เข้าสู่ระบบ"Bu Key." "Eh Jo." Tatapan mata Bu Keysa bukan padanya melainkan pada Mila. Wanita itu menatap dengan sangat intens seolah sedang mencari sesuatu pada diri Mila begitupun dengan Mila yang terlihat santai membalas sikap Bu Key. "Bu Key sendirian aja?" tanya Bejo setelah menarik Mila keluar. Jadi mereka sama-sama di luar pintu lift karena Bu Keysa pun tidak langsung masuk dan malah diam memperhatikan Mila terus. "Iya, Jo. Cuma nanti ada patner aku kok." "Oh gitu! Ya sudah kalau begitu saya duluan Bu. Saya mau nganter majikan saya pulang dulu. Permisi!" Bejo dengan sopan membungkukkan tubuhnya dan mengajak Mila untuk segera pergi dari sana. Mila yang sejak tadi diam dan hanya menyimak dengan sedikit linglung pun mengikuti langkahnya hingga mereka tiba di basement. "Jo itu dosen kamu kok lihat aku kayak gimana gitu ya? Apa karena aku jalan sama kamu? Dia ngiranya aku kenapa gitu kali ya, Jo?" tanya Mila saat dia memasukkan semua barang-barang ke dalam mobil. "Giman
"Sarapan dulu, Nyonya! Nggak sekarang 'kan ketemunya? Saya laper ini semalam santennya abis diperes abis-abisan soalnya. Memangnya Mala ngomong apa sama Nyonya?" Bejo memberikan seporsi makanan yang ia pesan tadi untuk Mila agar wanita lebih dulu makan. Bejo memperhatikan dengan kedua mata begitu lekat pada kedua mata Mila yang memandangnya. Sudah tidak terlihat khawatir dan cemas tapi terlihat sangat penasaran.Sebenarnya apa yang ingin disampaikan oleh adiknya Nyonya sampai membuat beliau seperti ini? "Katanya penting, Jo. Soalnya Mala semalam ke rumah pas kita lagi...." Mila tidak meneruskan ucapannya dan Bejo pun mengangguk paham karena dia tau kapan Mala menghubungi Mila. Dia tau karena semalam dia melihat sendiri ponsel Mila berdering. Mungkin kalau Mila sudah lupa saking keenakan. "Sepenting-pentingnya info yang diberikan orang lain. Ingat! Nyonya jangan langsung percaya! Nyonya harus cari tau dulu kebenarannya. Jangan gampang kemakan omongan orang!" "Iya, Jo."
"Tentang Mas Saka? Apa maksud Mala? Apa itu ada kaitannya dengan Ibu yang selalu meminta uang pada suamiku? Apa ada rahasia yang tidak aku ketahui tentang mereka?" gumam Mila jadi kepikiran sendiri. Mila pun beranjak dari sana seraya mengirimkan balasan pesan pada Mala. [Maaf Kakak baru balas. Kamu bisa ketemuan jam berapa, Dek?] [Nanti aku kabarin lagi, Kak. Semalam Kakak kemana? Kenapa tidak pulang? Apa sebenarnya hubungan Kakak dengan Mas Saka sudah tidak baik?] [Baik, aku memang sengaja tidak pulang dan sudah pamit Mas Saka karena Mas Saka juga tidak ada di rumah. Mas Saka keluar kota.] [Oh... Oke kalau begitu. Nanti saja kita bicara, Kak. Aku semalam ke rumahmu.] Kedua alis Mila terangkat membaca pesan dari Mala. "Jadi Mala ke rumah semalam? Duh! Pantas saja dia tau kalau aku tidak ada di rumah." Mila menepuk keningnya dan segera mencari pakaian ganti yang akan dia kenakan hari ini. [Kenapa tidak bilang kalau ke rumah. Kamu kalau mau menemui aku, hubungi aku du
