로그인เพื่อนเอาหลานมาฝาก ปลัดวายุ ให้มาฝึกงานและอยู่ที่บ้านด้วย ตอนแรกก็ทำตัวเป็นตาเฒ่าดูแลหลานเพื่อนดี ๆ นี่แหละ แต่ น้ำขิง ก็ร้ายน้อยเสียที่ไหน อ่อยเขาไม่หยุด ทีนี้ตาเฒ่าก็ตะบะแตกแล้วแตกอีกอยากจะขย้ำสักที แต่ติดที่เป็นหลานสาวเพื่อนสนิท ปลัดวายุต้องต่อสู้กับใจตัวเองหนักมาก แต่กว่าจะยอมรับหัวใจตัวเองเรื่องมันก็ไม่ง่ายแล้ว เมื่อความแตกต่างของฐานะนักศึกษาฝึกงานกับปลัดอำเภอมีเส้นของศีลธรรมกั้นอยู่ และยังมีข่าวลือเสียหายออกมาทำให้ทั้งคู่ต้องตกอยู่ในความสัมพันธ์ลับ ๆ อย่างไม่ได้ตั้งใจ . "แกก็อย่าไปแกล้งปลัดเขามากนักเลย เขาจะให้แล้วนั่น" . "ไหนมึงว่าเห็นเป็นลูกเป็นหลานไงวะ แล้วของมึงไป ขึ้น ใส่เขาได้ไง" . "อาวาคะ ถ้าขิงโตกว่านี้อีกสักนิดา...อาจะมองว่าขิงเป็นผู้หญิงคนหนึ่งได้หรือเปล่า" "ไม่ว่าเธอจะโตกว่านี้แค่ไหน...ฉันก็หยุดรอเธอไม่ได้หรอกนะ"
더 보기"Rafli, mulai malam ini, kamu temani tiga anak gadisku, ya!"
Belum sempat aku menjawab "Inggih" atau sekadar mengangguk patuh, suara ketus dari arah tangga langsung memotong pembicaraan kami.
Itu Nona Shella, anak sulung Nyonya Alika yang cantiknya luar biasa, tapi galaknya melebihi induk macan yang sedang menyusui. Wanita muda itu mengenakan kemeja kerja yang dua kancing atasnya sengaja dibuka, memperlihatkan leher jenjang dan tulang selangkanya yang begitu menggoda.
"Mama emang ga mikir dua kali, ya? Ngapain masukin orang kampung ini ke dalam rumah utama? Dia itu cuma sopir, Ma, badannya dekil, item, mana bau lagi! Udah bener dia jadi sopir aja, malah dijadiin pelayan, terus disuruh tinggal pula!"
Aku hanya bisa menunduk semakin dalam sambil meremas topi kumalku, merasakan panas menjalar di telinga bukan karena marah, tapi karena malu menyadari betapa jauhnya perbedaan kasta di antara kami.
Memang benar kata Nona Shella, aku ini cuma pemuda desa yang merantau demi biaya berobat Emak.
Aku pun diam saja karena tidak enak dengan Nyonya Alika, mengingat dia berjanji membiayai terapi Emakku di desa, asal aku mau menjadi pelayan di rumahnya.
Tapi jujur saja, saat Nona Shella marah-marah begitu, dadanya yang naik-turun dengan cepat justru membuat mataku salah fokus, membayangkan betapa sesaknya kancing kemeja itu menahan bola-bola padat di baliknya.
"Shella, jaga bicara kamu! Rafli ini rajin, dia juga kuat angkat-angkat barang berat, kita butuh laki-laki di rumah ini untuk jaga-jaga. Lagipula, paviliun belakang itu kosong dan Rafli bisa sekalian jadi pelayan kalau sopir lagi enggak dibutuhkan."
"Terserah Mama deh, awas aja kalau dia berani macem-macem atau nyolong barang!" Nona Shella mendengus kasar, kemudian pergi ke dapur sambil bermain ponsel.
"Jangan dimasukkan hati ya, Rafli, dia memang begitu kalau lagi capek kerja," ucap Nyonya Alika sambil menepuk bahuku pelan, sentuhan tangannya yang halus terasa hangat menembus kain baju seragamku yang tipis.
"Ba-baik, Nyonya, terima kasih banyak sudah boleh tinggal di sini," jawabku gugup.
Nyonya Alika kemudian terlihat menghampiri kamar Nona Sora, si bungsu yang paling manja, kemudian mengingatkan gadis itu untuk tidur karena besok ada kuliah pagi, sebelum akhirnya Nyonya Alika sendiri masuk ke kamar utamanya.
