พิศวาสลวงบ่วงมาร

พิศวาสลวงบ่วงมาร

last updateLast Updated : 2025-08-19
By:  Luffy.gOngoing
Language: Thai
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
55Chapters
865views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

ปรมาจารย์ผู้เยือกเย็นดุจน้ำแข็งกลับได้พบกับ "มารน้อย" ผู้มาพร้อมรอยยิ้มงดงามที่ซ่อนคมมีดแห่งแผนการร้าย หนึ่งคือปรมาจารย์ผู้ไร้หัวใจ... หนึ่งคือจอมมารผู้ไร้ปรานี... เขาคือจอมมารผู้หมายจะช่วงชิงทุกสิ่ง แต่ใครเล่าจะรู้ว่าในเกมแห่งการล่อลวงจะกลายเป็นพันธนาการนิรันดร์ เมื่อบ่วงมารร้อยรัดดวงจิต ปรมาจารย์ผู้สูงส่งต้องเลือกว่าจะยอมจำนนต่อไฟพิศวาส หรือดับมอดไปพร้อมกับแผนการที่ถูกถักทอ

View More

Chapter 1

บทที่ 1 ผู้มาเยือน

Sandra terbangun di rumah sakit dengan perasaan kosong. Matanya menyapu ruangan yang asing—dinding putih, bau antiseptik, dan suara detak jam yang terasa mengganggu.

"Siapa kalian?" Suaranya terdengar ragu, hampir tak percaya pada apa yang diucapkannya.

Seorang wanita muda yang duduk di dekatnya, tampak terkejut. "Masa kamu tidak mengenali kami?"

Sandra mencoba mengingat, menggapai kenangan yang mungkin masih tersisa, tapi semuanya terasa kabur, seperti bayangan yang hilang dalam kabut. Tidak ada yang terasa familiar.

Tiba-tiba, seorang pria berlari mendekat. Dia adalah Leo, kekasihnya. Tanpa ragu, Leo memeluknya erat, seolah tak ingin melepaskan.

"Akhirnya kamu selamat," bisiknya dengan suara parau, penuh kelegaan, tapi juga ada ketakutan yang samar di sana.

"Aku sangat takut... Tolong, jangan pergi lagi dariku," Leo melanjutkan, suaranya hampir putus-putus.

Sandra diam, tubuhnya menegang dalam dekapan itu. Luka-luka di tubuhnya masih segar, rasa sakitnya menjalar ketika pelukan Leo semakin erat. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi hanya ketakutan yang muncul, membungkam kata-katanya.

"Siapa kamu?" Sandra berteriak, dorongannya membuat Leo terjatuh ke lantai.

Leo terdiam, menatap Sandra dengan mata yang tampak penuh kebingungan dan kesedihan. "Sandra, aku Leo... Kekasihmu," katanya, berusaha menjelaskan.

Namun, Sandra hanya bisa menatapnya kosong. Tidak ada kenangan, tidak ada perasaan.

Tiba-tiba, suara seorang wanita paruh baya memecah keheningan. "Leo, hentikan! Jangan buat dia takut seperti itu!" Ibu Leo berdiri di ambang pintu, wajahnya penuh kecemasan.

Sandra, masih terisak, duduk di pojok ruangan, merangkul tubuhnya sendiri. Keheningan yang mengisi ruangan seperti sebuah dinding tebal, menutupi setiap kenangan, setiap wajah yang seharusnya ia kenali.

Air mata menetes perlahan, dan ia hanya bisa menangis, merasa terjebak dalam tubuh yang tak lagi ia kenali. Semua terasa asing—namanya, wajahnya, bahkan dirinya sendiri. Seperti lembaran buku yang kehilangan halamannya.

"Sandra..." Suara lembut itu datang mendekat, membawa sedikit kenyamanan. Seorang wanita, dengan wajah penuh kasih, berjongkok di depannya. "Ini aku, Ibu Leo. Kami di sini untukmu."

Tapi kata-kata itu hanya terasa seperti gema kosong. Sandra menatapnya dengan mata yang kosong, tanpa rasa. Kepalanya terasa berat, seperti ribuan jarum menghujam setiap kali ia mencoba mengingat.

Dokter masuk, memperingatkan semua orang. "Biarkan dia tenang dulu. Kenangannya akan kembali perlahan."

Ibu Leo mengulurkan tangan, berharap Sandra bisa merasa nyaman. "Ayo ikut kami, Sandra. Kami akan membawamu pulang," ujarnya lembut.

