair, a little messy, like he’d run his fingers through it too many times. Eyes so cold and focused they looked like they’d cut through walls. He studied me in silence. “You’re late,” he finally said. His voice was deep. Annoyed. Smooth. “I–sorry–the elevator–” “You’re not supposed to be here.” Ouch. Right to the point. I swallowed. “Your email said you wanted to see me." “I said ‘come by’. I didn’t think you’d actually show up.” He moved closer. Each step slowly. Controlled. “People don’t usually walk into my office when they think they sent a résumé by mistake.” “Do most people have more self-control? ” I offered weakly. His lips twitched. Not a smile. it's more like a warning. “Let’s start with why you’re here, Miss Brooks.” “Because”, I said, lifting my chin, “you responded.” His expression didn’t change, but something in his eyes flickered. “Do you know how many emails I receive? ” “No.” “Hundreds. Daily. I read yours by accident.” “I figured.” “But”, he continued, “I don’t respond to most people. Especially not to… what did you call it? A desperate application for a café job? ” Heat exploded across my face. “I can explain that.” “I’m listening.” “It was late. I was tired. And yes, desperate. My last job ended badly, and rent is rent.” He didn’t nod. Didn’t blink. Just watched. Like he could see the whole story in my posture. “And yet,” he said slowly, “you walked into one of the biggest companies in the country. With confidence.” “That wasn’t confidence. That was panic mixed with caffeine.” For a heartbeat and silence. Then–here. The softest shift at the corner of his mouth. Almost a smile. Almost. He turned and walked toward his desk. “Sit.” I did. The chair swallowed me like a luxury cloud. He tapped his fingers once on the desk. “You sent a résumé meant for a barista job.” “Yes.” “And you thought I’d give you… what? A job here? ” “No.” I sucked in a breath. “I didn’t expect anything. I only came because you answered. And maybe because… I just needed a win. Even a small one.” Another quiet moment. Then he leaned back, studying me with that unreadable billionaire expression. “You’re not ordinary,” he said. My heart flipped. “Um…" thanks? ” “That wasn’t a compliment.” “Oh.” “You’re unpredictable. Honest. A little chaotic.” “Definitely not a compliment.” This time–definitely a smile. Quick but real. “I need someone,” he said, “who can tell me the truth without fear. Someone who’s not polished.” His gaze sharpened. “Someone like you.” My stomach dipped. “For what? ” “A temporary position.” He stood. Walked towards me again. Closer. When he stopped, he was inches away. “Be my personal assistant for thirty days.” My breath caught. “Thirty… days? ” “Yes.” “Why me? ” “That”, he said, lowering his voice, “is what I’m trying to figure out.” The room felt too warm. Or maybe that was just me melting. He extended his hand. “So, Miss Brooks. Do you accept the offer? ” I stared at his hand. His eyes. The city is behind him. My mind was just about my empty wallet. Thirty days with a billionaire. What could possibly go wrong? “I…” My voice wobbled. “I accept.” His expression didn’t change, but the air did. Like something important had just shifted. Like a mistake had just become fate."Will berangkat duluan." Tanpa basa-basi, Willson langsung bangkit. Meninggalkan sarapannya yang belum selesai dan meninggalkan Rebecca yang hendak bicara serius dengannya.Rebecca berdecak lidah. Dia tahu Willson sengaja menghindarinya. Apalagi dirinya sangat yakin bahwa Willson mengerti apa yang ingin dia bahas. Seketika suasana menjadi lebih hening dan canggung setelah menyaksikan Rebecca dicampakkan oleh putranya sendiri. Carlos yang teringat akan sesuatu, mengatakan pada Rebecca bahwa hari ini mereka memiliki jadwal pertemuan dengan kerabat jauh yang sudah lama tak bertemu. Mendengar itu, Rebecca memaksakan senyumnya. Dia masih sedikit kecewa dengan perlakuan Willson beberapa saat lalu."Ayo," kata Dion saat bangkit dari kursi sambil menyapu bibirnya dengan tisu."Ke mana?" Helena menatap bingung."Hari ini kamu ada pemotretan di Gedung X dekat kantorku, 'kan?"Helena tak langsung menjawab. Dia menoleh menatap Rebecca, dan wanita paruh baya itu tiba-tiba mengangguk lembut. Tern
