ANMELDENMatahari baru saja menampakkan sinarnya di ufuk timur, namun bungkusan hitam yang tergantung di gagang pintu ruko langsung menarik perhatian Sarah yang baru saja membuka toko.Sarah berdiri anggun mengenakan blus krem pas badan yang mengekspos lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun karena penasaran. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah terbitnya cahaya fajar.Madun melangkah keluar dari dalam ruangan dengan santai, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol tegas di balik kaus oblong hitamnya yang maskulin. Wajah tampannya dengan rahang tegas tampak tenang, memancarkan wibawa luar biasa yang membuat siapa pun merasa aman di dekatnya."Ada apa lagi itu di gagang pintu, Mas? Jangan-jangan kiriman bom waktu dari preman semalam?" tanya Sarah cemas sambil menunjuk bungkusan tersebut dengan jemari lentiknya.Siska yang baru datang langsung merapat mendekat, daster ora
Pintu ruko digedor dengan begitu keras dari luar, membuat Sarah langsung merapatkan tubuh sintalnya ke dada bidang Madun karena terkejut.Sarah malam itu tampak sangat memukau dalam balutan blus krem pas badan yang menonjolkan gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun menahan rasa cemas. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna di bawah sorot lampu ruangan yang temaram.Madun berdiri tegar dengan rahang tegas yang mengeras, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol kuat di balik kaus oblong hitamnya. Wajah tampannya memancarkan wibawa dingin yang langsung meredakan kepanikan di dalam ruangan."Biar saya yang buka pintunya, kalian tetap di belakang," ujar Madun dengan suara berat bernada rendah yang penuh kepastian.Siska yang tadinya berdiri di dekat meja langsung mundur teratur sambil berkacak pinggang, daster oranye ketatnya mempertontonkan belahan dada secara vulgar. "Duh, ini maling atau debt coll
Mentari pagi baru saja menyapa halaman ruko ketika Siska berlari kecil menerobos masuk dengan napas terengah-engah dan wajah panik luar biasa.Siska pagi itu tampil sangat memukau dalam balutan daster oranye ketat yang mempertontonkan lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun menahan emosi. Rok pendek ketatnya memperlihatkan paha mulus jenjang yang kontras dengan lantai keramik, membuat siapa pun yang melihatnya langsung gagal fokus."Mas Madun! Gawat besar, laci uang kas toko kita dibobol orang!" jerit Siska histeris sambil menunjuk meja kasir yang terbuka lebar.Sarah berjalan anggun menghampiri sumber keributan, mengenakan blus krem pas badan yang memamerkan pinggang ramping serta postur tubuh padat berisinya yang sangat mempesona. Kacamata hitam yang diselipkan di atas kepalanya membuat Sarah tampak seperti wanita karier berkelas tinggi yang siap mengusut tuntas kejahatan.Madun melangkah keluar dari kamar belakang dengan tenang, memperlihatkan ot
Suara deru motor yang tadi menggelegar di luar mendadak lenyap digantikan kesunyian malam, menyisakan deru napas Madun yang masih berat setelah kejadian menegangkan di dalam toko.Sarah berdiri tegap di hadapannya, mengenakan blus krem pas badan yang memamerkan lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun menahan emosi mendalam. Rok pensil hitam ketat membungkus pinggang rampingnya dengan sempurna, sementara paha mulus jenjangnya tampak sedikit bergetar karena rasa lelah yang teramat sangat.Madun menatap istrinya dengan rasa bersalah yang teramat dalam, menyadari betapa besar pengorbanan wanita tercintanya itu dalam menjaga kehormatan keluarga mereka."Maafkan aku, Sarah... Aku sempat goyah sedetik tadi saat wanita itu mencoba meruntuhkan pertahananku dengan cara murahan," ucap Madun lirih dengan suara berat bernada rendah.Sarah menggeleng pelan, air mata bening tiba-tiba menetes membasahi pipinya yang mulus, namun senyum tulus tetap tersungging di bib
Wanita berparas cantik jelita itu melangkah anggun mendekati pintu ruko, mengenakan gaun malam merah muda ketat yang memamerkan lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang menggoda.Sarah langsung menyipitkan mata tajamnya, memperhatikan setiap gerak-gerik wanita asing tersebut sementara blus krem dan rok pensil hitamnya membingkai pinggang ramping serta paha mulus jenjangnya dengan sempurna.Madun berdiri tegar di dekat meja kasir, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol tegas di balik kaus oblong hitamnya yang maskulin."Malam, Mas Madun... Boleh saya minta tolong dicarikan air mineral dingin? Perjalanan dari kota bikin tenggorokan saya kering banget," ucap wanita itu dengan suara mendesah manja.Siska yang berdiri di sebelah rak langsung melipat tangan di dadanya, mendengus pelan melihat gaya genit si tamu asing dari balik daster oranye ketatnya. "Ih, cari air mineral kok gayanya kayak mau casting sinetron azab! Toko sebelah masih buka tuh kalau
Satu Tamparan untuk Si UtusanPria berjas rapi yang baru saja menebar ancaman penyitaan lahan langsung tertegun di tempat, sementara keringat dingin mendadak membasahi keningnya yang licin.Sarah berdiri tegap di sisi kiri Madun, mengenakan blus krem pas badan yang memamerkan lekuk tubuh sintal serta gundukan buah dadanya yang kencang naik-turun menahan emosi. Rok pensil hitam ketat yang membalut pinggang rampingnya membuat paha mulus jenjangnya terlihat sangat memukau di bawah terik matahari pagi halaman ruko.Madun melangkah maju dengan gerakan tenang namun penuh wibawa, memperlihatkan otot lengan bidang dan dada bidang yang menonjol tegas di balik kaus oblong hitamnya. Wajah tampannya dengan rahang tegas tampak sangat dingin, memancarkan aura preman berhati pahlawan yang membuat sang utusan korporasi mendadak salah tingkah."Kamu pikir ancaman kertas merah itu bisa bikin kami takut?" tanya Madun dengan suara berat dan jantan yang menggelegar.Utusan berjas itu menelan ludah su
"Madun! Di sini!" bisik Siska dari balik gerbang rumahnya yang tinggi setelah Madun mengetuknya.Malam itu, Siska terlihat sangat berbeda. Ia hanya mengenakan daster satin tipis berwarna putih tulang yang hampir transparan jika terkena cahaya lampu teras. Rambutnya yang hitam legam dibiarkan teru
"Madun! Cepat masuk! Jangan celingak-celinguk begitu, nanti dikira maling!" bisik Siska dari balik pintu klinik yang terbuka sedikit. Suaranya serak, matanya yang dilapisi riasan tipis tampak berkilat-kilat di bawah lampu remang koridor. Siska malam itu mengenakan seragam bidan yang sengaja dilep
"Gimana, Dun? Lancar urusan di klinik Bidan Siska?" tanya Pak Bos sambil nyedot rokok klobotnya di teras rumah. Madun yang baru datang langsung duduk di lantai, mukanya masih agak pucat tapi ada sisa-sisa senyum aneh. "Lancar, Pak Bos. Cuma ya itu, Bu Bidan sempat kaget luar biasa pas liat senj
"Madun! Ngaca, Dun! Muka pas-pasan, kerja cuma kuli panggul pasar, kok ya masih berani ngarep dapet cewek cantik nan bening? Mimpi ketinggian kamu!" Tawa keras pelayan toko kelontong itu pecah seketika, menggelegar menghina Madun tepat di depan kerumunan orang yang sedang lalu lalang. Beberapa o







