เข้าสู่ระบบMalam semakin larut, menyisakan deru halus mesin mobil sedan mewah milik Naka yang membelah keheningan jalanan kota Jakarta. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya samar di atas kaca depan. Di dalam kabin yang senyap itu, udara terasa begitu dingin dan pekat.Naka fokus memegang kemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya bersandar santai di jendela."Di mana rumahmu?" tanya Naka tanpa menoleh, suaranya terdengar datar namun menuntut jawaban pasti.Arshy yang duduk di kursi penumpang samping pengemudi menatap keluar jendela, meneliti bayangan gedung-gedung tinggi yang bergerak cepat. Ia menelan saliva yang terasa mengganjal di tenggorokan."Aku enggak punya," jawab Arshy lirih.Naka menoleh sekilas, alis tebalnya bertaut tajam sebelum kembali menatap lurus ke jalanan di depannya. Arshy menghela napas berat, menyandarkan punggungnya yang terasa pegal pada jok kulit yang empuk."Kemarin aku baru sampai Jakarta," jelas Arshy pelan, nadanya s
Suasana ruang keluarga Argantara terasa begitu hangat dan megah. Karpet tebal yang empuk menutupi lantai, dipadu dengan pendar cahaya lampu hias yang memberikan kesan menenangkan.Usai makan malam yang penuh dinamika, mereka semua berkumpul di ruangan tersebut. Arshy duduk di sofa empuk tepat di sebelah Bunda Nayra, yang sejak awal tak henti-hentinya menunjukkan perhatian hangat. Sementara Naka duduk di sofa seberang bersama sang ayah, Arga. Kedua pria itu tampak larut dalam pembicaraan serius mengenai perkembangan bisnis dan beberapa isu hukum korporasi.Di sudut ruangan lain, si kembar Shaka dan Shakira lesehan di atas karpet. Seperti biasa, mereka berdua sibuk dengan ponsel masing-masing, larut dalam pertarungan game online dengan suara bisikan dan seruan heboh yang sengaja ditahan agar tidak dimarahi sang ayah.Nayra memiringkan tubuhnya, menatap gadis muda di sampingnya dengan binar mata penuh rasa ingin tahu dan kasih sayang."Arshy,
Kata-kata itu menghantam dada Arshy bagai pukulan tak kasat mata. Binar kagum di matanya padam seketika. Kesadaran pahit bahwa ia berada di sini bukan sebagai tamu terhormat, melainkan hanya sebagai barang 'sewaan' dalam skenario sandiwara, kembali menghujam hatinya.Arshy langsung berbalik memutar tubuhnya, menatap lurus pada pria berjas mahal yang berdiri angkuh di hadapannya."Baik! Saya, eh... aku. Aku akan berusaha," jawab Arshy cepat, buru-buru memperbaiki panggilannya sesuai instruksi Naka tadi di mobil.Naka memperhatikan perubahan raut wajah Arshy yang mendadak menegang. Ia mengangguk pelan, merasa puas karena tegurannya berhasil menancapkan batas tegas di antara mereka."Bagus! Istirahatlah!" pungkasi Naka dingin.Tanpa menambahkan sepatah kata pun atau menanyakan apakah Arshy sudah makan malam, Naka berbalik arah, melangkah keluar, dan menutup pintu kamar dengan rapat. Suara dentur pintu yang terkunci dari luar menandai kepergian sang pengacara.Keheningan melingkupi ruan
Pilihan itu berada di ujung jemarinya. Arshy menatap lembaran kertas bermeterai di pangkuannya. Tulisan di dalamnya rapi, lugas, dan sangat mengikat secara hukum. Poin demi poin disusun begitu cermat oleh otak dingin Nakara Argantara.> Pasal 1: Pihak Pertama (Nakara Argantara) bertindak sebagai kuasa hukum resmi Pihak Kedua (Arshila Ramdhani) untuk menyelesaikan sengketa lahan Panti Asuhan Kasih Bunda tanpa memungut biaya (Pro Bono).> Pasal 2: Pihak Kedua bersedia berperan sebagai tunangan/calon istri Pihak Pertama di hadapan keluarga Pihak Pertama selama batas waktu maksimal 3 (tiga) bulan.> Pasal 3: Dilarang keras melibatkan perasaan pribadi yang dapat mengganggu jalannya kesepakatan profesional ini. "Bagaimana, Arshila?" suara bariton Naka memecah keheningan. Pria itu melirik jam tangan mewahnya seraya menyandarkan tubuh. "Saya tidak punya waktu semalaman untuk menunggu keputusan kamu."Arshy menghembuskan napas berat. Air mata yang menumpuk di pelupu
Sementara itu, gerimis kembali membasahi trotoar di depan Menara Sudirman.Naka mengendarai mobil sedan hitamnya perlahan keluar dari area parkir gedung kantornya. Saat lampu lalu lintas di persimpangan jalan berubah merah, pandangan Naka tak sengaja tertuju pada sebuah halte bus yang remang-remang.Di sana, terduduk seorang gadis dengan tubuh meringkuk menahan dingin. Ransel kusamnya dipeluk erat di dada, dan kepalanya bersandar pada tiang besi halte. Wajahnya pucat, bibirnya gemetar.Itu Arshila. Gadis yang pagi tadi memarahinya di depan seluruh stafnya.Gadis itu ternyata belum pulang. Bukan karena tidak mau, melainkan karena ia memang tidak punya tempat tujuan di kota metropolitan yang asing ini.Naka menatap gadis itu dari dalam mobilnya yang hangat dan kedap suara. Otak analitis Nakara Argantara yang dingin tiba-tiba menghubungkan dua masalah yang sedang dihadapinya secara presisi.Gadis itu butuh bantuan hukum dan uang untuk menyelamatkan panti asuhannya.Sementara dirinya...
Menara Sudirman berdiri megah dan berkilau di bawah terik matahari Jakarta. Marmer mengkilap, aroma parfum mahal, serta lalu lalang orang-orang ber-jas rapi membuat Arshy merasa seperti makhluk asing dari planet lain.Mengenakan kemeja putih yang sedikit lecek dan celana kain hitam pudar, Arshy melangkah masuk ke area lobby Argantara & Partners Law Firm di lantai 18."Selamat pagi, Mbak. Ada yang bisa dibantu? Sudah ada janji appointment dengan pengacara kami?" sela seorang resepsionis cantik dengan senyum ramah yang terlatih."Pagi, Mbak. Saya mau bertemu dengan Pak Nakara Argantara. Penting sekali," ucap Arshy cepat, menyatukan kedua tangannya di dada.Resepsionis itu memeriksa layar komputernya. "Atas nama siapa? Dari perusahaan apa?""Saya... saya Arshila. Bukan dari perusahaan, Mbak. Saya ingin meminta bantuan hukum untuk sengketa tanah panti asuhan kami."Senyum resepsionis itu perlahan memudar, berganti dengan tatapan prihatin yang diwarnai rasa canggu
Pikiran-pikiran nakal tentang suara lenguhan semalam kembali berputar di kepalanya, membuat pipi Nayra merona merah di balik kaca helm kelam yang ia kenakan.Tapi berkat kelihaian Arga selap-selip di antara barisan mobil, mereka akhirnya tiba di depan lobi selatan Mall Sentra hanya dalam waktu lima
Arga melirik ke arah Nayra sekilas, lalu kembali menatap Mbak Dewi. "Iya, betul. Kompleks gedungnya memang bersebelahan langsung dengan area mall.""Wahhh, pas banget! Pucuk dicinta ulam pun tiba, Nayra kecewa mas Arga punm tiba," Mbak Dewi berputar menghadap Arga dengan wajah memelas yang dibuat-
"Pagi juga mbak, permisi ya," jawab laki-laki itu berusaha ramah dan sopan.‘’Iya Mas, hati hati ya. Kalau butuh sesuatu bisa calling me,” kata mbak Dewi bercanda namun sukses membuat laki laki itu bergidik ngeri.Dia segera pamit pergi ke kamar nya, sebelum dia kembali di goda oleh wanita itu.Ber
Krieeet... krieeet..."Eughhh!""Sshhhh..."Mata Nayra langsung terbuka lebar, menatap lurus ke langit-langit kamar yang temaram. Dalam sekejap, rasa kantuk yang tadinya menggelayuti kelopak matanya menguap tanpa bekas.Tubuhnya menegang di balik selimut tipis. Jantungnya mulai bertalu cepat, buk







