LOGIN"Jadi, apa yang kamu mau?" Mauryn mencoba untuk terdengar tegar meskipun dia gugup. Felix menatapnya lekat dengan senyum tipis menghiasi wajahnya. "Aku? Aku hanya ingin memastikan bahwa aku tidak akan menjadi pecundang lagi, dan kamu tidak mempermalukanku lagi seperti saat itu." ——— Mauryn Alexandra Devina tak sengaja memergoki pacarnya yang berselingkuh dengan seorang wanita di belakangnya. Hatinya hancur mengetahui orang yang paling dia percaya justru mengkhianatinya. Untuk melupakan kesedihannya, Mauryn memutuskan untuk menyambangi sebuah kelab malam. Malam yang dimulai dengan alkohol dan hentakan musik itu justru malah membuat Mauryn berakhir di kamar hotel bersama seorang pria yang tak asing baginya. Karena panik dan malu, Mauryn memutuskan untuk kabur dari hotel. Namun, Mauryn harus menghadapi kenyataan mengejutkan ketika dia kembali bertemu dengan pria dari malam itu yang ternyata adalah CEO baru perusahaan tempatnya bekerja, Felix Nathaniel Mahardika. Bagaimana Mauryn bisa menghadapinya? Felix adalah senior kampus yang dulu pernah dia tolak di depan umum dengan alasan konyol!
View More***Author's Note: This book will not make sense if you do not read the two before this first. So, please read:Book one: P.S. You're My MateBook two: She's My MateBefore reading this book. Thank you and enjoy!!_________________________________________________
QUADE
Poetry. Tattoos. Piercings. Sex.
Those were my coping mechanisms. If one failed me, I always had a backup to help me get through the fucking shit show I called life. One would wonder why the Goddess still kept me alive at this point. I had no sense of self preservation. Of course, I knew how to ensure my survival but the emotions that came with self preservation didn't deter me. Pain and fear? Let's just say I had a fucking high threshold for pain and I never felt fear. I would feel anger way before feeling fear.
It all started with poetry. I loved how words could be twisted, bent, molded, and weaved into something special. No one could take that away from me. Poetry could hold hidden messages that only special people understood, messages that weren't for the faint hearted. I was young when I first found a book of poetry. There were many pieces inside, but the ones that I loved most were the ones that held a certain type of depth and pain. If you asked my Beta, he'd probably just say I loved rhyming words but the twat understood close to nothing at times.
Tattoos were next. When poetry couldn't help my fucked up mind, I resorted to something else. Another form of art. This time, instead of speaking my pain through words, I spoke them through images. They always said a picture held a thousand words. Only few understood just how true that statement was. My first tattoo was on my chest, above my heart. A perfectly drawn wolf with Tatum's initials, birth date, and the day I found her dead scripted beneath. She would always live in my heart, my mind, my memories. All my fucking memories, including the day I found her bloodied corps sprawled across our castle's steps.
Piercings came after the tattoos naturally. They said treat your body as a temple but sometimes I wondered if people ever stepped into any religious place. If they did, they would see the depictions on the stain glass windows or walls and the ornaments that provided beauty to the place. It brought me pain, not much but pain I needed and at the end of the day, I just bloody hell loved them. Fuck what everyone else thought.
Sex came last. I hoped to find my mate when I was a boy. Turning into an adult changed my thoughts completely. It were as if the cogs in my head began turning in reverse, undoing everything I wanted as a kid. Naturally, I tattooed over the spot my mate was meant to mark. It was my way of saying 'even if you mark me, no one would know'. I didn't care much for the mate bond and what came with it so I didn't care to save myself for my mate. That was one thing my ignorant Beta and me had in common.
But fuck, we can't always get what we want.
She stepped foot in front of me and almost everything changed. My victim turned out to be my mate. I was left a sputtering fool. And what unfolded after, no one was fucking ready for that — not even me! I ended up wearing her mark, feeling her pain, dying each day along with her. But who the fuck knew that it would be our pain that would bring us together.
We hated one another, an emotion that came far more naturally than love did. But in the mix, in the turmoil, in the pain, we somehow found a light to guide us out of the pit we buried ourselves in. I may not have been the one she had chosen, but she was willing to give her life up for me and I was willing to do that same.
It wasn't me that saved her that day — although she didn't need saving. But it would be me saving her now. It wasn't my choice then but it would be my choice now. Because then, she fucked up and so did I. But now, we managed to untangle the mess we created. I may have been the villain in her story but I proved the words I had uttered to her when we first met.
Morals held heroes back and when you had none, you became the villain. But, the villain would go to any extent to protect what he believed was most valuable to him and I would do the same. Because Sydney Wilde was much more than my mate, an Alpha, or a Queen.