Sandra menatap mereka dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Di mana keluargaku? Kenapa aku harus ikut kalian?" tanyanya, suaranya serak. "Apakah aku tidak punya keluarga?"

Ibu Leo dan Leo terdiam. Mereka tak tahu apa yang harus dijawab. Keheningan menggantung berat di udara.

Sandra kembali terisak. Leo menunduk, tidak tahu harus berbuat apa selain merasakan perasaan kosong yang memenuhi hatinya.

Di saat-saat itu, seorang wanita paruh baya lain muncul di ambang pintu. Wajahnya penuh kehangatan, dengan kerutan yang menunjukkan pengalaman hidup yang panjang.

"Sandra... Ini aku, Bi Rina. Ingatkah kamu?" katanya dengan suara lembut.

Sandra memandangnya dengan tatapan kosong, tapi ada sesuatu yang samar, sesuatu yang terasa akrab, meskipun kenangan itu belum kembali sepenuhnya. Bi Rina, wajah yang penuh kasih sayang, seolah mengirimkan perasaan nyaman yang belum ia rasakan selama ini.

"Bi Rina..." Sandra berbisik, suaranya hampir hilang di udara.

Bi Rina mendekat, tersenyum lembut. "Kamu bisa ikut aku, Sandra. Aku akan menjagamu seperti dulu. Kamu aman bersamaku."

Sandra menunduk, mencoba mencari jawaban dalam kepalanya yang kosong. Perasaan itu... perasaan aman yang datang dari Bi Rina membuatnya merasa sedikit tenang. Mungkin, hanya dia yang bisa membuatnya merasa seperti dirinya sendiri.

Leo dan ibunya hanya bisa diam, melihat Sandra yang begitu rapuh. Mereka tahu bahwa dalam keadaan seperti ini, orang yang bisa memberi kenyamanan lebih dari sekadar kenangan adalah seseorang yang pernah ada dalam hidupnya.

Bi Rina meraih tangan Sandra, menggenggamnya dengan lembut.

Namun, sebelum mereka melangkah lebih jauh, Leo dengan cepat menyusul mereka dan kembali merengkuh Sandra dalam pelukannya. "Sandra... kamu tidak boleh pergi," katanya, suaranya bergetar, hampir putus asa. "Aku tidak bisa membiarkanmu pergi begitu saja."

Sandra membeku, rasa takut semakin mencekamnya. Pelukan Leo yang dulu memberi kenyamanan kini terasa seperti belenggu. Ia ingin berteriak, tetapi kata-katanya terhenti, tenggelam dalam ketakutan.

"Leo!"

"Ibu... aku tidak bisa!" Leo berteriak, semakin keras, menahan Sandra dalam pelukannya. "Dia milikku. Aku yang akan menjaganya."

Ibu Leo berlari mendekat, tampak marah. "Lepaskan dia, Leo! Apa yang kamu lakukan? Sandra butuh ruang untuk memilih sendiri," suaranya penuh kemarahan.

Bi Rina yang berdiri di sisi Sandra segera maju, wajahnya berubah tegas. "Leo, kamu tidak bisa memaksanya seperti ini. Sandra berhak memutuskan dengan siapa ia merasa aman," katanya dengan suara tajam. "Tindakanmu hanya akan membuatnya semakin takut."

Sandra menatap Leo dengan penuh ketakutan, dan dalam suara gemetar, ia memohon, "Lepaskan aku... Tolong, Leo, aku tidak mengenalmu... Aku tidak ingin dipaksa..."

Kata-kata itu menembus hati Leo seperti jarum tajam. Ia terdiam, perlahan melepaskan Sandra, merasakan perih yang tak terkatakan. Sandra mundur beberapa langkah, berdiri di samping Bi Rina. Dalam keheningan yang menyesakkan, Sandra merasa sedikit cahaya—harapan baru—masih ada. Mungkin, dengan Bi Rina, ia bisa menemukan dirinya kembali.

Bi Rina menggenggam tangan Sandra dengan penuh kasih sayang. "Ayo pulang, Nak. Kita mulai lagi dari awal, bersama-sama."

Sandra mengikuti langkah Bi Rina dengan ragu. Namun, langkahnya terhenti ketika suara Leo memanggilnya lagi, lebih pelan kali ini. "Sandra..." Suara itu bergetar, memohon dengan kesedihan yang mendalam.

