LOGINLuna pusing tujuh keliling! Sang anak tiba-tiba memintanya menikahi Bian, salah satu karyawan di restoran miliknya. Kedua orang tuanya juga memohon padanya untuk bersama Bian, hingga sebuah ide gila terlintas di pikiran Luna: ia akan menikah kontrak dengan Bian tanpa diketahui yang lain! Untungnya, Bian sedang dalam situasi terdesak dan membutuhkan uang, hingga terpaksa menyetujui permintaan Luna. Lantas, akankah Bian dan Luna akan berpisah setelah masa kontrak mereka selesai? Atau, justru sebaliknya?
View MoreSetelah hampir dua bulan Sarah melupakan siapa dirinya, akhirnya wanita berwajah lembut itu sadar kembali. Ironisnya hari itu Zubaidah sang madu juga kebetulan sedang melahirkan sehingga demi menghindari pertemuan dengan sang suami, Sarah dibantu keluarga juga Dr. Wan akhirnya meninggalkan rumah sakit secepatnya.
“Kita mau ke mana? Bukanya harus menunggu Bayi Putri datang?” Sarah bingung karena sempat mendengar Laras menyuruh suaminya untuk membawa Putri ke rumah sakit tetapi tiba-tiba justeru terburu-buru bersiap keluar dari ruang rawatan.
“Rumah sakit tidak baik untuk bayi. Kita akan pulang dan bertemu di rumah karena kau sudah sembuh. Bagaimana menurutmu?” tanya Laras sambil tetap berkemas.
“Aku Setuju.”
“Ok, ayo cepat cepat ganti baju pasiennya dengan bajumu sendiri.” Sarah hanya menuruti kata-kata Laras dengan rasa heran yang berusaha diabaikan.
Lebih heran lagi karena mereka pulang menggunakan mobil Dokter Wan dan membawa beberapa peralatan. Hanya saja ketika hendak bertanya rasa kantuk lebih dulu menguasainya. Anton segera membatu istrinya mengatur pembaringan Sarah, lalu menatap pria yang diam-diam menyintikkan sesuatu ke tubuh pasiannya itu.
“Tenanglah, seperti ini lebih baik. Kebingungannya akan mengganggu ingatan yang baru saja datang.” Semua hanya menggangguk mengerti.
Pagi itu Dokter Wan berkunjung ke rumah sewa untuk melakukan pemeriksaan rutin.
“Maaf jadi menyusahkan Dokter. harus memeriksa ke rumah,” kata Ibu yang menyambut kedatangannya dengan tak enak hati.
“Tidak apa-apa, Bu. Saya sama sekali tak merasa keberatan melakukannya,”jawab Dokter tampan itu sambil tersenyum tulus.
“Jam berapa kemarin terbangun?” Ibu paham siapa yang dimaksud.
“Sore. Alhadulillah langsung sibuk dengan bayinya dan tampaknya tak mempermasalahkan kejadian kemarin.”
“Syukurlah.”
Mata Ibunda Sarah berkaca-kaca karena haru.
“Mari, Dok, saya antar ke dalam. Sarah sudah menunggu,” kata Ibu yang hanya dijawab dengan senyum.
Pagi itu Sarah tampil segar dengan daster berbunga-bunga besar berwarna merah hati. Senyumnya tampak lepas memandang dua orang yang datang ke arahnya. Sementara Dokter Wan yang sempat tertegun sejenak segera berdehem menetralkan suasana.
“A-hemm. Apa kabar Bu Sarah?”
“Assalamualaikum, Dok,” sapa Sarah bersamaan membuat lelaki tampan berwajah putih itu tampak menjalar semburat merah. Gugup.
“Wa-waalaikumusalam.”
Dokter Wan merutuk dalam hati kenapa bisa mati gaya dan bertingkah bodoh hari ini. Sementara wanita tua yang hadir di antarta mereka hanya tersenyum menyaksikan mereka berdua.
“Baiklah, silakan dimulai pemeriksaannya. Saya akan membuat minum, biar bapak saja yang menemani,” katanya sambil berlalu ke dalam.
Suasana menjadi sedikit canggung, untungnya suara bapak segera terdengar ceria memanggil Dokter Wan. Mereka kemudian berbincang hangat sambil memeriksa dan menanyakan beberapa hal pada Sarah sesekali.
Selesai pemeriksaan, Dokter Wan kembali ke ruang tamu bersama Bapak sementara Sarah ke dapur mencari ibunya. Tampak wanita berjarik dengan kerudung lilit melingkupi kepala itu sedang sibuk menginstruksikan beberapa hal pada Bibi di ruang makan.