She was what inevitably saved me!
Seisi Lumora Tech tak henti-hentinya membicarakan kasus yang sedang panas ini. Bahkan, beberapa dari mereka mulai mengorek-ngorek masa lalu Martha demi menyudutkannya."Kamu udah liat foto lama Martha di internet belum?" tanya seorang karyawan laki-laki terhadap rekannya ketika mereka bersantai di cafetaria yang ada di Lumora Tech."Foto-foto lama dia?"Mereka berdua kemudian melihat-lihat foto yang berada pada akun media sosial milik seseorang yang mengaku-ngaku sebagai teman lamanya.Aku kenal dia waktu kuliah. Dia emang suka gonta-ganti pacar dengan cepat. Aku dengar dia membalas itu karena masalah jabatan yang lebih tinggi, udah aku duga.Itulah tulisan caption yang dibagikan oleh orang tersebut."Ya ampun ....""Udah aku duga, sih pasti kayak gini. Pak Ian cuma lagi nggak beruntung aja. Orang jelas banget itu suka sama suka, bukan cuma dia yang salah. Astaga, apa yang udah terjadi sama dunia ini? Saya jadi takut ngo
Martha masih duduk sendirian di meja kerjanya. Pikirannya berkecamuk penuh campur aduk. Dengan perasaan sedikit ragu tetapi juga penuh tekad, dia membuka aplikasi khusus pegawai Lumora Tech yang terinstal di ponselnya. Lalu, kemudian ... mulai mengetikkan beberapa kalimat pada halaman survey kebahagiaan karyawan.Saya korban percobaan pemerkosaan yang dilakukan oleh Pak Ian Wicaksono yang merupakan Kepala Manajer SDM dari Lumora Tech. Perkenalkan nama saya Martha Donna Harahap, Senior Product Manager dari Tim Product Development di Lumora Tech. Pada malam tanggal 30 Oktober, satu tahun yang lalu, saya menjadi korban percobaan pemerkosaan Pak Ian di hotel La Crystal. Pada saat itu, saya adalah seseorang yang ingin menang. Saya kira saya baik-baik saja, sampai akhirnya hal itu terjadi. Saya berniat untuk melaporkan dia atas kejadian itu, tapi rasa takut menguasai saya. Jadi, akhirnya saya memilih untuk lari. Saya bicara sekarang, setahun kemudian, karena saya menyadari Pak Ia
Mauryn berdiri di depan kaca kamar mandi lantai delapan, memandangi bayangannya sendiri yang terlihat jauh lebih tenang dari yang dia rasakan. Bibirnya mengulas senyum tipis, palsu tapi terlatih. Ini bukan tentang keberanian. Ini tentang kebenaran.Dia melirik jam tangan. Sudah hampir waktunya. Ian baru saja selesai memimpin rapat tim divisi lain. Berdasarkan informasi dari Evan, setelah ini biasanya pria itu kembali ke ruangannya selama satu jam sebelum lanjut ke pertemuan berikutnya. Dan itulah jendela waktunya.Namun kali ini, Mauryn tidak akan masuk ke ruangannya.Langkahnya membawanya ke pantry dekat ruang kerja tim engineering, tempat yang jarang dilewati saat jam-jam sibuk. Dia berdiri di dekat mesin kopi, pura-pura sibuk menyiapkan minuman ketika Ian melintas di koridor."Pak Ian," sapa Mauryn dengan suara pelan tapi cukup jelas.Ian menoleh dan tersenyum kecil. "Mauryn. Sedang istirahat sebentar?""Sedikit. Sebenarnya ..
Saat baru saja tiba di kantor, Evan melihat Freya sedang berbicara di telepon dan terlihat sangat frustasi. Dari yang dia dengar, sepertinya wanita itu tengah bertengkar dengan sang ibu. Lantas, dia pun menghampirinya setelah Freya menutup teleponnya.Begitu Freya menutup telepon dan menghela napas panjang, Evan menghampirinya dengan senyum kecil."Astaga. Hidup emang berat buat orang dewasa. Iya, kan?" ucapnya pelan.Freya mendongak. "Kamu denger?" tanyanya canggung.Evan tertawa kecil. "Kabur aja dari rumah. Gimana? Ide bagus, kan?"Freya tergelak. "Apa? Aku bukan bocah. Gimana bisa aku kabur kayak gitu?""Kamu masih kecil. Masih belum 30 tahun, kan?"Tawa Freya pecah lagi. Evan ikut tersenyum melihatnya. "Akhirnya kamu ketawa. Aku ngomong kayak gitu biar kamu ketawa.""Betul, aku jadi ketawa berkat kamu," ucap Freya dengan senyum masih setengah getir.Suasana ringan itu buyar saat ponsel Evan berderi
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.