Sandra menoleh. Tatapan Leo penuh rasa putus asa, cinta, kehilangan, dan rasa bersalah. Ada sesuatu di sana yang terasa akrab, meski samar. Ia mencoba menggapainya, mencoba mengingat wajah itu, suara itu, atau mungkin perasaan yang seharusnya menyertainya. Tapi yang ia rasakan hanya kekosongan.

"Aku mohon, Sandra... Jangan tinggalkan aku," kata Leo lagi, suaranya hampir tenggelam.

Kata-katanya menusuk sesuatu di dalam diri Sandra, sebuah ruang yang sebelumnya kosong kini terasa bergetar. Namun, rasa itu tak berbentuk—hanya sebuah desakan samar yang membuat pikirannya terasa berat. Ia ingin mengingat, tapi setiap kali mencoba, rasa sakit menyergap kepalanya.

Sandra memegangi pelipisnya, wajahnya meringis. "Kenapa aku tidak bisa mengingatmu?" bisiknya, nyaris tak terdengar. "Kenapa aku merasa ada sesuatu... sesuatu yang penting, tapi tidak bisa aku temukan?"

Leo melangkah maju, ingin menjawab, tapi Bi Rina segera berdiri di antara mereka. "Cukup, Leo. Jangan buat dia semakin bingung," kata Bi Rina tegas.

Namun Sandra mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Bi Rina berhenti. "Aku ingin tahu... Aku ingin tahu siapa kamu sebenarnya," katanya pada Leo, suaranya gemetar. "Tapi setiap kali aku mencoba, aku merasa seperti... aku tenggelam. Kenapa?"

Leo terlihat ingin mengatakan sesuatu, tetapi ia menunduk, tak sanggup menjawab.

Sandra mendesak lebih keras, hampir berteriak, "Siapa kamu, Leo? Apa yang sebenarnya terjadi padaku?"

Tidak ada jawaban. Leo hanya berdiri di sana, diam, dengan wajah penuh rasa sakit. Ibu Leo mencoba mendekat, tetapi Sandra mundur, menggelengkan kepala. "Semua ini... semua ini terasa salah. Aku tidak tahu apa yang benar, atau siapa yang bisa kupercaya," katanya, suaranya mulai tersendat.

Rasa pening mulai menjalar di kepalanya. Pandangannya mulai berputar, dan tubuhnya terasa lemas.Sandra mulai kehilangan keseimbangan.

Ketika Sandra mulai goyah, rasa pening yang menyerangnya menjadi semakin tak tertahankan. Pandangannya buram, tubuhnya terasa lemas, dan akhirnya ia roboh. Bi Rina dengan sigap menangkapnya, namun Leo lebih cepat melangkah maju, wajahnya diliputi kepanikan.

"Sandra!" seru Leo, suaranya pecah. Ia berlutut di sebelahnya,kedua tangannya mencoba menangkapnya. "Kamu baik-baik saja? Sandra, tolong jawab aku!"

Namun, Sandra mengangkat tangannya yang gemetar, menahan Leo untuk menjaga jarak. Matanya yang redup menatapnya dengan kesedihan bercampur ketegasan. "Jangan... jangan sentuh aku," bisiknya lirih.

Leo tertegun, tangannya menggantung di udara sebelum akhirnya ia mundur perlahan, meskipun raut wajahnya penuh rasa cemas. "Aku hanya ingin memastikan kamu—"

"Jangan," potong Sandra, nadanya memohon sekaligus tegas. Ia memalingkan wajah, menatap Bi Rina. "Bi Rina... tolong bawa aku pergi dari sini," katanya, suaranya semakin lemah.

Bi Rina mengangguk, menopang tubuh Sandra yang gemetar. "Ayo, Nak. Kita pergi sekarang," katanya lembut namun tegas.

Leo hanya bisa duduk membeku di tempatnya, menyaksikan Bi Rina membawa Sandra keluar dari ruangan itu. Napasnya berat, dadanya terasa sesak, namun ia tak punya pilihan selain membiarkan mereka pergi.

Ketika Bi Rina membawa Sandra keluar dari ruangan itu, Sandra menoleh sekali lagi ke arah Leo. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata itu tak pernah keluar. Sebaliknya, hanya satu pikiran yang berputar di kepalanya ,"Siapa aku sebenarnya? Dan siapa dia bagiku?"

