LOGINีปลายฟ้าแพทย์ทหารหญิงเสร็จภารกิจกับมาพักร้อนที่คอนโดนอนอ่านหนังสือตื่นมาอีกทีอยู่ในโลกคู่ขนานในของหญิงที่มีสามีและลูกแล้วสามีที่ป่วยหนักและผอมแห้ง
View MoreLampu gantung kristal di aula utama Hotel Grand Mahardika berpendar menyilaukan, memantulkan kilau kemewahan yang hampir terasa menyesakkan bagi siapa pun yang cukup peka untuk mencium bau busuk di baliknya. Udara di dalam ruangan dipenuhi aroma parfum mahal, cerutu impor, dan minuman beralkohol kelas atas. Namun di balik semua kemewahan itu, ada sesuatu yang jauh lebih samar dan tidak kalah menyengat. Keserakahan yang dibungkus dengan sopan santun para elit.
Malam ini bukan sekadar pesta merger antara Mahardika Group dan Wijaya Group. Bagi Naura Callista Wijaya, malam ini terasa lebih seperti perjamuan para predator.
Naura berdiri di sudut ruangan, memegang gelas sampanye yang hampir tidak ia sentuh sejak tadi. Gaun satin berwarna nude membalut tubuh rampingnya dengan sempurna, kainnya jatuh lembut mengikuti lekuk pinggang hingga paha. Riasan natural menonjolkan wajah mungilnya—mata kecokelatan yang biasanya tampak cerah kini menyimpan sesuatu yang lebih waspada.
Sebagai model papan atas, Naura tahu persis bagaimana cara berdiri agar terlihat rapuh sekaligus memikat. Bahunya sedikit merosot, dagunya terangkat tipis, dan tatapannya dibiarkan lembut seolah ia sama sekali tidak menyadari puluhan pasang mata yang diam-diam mengamatinya.
Padahal Naura sangat sadar bahwa hampir semua pria di ruangan ini memandangnya seperti barang lelang. Dan mereka tidak sepenuhnya salah.
Di balik kain halus yang menyentuh pahanya, tersembunyi sebuah belati keramik kecil yang terikat rapat dengan strap tipis.
Dingin logamnya menempel pada kulit Naura, menjadi satu-satunya hal yang membuatnya merasa sedikit aman di ruangan yang dipenuhi para serigala berbulu tuksedo ini.
“Tersenyumlah, Naura. Kamera ada di mana-mana.”
Suara bariton rendah itu muncul di sampingnya dengan nada tenang yang tidak memberi ruang untuk bantahan.
Naura menoleh sedikit.
Rafael Adrian Wijaya, berdiri di sana. Dalam setelan tuksedo hitamnya, Rafael tampak seperti sosok CEO muda yang sempurna, tenang, percaya diri, dan penuh karisma. Naura cukup mengenalnya untuk tahu bahwa guratan halus di sekitar mata kakaknya bukan hanya karena kelelahan.
Itu ambisi.
Ambisi yang terlalu besar untuk ditahan.
Naura meneguk sampanyenya sedikit sebelum berbisik pelan, nyaris tanpa membuka bibirnya.
“Jadi… berapa harga yang kalian pasang untukku malam ini, Kak?”
Rafael menatapnya sekilas, jelas tidak menyukai arah pembicaraan ini.
“Naura—”
“Ratusan Milyar?” lanjut Naura dengan nada ringan, seolah sedang bercanda. Ia memutar gelas di tangannya, menatap cairan keemasan di dalamnya. “Atau... lebih?”
Kalimatnya terdengar santai. Namun matanya tidak tersenyum.
Rafael menghela napas pelan sambil melirik sekeliling mereka, memastikan tidak ada tamu yang berdiri cukup dekat untuk mendengar percakapan itu.
“Jangan dramatis, kamu tahu kondisi perusahaan.” katanya akhirnya.
Naura terkekeh pelan. Tawa yang singkat dan kering.
“Benarkah? Karena dari posisiku, ini terlihat sangat dramatis.” Ia menoleh menatap kakaknya. “Kalian menjualku pada Arka Rajendra Mahardika.”
Rafael menegang sedikit.
“Ini hanya pernikahan bisnis, Naura.”
“Dengan pria yang dijuluki Monster oleh dunia bisnis?” Naura mengangkat alis tipis. “Kedengarannya seperti keputusan yang sangat waras.”
“Dua tahun, hanya dua tahun. Setelah itu kamu bisa bebas.” kata Rafael datar.
Naura menatap kakaknya cukup lama hingga Rafael mulai terlihat tidak nyaman. Lalu ia tersenyum tipis.
“Kamu benar-benar gila ya, Kak.”
“Aku hanya menyelamatkan warisan Ayah!” tegas Rafael.
“Dengan menjual adiknya sendiri pada iblis?” Nada suara Naura masih lembut, tapi sesuatu di dalamnya mulai retak.
Rafael akhirnya kehilangan kesabarannya. Ia mendekat sedikit, suaranya turun menjadi bisikan tajam.
“Jangan membuatku mengingatkanmu tentang Dion.”
Nama itu menghantam Naura seperti pukulan. Jari-jarinya langsung menegang di sekitar gelas sampanye.
“Jika kamu menolak ini, aku hanya perlu satu telepon untuk memastikan karier fotografer kecil itu berakhir sebelum matahari terbit.” lanjut Rafael dengan nada yang terlalu santai untuk ancaman seperti itu
Naura terdiam. Ia mematung selama beberapa detik. Sampai kerumunan di dekat pintu aula tiba-tiba bergeser, diikuti riuh kecil yang langsung menyebar di antara para tamu. Beberapa orang menoleh, para fotografer mengangkat kamera mereka, dan dalam hitungan detik perhatian seluruh ruangan tertuju pada satu titik yang sama.
Arka Rajendra Mahardika melangkah masuk.
Ia mengenakan setelan jas navy yang dijahit sempurna, membungkus tubuhnya yang tinggi dan atletis. Rambut hitamnya tertata rapi, sementara senyum ramah yang menghiasi wajah tampannya membuat beberapa wanita di sekitar pintu masuk langsung berbisik kagum satu sama lain.
Jenis senyum yang membuat para pemegang saham percaya bahwa uang mereka berada di tangan yang tepat. Sedangkan untuk para wanita, senyum itu cukup untuk membuat mereka tersihir.
“Selamat malam semuanya,” sapa Arka dengan suara bariton yang tenang dan mudah didengar bahkan di tengah riuh pesta. “Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk hadir malam ini. Selamat menikmati acara malam ini.”Ia tersenyum tipis ketika semua orang memberikan tepuk tangan yang meriah padanya.
Lalu ia berjalan dengan langkah santai, menyapa beberapa investor dengan jabat tangan singkat sebelum akhirnya mendekat ke arah keluarga Wijaya.
Matanya menemukan Naura hampir seketika. Ada sesuatu dalam tatapan itu yang membuat bulu kuduk Naura meremang.
“Arka, senang kamu bisa datang tepat waktu.” Surya Wijaya menyambutnya dengan jabat tangan hangat yang sedikit terlalu antusias.
“Tentu saja, Tuan Wijaya. Saya tidak mungkin melewatkan malam ketika saya akhirnya bisa memiliki permata paling berharga di keluarga Anda.” jawab Arka dengan senyum sopan.
Kalimat itu disambut tawa kecil dari beberapa tamu di sekitar mereka, seolah hanya sebuah pujian biasa.
Namun Naura merasakan sesuatu yang lain di baliknya.
Arka kemudian menoleh ke Rafael.
“Rafael. Kudengar progres pembangunan infrastruktur di proyek Kalimantan kalian mengalami sedikit kendala logistik ya.”ujar Arka pelan.
Rafael langsung mengangguk. “Kami memang sedang mengevaluasi beberapa jalur distribusi.”
“Kita bicarakan itu besok di kantorku, aku yakin kita bisa menemukan solusi yang lebih efisien.” kata Arka santai.
“Tentu, dukunganmu sangat berarti bagi kami.” jawab Rafael dengan cepat. Nada suaranya hampir terdengar seperti bawahan yang sedang berbicara pada atasannya.
Kemudian, tanpa tergesa, perhatian Arka beralih sepenuhnya pada Naura.
Ia melangkah mendekat.
Jarak di antara mereka menyusut perlahan hingga Naura bisa mencium aroma sandalwood yang samar dari tubuh pria itu, aroma yang bersih, mahal, dan entah kenapa terasa berbahaya.
Arka mengambil tangan Naura dengan gerakan yang halus. Ia menunduk sedikit, lalu mengecup punggung tangan itu. Kecupannya sedikit lebih lama dari yang seharusnya.
“Naura Callista Wijaya,” gumamnya lembut.
Ketika Arka mengangkat wajahnya kembali, matanya menatap langsung ke dalam mata coklat Naura dengan intensitas yang sulit dijelaskan.
“Senang akhirnya bisa bertemu dengan calon istriku secara resmi.” senyumnya melebar tipis.
“Kamu bahkan lebih cantik daripada di majalah Vogue.” pujinya tulus.
Kilatan kamera langsung memenuhi ruangan. Para fotografer berebut mengabadikan momen yang terlihat seperti adegan romantis sempurna.
Naura tersenyum dengan profesional, senyum yang sudah ia latih bertahun-tahun di depan kamera. “Terima kasih, Tuan Mahardika.”
Arka sedikit memiringkan kepala, seolah tidak menyukai panggilan formal itu.
“Panggil aku Arka, Sayang. Kita akan segera menjadi satu keluarga, bukan?”
Ia lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Naura, cukup dekat sehingga hanya Naura yang bisa mendengar kalimat berikutnya.
“Simpan ketakutanmu untuk malam pengantin kita sayang.”
Tubuh Naura langsung menegang.
“Aku tahu kamu punya banyak rahasia di balik wajah cantik ini. Dan aku sangat tidak sabar mengulitinya satu per satu.” lanjut Arka pelan.
Arka menarik diri sebelum Naura sempat bereaksi.
Senyumnya kembali sempurna ketika ia menoleh ke arah kamera-kamera yang masih menyala.
Di depan publik, mereka tampak seperti pasangan impian. Namun bagi Naura, perang baru saja dimulai.
Arka melingkarkan tangan Naura ke lengannya seolah itu hal yang biasa.
“Mari kita bicara sebentar,” bisiknya lembut.
Cengkeramannya di pergelangan tangan Naura mengencang, cukup untuk mengingatkan bahwa ini bukan undangan.
Ini perintah.
****
ในวันที่หลี่ถิงแต่งลูกเขยเข้าบ้านมาได้เกือบสามเดือนลูกชายที่กลับมางานแต่งของน้องสาวก็กลับไปเรียนต่ออีกไม่นานก็จะกลับมาบ้านบอกมารดาว่าอยากตั้งสถานศึกษาขึ้นอีกโดยลูกชายของนางจะเป็นคนสอนเองกับหลานของลุงเฉิงให่หลี่ฝูสงสารเด็กไร้บ้านคนขอทานตอนนี้ตัวหลี่ถิงซื้อที่ในตัวอำเภอห่างตัวเมืองแค่5ลี่ได้และได้ก่อสร้างที่พักผิงกับคนอยากไร้สอนอาชีพจักสานปักผ้าออกมาขายให้มีเงินหนุมเวียนในที่พักพิงแยกปลูกข้าวปลูกผักทุกอย่างในเก็บกันโดยไม่ต้องซื้อหามีบ่อปลาขนาดใหญ่เลี้ยงไว้ให้กินกันที่พักพิงทุกคนที่หลี่ถิงช่วยมาจากอารามร้างตอนนี้มีประมาณเกือบร้อยคนรวมทั้งเด็กด้วย สถานศึกษาก็ก่อสร้างติดกันกับที่พักพิงคนยากไร้นายช่างบอกครึ่งเดือนก็จะแล้วเสร็จหลี่ถิงติดต่อนายอำเภอให้หาพ่อค้ามารับซื้อสินค้าในศูนย์พักผิงของทุกอย่างที่ทำออกมาจึงไม่พอขายทำให้ในเมืองคึกคักการค้าขายก็ดีขึ้นการกินอยู่ของชาวบ้านก็ดีขึ้นนายอำเภอก็ได้หน้าตาว่าทำงานดีได้รางวัลมามากมายจึงมาขอบใจหลี่ถิงที่ทำให้เมืองหังโจมีหน้ามีตา ชาวบ้านอยู่ดีมีงานทำและการกินอยู่ก็ดีขึ้นมีพ่อค้าเดินทางมาค้าขายรับซื้อของไปขายต่อไม่ขาด ข่าวลือถึงเมืองหลวงมีขุนนางให
