Share

Sumber Masalah

last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-10 17:13:05

Manor benar-benar kacau setelah Iris kabur. Para penjaga sudah menyebar dan mencari dengan panik, tapi tetap tidak menemukan. Begitu pula dengan Elliot yang kini terpaksa kembali berkumpul di pelataran.

Namun, di tengah kekacauan itu, dari arah gerbang terlihat seseorang mendekat. Langkahnya tenang dan ringan di bawah langit yang benar-benar gelap, tapi semua orang di manor yang melihat itu tahu.

Sosok itu adalah Silas.

Langkahnya tetap tegap. Tidak goyah atau miring, meski dengan tangan memega
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Tertawan oleh Don Mafia   Tidak Ingin Terlibat

    Ruang tengah diselimuti hawa dingin. Bukan karena AC yang menyala, tapi karena tatapan dua orang yang kini duduk di hadapan Iris. Tidak ada siapa pun lagi di rumah itu. Hanya mereka bertiga. Tubuh Iris sedikit kaku di sofa. Dia nyaris tidak bergerak, sosial gerakan sedikit saja, bisa membuatnya mati. Namun diam-diam, matanya melirik sepasang suami istri paruh baya yang tidak asing. Orang yang ingin Iris hindari sejauh mungkin dan berharap tidak bertemu lagi. Sebastian dan Vivienne. Mereka adalah orang tua Silas yang sebelumnya Iris kira adalah Silas dan Dominic. Sialnya karena mereka telah melihatnya, dia harus terjebak untuk menjamu mereka. Meski sejak lima belas menit berlalu, belum ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Kedua orang di depannya juga tidak membuka mulut. Hanya diam menatap menatapnya dengan penuh penilaian. Iris tidak tahu niat mereka, tapi kini, dia merasa seolah duduk di atas kursi panas, di bawah tuntutan hakim. Hingga untunglah, terdengar suara langka

  • Tertawan oleh Don Mafia   Pertemuan Kembali

    Dua hari berlalu dan tampaknya, tidak ada berita yang benar-benar baik. Pagi itu, Iris menuruni anak tangga hanya untuk mendapati televisi ruang tengah dalam keadaan menyala dan menampilkan berita yang sama tentang anak diplomat. Namun kali ini, kabarnya lebih buruk karena anak diplomat itu ternyata mengalami koma. Utusan dari istana telah menyambangi kediaman diplomat asing, tapi tidak diberitakan secara jelas seperti apa percakapan yang terjadi. Percakapan itu tampaknya dilakukan secara tertutup. Opini publik menjadi liar. Kelab malam Solenne akhirnya disebut-sebut. Begitu pun Silas sebagai pemilik tertinggi dan entah bagaimana, reporter berita mengetahui jika malam itu Silas ada di sana. Semua terlihat melalui sebuah foto dirinya dan Silas saat berjalan masuk. "Astaga."Wajahnya ada di sana. Sangat jelas. Terpampang di televisi dan sudah pasti dilihat semua orang. Foto yang bahkan sama sekali tidak Iris sadari. Tubuhnya oleng. Tangannya meraih sandaran sofa sebagai tumpuan.

  • Tertawan oleh Don Mafia   Bencana Berjalan

    Perjalanan pulang ke wilayah pelabuhan benar-benar tidak menyenangkan. Iris mengalami hangover cukup parah karena baru pertama kali meminum alkohol dan ternyata tubuhnya menolak. Sepanjang perjalanan, dia hanya mampu bersandar di kursi penumpang dengan wajah pucat dan tubuh lemas. Kepalanya masih berdenyut, meski sudah lebih baik setelah dia minum obat. Ketika mobil yang dikendarai Silas perlahan mendekati area gerbang rumah besar, Iris menghela napas lega. Dia ingin kembali tidur. Meski dia tahu jika matahari sudah mulai naik. Namun saat mobilnya berhenti di pelataran rumah, Iris yang mengangkat kepalanya dan hendak keluar, melihat Dominic yang tampak bergegas mendekati mobil. Termasuk beberapa staf rumah yang berkumpul, tapi ada yang berbeda kali ini. Iris tidak melihat mereka seperti hendak menyambut kedatangan Silas. Wajah mereka gelisah. Dominic juga terlihat lebih pucat. Pintu di sebelahnya dibuka pelan, dan seketika langsung menghentikan pengamatan Iris. Sebelum akhirnya d

  • Tertawan oleh Don Mafia   Yang Tidak Seharusnya Disentuh

    Beberapa jam kemudian. Silas berjalan di lorong usai melakukan pemeriksaan bersama dengan Victor. Lorong itu sepi. Hanya suara langkah kaki mereka berdua yang terdengar. "Apa dia akan baik-baik saja?" Victor melirik ke arah Silas. Namun pria yang dilirik itu hanya terus berjalan. Tidak sedikit pun melambatkan langkahnya. "Siapa?""Iris. Kau tahu dengan jelas CCTV itu rusak."Langkah Silas terhenti. Kali ini, perkataan Victor berhasil membuatnya menoleh. "Lalu?""Kau berbohong."Silas berkedip. Ada jeda sesaat, sebelum dia akhirnya melanjutkan langkahnya lagi. "Aku hanya mengatakan ada CCTV di sana."Victor tersentak. Tubuhnya langsung membeku. Diam menatap punggung Silas yang mulai menjauh. Sebelum akhirnya, senyum tipis tersungging di bibir keriputnya. Kakinya kembali melangkah sejajar dengan pria itu. "Aku dengar dari Elliot, dia pernah berniat mencuri sesuatu di ruangan Dominic dan kau mengampuninya.""Ya."Kerutan di kening keriput Victor semakin jelas terlihat. Matanya melir

  • Tertawan oleh Don Mafia   Memfitnah?

    Tak. Dua buah gelas minuman diletakkan Victor tepat di depan Iris dan Silas. Gelas itu berisi cairan berwarna merah yang Iris langsung tahu jika itu adalah wine. Dia tidak mengambilnya sama sekali, saat Silas dan Victor tampak dengan santai menenggaknya. "Maaf, aku tidak minum alkohol," ucap Iris saat Victor meliriknya dan gelas yang tak tersentuh di meja secara bergantian. Pria paruh baya itu meletakkan gelasnya. "Baiklah, kalau begitu aku akan mengambil jus—""Tidak usah."Iris spontan menggelengkan kepalanya saat Victor hendak memanggil anak buahnya yang berada di balik pintu ruangan. Membuat pria itu kembali menatapnya. "Aku tidak haus."Mata Victor bertahan beberapa detik padanya, sebelum akhirnya pria itu mengangguk. Membiarkan suasana canggung mengisi ruang kerja miliknya. Tidak seperti Dominic yang sangat ekspresif, Victor lebih tenang seperti Marcus. Hingga rasanya, Iris seperti terjebak oleh situasi, meski sebenarnya ini jauh lebih baik dibanding apa yang terjadi sebelu

  • Tertawan oleh Don Mafia   Pembuat Masalah

    "Awas!"Iris refleks berteriak. Tangannya mengambang di udara, tapi sebelum dia sempat melihat apa yang terjadi selanjutnya, sebuah tendangan mendarat tepat di dada pria yang hendak memukul Silas. Tubuh itu seketika terjengkang dan membentur sebuah mesin permainan di belakangnya. Botol minuman meluncur dari tangannya dan pecah di lantai. Mulutnya tampak menyembur mengeluarkan darah, tapi pria itu masih sadar. Iris terkesiap. Tengkuknya langsung merinding dan matanya seketika tertuju pada Silas, pelaku yang menendang pria tadi. Suasana di kasino itu juga mendadak hening. Iris tidak sempat memerhatikan sekeliling, karena matanya dibuat terpaku pada cara Silas yang mencoba menghentikan kekacauan, dengan membuat kekacauan yang lebih besar. "Uhuk! KAU! BAJINGAN SIALAN!" Pria yang ditendang Silas batuk darah, tapi tetap berusaha berdiri sambil dibantu dua pengawalnya. Suasana kini tidak lagi terasa kondusif. Kemarahan pria tadi, tidak lagi tertuju pada permainan yang dianggapnya curang

  • Tertawan oleh Don Mafia   Diselamatkan untuk Dihina?

    "Ini pesanannya, Kak. Terima kasih banyak, ya. Semoga harinya menyenangkan."Sapaan hangat dan senyum ceria, membingkai bibir Iris ketika dia memberikan pesanan take away milik pelanggan. Pelanggan yang Iris kira akan menjadi pelanggan terakhir sebelum bisa istirahat makan siang, tapi suara bel di

  • Tertawan oleh Don Mafia   Sisa Harga Diri

    "Hayes? Aku belum pernah mendengar nama itu. Di mana kamu tinggal? Orang tuamu bekerja di pemerintahan mana?"Suara seorang wanita paruh baya terdengar ikut menimpali percakapan. Membuat Iris mengerjap dan menatap wanita yang duduk di samping Octavian. Wanita berambut hitam panjang dengan senyum r

  • Tertawan oleh Don Mafia   Kehadiran yang Tak Diharapkan

    "Rumah orang tuaku."Iris menoleh ke arah Silas. Rasa penasarannya terjawab, tapi jawaban itu juga membuat pertanyaan lain muncul di kepalanya. Meski pertanyaan tersebut tertahan di mulutnya ketika dia menyaksikan Silas keluar dari mobil, diikuti oleh pintu di sebelahnya yang dibuka Elliot. Dia me

  • Tertawan oleh Don Mafia   Kabar Buruk

    "Kenapa wajahmu terus ditekuk seperti itu, Iris? Apa ada sesuatu yang terjadi?"Iris menoleh pada seorang pria yang merupakan barista sekaligus rekan kerjanya. Mereka telah selesai bekerja dan akan pulang karena shift kedua akan segera datang.Sekarang harusnya menjadi saat-saat yang menyenangkan b

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status