Satu jam kemudian, suasana rumah besar itu mendadak sepi, hanya terdengar suara gemuruh hujan dan petir yang menyambar sesekali.
Aku baru saja meletakkan tas bututku di kamar pelayan yang sempit, ketika teringat kalau mobil kesayangan Nyonya Alika belum kucuci sehabis dipakai menerobos banjir tadi sore. Lampu garasi sengaja tidak kunyalakan semua demi menghemat listrik majikan, hanya lampu temaram dari teras samping yang menerangi area itu.
Namun, langkahku terhenti mendadak saat melihat ada seseorang duduk di kursi rotan pojok garasi.
Itu Nona Sora.
Si bungsu yang seharusnya sudah tidur sejak Nyonya Alika menyuruhnya satu jam lalu. Dia adalah mahasiswi baru dan sekarang sedang duduk santai sambil menonton film di tabletnya, kakinya diselonjorkan ke kursi lain.
Napasku tercekat di tenggorokan saat melihat apa yang dia kenakan.
Nona Sora hanya memakai kaus oblong putih kebesaran yang tipis dan celana gemes super pendek yang bahkan nyaris tak bisa menutupi pangkal pahanya. Paha putih mulus yang padat berisi itu terpampang nyata di depan mataku, bersinar remang-remang tertimpa cahaya lampu teras, terlihat begitu lembut dan kenyal seperti tahu sutra yang baru matang.
"Waduh, cobaan macam apa lagi ini, Gusti. Mulus banget, sumpah. Gadis desa banyak, sih, yang mulus, tapi ga semulus itu. Putihnya udah kayak tembok aja!”
Nguk!
Ngiek!
“Oiiii, asem lah, jangan bangun oii, Gatot!" Aku menepuk-nepuk si Gatot agar dia tidak semakin menegak.
Tapi…
Nona Sora sepertinya tidak menyadari kehadiranku karena dia memakai headphone besar di telinganya, sesekali dia terkikik geli sambil mengubah posisi duduknya, membuat kaus itu tersingkap sedikit lebih tinggi dan memperlihatkan pangkal pahanya yang menggoda.
Aku buru-buru memalingkan wajah ke arah mobil, takut kalau terus-terusan melihat nanti mataku bintitan atau malah si Gatot bangun dan memberontak minta jatah. Dengan langkah pelan agar tidak mengganggu Nona Sora, aku berjalan menuju mobil sedan mewah milik Nona Shella yang terparkir di sebelah mobil reborn klasik keluaran terbaru berwarna hitam.
Anehnya, meskipun mesin mobil itu mati, aku mendengar suara-suara aneh dari arah sana, seperti suara orang sedang berbisik-bisik atau menahan sakit.
Plak!
Plak!
Plak!
Semakin dekat aku melangkah, semakin jelas suara itu terdengar di sela-sela suara hujan.
Dan… sialan!
Itu suara desahan napas yang memburu dan suara dua sejoli beradu "plak, plak, plak", dan iramanya teratur.
Karena penasaran dan takut ada maling yang bersembunyi di dalam mobil majikanku, aku memberanikan diri untuk mengintip dari kaca samping yang tidak terlalu gelap. Mataku melotot nyaris keluar dari kelopaknya saat melihat pemandangan di dalam sana melalui celah embun yang sedikit bersih.
Di jok depan yang sudah direbahkan itu, Nona Shella sedang berada dalam posisi yang sangat tidak senonoh, duduk di pangkuan seorang pria asing sambil bergerak naik-turun dengan tempo cepat. Kemeja kerjanya sudah terbuka lebar, memperlihatkan dua bukit kembarnya yang berguncang hebat mengikuti irama gerakan tubuhnya, sementara kepalanya mendongak ke atas dengan mulut terbuka lebar mendesahkan nikmat.
"Oh, yes, ahh… iya, iya, di situ, terus, Sayang, percepat lagi!"
"Aku bentar lagi sampai puncak!"
Jadi, pacar Nona Shella yang katanya anak pejabat itu diam-diam menyelinap masuk ke garasi saat hujan deras begini?
Pantas saja tadi Nona Shella marah-marah saat aku masuk, ternyata dia takut aksi kuda-kudaan rahasianya ketahuan orang rumah.
Keringat dingin mulai mengucur di pelipisku, pemandangan tubuh indah Nona Shella yang biasanya tertutup rapat pakaian kantor yang rapi.
Kemeja putihnya sudah terbuka lebar hingga ke perut, menampilkan dua dada montok nan putih mulus yang basah oleh keringat, berguncang hebat ke atas dan ke bawah, mengikuti tempo pinggulnya yang menghantam pangkuan pria itu.
Setiap kali tubuhnya terhempas turun, gundukan kenyal itu terguncang liar seolah ingin tumpah keluar, menciptakan hipnotis yang membuat akal sehatku hilang seketika.
Darahku mendidih, mengalir deras ke satu titik hingga si Gatot terbangun paksa dan menegang sakit di balik celana kainku yang sempit, berkedut-kedut ingin ikut serta dalam pesta di dalam sana.
Seharusnya aku lari, tapi kaki sialan ini malah terpaku, menikmati bagaimana paha mulus Nona Shella yang terbuka lebar itu menjepit pinggang pacarnya dengan erat.
Si Gatot di bawah sana justru berdenyut antusias merespons pemandangan live show gratis yang baru saja kusaksikan. Tanpa sadar, kakiku mundur selangkah dan menginjak ranting kering yang terbawa angin ke lantai garasi.
KRAK!
Suara patahan ranting itu terdengar cukup keras di tengah kesunyian garasi, membuat gerakan liar di dalam mobil itu terhenti seketika. Dua pasang mata dari dalam mobil menoleh panik ke arahku yang berdiri mematung dengan ember di tangan dan wajah bodoh yang tak berdosa.
"Mampus aku, kayaknya aku ketahuan sama Nona Shella!"
บทส่งท้ายลมยามเย็นพัดผ่านยอดต้นลีลาวดีที่เรียงรายอยู่รอบบ้านของปลัดวายุ เงาไม้ทอดยาวลงบนพื้นดินที่เริ่มเย็นลงหลังพระอาทิตย์ลาลับฟ้า กลิ่นหอมอ่อน ๆ ของดินชื้นและกลิ่นหญ้าตัดใหม่ลอยมาตามธรรมชาติของชนบทที่น้ำขิงคิดถึงเสมอวันนี้เป็นวันหยุดที่ปลัดวายุจองไว้สำหรับเธอเพียงคนเดียว เขาบอกว่าอยากให้เป็นวันคืนกำไรให้หัวใจตัวเอง ซึ่งเธอไม่รู้เหมือนกันว่ามันหมายความว่าอะไร จนตอนนี้...ปลัดวายุจูงมือน้ำขิงเดินลงทางลาดชันด้านหลังบ้านไปเรื่อย ๆ ทางเดินกรวดเล็ก ๆ นำไปสู่ทุ่งนากว้างที่ทอดไกลสุดสายตา แสงสุดท้ายของวันยังคงติดอยู่บนขอบฟ้าเป็นริ้วสีส้มละมุนเหมือนระบายด้วยพู่กัน"เดินไหวไหม" เขาถามพร้อมเหลือบมองฝ่าเท้าเล็กที่ใส่รองเท้าผ้าใบสีขาว"ไหวสิคะ หนูไม่ใช่เด็กแล้วนะ" เธอหัวเราะน้อย ๆ แต่ก็ยังยอมให้เขากุมมือแน่นเหมือนเดิม"ไม่ใช่เด็กก็จริง...แต่ก็ยังเป็นเด็กของพี่อยู่ดี"คำพูดนั้นทำเอาน้ำขิงหน้าแดงก่ำ เธอเม้มปากแต่ก็ไม่ได้ดึงมือออก มีเพียงหัวใจที่เต้นแรงจนเหมือนจะดังออกนอกอกพอมาถึงลานกว้างกลางทุ่งนา น้ำขิงก็ต้องหยุดหายใจไปเสี้ยววินาทีที่กลางลานนั้น...มีผ้าปูปิกนิกสีครีมอ่อนปูไว้เรียบร้อย มีตะกร้า
..คาเฟ่เล็ก ๆ กลางอำเภอช่วงสายของวันหยุดคนไม่เยอะเท่าไร น้ำขิงนั่งกอดแก้วโกโก้เย็นไว้แน่น แก้มขึ้นสีระเรื่อ ๆ โดยไม่รู้ว่าตัวเองเผลอยิ้มออกมาบ่อยแค่ไหน มุกดาเพื่อนสนิทแค่เห็นท่าทางก็ยักคิ้วให้ทันที"อือหือ ยิ้มแบบนี้คือเรื่องมันดีมากสินะยะนังขิง" น้ำขิงหลบสายตา ทำหน้าเหมือนไม่รู้เรื่อง แต่ปลายหูแดงแจ๋จนมุกดาเห็นชัด"อย่ามาทำเนียนนะคะคุณหนูน้ำขิง เล่ามาเดี๋ยวนี้ เร็ว!" น้ำขิงเงียบไปครู่หนึ่งแล้วก็ยกแก้วขึ้นมาจิบ ก่อนจะหลุดยิ้มกว้างจนคุมไม่อยู่"ก็...ก็คบกันแล้วล่ะ พี่วาก็ดูแลฉันดีมากด้วย..." มุกดาส่งเสียง "ฮู้ววววว" แบบแซว ๆ "ในที่สุด! ปลัดกับเพื่อนข้าก็กลับมาเป็นคู่ขวัญอำเภออีกครั้ง!" เธอพูดพลางตบโต๊ะจนแก้วน้ำไหวจนน้ำขิงรีบห้าม"อย่าเสียงดังสิ! เดี๋ยวคนได้ยินหมด" แต่รอยยิ้มก็ยังซ่อนในแก้มไม่ได้ มุกดาเทข้อศอกพิงโต๊ะ ยิ้มเจ้าเล่ห์"เล่ามาเลย ว่ากลับไปดีกันยังไง ทำไมถึงได้ออร่าหวานขนาดนี้ เดี๋ยวนี้เดินยังฟีลนางเอกขึ้นเยอะเลยนะยะ"น้ำขิงทำท่าจะตีเพื่อนแต่ที่สุดก็ยอมเล่า น้ำเสียงอ่อนลงเหมือนหัวใจยังเต้นแรงไม่หยุด"คือ...พอกลับมาที่บ้านพักน่ะ ทุกอย่างมันเหมือนเดิมเลย แล้ว..." เธอหลุบตา "
แสงเย็นของยามค่ำทอดลงมาบนบ้านพักหลังเล็ก ความเงียบสงบที่น้ำขิงคุ้นเคยเต็มไปทั่วบริเวณ แม้ใจของเธอจะเต็มไปด้วยความคิดถึงและความสับสน แต่ที่นี่ยังคงอบอุ่นเหมือนเดิม เหมือนเวลาที่เธอเคยนั่งอยู่คนเดียวหลายครั้ง หัวใจได้พักพิงในมุมเล็ก ๆ แห่งนี้น้ำขิงเดินเข้าไปหน้าบ้าน ตั้งใจว่าจะเข้าไปหาคุณแม่ของเขาสักหน่อย แต่ปลัดวายุเดินตามมาไม่ไกลนัก"น้ำขิง...แม่ไปหาหลานที่บ้านหมอองศาแล้วครับ" เขาพูดด้วยน้ำเสียงเรียบแต่แฝงความอ่อนโยนน้ำขิงหยุดก้าวนิ่งอยู่สักครู่ ก่อนจะถอนหายใจเบา ๆ แล้วค่อยเดินไปนั่งที่ม้านั่งหินอ่อนมุมเดิมที่เธอชอบนั่งเมื่อก่อน สายตาของเธอจับจ้องไปยังบ้านพักความทรงจำเก่า ๆ หลายเรื่องไหลย้อนกลับมา"ที่นี่ยังเหมือนเดิมเลยนะคะ" น้ำขิงพูดเบา ๆ ราวกับเอ่ยกับตัวเอง น้ำเสียงแผ่วบาง แต่เต็มไปด้วยความคิดถึง ปลัดวายุเดินเข้ามาใกล้ทิ้งตัวนั่งลงข้าง ๆ เธอไม่เร่งร้อน ไม่พูดอะไรสักครู่เพียงแต่สายตาของเขาเต็มไปด้วยความจริงใจ"ก็รอหนูกลับมาอยู่ที่นี่ไง" เขาพูดเสียงนุ่มทำเอาน้ำขิงหลับตา ยิ้มบาง ๆ "จะเป็นแบบนั้นได้ยังไงกัน...อย่าพูดอะไรแบบนั้นเลยค่ะ" ปลัดวายุเงียบแล้วเอื้อมมือไปจับมือเธอ มือของเขา
ตอนที่ 13 จีบได้ไม่ได้เป็นเด็กฝึกงานแล้วหนึ่งอาทิตย์เต็ม ๆ ที่น้ำขิงย้ายกลับมาบรรจุ ทุกอย่างก็ดูเหมือนจะเดินหน้าได้ด้วยดี ถ้าไม่นับว่าปลัดวายุทำตัวแปลกไปมาก...มากจนคนทั้งอำเภอเริ่มซุบซิบกันเบา ๆ ถึงความสัมพันธ์ของเขากับน้ำขิงน้ำขิงพยายามหลบแล้ว หลบทุกทางเท่าที่จะหลบได้ แต่ผู้ชายอย่างปลัดวายุน่ะ ถึงแม้ว่าจะเป็นคนสุขุม ใจเย็น ไม่ค่อยใช้คำพูดพร่ำเพรื่อ แต่พอจะเอาจริงขึ้นมา ก็กลายเป็นคนดื้อด้านที่สุดเท่าที่เธอเคยรู้จักเขามาตามเธอถึงงานเอกสาร มาที่ห้องสาธารณสุข มาที่ประชาสัมพันธ์ มาที่โรงอาหารตอนพักเที่ยง มาที่ระเบียงอาคารช่วงบ่าย ยันทางเดินหลังสำนักงานตอนเลิกงาน เหมือนเขามีเซนส์พิเศษรู้ว่าน้ำขิงจะไปไหนตอนไหนทุกครั้งที่เจอ เขาจะพูดแค่ประโยคเดิม ๆ เบา ๆ แต่จริงจังจนเธอใจสั่นทุกที"น้ำขิง... พี่ขอคุยด้วยหน่อยได้ไหมครับ" แต่น้ำขิงก็ยังหน้านิ่งเหมือนเดิม ใจสั่นแต่จำเป็นต้องเก็บไว้ข้างใน เพราะเธอกลัวว่าตัวเองจะหวั่นไหวและเจ็บซ้ำอีกวันนี้ก็เหมือนกัน...หลังประชุมใหญ่ที่ห้องประชุมอำเภอ เธอรีบเก็บแฟ้มแล้วเดินออกมาโดยตั้งใจว่าจะไปกินข้าวกับพี่มุกดาเพื่อหลบหน้าเขา ทว่ายังไม่พ้นประตูดี เสียงทุ้ม
ตอนที่ 12 การกลับมาเจอกันอีกครั้งหนึ่งปีผ่านไปอย่างรวดเร็ว...แต่สำหรับปลัดวายุ มันคือหนึ่งปีที่ยาวนานที่สุดในชีวิตหนึ่งปีที่เขาตามเฝ้าน้ำขิงทั้งเงียบ ๆ หนึ่งปีที่เขาหันไปทางไหนก็มีแต่ความว่างเปล่าที่เธอเคยอยู่ หนึ่งปีที่เขาต้องทนกับความจริงว่า เขาทำคนสำคัญที่สุดในชีวิตหลุดมือไปเขายังคงทำงานที่อ
..วันอาทิตย์ที่แสนจะเงียบสงบที่ช่างแตกต่างจากจิตใจของคนที่ทำหัวใจหล่อนหายไปอย่างสิ้นเชิง ปลัดวายุใช้เวลาอยู่หลายวันในที่สุดก็ทำใจได้ที่จะไปหาใครบางคนที่เขาเลี่ยงมาตลอดเขาตัดสินใจไปหาครามเพื่อนสนิทของตัวเองผู้เป็นอาของน้ำขิง และคิดว่าเป็นคนแรกที่คิดว่าน่าจะรู้เรื่องทั้งหมด เรียกง่าย ๆ ก็คือเขาพร้
ตอนที่ 11 รู้ตัวเมื่อสายในสถานีอนามัยช่วงบ่ายแก่ ๆ ลมร้อนพัดเอื่อย ๆ เข้ามาทางหน้าต่าง หมอองศากำลังนั่งกรอกเวชระเบียนอย่างเบื่อหน่าย แต่พอเงยหน้าก็เห็นปลัดวายุผู้เป็นพี่ชายเดินเข้ามาเงียบ ๆ ใบหน้าเขาดูเครียด เหนื่อย และเหมือนคนที่ไม่ได้นอนมาหลายคืนดวงตาคล้ำชัดเจนจนองศาต้องขมวดคิ้ว แต่วายุไม่พูดอะ
..กว่าสามสัปดาห์หลังจากน้ำขิงย้ายออกไป หากเทียบระยะเวลาดูแล้วก็คงเป็นการจบการฝึกงานของเธอในวันนี้...ชายหนุ่มตื่นขึ้นมาพร้อมความไม่สดชื่นเลยสักนิด บ้านของปลัดวายุเงียบสนิทกว่าทุกครั้งที่เขาจำได้ ไม่มีเสียงหัวเราะ ไม่มีเสียงเรียกเขาจากชั้นล่างเพื่อให้ลงไปกินข้าวเช้า ไม่มีสายตาเจ้าเล่ห์มองเขาเหมือน






![Vampire Queen | ราชินีแห่งรัตติกาล [PWP] + [NC30+]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)