หลังจากกลับมาจากเหลาอาหารแล้วหลี่ฮวาก็มาช่วยช่วยสาวๆในร้านขายของต่อตอนเที่ยงของจากไร่เข้ามาส่งที่ร้านและช่วยกันจัดเรียงสินค้า ในร้านลูกค้าก็เข้ามาเรื่อยๆบางคนมารอซื้อของรอบเที่ยง คนส่วนมากเป็นพ่อบ้านจวนใหญ่ในเมืองที่มาซื้อสองรอบเพราะมีผลไม้ป่าด้วยทุกวันสดและใหม่เสียงหวานใสเรียกลูกค้าและพูดคุยแนะนำสินค้าในร้านอย่างไม่ถือตัวเหวินหลงเดินมาดูร้านของสาวน้อยตั้งแต่กินมื้อเที่ยงเสร็จเขาเดินมาเรื่อยๆดูร้านค้ามาตามทางจนมาหยุดร้านฝั่งตรงข้ามที่เหวินหลงยืนอยู่มองนางขายของในร้านอย่างร่าเริงมีชีวิตชีวาดูสดใสเป็นอย่างมากเหวินหลงเดินเข้าไปในร้านของหลี่ฮวา"ร้านของเจ้ามีของขายเยอะมากเลยนะสาวน้อย" เหวินหลงถามหลี่ฮวา"นายน้อยท่านมาเดินเล่นหรือเจ้าคะเชิญนั่งก่อนเจ้าค่ะ" หลี่ฮวาตกใจเล็กน้อยก่อนจะต้อนรับด้วยรอยยิ้มอย่างมืออาชีพก่อนจะขอตัวไปเอาน้ำส้มคั้นกับขนมมาให้เหวินหลงดื่มพร้อมกับน้ำชาให้นายน้อยเลือกดื่มเอง"น้ำนี้อร่อยมาเลยแม่นางน้ำนี้คืออะไรหรือ และขนมนี้ก็อร่อยมาก" เหวินหลงถามเพราะหลี่ฮวาเอาขนมเค้กที่ท่านแม่เอาให้ตอนเช้ามาทานคู่กับน้ำส้มคั้น"อ้อเป็นขนมที่ท่านแม่ทำเจ้าค่ะนายน้อยและนี้ก็คือน้ำส้
ผ่านมาอีก5ปีที่หลี่ถิงคลอดฝาแฝดให้กับหลี่หยางลูกๆของหลี่ถิงก็ไปเรียนหนังสือกับเด็กๆในไร่ลูกหลานของคนงานในไร่ของหลี่ถิงส่วนหลี่ฝูตอนนี้ได้เข้าเรียนในเมืองหลวงพร้อมกับหลานของลุงเฉินให่กันสามคนและจะกลับมาบ้านปีละสองครั้งทั้งสามคนสอบเข้าได้และมีหอพักอยู่ในสถานศึกษาเลยหลี่ถิงภูมิใจกับเด็กทุกคนๆส่วนหลี่ฮวาก็ปักปิ่นแล้วและชอบค้าขายหลี่ถิงจึงยกตำแหน่งติดต่อกับเหลาส่งผักส่งของไปที่เหลาจึงผ่านหลี่ฮวาทุกอย่างส่วนลู่ตงก็คุมคนงานในไร่แทนพี่สาวพี่ชายงานในไร่จึงไม่มีอะไรต้องห่วง ลู่ชิงมีหน้าที่เลี้ยงลูกๆของเธอกับแม่ของเธอและแม่สามีที่คอยช่วยกันทั้งคุณชายน้อยกับคุณน้อยน้อยของไร่เป็นที่รักใคร่ในความช่างพูดช่างจาออดอ้อนจนคนงานในไร่รักหลงกันทุกคนตัวของหลี่ถิงจึงมีเวลาว่างขึ้นเขากับสามีหาของป่าผลไม้ป่าและต้นอ่อนของผลไม้มาปลูกในไร่ในทุกวันชาวบ้านก็จะเห็นสองสามีภรรยาพากันขึ้นเขาหลังยามเฉินทุกวันหลี่ฮวาหลังจากส่งผักปลากุ้งให้กับเหลาเฟิงฟูแล้วกินมื้อเช้าแล้ว หลี่ฮวาก็จะเข้าเมืองไปช่วยคนงานขายของที่หน้าร้าขายผักของเธอต่อทุกวันเพราะมารดายกให้เธอจัดการทุกอย่างมีพ่อค้าต่างเมืองมารับผักไปขายต่อในหลายเมืองการ