“Kenapa sibuk sekali, Bu?”
“Kita akan mengajak, Nak Dokter sarapan di sini.”
“Ssudah sampa sini artinya sudah sarapan di rumahnya, Bu.”
“Tawari saja barangkali berkenan.”
“Tapi , Bu … mungkin harus segera berangkat dinas,” kata Sarah masih tampak keberatan.”
“Ada apa denganmu? Dokter Wan begitu baik. Kita hanya membalasnya. Bagaimanapun ini sedang di rumah bukan di rumah sakit.” Tatapan Ibu yang menyelidik membuat Sarah buang wajah lalu menunduk. Entah mengapa perasaannya tidak nyaman saat doter tampan itu menatapnya. Seperti ada sesuatu yang berbeda tapi Sarah tak tahu apa itu. Dia berpikir karena statusnya.
“Ibu, Sarah wanita bersuami. Sepertinya kami belakangan menjadi sangat dekat dan itu membuat perasaan Sarah tidak nyaman,” kata Sarah dengan wajah sendu.
Ibu menarik napas panjang dan mengelus punggung putrinya tanpa mnengatakan apa-apa. Kemudian kembali menyibukkan diri bersama Bibi. Sarah mendesah dan kembali ke kamar melihat bayi Putri yang kembali tertidur selepas berjemur.
Sementara di dapur Ibu dan Bibi saling pandang lalu mengikuti langkah Sarah dengan tatapan prihatin.
“Ndoro, …”
“Jangan tanya apa-apa, Bi. Saya saja bingung. Biar itu jadi urusan Bapak,” kata ibu sambil mengibaskan tangan dan kembali menyusun segala macam perlengkapan makan di meja.
Sarah mendapati putri kecilnya sedang bermain sendirian sambil menggigit kaki. Bibir wanita itu merekah sambil bergegas. Tawa Bayi Putri, selalu menimbulkan rasa bahagia. Satu hal yang baru disadari. Putri kecil ini sumber cahaya di antara kemelut yang menyertai kehadirannya.
“Sayang … kau sudah bangun?
Kenapa nggak panggil mama, hemm?”
“Ma ma ma,” celoteh Bayi Putri seolah menanggapi pertanyaan Sang Bunda.
Ketika berjalan ke depan sambil menggendong putrinya Sarah tertegun mendengar Bapak dan Dokter yang selama ini merawat dirinya dengan sangat telaten itu tampak sedang mendiskusikan hal yang pentinng dan serius.
Bersambung …
Setelah berkeliling mencari ruang rawat ibu mertuanya, akhirnya Luna menemukan keberadaan soosk Bian yang tengah berdiri mondar-mandir di depan ruang operasi. Dengan menggandeng Arka, Luna berlari menghampiri Bian. "Bian!" panggil Luna Bian langsung menoleh, terlihat wajah Bian yang tampak kusut tak bersemangat. " Arka! Kamu kok tahu kalau Ayah ada di sini?" tanya Bian yang langsung memeluk Arka "Iya, Kita tadi muter-muter cari Ayah. Mama aja sampai capek gendong aku," ujar Arka melirik mamanya "Bi, kenapa kamu gak bilang sama aku?" tanya Luna Bian tak menjawab ucapan Luna, dia hanya melirik sekilas lalu kembali pada Arka. Luna merasa kecewa karena Bian menhacuhkannya.Bian sibuk dengan Arka, Luna yang merasa kehadirannya tidak berarti bagi Bian hendak melangkah pergi meninggalkan mereka. Namun, tangan Luna ditarik oleh Bian. "Kamu mau kemana?" tanya BianLuna membalikkan tubuhnya dan berkata, "Bukankah keberadaanku tidak berarti bagimu? Jadi lebih baik aku pergi saja!" Bian melep
Sudah tiga hari, sejak hari dimana Bian dan Luna bertengkar hebat. Luna bersikap acuh pada Bian, dia bahkan tidak bertegur sapa sama sekali. Kecuali jika di hadapan Arka dan kedua orang tuanya, Luna akan bersikap seolah rumah tangganya sedang baik-baik saja.TokTokTok"Lun, aku mau bicara sebentar. Bisa tolong bukakan pintunya?"Ck!"Mau apa lagi sih tu bocah, bikin mood pagiku hilang aja!" gerutu LunaCeklek!Kepala Luna menyembul keluar, dia mengintip dari balik pintu, Luna memang sengaja tidak membuka pintu sepenuhnya. Dengan wajah malas Luna bertanya, "Apa?""Aku mau bicara sama kamu, ini penting banget!" ujar Bian"Yaudah masuk!" tukas LunaBian mengekor di belakang Luna, Luna sudah siap untuk berangkat bekerja dengan stelan kemeja berbahan chifon dan rok span di atas lutut. Posisi duduk Luna yang menyilangkan satu kakinya, membuat rok pendek yang ia kenakan terangkat ke atas, Bian yang duduk di sebelah Luna merasa kikuk, bahkan ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bian se