"Dia mabuk lagi?"Helena mengerutkan kening. Ia memandangi Willson yang tengah berjalan keluar dari mobil dengan sempoyongan. Pria itu seperti kesulitan mengimbangi langkahnya. Namun, tak lama kemudian salah satu penjaga rumah datang dan membantunya.Willson terlihat menolak. Ia menyuruh penjaga itu untuk menjauh. Tetapi setelah berusaha berjalan sendiri, dia malah kehilangan keseimbangannya. Syukurlah penjaga tersebut sudah lebih dulu menahannya.Helena bergidik ngeri. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana pria itu membawa mobilnya dalam keadaan mabuk berat. Tapi di balik perasaan aneh tersebut, Helena merasa sedikit khawatir. Dirinya takut jika Willson terus-terusan seperti ini, maka pria itu bisa saja mengalami sesuatu yang tidak diinginkan saat berkendara. Kecelakaan bisa terjadi kapan saja, 'kan? Jika bukan sekarang, mungkin nanti."Helena, ambilkan aku minum."Seketika Helena tersadar dari lamunannya. Ia masuk kembali ke dalam kamar dan menyaksikan Dion yang terbangun karena teng
"Sungguh? Kamu akan melakukan itu pada kakakmu?"Netra Monica membinar sempurna mengetahui rencana yang Dion buat untuk Willson. Meski Monica tidak terlalu membenci Willson, tapi dia tak rela jika mengetahui bahwa posisi Willson berada jauh di atas kekasihnya. Dia ingin Dion-lah yang terbaik dalam segala hal. Karena apa pun yang menjadi milik Dion, akan menjadi miliknya juga."Tentu saja." Dion menjawab dengan penuh percaya diri. Dia meyakinkan Monica bahwa rencananya kali ini pasti akan berhasil dan membuahkan hasil yang luar biasa.***Willson menatap hamparan danau yang airnya begitu tenang. Udara hari ini terbilang cukup sejuk. Angin lembut yang melintas membuat rambut Willson bergerak indah dan bebas. Kicauan burung pun turut memeriahkan suasana damai tersebut.Willson bersandar pada pagar besi di pinggir danau. Tak peduli apakah lengan kemejanya akan kotor atau tidak, dia terlalu sibuk memandangi gedung-gedung perkotaan yang berada jauh di seberang sana. Willson senang lantaran t
"Aku punya tugas baru lagi untukmu."Dion tersenyum miring saat berkata demikian. Salah satu tangannya memegang ponsel, sementara yang satu lainnya tanpa sadar memainkan pulpen dengan jari-jemarinya yang tegas."Tidak. Saat ini aku sedang tidak bisa keluar. Kita ketemuan besok di kafe untuk membicarakannya. Aku akan mengirimkan alamat kafenya padamu.""Tenang saja. Semua sudah aku siapkan. Kamu hanya perlu melakukannya dengan benar. Untuk imbalan, aku juga sudah menyiapkannya."Di saat yang bersamaan, ketukan pintu terdengar. Dion menoleh dan mendapati seorang wanita cantik masuk dengan membawa senyuman terbaiknya. Dion membalas senyuman Monica. Sekilas, dia memindai penampilan seksi Monica yang mengenakan pakaian super ketat. Ia mengamati setiap lekukannya tanpa celah. Mulai dari atas ke bawah, dan sebaliknya. Kalau saja Rania tidak kembali angkat bicara, mungkin saat ini Dion masih belum kembali pada dunia nyata dan larut dalam fantasi liarnya."Baiklah. Kita lanjutkan lagi nanti."
"Kamu sakit?"Mia tidak henti-henti menanyakan hal yang sama pada Helena. Sahabatnya itu menggelengkan kepala, memberikan jawaban yang sama pula.Helena mengatakan bahwa dia tidak sakit sama sekali. Dan setelah Mia memeriksa suhu tubuhnya, memang terkesan normal dan tidak panas. Namun, anehnya wajah H
"Sstt ... Mas."Helena berusaha mengeluarkan tangan Dion dari dalam piyamanya. Namun, justru Dion semakin meliarkan gerakan jarinya. Membuat Helena meringis menahan geli dan rasa takut sekaligus.Perlakuannya yang kasar dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutnya saat berhubungan, membuat Helena mer
“Helena, apa yang kau lakukan?!”Willson bertanya tegas karena melihat kondisi Helena yang basah kuyup sambil dengan bodohnya berdiri di tepi jalan.“Aku sedang menunggu taksi.”Willson mengusap wajahnya dengan gusar. Ia mengurungkan niat untuk bertanya lebih banyak lagi dan segera menuntun Helena agar
“Ti-tidak! Tentu saja tidak.” Helena langsung membantah, mematahkan pemikiran bodoh sahabatnya. Kalau saat ini Mia tidak sedang menjadi pusat perhatian banyak orang, Helena pasti sudah membungkam mulut wanita itu. Bagaimana bisa dia berbicara seenaknya di hadapan Willson? Menyadari Helena panik, Mia


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.