วันนี้ในบ้านไร่เชิงเขาของหลี่หยางกำลังวุ่นวายเพราะนายหญิงของไร่ปวดท้องจะคลอดลูกหลี่หยางเดินวนเวียนไปมาจนทุกคนเวียนหัวอาจารย์จางคุนจึงพูดขึ้นเป็นตัวแทนทุกคน"หลี่หยางเจ้าใจเย็นก่อนข้าตาลายหมดแล้วเดี๋ยวหลี่ถิงก็คลอดเจ้าอย่าลืมว่านางเคยคลอดลูกแฝดให้เจ้ามาแล้วนะ""แต่ข้าเป็นห่วงนางนี้ขอรับท่านลุงเสียงร้องภรรยาใจข้าจะขาดตามนางให้ได้" เลยหลี่หยางตอบ"อือข้าเข้าใจแต่สงบใจเถอะ" อาจารย์บอกด้วยความใจเย็นและให้หลี่หยางใจเย็นๆเหมือนกันทุกคนในไร่ต่างมารอดูนายน้อยคนใหม่กันพร้อมหน้ากันทุกคนเสียงหลี่ถิงกรีดร้องมาครึ่งชั่วยามแล้วหมอตำแยสามคนในห้องและมีฮูหยินจางเสิ่น ลู่หนิงลี่ ฮูหยินเฉินอิงที่อยู่ในห้องกับหลี่ถิงข้างนอกภรรยาของลู่ตงกับลู่ชิงกำลังคุมสาวๆต้มน้ำเข้าไปสำหรับใช้ในห้อง"ใกล้แล้วนายหญิงเบ่งเลยนะเจ้าค่ะ" เสียงหมอตำแยบอกกับหลี่ถิง"เบ่งเจ้าค่ะนายหญิง" เสียงหมอตำแยร้องบอกเสียงหลี่ถิงและผ่นไปสักพักก็แว่วเสียงเด็กร้องแว้ๆดังขึ้น หลี่หยางหายใจโล่งอก"ได้คุณชายน้อยเจ้าค่ะ" นายท่านหลี่หยางยิ้มและเข้าไปรับห่อผ้าสีแดงทารกตัวแดงอวบอ้วนแข็งแรงพร้อมพูดพูดนามเด็กชายด้วยความรัก"หลี่ต้าเฉิงลูกพ่อ"เสียง
ตอนเย็นหลี่ถิงเผาปลาตัวใหญ่สองตัวย่างกุ้งตำน้ำพริกรสเด็ดมีทั้งแบบเผ็ดและไม่เผ็ดถูกใจทั้งเด็กทั้งคนโต ยามซวี่ในห้องนอนหลี่ถิงนอนปรึกษากับสามี"ท่านพี่พรุ่งนี้เราเข้าเมืองกันเจ้าค่ะ น้องบอกเกวียนลุงอูไว้ว่าจะพาท่านไปหาหมอเพื่อกันคนสงสัยว่าท่านหายดีจนเดินได้ยังไง น้องจะบอกเก็บสมุนไพรได้ขายพอมีเงินพาท
หลังจากขึ้นแปลงผักได้มายี่สิบแปลงเธอบอกสามีพักหน้าดินไว้สัก3วันไปขอซื้อขี้วัวมามาใส่แปลงผักทิ้งไว้"เรากินมาข้าวเที่ยงกันเจ้าค่ะ แล้วท่านพี่พาลูกไปซื้อขี้วัวในหมู่บ้านนะเจ้าคะ เวลาปลูกผักจะต้นใหญ่และแข็งแรงและน่ากิน""ได้น้องหญิง"หลี่ถิงเอาข้าวมันไก่ออกมา4จานใหญ่และขนมและน้ำผลไม้ออกมาไว้วางในโต๊ะก
หลี่หยางรีบเดินกับบ้านเพราะเป็นห่วงภรรยาและลูกที่รออยูที่บ้านเดินมาถึงหน้าบ้านก็ต้องตกใจเพราะได้ยินเสียงคนทะเลาะกันดังออกมาจากบ้านของเขาหลี่หยางรีบวิ่งเข้าบ้านทันที วิ่งไปถึงก็ต้องตกใจที่เห็นภรรยาไล่ตีสองแม่ลูกมหาภัยพอดี"น้องหญิงเป็นยังไงบ้างบาดเจ็บตรงไหนบ้าง" หลี่หยางรีบปรี่เข้าไปจับตัวหลี่ถิงหม
ก่อนยามเฉินหลี่ถิงรีบพาลูกสาวไปขึ้นเกวียนในหมูบ้านก่อนออกจากบ้านเธอมองค้อนสามีที่ทำเธอเกือบสาย แต่ทว่าทางด้านหลี่หยางอารมณ์ดีตื่นขึ้นมาช่วยภรรยาทำกับข้าวตอนเช้าอย่างสดชื่นหลี่ถิงพาลูกสาวขึ้นเกวียนรอชาวบ้านที่จะเดินทางไปในเมือง มองเข้าไปในเกวียนมีคนนั่งบนเกวียนแล้วสองถึงสามคน มีแม่เฒ่าหุ่ยหล






![สองแม่ทัพขย่มกลีบโบตั๋น (3p) - [PWP] - [NC30+]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)





reviewsMore