Kreek!Potongan kertas berhamburan di lantai, Bian telah merobek surat perjanjian yanh diberikan oleh Luna. Bian tak merasa bersalah sedikit pun, bahkan bibirnya tersenyum lebar.Plak!Tangan Luna mendarat mulus di pipi Bian, dengan wajah metah Luna memaki Bian, "Untuk terakhir kalinya, kuperingatkan kalau kamu bukanlah orang yang berarti di hidupku. Dan sampai kapan pun aku akan selalu mmbncimu!""Dan sampai kapan pun aku juga tidak akan pernah menceraikanmu, apapun alasannya!" balas Bian"Rasa cintaku terlalu dalam untukmu, bahkan sebelum kamu mengenalku."Luna melangkah mendekat pada Bian, mengikis jarak diantara keduanya. Bibir Luna berbisik di telinga Bian, "Kamu kira aku mempercayainya? Jangan mengarang cerita untuk mendapatkan hatiku, karena sampai kapan pun aku hanya mencintai Indra!"Luna membalikkan tubuhnya meninggalkan Bian. Namun, yang terjadi selanjutnya membuat tubuh Luna menegang. Bian memeluk Luna dari belakang dengan cukup erat, kepalanya ia sandarkan diatas pundak Lu
Di sebuah club mewah bergengsi, tempat dimana manusia berduit menghabiskan uang mereka. Tak terkecuali bagi Luna, wanita cantik yang kini tengah duduk bersama seorang pria.Pria tampan di depannya bertanya pada Luna, "Apa tidak sebaiknya kamu menginap di aprtemenku saja Baby?""Ndra, aku tidak mau ada masalah lagi. Meski, sebenarnya aku ingin," balas Luna"Kenapa? Apa karena pria itu?""Ndra, please! Jangan bahas dia lagi,""Baiklah!"Luna membuka tas slempangnya, tangannya merogoh ke dalam dan mengaduk-aduk isinya saat benda yang dicarinya tidak juga ketemu. "Sepertinya ponselku tertinggal di mobil?""Aku keluar dulu sebentar!" pamit Luna pada kekasihnyaIndra hanya mengangangguk singkat menanggapi ucapan Luna.Sementara Bian ternyata sudah berada di parkiran mobil, dia duduk di samping mobil Luna. Dia tampak kesal karena tak bisa masuk ke dalam, para penjaga Club langsung mengusir Bian karena pakaian yang dikenakannya. Dalam diamnya, Bian menggerutu, " Pantas saja Luna berdandan den
Satu minggu kemudianHari ini suasana di kediaman Aluna putri Adinata tampak begitu ramai, terlihat deretan kendaraan roda dua dan roda empat memenuhi halaman rumah Luna yang begitu luas. Tak hanya itu, suasana di dalam pun tak kalah ramai. Puluhan tamu undangan telah duduk memenuhi ruangan menyaks
Bian terdiam membisu memperhatikan Luna yang tengah tertawa dengan kerasnya, Bian sendiri merasa bingung dengan perubahan sikap Luna. Padahal sebelumnya wajah Luna terlihat begitu serius. “Jangan bermimpi untuk bisa mendapatkan cinta saya!” ucap Luna dingin “Saya tahu untuk mendapatkan cinta kamu
Jantung Luna berdegup lebih kencang dari biasanya, pikirannya berkeliaran memikirkan sosok lelaki yang berada di hadapannya. Luna tidak menyangka jika Bian lah orang mengantarnya pulang ke rumahnya dan itu artinya Bian mengetahui sisi buruknya. “Abian.” ucap Luna Ratna dan Adinata, suaminya menat
Suara dentuman music terdengar memekakkan telinga. Namun, hal itu tidak berlaku bagi wanita yang sedang duduk menikmati segelas Wine di tangannya, dia adalah Aluna. Gaun sexy berjenis off-shoulder melekat membentuk tubuh indahnya, rambutnya yang dicepol ke atas membuat leher jenjang Luna terekspose






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.