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters
No Comments
55 Chapters
บทที่ 1 ผู้มาเยือน
บทที่ 1 ผู้มาเยือน บนยอดเขาสูงเสียดฟ้า ใจกลางป่าสนโบราณที่ปกคลุมด้วยม่านหมอกเยือกเย็นตลอดทั้งสี่ฤดู ปรากฏที่ตั้งสูงตระหง่านนั่นคือ สำนักเมฆาขาว สถานที่ซึ่งได้รับการกล่าวขานว่าเป็นแหล่งรวมสรรพวิชาลึกล้ำ และเป็นที่พำนักของ ปรมาจารย์หลี่ซาน ผู้ซึ่งได้ชื่อว่าเป็นดั่งเทพเซียนมีชีวิต ความรู้ของเขาลึกซึ้ง หยั่งถึงศาสตร์เร้นลับแห่งฟ้าดินจนมิอาจมีผู้ใดเทียบเทียม ทว่าความสามารถอันเป็นเลิศนั้นกลับถูกห่อหุ้มไว้ด้วยบุคลิกที่เยือกเย็นดุจหิมะ ใจแข็งกระด้างราวศิลา ยะเยือกจนผู้คนไม่กล้าเข้าใกล้ แม้แต่ลูกศิษย์ผู้ซื่อสัตย์ที่คอยรับใช้อยู่รายล้อมยังคงต้องรักษาระยะห่าง ไม่อาจก้าวล่วงเข้าไปในอาณาเขตส่วนตัวของเขาได้ ไม่เคยมีผู้ใดได้สัมผัสถึงความอ่อนโยน หรือแม้แต่รอยยิ้มจางๆ บนใบหน้าหล่อเหลาที่ถูกสลักเสลาอย่างสมบูรณ์แบบนั้น หลี่ซานคือปรมาจารย์ผู้โดดเดี่ยวที่ยืนอยู่บนจุดสูงสุดของหุบเขาแห่งความรู้และความเกรียงไกร มีเพียงลมหายใจเข้าออกที่เป็นจังหวะสม่ำเสมอเท่านั้นที่บ่งบอกว่าเขายังคงมีชีวิตอยู่ ไม่ใช่เพียงรูปปั้นหินสลักที่งดงามไร้ความรู้สึก ค่ำคืนหนึ่งซึ่งจันทร์เต็มดวงสาดส่อง
Read more
บทที่ 2 จอมมารน้อย
บทที่ 2 จอมมารน้อย “เฟิ่งอวี้” คือชื่อของชายหนุ่มผู้นี้ ในห้วงแห่งสติที่เลือนราง ภาพสุดท้ายที่เขามองเห็นคือใบหน้าอันเย็นชาและสง่างามของปรมาจารย์หลี่ซาน และเขาก็รู้ดีว่าแผนการขั้นแรกของเขานั้น...สำเร็จแล้ว รอยยิ้มบางเบาผุดขึ้นบนใบหน้ายามหลับตาลงอีกครั้ง ทว่ารอยยิ้มนั้นกลับแตกต่างจากรอยยิ้มที่หลี่ซานได้เห็น มันเป็นรอยยิ้มที่เต็มไปด้วยความอำมหิต แผนการอันแยบยลและเลือดเย็นได้เริ่มต้นขึ้นแล้ว เบื้องหน้าของเฟิ่งอวี้คือหลี่ซาน ปรมาจารย์ผู้เย่อหยิ่งที่ผู้คนต่างเกรงกลัว ทว่าสำหรับเขาแล้ว นั่นเป็นเพียงก้าวแรกสู่การครอบครองสิ่งสูงค่าที่เขาหมายปองมาเนิ่นนาน เฟิ่งอวี้ย้อนนึกไปถึงเหตุการณ์เมื่อหลายวันก่อน ในวันที่เขาตัดสินใจเดินทางมายังสำนักเมฆาขาว เส้นทางที่เต็มไปด้วยอันตรายและอุปสรรคมากมาย แต่เขากลับไม่คิดจะย่อท้อ ด้วยเป้าหมายเดียวคือการเข้าใกล้หลี่ซานให้มากที่สุด เฟิ่งอวี้ไม่ใช่บุรุษผู้อ่อนแออย่างที่ปรากฏภายนอก เขาเป็นถึงบุตรชายของจอมมารผู้ชั่วร้ายและแกร่งกล้า เขามีความสามารถในการต่อสู้ที่ซ่อนเร้น ความเฉลียวฉลาดที่ยากจะหาผู้ใดเปรียบได้ และเหนือสิ่งอื่นใดคือจิต
Read more
บทที่ 3 กับดัก
บทที่ 3 กับดัก “ไม่ต้องลุก” หลี่ซานเอ่ยขึ้นเสียงเรียบ “เจ้ายังบาดเจ็บอยู่” เฟิ่งอวี้ยิ้มบางๆ ออกมาราวกับรู้สึกตื้นตันใจอย่างสุดซึ้ง “ข้ารู้สึกดีขึ้นมากแล้ว ขอบคุณท่านปรมาจารย์ที่ช่วยชีวิตข้าเอาไว้” เสียงของเขานั้นทั้งนุ่มนวลและอ่อนโยนทำให้ผู้ฟังรู้สึกสงบและผ่อนคลาย หลี่ซานไม่ตอบคำ เขากวาดสายตามองไปรอบๆ ห้อง และสำรวจบาดแผลบนร่างกายของชายหนุ่มอย่างละเอียด ดวงตาของเขาหยุดลงที่รอยแผลเป็นที่บาดลึก ซึ่งบ่งบอกว่าเป็นรอยแผลเก่า ซึ่งบ่งบอกว่าชายหนุ่มผู้นี้ได้ผ่านอะไรมาไม่น้อยอย่างแน่นอน “เจ้าเป็นใคร มาจากที่ใด” หลี่ซานถามเสียงเรียบไร้อารมณ์ เฟิ่งอวี้ถอนหายใจแผ่วเบา ดวงตาคู่สวยฉายแววเศร้าสร้อยทันที “ข้าไร้บ้าน ไร้ญาติมิตร จึงจำต้องเร่ร่อนไปทั่ว บัดนี้ข้าถูกคนตามล่าด้วยหวังจะขายข้าให้กับหอโคมเขียว ข้าจึงต้องหลบหนีอย่างหัวซุกหัวซุน จนกระทั่งมาถึงที่นี่...” เฟิ่งอวี้กล่าวพลางสะอึกสะอื้นออกมาพลาง น้ำเสียงที่เบาหวิวจนแทบจะกลืนหายในลำคอ กับน้ำตาที่เอ่อคลอราวกับพยายามกลั้นเอาไว้ไม่ให้ไหลริน “ข้าได้ยินกิตติศัพท์ของท่านมานาน ว่าท่านเป็นผู้มี
Read more
บทที่ 4 ตกหลุมพราง
บทที่ 4 ตกหลุมพราง หลี่ซานเงียบไปพักหนึ่ง บรรยากาศในห้องโถงพลันเงียบสงัดลงจนได้ยินแม้กระทั่งเสียงลมหายใจของทั้งสองคน เฟิ่งอวี้ยังคงคุกเข่าอยู่เบื้องหน้า ก้มหน้าลงเล็กน้อย แต่ในใจกลับกำลังคำนวณปฏิกิริยาของหลี่ซานอย่างละเอียด เขารู้ดีว่าหลี่ซานไม่ใช่คนที่จะถูกหลอกได้ง่ายๆ ความเย็นชาและเย่อหยิ่งของเขานั้นเป็นเกราะป้องกันชั้นดี แต่เฟิ่งอวี้ก็มีอาวุธที่เหนือกว่า นั่นคือความสามารถในการควบคุมจิตใจผู้อื่น และภาพลักษณ์ที่บริสุทธิ์ไร้เดียงสาที่เขาสร้างขึ้นมาอย่างบรรจง หลังจากผ่านไปช่วงเวลาอันน่าอึดอัด ในที่สุดหลี่ซานก็เอ่ยขึ้นด้วยน้ำเสียงที่ยังคงเรียบเฉย ทว่าแฝงไว้ด้วยอำนาจ “เช่นนั้น...พรุ่งนี้เช้า ให้เจ้ามารายงานตัวที่ลานฝึก ข้าจะดูว่าเจ้ามีคุณสมบัติพอที่จะเป็นศิษย์ของสำนักเมฆาขาวหรือไม่” เฟิ่งอวี้เงยหน้าขึ้นช้าๆ ใบหน้าเปื้อนรอยยิ้มกว้างสดใสทันที ดวงตาคู่สวยเป็นประกายราวกับได้รับของขวัญชิ้นใหญ่ที่สุดในชีวิต “ขอบคุณขอรับ! เฟิ่งอวี้จะไม่ทำให้ท่านผิดหวัง!” เขาก้มลงกราบอีกครั้งอย่างนอบน้อม ก่อนจะลุกขึ้นยืนช้าๆ ด้วยท่าทางอ่อนแรงเล็กน้อย หลี่ซานยืนนิ่งสงบมองดูเฟิ
Read more
บทที่ 5 คืบคลาน
บทที่ 5 คืบคลาน เวลาผ่านไปหลายชั่วยาม อากาศเริ่มเย็นลงอีกครั้ง หลี่ซานเห็นว่าเฟิ่งอวี้เริ่มมีอาการเหนื่อยล้า ร่างกายเริ่มสั่นเทาเล็กน้อย เขาจึงเอ่ยปากขึ้น “วันนี้พอแค่นี้ก่อน” เฟิ่งอวี้ค่อยๆ ลืมตาขึ้น ใบหน้าซีดขาว แต่ดวงตาคู่สวยยังคงเปล่งประกายด้วยความกระตือรือร้น “ขอบคุณท่านอาจารย์ เฟิ่งอวี้รู้สึกว่าตนเองยังอ่อนด้อยนัก ยังมีสิ่งที่ข้าต้องเรียนรู้อีกมาก” “เจ้าเป็นคนมีพรสวรรค์” หลี่ซานเอ่ยขึ้นด้วยน้ำเสียงที่ทำให้เฟิ่งอวี้ชะงักไปเล็กน้อย เพราะเป็นครั้งแรกที่เขาได้ยินคำชมเชยจากปากคนผู้นี้ “แต่พรสวรรค์ที่ไร้การฝึกฝนก็ไร้ความหมาย วันนี้จงกลับไปพักผ่อนเสียก่อน” เฟิ่งอวี้ยิ้มบางๆ คำนับอย่างนอบน้อม ก่อนจะเดินจากไป ทิ้งให้หลี่ซานยืนอยู่กลางลานฝึกเพียงลำพัง หลี่ซานยังคงจ้องมองแผ่นหลังของเฟิ่งอวี้ที่ค่อยๆ เลือนหายไปท่ามกลางหิมะที่โปรยปราย ความรู้สึกแปลกประหลาดที่ก่อตัวขึ้นในใจของเขาเริ่มชัดเจนขึ้นเรื่อยๆ มันไม่ใช่ความรู้สึกที่ไม่สบายใจ แต่เป็นความสนใจ...ความสนใจที่อยากจะรู้ว่าภายใต้ท่าทีอ่อนโยนและบอบบางของเฟิ่งอวี้ แท้จริงแล้วซ่อนเร้นสิ่งใดอยู่กันแน่
Read more
บทที่ 6 สั่นไหว
บทที่ 6 สั่นไหว เฟิ่งอวี้ถอนหายใจแผ่วเบา “ข้าเพียงคิดว่า...หากปราศจากความรู้สึกใดๆ แล้ว ชีวิตจะมีความหมายอันใดเล่า ความสุข ความเศร้า ความรัก ความเกลียดชัง...สิ่งเหล่านี้ล้วนหล่อหลอมให้เราเป็นเรา หากไร้ซึ่งสิ่งเหล่านี้ ก็ไม่ต่างอะไรจากรูปปั้นหินที่งดงามแต่ไร้ชีวิตจิตใจ” คำกล่าวของเฟิ่งอวี้ราวกับสายฟ้าฟาดลงกลางใจของหลี่ซาน เขาจ้องมองเฟิ่งอวี้ด้วยแววตาที่เต็มไปด้วยความสับสนและความประหลาดใจ ตลอดชีวิตของเขา เขาเชื่อมั่นมาตลอดว่าการไร้ใจคือหนทางสู่ความสมบูรณ์แบบ แต่คำพูดของเด็กหนุ่มผู้นี้กลับสั่นคลอนความเชื่อของเขาอย่างรุนแรง เฟิ่งอวี้ยกมือขึ้นช้าๆ แตะลงบนแขนเสื้อของหลี่ซานอย่างแผ่วเบา รอยยิ้มอ่อนโยนประดับบนใบหน้า ทว่าดวงตาคู่สวยกลับฉายแววลึกล้ำเกินกว่าจะคาดเดา “ท่านอาจารย์...ท่านงดงามราวเทพเซียน แต่กลับดูโดดเดี่ยวเหลือเกิน...หากวันหนึ่งท่านมี 'ใจ' ขึ้นมา...ท่านจะรู้สึกว่าโลกใบนี้ไม่ได้ว่างเปล่าอย่างที่ท่านคิด” สัมผัสที่แผ่วเบาของเฟิ่งอวี้ ราวกับกระแสไฟฟ้าที่แล่นเข้าสู่ร่างของหลี่ซาน ทำให้เขารู้สึกสั่นสะท้านไปทั่วทั้งกาย ความรู้สึกแปลกประหลาดที่ไม่อาจอธิบ
Read more
บทที่ 7 รุกคืบ
บทที่ 7 รุกคืบ ในค่ำคืนที่ลมหนาวพัดแรงจนกิ่งไม้เสียดสีกันดุจเสียงกระซิบ เฟิ่งอวี้แอบเข้าไปยังห้องบำเพ็ญเพียรของหลี่ซาน แสงจันทร์สาดส่องเข้ามาทางหน้าต่างบานใหญ่ เผยให้เห็นร่างของหลี่ซานที่นั่งขัดสมาธิอยู่หน้าแท่นบูชาอย่างสงบนิ่ง เฟิ่งอวี้ค่อยๆ ก้าวเท้าเข้าไปใกล้ ด้วยวิชาตัวเบาที่ฝึกฝนมาอย่างยอดเยี่ยม ทำให้เขาไร้ซึ่งเสียงยามก้าวเดิน ชายหนุ่มหยุดยืนอยู่ด้านหลังของหลี่ซานในระยะที่ห่างพอสมควร ก่อนจะค่อยๆ ปล่อยพลังปราณสีดำบางเบาออกจากปลายนิ้ว พลังปราณนั้นไหลเข้าไปยังร่างของหลี่ซานอย่างช้าๆ มันไม่ใช่พลังที่สร้างความเสียหาย แต่เป็นพลังที่ค่อยๆ แทรกซึมเข้าไปในเส้นลมปราณของหลี่ซาน และเปลี่ยนแปลงบางสิ่งบางอย่างอย่างเงียบๆ พลังปราณที่เฟิ่งอวี้ถ่ายทอดเข้าไปนั้น เป็นพลังที่เขาสร้างขึ้นมาจากการหลอมรวมพลังปราณที่ชั่วร้ายบางส่วนเข้ากับพลังปราณบริสุทธิ์ของเขาเอง มันมีผลต่อการควบคุมอารมณ์และจิตใจของผู้รับ ทำให้ผู้รับเริ่มอ่อนไหวต่อสิ่งเร้าภายนอกมากขึ้น นี่คือแผนการที่เฟิ่งอวี้คิดคำนวณมาอย่างถี่ถ้วน เขารู้ว่าหลี่ซานมีพลังปราณแข็งแกร่งและจิตใจมั่นคงราวหินผา ยาก
Read more
บทที่ 8 ครอบครอง
บทที่ 8 ครอบครอง คำพูดนั้นราวกับเปลวไฟที่จุดประกายในใจของหลี่ซาน ความปรารถนาอันรุนแรงพุ่งเข้าครอบงำจิตใจของเขาอย่างสมบูรณ์ เขาไม่สามารถควบคุมตัวเองได้อีกต่อไป หลี่ซานก้มลงจุมพิตริมฝีปากของเฟิ่งอวี้อย่างรุนแรงและหิวกระหาย มันเป็นจุมพิตที่เต็มไปด้วยความสับสน ความใคร่ และความต้องการที่ไม่เคยรู้จักมาก่อน เฟิ่งอวี้ยิ้มเยาะในใจอย่างผู้มีชัย แผนการของเขาได้ผลเร็วกว่าที่คิดเอาไว้ ชายหนุ่มตอบรับจุมพิตของหลี่ซานอย่างเร่าร้อน มือเรียวโอบรอบคอของหลี่ซานแน่นขึ้น ดึงรั้งอีกฝ่ายเข้ามาใกล้ชิดยิ่งกว่าเดิม รสจูบของหลี่ซานนั้นดิบเถื่อนและหิวกระหาย มันไม่ใช่จุมพิตที่อ่อนโยน แต่เป็นจุมพิตที่แสดงถึงความต้องการที่ถูกปลุกเร้า เฟิ่งอวี้สัมผัสได้ถึงความสับสนและความปรารถนาอันรุนแรงในตัวของปรมาจารย์ผู้สูงส่งผู้นี้ เขารู้สึกถึงชัยชนะอันหอมหวานที่กำลังจะมาถึง หลี่ซานโอบร่างของเฟิ่งอวี้แน่นขึ้น แขนอีกข้างสอดเข้าไปใต้แผ่นหลังของเฟิ่งอวี้ ยกอีกฝ่ายขึ้นอุ้มในท่าเจ้าสาวอย่างง่ายดาย แม้เฟิ่งอวี้จะบาดเจ็บ แต่เขาก็ไม่ได้แสดงความเจ็บปวดใดๆ เขายังคงจุมพิตตอบหลี่ซานอย่างเร่าร้อน ดวงตาคู่สว
Read more
บทที่ 9 เป็นของข้า
บทที่ 9 เป็นของข้า หลี่ซานไม่ได้ยินคำพูดของเฟิ่งอวี้อีกต่อไป เขามึนเมาไปกับไฟปรารถนาที่กำลังแผดเผาเขาจากภายใน ความเยือกเย็นของวิชา “ไร้ใจ” ได้ถูกทำลายลงไปอย่างสมบูรณ์ เขากลายเป็นเพียงมนุษย์คนหนึ่งที่ถูกครอบงำด้วยความรู้สึกอันเร่าร้อน...ความรู้สึกที่เฟิ่งอวี้ได้ปลุกปั่นขึ้นมา มือหนาของเฟิ่งอวี้ปลดเปลื้องอาภรณ์ของหลี่ซานออกอย่างรวดเร็ว เผยให้เห็นเรือนร่างอันแข็งแกร่งและเย้ายวน สัมผัสร้อนรุ่มของเขาลูบไล้ไปทั่วทุกส่วนของร่างกายหลี่ซาน ทำให้ผิวขาวเย็นเยือกนั้นเร่าร้อนและขึ้นสีแดงระเรื่อขึ้นมา “อ่า....” หลี่ซานครางในลำคออย่างพอใจ ยามที่เฟิ่งอวี้ก้มลงจูบไล้ไปตามของเขาอย่างดูดดื่ม ยิ่งเมื่อริมฝีปากบอบบางนั้นไล้ต่ำลงไปยังแผงอกของเขาอย่างยั่วเย้าและซุกซน นั่นยิ่งทำให้สติสัมปชัญญะของหลี่ซานแตกซ่านไปจนหมดสิ้น เขาทำได้เพียงแหงนหน้าขึ้นรับความเสียวซ่านที่ไม่เคยพบพาน ร่างกายอ่อนระทวยจนไม่อาจควบคุมได้ หลี่ซานจึงทำได้เพียงปล่อยร่างกายให้เคลื่อนไหวไปตามสัมผัสที่เร่าร้อนที่เฟิ่งอวี้ปรนเปรอให้แก่เขาอย่างไม่หยุดหย่อน เสียงหอบกระชั้นของทั้งสองดังขึ้นระงมไปทั่วห
Read more
บทที่ 10 ราตรีหม่น
บทที่ 10 ราตรีหม่น ค่ำคืนนั้นยังคงดำเนินไปอย่างบ้าคลั่ง เฟิ่งอวี้ที่ได้ครอบครองหลี่ซานอย่างสุขสม ความปรารถนาในใจอันท่วมท้นมิอาจเติมเต็มได้เพียงครั้งเดียว ภายในห้องของหลี่ซาน กลิ่นอายของความปรารถนาที่เร่าร้อนยังคงคละคลุ้งไปทั่วอย่างไม่มีท่าทีจะสิ้นสุด เฟิ่งอวี้ยิ้มเยาะในใจ เมื่อเขายังคงคลอเคลียเลียไล้ไปตามร่างกายของหลี่ซานอย่างหิวกระหาย สัมผัสอันรุนแรงและป่าเถื่อนของเฟิ่งอวี้ ทำให้หลี่ซานรู้สึกขนลุกชันขึ้นอีกครั้ง ความเจ็บปวดและอับอายก่อนหน้ายังคงติดตรึงไม่จางหาย แต่ทว่าร่างกายกลับร้อนรุ่มขึ้นมาจากการปรนเปรอของคนเบื้องหน้า จนชายหนุ่มได้แต่ส่ายหน้าไปมาด้วยความสับสน เฟิ่งอวี้รู้สึกถึงชัยชนะอันหอมหวานที่กำลังจะมาถึง เขาโอบรอบคอหลี่ซานแน่นขึ้น ริมฝีปากยังคงลวนลามไปทั่วร่างกายราวกับต้องการแผดเผาคนตรงหน้าอย่างไม่ลดละ นิ้วเรียวยาวจิกเข้าที่แผ่นหลังกว้างของหลี่ซานอย่างลืมตัว บ่งบอกถึงความตื่นเต้นที่กำลังพลุ่งพล่านในกาย หลี่ซานเองก็ถูกราคะเข้าครอบงำจนหมดสิ้น ร่างกายคลั่งไคล้และโหยหาในรสสัมผัสของเฟิ่งอวี้ เขาลืมสิ้นซึ่งวิชา “ไร้ใจ” ที่ฝึกฝนมาตลอดชีวิต ดวงตาคมก
Read more
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status