LOGINDemi menyelamatkan keluargaku dari kebangkrutan, aku dipaksa menerima perjodohan dengan Mas Ammar, pria yang diam-diam kucintai dan juga kekasih sahabatku. Namun, semua orang justru menuduhku pengkhianat dan perempuan gila harta--termasuk Mas Ammar. Aku lelah dianggap orang ketiga dalam pernikahanku sendiri. Dapatkah aku menyerah sekarang?
View MoreI was eighteen when my life suddenly changed. I was a normal high school girl; my grades weren’t bad, but my parents were never satisfied. They wanted me to become a doctor to honor our family's name, but I was not interested. It’s not my dream. My dream is to become a singer, to write my feelings and my thoughts through songs that a million of people would listen to, would sing and understand. But I always hid this passion because I was sure that I could never have the chance to do it. I was afraid to be kicked out after telling my parents what I really wanted.
It’s been since years since I moved to another country because of my father's work. I had a hard time learning the language and adapting in this new world. But I’d be lying if I said that I don't like this country, everything about it is beautiful, its food, its traditions, its weather, even the people here are so nice and warm. But during those six years I only had one friend, Damian, because even if I look like a cool girl, I'm shy. I can't always make the first step, especially when people are young like me, so I'm a loner. A loner that has too many things to say, but never could.
Damian was an exception because he was kind to talk to me during my first day of school. He knew some of the language I spoke, so we could chat sometimes. He also helped me a lot with my studies.
I discovered my singing's passion through our school's choral, it was the only thing I honestly enjoyed and prepared well for. One day, I asked my parents if I could join a music academy, and they refused. They said that I would only waste my time and that I better go study more.
My passion grew more and more when I came here; a country known for its music culture. I discovered a lot of talented artists; singers, rappers and dancers. What I liked the most were the groups, not only for their talent but also for their teamwork. I liked the fact that they helped and supported each other in every situation like a real family.
I wanted to be a part of a group.
When I came back from school and my parents were still working, I watched some music videos and dance practices from the most famous groups. Then I started by learning the lyrics and some dance steps, which I tried to imitate.
One day, my mother came back early from work and she found me dancing in the living room, I could see how angry she was. She stayed silent for a long moment then she said, "What in the world are you doing, Juliette?!" My heart jumped while I was trying to find an excuse.
"Mom, they say that dance helps fight stress." I couldn't look at her because it was obvious that I was lying. I can stand everything but my mother's nagging. It's worse than you think it is.
She threw her bag on the sofa, turned off the TV then looked at me like a tiger prepared to attack his prey. "I know what you're trying to do. I know that you want to be a singer, but I will never allow it. What will people say about us?!"
There are a lot of things I hate in this world, but what I hate the most are those six words: "What will people say about us?" I just can't understand why we should care about what others think about us. Isn't it our life? Are we not supposed to do everything we want because it's our story?
I couldn't hold back my deception, "Mom, please just tell me what will you gain from what people say about us."
"What do you mean what will I gain?! There is nothing more important than being respected by others. So don't do anything stupid, Juliette. I don't want to hear whisperings around me."
After I closed my bedroom's door, I took a book and started writing my thoughts. If my book could speak, he would be asking for help because I wrote a lot of things out of anger. I hate it when my mother cares a lot about people. She's living with their thoughts. She wants to be praised by everyone. She wants to be the best person in the world.
But for me, the best person is the strongest, the one who doesn't care about anyone, the one who lives her life as she wants, the one who works harder for her dreams and the one who doesn't need people to be happy. I want to be that person.Pesta ulang tahu Ayu berjalan dengan sangat meriah. Bocah yang sudah genap empat tahun itu terlihat cantik dengan gaun ala princess favoritnya. Sepanjang acara senyum ceria tak lepas dari wajah cantik dan menggemaskan itu. Melihat itu Ammar merasa sangat bahagia, usahanya untuk menyenangkan hati putrinya tidak sia-sia. Terlihat dari tawa sang putri menunjukkan bahwa gadis kecil itu menyukai pesta ulang tahun yang dibuatkan oleh papanya. Ammar tidak hanya mengundang teman sekolah Ayu yang sekarang taoi juha mendatangkan teman-teman Ayu di sekolah lama. Tangis bocah itu pun pecah saat melihat, Aisyah sahabatnya di sekolah lama hadir di pesta ulang tahunnya. . "Aisyah.... aku rindu kamu," ucap Ayu memeluk sahabatnya itu sambil menangis. "Aku juga kangen sama kamu, Ayu." Aisyah balas memeluk erat Dahayu. Renjana yang melihat itu jadi ikut terharu, dipeluknya erat lengan Ammar untuk meluapkan rasa harunya. "Makasih ya Mas, sudah membuat Ayu bahagia," bisiknya. Ammar meng
Sesuai rencana, hari ini pesta ulang tahun Dahayu dilaksanakan di sebuah hotel mewah di ibukota. Sejak sehari sebelumnya Ammar memboyong keluarganya untuk menginap di hotel. Ammar mengundang semua kerabat dari dua keluarganya, juga semua kolega bisnis dan teman-teman kuliahnya dulu. Rencana pesta akan dilakukan dalam dua sesi. Pertama, ulang tahun Ayu yang dilaksanakan pukul 10 sampai pukul satu siang dengan tema outdoor. Acara itu mengundang semua teman sekolah Ayu, kerabat dan teman Ammar juga Renjana yang memiliki anak dibawah sepuluh tahun. Lalu, sesi kedua adalah resepsi pernikahan juga sebagai pengakuan bahwa dirinya sudah menikahi Renjana lima tahun lalu. Acara ini akan dilaksanakan pukul tujuh malam sampai pukul 11 malam. Pukul sembilan pagi nampak Gio bersama Arya sedang menemui para pemburu berita yangs udah menunggu sejak pagi di lobby hotel. "Saya Ergio Narendra Fahrezi, perwakilan dari kedua keluarga meminta maaf karena tidak bisa mengizinkan kalian masuk.
Setelah pengakuan Raline, hari itu juga Samudra dibebaskan. Maliq bergegas menjemput putra keduanya itu setelah mendapat kabar dari pengacaranya. "Kamu harus berterima kasih pada Ana, ini semua berkat kecerdikannya sehingga Raline mengakui perbuatannya," ucap Maliq saat mereka dalam perjalanan pulang dari kantor polisi. Samudra hanya diam, pandangannya lurus kedepan. "Sampai rumah makanlah, Mamamu sudah menyiapkan makanan kesukaanmu. Jangan buat Mamamu kecewa!" tambah Maliq. Kali ini Samudra mendengus kasar, meski begitu mulutnya masih terkunci rapat. Kurang sari satu jam mobil berhenti di halaman kediaman keluarga Zafier. Baru saja Samudra turun dari mobil saat pintu rumah mewah itu terbuka. Nampak Rosa berlari keluar untuk menyambut kepulangan putra keduanya itu. Dengan rasa haru istri Maliq itu memeluk putranya. Tangisnya pecah namun segera ditenangkan oleh suaminya. "Sudah, sudah jangan menangis! Semua sudah selesai dan ini akan jadi pelajaran untuk kita semua,"
"Katakan pada temanmu, suruh dia merubah pengakuannya. Kalau Samudra yang memerintahkan dia meracuni putriku. Aku ingin Samudra dipenjara seumur hidup. Kalau kamu bisa melakukannya, aku akan memberikan uang yang cukup banyak untuk kamu pergi ke luar negeri, Bagaimana?" Kedua mata Raline membelalak, ada raut keterkejutan di wajah cantik yang terlihat kusut itu. "Maksudmu?" "Apa kalimatku kurang jelas?" Renjana memajukan tubuhnya, lalu berbisik. "Aku ingin Samudra dipenjara," "Tidak mungkin!!" Raline menggelengkan kepalanya tak percaya. "Ini tidak mungkin. Kamu bukan orang seperti itu. Pasti kamu sedang menipuku," Renjana menegakkan tubuhnya, melipat kedua tangannya di depan dada lalu tersenyum tipis. "Waktu bisa merubah seseorang, termasuk aku." "Tidak. Ammar mungkin bisa berubah tapi kamu tidak mungkin," Raline kembali menggelengkan kepalanya. Wanita itu mengenal Renjana sudah sejak duduk di bangku sekolah, sehingga ia tahu betul seperti apa sifat wanita berhijab it
Sesampainya di rumah Renjana langsung menyerahkan Ayu pada pengasuhnya. "Sama suster dulu, ya Sayang. Mama harus balik ke sekolah," ucapnya yang hanya dijawab anggukan kecil dari sang anak. Sebelum pergi Renjana berpesan pada security rumah untuk tidak menerima tamu. Meski pikiran dan hatinya s
Setengah jam berlalu dan mobil yang dikendarai Samudra sampai di halaman rumah bergaya eropa klasik yang didominasi warna putih. Rumah peninggalan orang tua Oma Rumana. Tepat di depan tangga teras sudah terparkir sedan hitam yang juga baru saja sampai. Bersamaan, Maliq Zafier baru saja turun d
Dari rumah sakit, aku pulang sendiri dengan menggunakan taksi online. Mama Rosa tidak bisa mengantarku pulang karena tiba-tiba tidak enak badan dan kepalanya pusing. "Kamu pulang naik taksi online saja," perintahnya yang dengan senang hati aku lakukan. Pulang sendiri lebih menenangkan untukku,
"Ada apa Mama kesini?" Setelah menunggu dua puluh menit akhirnya sang pemilik ruang kerja datang. Aku dan Mama Rosa langsung mengangkat kepala menatap pria jangkung yang baru saja masuk. "Kamu sudah selesai bertugas?" tanya Mama Rosa pada putra keduanya. "Hem..." jawab Samudra. "Mama sakit?"






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews