LOGINHayana yang selama ini selalu menerima uang lima belas ribu per hari dari suaminya kini mulai berubah. Tersebab Hayana mengetahui gaji suaminya yang lumayan tinggi. Selain itu, Hayana pun menemukan bukti perselingkuhan Arik— suaminya. Perempuan yang mandiri itu memilih mundur dari perkawinannya. Di tengah kemelut rumah tangganya, Hayana dinyatakan hamil. Namun, berita kehamilan Hayana tidak disambut baik oleh Arik. Lelaki itu menuduh Hayana hamil dengan selingkuhannya. Hayana yang memang sudah sakit hati terhadap Arik pun berjanji tidak akan pernah memperkenalkan anaknya pada bapak biologis. Baginya, Arik telah mati sehingga anaknya tak perlu tahu siapa bapaknya.
View MoreARDEN
“No way,” I muttered, staring at the letter in my trembling hand. It had just arrived in the mail, and I had been waiting for it all week.
The gold imprint on the back of the envelope caught my eye—a symbol that confirmed its authenticity. It was a letter from the ‘Elite Order Academy,’ or simply ‘Elite’ for short.
By the time a werewolf turns 20, they can apply to Elite—a name that speaks for itself. Reserved for the most skilled young werewolves in the entire country, it represents the pinnacle of excellence.
For two transformative years, they are moulded into the leaders of their packs, equipped with skills that ensure a promising future. Ever since childhood, I had dreamed of becoming one of the ‘Elites.’ In fact, it seemed that every young werewolf aspired to gain acceptance. However, the stakes felt higher for me.
My parents had graduated from there. So had my two older brothers—one of whom was now in his final year. As the youngest in the family and the so-called ‘black sheep,’ I was met with skepticism at every turn. It was no surprise that my mother had urged me to apply to the local academy, believing that was all I was good for.
I could still replay our dinner conversation from last month in my mind.
“I want to apply to Elite,” I announced, gathering the courage to speak up.
The clinking of utensils halted momentarily, but not a single gaze turned my way.
“Good luck with that, I guess,” my mom, Lorelei, remarked, inspecting her nails with disinterest.
Lucian, my oldest brother, pursed his lips. “Do you really think you can do it?”
“Yes,” I replied, my voice steady despite my racing heart.
Kieran, my brother just a year older, let out a mocking chuckle. I shot him a glare, but it had little effect.
“Oh, sorry,” he said, though he didn’t sound apologetic in the least. “It’s just funny. We all came from Elite; that doesn’t mean you should too. It’s called ‘Elite’ for a reason.”
My dad, Dominic, nodded in silent agreement, his attention glued to his phone. “Just apply to the local academy. I’m sure they’ll accept you based on your last name alone.”
I shook my head, pushing the memory of that bitter conversation away. Then, with trembling hands, I opened the letter that had arrived—my future contained within its folds.
Everyone else had received their acceptance or rejection letters last week.
Except me.
My mom had claimed that I performed so poorly on the written exam that they didn’t even bother to send a letter. But here it was.
I closed my eyes for a moment, fear gripping my chest. When I finally opened one eye, my heart raced as I spotted the word—’accepted.’ I nearly leapt with joy.
Instead, I stifled my excitement, covering my mouth with my hand to suppress a grin. Out in our expansive garden, I was alone, but my family was still inside the house. As much as I wanted to share this incredible news with them and prove them wrong, I needed to tell someone else first—the one person who had always supported me, even when my family turned their backs.
Jaxon Trevane, my mate and the future Alpha of the West.
We had known we were mates since we turned 18, and he had been my unwavering ally since that day. Despite the disapproval of his parents regarding our relationship, he consistently made me feel valued and accepted.
He never asked for much except for one thing.
My virginity
Since the moment we met, he’d been patiently waiting for me to be ready. And now, with this news of acceptance, I felt it was time to give him the reward he had longed for.
As I made my way up the grand staircase of their mansion, my heart raced wildly, the letter clutched tightly in my hand.
“He’s going to be thrilled,” I whispered to myself, a smile creeping onto my face.
When I reached his door, a wave of dread rolled through my stomach. I brushed it aside, placing my hand on the handle and twisting it open.
The smile vanished in an instant. There lay Jaxon—naked, and beneath him lay none other than my best friend for the past decade, Sienna Graves.
“Ah, Jaxon. Right there!”
I froze, my feet rooted in their spot. My throat went dry and I felt numb. I was sure that all of the color from my face had also drained.
“Fuck me better than how you fuck Arden,” she screamed, and I unconsciously clenched my fists, my acceptance letter getting crinkled in the process.
“That prude won’t even let me touch her,” Jaxon growled, devouring her neck. “She thinks her body is a prize just because she’s a virgin.”
“I’ve been treating her kindly for two whole years because of it.”
I felt my heart break. The one person whom I trusted and loved never loved me after all. I shook my head, the tears threatening to fall. However, I bit my lip, not allowing myself to show some weakness.
“And you will never get to touch me,” I spat.
That was when they finally noticed my presence. Their eyes widened, and Jaxon pulled himself out of Sienna, their genitals on full display, making me grimace.
“Arden,” Jaxon muttered. However, there wasn’t an ounce of regret on his face.
Sienna, on the other hand, turned to the side to suppress her smile.
“So, you’ve never loved me after all?”
Jaxon pursed his lips. Then, he sighed. “How can you expect me to love you when you can’t satisfy my needs? Aside from that, I’m going to Elite soon. We won’t see each other then.”
I softly nodded, feeling my knees grow weak. “So, you won’t even apologize,” I muttered.
“Fine,” I said, holding my chin up high.
“I reje—”
“I reject you, Arden Stone, as my mate,” Jaxon said, beating me to it. I felt undeniable pain go through my body, my heart feeling like it was getting ripped out of my chest.
I took deep breaths, trying to lessen the pain. Then, I saw his expression, a small smirk playing on his lips.
“Sorry, Arden,” he said, walking closer to me, still with the same unapologetic look. “You and I weren’t a match anyway.”
"Diana. Tolong cari ke dalam atau belakang!" Hai ... lancang sekali manusia satu itu. "Anda siapa? Berani menggeledah rumah orang? Mau saya laporkan polisi?" Diana tidak mengindahkan ancaman suamiku. Begitu pun dengan Bu Sastra yang terlihat meremehkan Mas Bas.Aku tersenyum kecil saat melihat Diana hendak berjalan ke arah dalam. Kamu jual aku borong! Lihat apa yang akan aku lakukan"Diana. Bukankah kamu itu seorang guru?" tanyaku sinis. Sengaja untuk memancingnya. Setidaknya aku berusaha menggagalkan rencananya untuk masuk kedalam belakang.Diana menghentikan langkahnya. Menatap aku dengan kedua tangan yang dilipat di depan dada."Iya, aku seorang pendidik. Makanya percayakan anakmu padaku. Jangankan mendidik anak tiri, mendidik anak orang saja aku tidak keberatan," jawabnya dengan pongah. Jelas sanggup karena waktumu bersama mereka tidak banyak, belum lagi kamu itu dibayar. Kerja!Aku tersenyum kecil mendengarnya. Begitu pun dengan mas Bas."Benar itu, Haya. Govind lebih pantas di
"Bukankah itu Arik, Sayang? Dia tahu rumah kita dari mana?" tanya suamiku sambil menunggu gerbang dibuka oleh mbok Tum. "Aku juga tidak tahu, Mas." "Sejak kapan berdiri di situ?" gumam mas Bas. Aku mengangkat bahu. Siapa orang yang telah membocorkan alamat kami pada Arik? "Haya. Apa kabar?" sapa Arik setelah kami turun dari mobil. "Seperti yang kamu lihat. Tidak hanya baik, sekarang aku sangat-sangat bahagia." Sengaja aku tekankan kata bahagia. Memang, kenyataan sekarang aku bahagia setelah melewati masa-masa sulit dalam pernikahan kedua ini. Limpahan kasih sayang dan cinta dari suami membuatku hari-hari lebih indah. "Ternyata anak kita sudah besar, ya. Boleh aku menggendongnya?" Arik sudah mengulurkan tangannya hendak menggendong. Namun, aku mengabaikannya. Memangnya dia siapa?"Percaya diri sekali kamu! Memangnya kamu punya anak? Ini anakku dengan Mas Baskoro. Bukankah kamu tidak mempunyai anak denganku?" tukasku, lantang. Seandainya saja waktu itu mulutnya tidak mengeluarka
Mas Baskoro tak melepaskan pandangannya ke Arini. Apa yang ada dalam pikiran suamiku?"Aduh. Tolong aku, Pak. Mbak Haya tiba-tiba melemparkan gelas ke arahku?" Arini memasang muka sedih. "Kenapa kamu tega melakukan semua ini, Mbak?"Rabb. Tolong lindungi hamba dari fitnah Arini. "Kamu kenapa, Rin?" tanya Mas Bas dengan wajah datar. Tidak terpancing sama sekali dengan kelakuan Arini."Pak, tolong. Aku takut. Mbak Haya pasti ingin mencelakai anak kita." "Anak kita?" tanyaku dan suami secara bersamaan.Arini mengangguk wajahnya terlihat puas."Aku lupa belum memberitahumu, Mbak, Pak." Arini segera membuka tas dan mengambil tes pack."Lihat! Inilah alasan aku ingin menjadi madumu, Mbak. Suamimu telah menodai aku ketika menginap di konveksi waktu itu!" Dadaku bergemuruh hebat. Bukan karena aku percaya dengan alat itu, tapi marah dengan kelakuan Arini. Dia tega melakukan apa pun demi mendapatkan incarannya. Aku percaya itu bukan benih suamiku. Namun, tidak mungkin Arini nekat mengatak
POV HayanaAku mematung beberapa saat di ambang pintu. Aku kaget saat melihat siapa yang datang. Ada keperluan apa dia datang ke rumah ini? Kenapa Mbok Tum bilang tidak tahu siapa yang datang? Bukankah wanita ini pernah datang kemari saat diminta untuk menolong Mas Bas waktu itu? Aku semakin dibuat kaget saat menatap wajah Arini. Mengapa dandanannya kini seperti ondel-ondel? Sangat berlebihan. Pipinya dipoles blush on hingga memerah seperti habis ditonjok istri sah. Bibirnya pun diberi warna teramat mencolok seperti habis makan darah. Bulu matanya dipasang anti topan. Aku tidak tahu apa yang membuatnya berubah drastis begini. Aku seperti tak mengenali pribadi Arini lagi. Tidak bertemu beberapa hari mengapa dia menjadi seperti ini? Biasanya dia selalu tampil dengan polesan sederhana sehingga cantiknya alami. Apa yang membuatnya berubah? Aku sengaja menjaga jarak dengannya setelah kejadian itu. Hati ini semakin tidak ingin mengenalnya kembali.Ini pertama kalinya Arini datang ke ru
Wanita yang Kau Sakiti Bab 5Salah satu alasan Hayana tidak betah tinggal di dekat mertuanya, adalah tidak adanya kebebasan pergi berdua dengan kekasih halalnya.Hayana merasa tak tenang setiap mau bepergian.Wanita yang bergelar ibu mertua itu seolah selalu menghalangi kebebasan mereka. Hayana m
"Ngontrak sendiri?" Arik malah mengulang ucapan Hayana. Wanita itu menanti jawaban suaminya dengan seksama."Iya, ngontrak sendiri. Mau kan?" Hayana masih menatap suaminya."Nggak! Aku nggak mau ngontrak lagi. Aku ingin menyatukan kalian! Kamu itu belum kenal Ibu. Tugasku adalah menyatukan kalian!"
Wah, ibu beli cincin baru, ya. Bagus lho, Bu." Hayana mengalihkan pembicaraan. "Iya lah, kan habis dapat duit arisan. Daripada uangnya habis nggak karuan mendingan buat berhias. Benar nggak?" Bu Sastro mengamati perhiasan yang melingkar di jari manisnya tersebut. Tak lama kemudian ngeloyor pulang.
Arik hanya bisa pasrah. Di pabrik dia biasa ngatur orang. Di rumah ngatur orang satu pun dia tak sanggup. Bahkan kini dia yang mulai diatur istrinya. Setengah jam telah berlalu. Arik menghampiri istrinya di dapur. Ini belanjaannya.Mata Hayana membola, bibirnya menahan senyum. "Mas, hebat, ya. Ba












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.