"Jangan terlalu banyak pikiran! Perasaannya juga kalemin dikit! Kasihan nanti otak sama hatinya. Saya kelonin mau? Bobo ya, Nya!" Bejo mendekati setelah Mila menganggukkan kepala. Hubungan macam apa ini, ada kelonan, ada mandiin, ada pakein baju semua dilakukan oleh Bejo yang notabene hanya sopir. Untungnya ganteng ya kan? Kalau nggak auto ditolak sama Nyonya. "Kamu juga tidur, Jo! Kenapa nggak mau aku ajak pulang? Kalau di rumah kamu kan bisa ngerjain tugas. Katanya banyak revisian?" tanya Mila tetapi baru saja Bejo duduk, Mila sudah langsung memeluk pinggangnya dan merapatkan diri di tubuh Bejo. "Banyak tapi ya kali main ditinggal aja ini kamar, mana udah tengah malam. Nyonya juga lemes katanya. Sayang juga sama uangnya yang udah buat sewa ini hotel. Paham sih uang Nyonya banyak tapi ya gimana ya. Nggak bisa pokoknya mah! Istirahat dulu aja, Nya!" Bejo lebih setuju mereka pulang besok pagi dari pada malam-malam begini. Kasihan juga Mila yang sudah lelah. Nanti sampai rum
"Mas kamu mau kemana?" panggil wanita yang tadi bersama dengan Saka. Saka yang sedang mendekati lokasi tersebut dengan kedua mata penuh curiga kemudian memandang orang yang memanggilnya. Saka berdecak seraya mengangkat tangan dan kembali menoleh melihat siapa orang yang bersembunyi di balik pot besar juga tong sampah tersebut. "Mampuuuusss! Untung aja ini pintu buru kebuka. Kalau nggak gue ketahuan. Belum saatnya ferguso buat mergokin lo. Gue tau palingan lo mau nyumpel gue pake duit. Bisa aja gue manfaatin tapi belum nafsu gue sama duit tutup mulut." Bejo sudah ada di lift saat ini, pas sekali saat Saka menoleh, pintu lift terbuka dan dia segera masuk ke dalam untuk turun ke basement. Bejo menyeringai kala dia sudah benar-benar memastikan ada main antara Saka dengan wanita yang selama ini dia curigai. "Gatel banget Mpoknya si Caca, pantesan si Caca udah kayak belatung nangka. Ternyata Kakaknya lebih-lebih dari dia. Abangnya si Edo juga mauan aja lagi. Gue kabarin dulu aja atau
Bejo menutupi bagian bawahnya dengan handuk yang dia lingkarkan sebatas pinggang saja kemudian membuka pintu setelah setangah jam suara ketukan mengiringi pergerakannya hingga sampai di titik klimaks. Mila saja masih tepar di sofa tetapi Bejo sudah sempat membersihkan diri sebelum keluar dari kamar. "Masih nungguin Bang? Orang mah tinggal aja! Ngapa jadi nungguin di depan pintu begini. Nggak capek nunggu sampe kelar?"Bejo mengatakan begitu karena memang belanjaan sudah dibayar tapi dia juga tau kenapa kurir tersebut menunggu hingga dia keluar. Kurir tersebut juga memiliki tugas yang dituntut untuk sabar dan amanah. Hanya sekedar bercanda saja tetapi Bejo kemudian memberikan uang tips pada kurir tersebut. "Iya, Kak. Maaf kalau saya mengganggu. Soalnya takut barang belanjaannya hilang, Kak.""Oke nggak masalah. Nggak ngaruh sebenarnya tinggal Abangnya aja kuat apa nggak nunggu saya sampe kelar. Ya udah ini buat Abang beli kopi! Nggak banyak , ya buat ngaso bentar ngelempengin kaki di
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan
Bejo mandi dengan bersih, sedikit rencana untuk membersihkan bulu-bulu halus yang menyelimuti bagian intinya yang akan dia realisasikan dengan baik. Bejo menunduk melihat bagian yang akan digunakan untuk bertempur. Masih belum percaya kalau sebentar lagi akan hilang perjaka. Tentunya hal itu aka
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka







