LOGINปรมาจารย์ผู้เยือกเย็นดุจน้ำแข็งกลับได้พบกับ "มารน้อย" ผู้มาพร้อมรอยยิ้มงดงามที่ซ่อนคมมีดแห่งแผนการร้าย หนึ่งคือปรมาจารย์ผู้ไร้หัวใจ... หนึ่งคือจอมมารผู้ไร้ปรานี... เขาคือจอมมารผู้หมายจะช่วงชิงทุกสิ่ง แต่ใครเล่าจะรู้ว่าในเกมแห่งการล่อลวงจะกลายเป็นพันธนาการนิรันดร์ เมื่อบ่วงมารร้อยรัดดวงจิต ปรมาจารย์ผู้สูงส่งต้องเลือกว่าจะยอมจำนนต่อไฟพิศวาส หรือดับมอดไปพร้อมกับแผนการที่ถูกถักทอ
View MoreSandra terbangun di rumah sakit dengan perasaan kosong. Matanya menyapu ruangan yang asing—dinding putih, bau antiseptik, dan suara detak jam yang terasa mengganggu.
"Siapa kalian?" Suaranya terdengar ragu, hampir tak percaya pada apa yang diucapkannya. Seorang wanita muda yang duduk di dekatnya, tampak terkejut. "Masa kamu tidak mengenali kami?" Sandra mencoba mengingat, menggapai kenangan yang mungkin masih tersisa, tapi semuanya terasa kabur, seperti bayangan yang hilang dalam kabut. Tidak ada yang terasa familiar. Tiba-tiba, seorang pria berlari mendekat. Dia adalah Leo, kekasihnya. Tanpa ragu, Leo memeluknya erat, seolah tak ingin melepaskan. "Akhirnya kamu selamat," bisiknya dengan suara parau, penuh kelegaan, tapi juga ada ketakutan yang samar di sana. "Aku sangat takut... Tolong, jangan pergi lagi dariku," Leo melanjutkan, suaranya hampir putus-putus. Sandra diam, tubuhnya menegang dalam dekapan itu. Luka-luka di tubuhnya masih segar, rasa sakitnya menjalar ketika pelukan Leo semakin erat. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi hanya ketakutan yang muncul, membungkam kata-katanya. "Siapa kamu?" Sandra berteriak, dorongannya membuat Leo terjatuh ke lantai. Leo terdiam, menatap Sandra dengan mata yang tampak penuh kebingungan dan kesedihan. "Sandra, aku Leo... Kekasihmu," katanya, berusaha menjelaskan. Namun, Sandra hanya bisa menatapnya kosong. Tidak ada kenangan, tidak ada perasaan. Tiba-tiba, suara seorang wanita paruh baya memecah keheningan. "Leo, hentikan! Jangan buat dia takut seperti itu!" Ibu Leo berdiri di ambang pintu, wajahnya penuh kecemasan. Sandra, masih terisak, duduk di pojok ruangan, merangkul tubuhnya sendiri. Keheningan yang mengisi ruangan seperti sebuah dinding tebal, menutupi setiap kenangan, setiap wajah yang seharusnya ia kenali. Air mata menetes perlahan, dan ia hanya bisa menangis, merasa terjebak dalam tubuh yang tak lagi ia kenali. Semua terasa asing—namanya, wajahnya, bahkan dirinya sendiri. Seperti lembaran buku yang kehilangan halamannya. "Sandra..." Suara lembut itu datang mendekat, membawa sedikit kenyamanan. Seorang wanita, dengan wajah penuh kasih, berjongkok di depannya. "Ini aku, Ibu Leo. Kami di sini untukmu." Tapi kata-kata itu hanya terasa seperti gema kosong. Sandra menatapnya dengan mata yang kosong, tanpa rasa. Kepalanya terasa berat, seperti ribuan jarum menghujam setiap kali ia mencoba mengingat. Dokter masuk, memperingatkan semua orang. "Biarkan dia tenang dulu. Kenangannya akan kembali perlahan." Ibu Leo mengulurkan tangan, berharap Sandra bisa merasa nyaman. "Ayo ikut kami, Sandra. Kami akan membawamu pulang," ujarnya lembut. Sandra menatap mereka dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Di mana keluargaku? Kenapa aku harus ikut kalian?" tanyanya, suaranya serak. "Apakah aku tidak punya keluarga?" Ibu Leo dan Leo terdiam. Mereka tak tahu apa yang harus dijawab. Keheningan menggantung berat di udara. Sandra kembali terisak. Leo menunduk, tidak tahu harus berbuat apa selain merasakan perasaan kosong yang memenuhi hatinya. Di saat-saat itu, seorang wanita paruh baya lain muncul di ambang pintu. Wajahnya penuh kehangatan, dengan kerutan yang menunjukkan pengalaman hidup yang panjang. "Sandra... Ini aku, Bi Rina. Ingatkah kamu?" katanya dengan suara lembut. Sandra memandangnya dengan tatapan kosong, tapi ada sesuatu yang samar, sesuatu yang terasa akrab, meskipun kenangan itu belum kembali sepenuhnya. Bi Rina, wajah yang penuh kasih sayang, seolah mengirimkan perasaan nyaman yang belum ia rasakan selama ini. "Bi Rina..." Sandra berbisik, suaranya hampir hilang di udara. Bi Rina mendekat, tersenyum lembut. "Kamu bisa ikut aku, Sandra. Aku akan menjagamu seperti dulu. Kamu aman bersamaku." Sandra menunduk, mencoba mencari jawaban dalam kepalanya yang kosong. Perasaan itu... perasaan aman yang datang dari Bi Rina membuatnya merasa sedikit tenang. Mungkin, hanya dia yang bisa membuatnya merasa seperti dirinya sendiri. Leo dan ibunya hanya bisa diam, melihat Sandra yang begitu rapuh. Mereka tahu bahwa dalam keadaan seperti ini, orang yang bisa memberi kenyamanan lebih dari sekadar kenangan adalah seseorang yang pernah ada dalam hidupnya. Bi Rina meraih tangan Sandra, menggenggamnya dengan lembut. Namun, sebelum mereka melangkah lebih jauh, Leo dengan cepat menyusul mereka dan kembali merengkuh Sandra dalam pelukannya. "Sandra... kamu tidak boleh pergi," katanya, suaranya bergetar, hampir putus asa. "Aku tidak bisa membiarkanmu pergi begitu saja." Sandra membeku, rasa takut semakin mencekamnya. Pelukan Leo yang dulu memberi kenyamanan kini terasa seperti belenggu. Ia ingin berteriak, tetapi kata-katanya terhenti, tenggelam dalam ketakutan. "Leo!" "Ibu... aku tidak bisa!" Leo berteriak, semakin keras, menahan Sandra dalam pelukannya. "Dia milikku. Aku yang akan menjaganya." Ibu Leo berlari mendekat, tampak marah. "Lepaskan dia, Leo! Apa yang kamu lakukan? Sandra butuh ruang untuk memilih sendiri," suaranya penuh kemarahan. Bi Rina yang berdiri di sisi Sandra segera maju, wajahnya berubah tegas. "Leo, kamu tidak bisa memaksanya seperti ini. Sandra berhak memutuskan dengan siapa ia merasa aman," katanya dengan suara tajam. "Tindakanmu hanya akan membuatnya semakin takut." Sandra menatap Leo dengan penuh ketakutan, dan dalam suara gemetar, ia memohon, "Lepaskan aku... Tolong, Leo, aku tidak mengenalmu... Aku tidak ingin dipaksa..." Kata-kata itu menembus hati Leo seperti jarum tajam. Ia terdiam, perlahan melepaskan Sandra, merasakan perih yang tak terkatakan. Sandra mundur beberapa langkah, berdiri di samping Bi Rina. Dalam keheningan yang menyesakkan, Sandra merasa sedikit cahaya—harapan baru—masih ada. Mungkin, dengan Bi Rina, ia bisa menemukan dirinya kembali. Bi Rina menggenggam tangan Sandra dengan penuh kasih sayang. "Ayo pulang, Nak. Kita mulai lagi dari awal, bersama-sama." Sandra mengikuti langkah Bi Rina dengan ragu. Namun, langkahnya terhenti ketika suara Leo memanggilnya lagi, lebih pelan kali ini. "Sandra..." Suara itu bergetar, memohon dengan kesedihan yang mendalam. Sandra menoleh. Tatapan Leo penuh rasa putus asa, cinta, kehilangan, dan rasa bersalah. Ada sesuatu di sana yang terasa akrab, meski samar. Ia mencoba menggapainya, mencoba mengingat wajah itu, suara itu, atau mungkin perasaan yang seharusnya menyertainya. Tapi yang ia rasakan hanya kekosongan. "Aku mohon, Sandra... Jangan tinggalkan aku," kata Leo lagi, suaranya hampir tenggelam. Kata-katanya menusuk sesuatu di dalam diri Sandra, sebuah ruang yang sebelumnya kosong kini terasa bergetar. Namun, rasa itu tak berbentuk—hanya sebuah desakan samar yang membuat pikirannya terasa berat. Ia ingin mengingat, tapi setiap kali mencoba, rasa sakit menyergap kepalanya. Sandra memegangi pelipisnya, wajahnya meringis. "Kenapa aku tidak bisa mengingatmu?" bisiknya, nyaris tak terdengar. "Kenapa aku merasa ada sesuatu... sesuatu yang penting, tapi tidak bisa aku temukan?" Leo melangkah maju, ingin menjawab, tapi Bi Rina segera berdiri di antara mereka. "Cukup, Leo. Jangan buat dia semakin bingung," kata Bi Rina tegas. Namun Sandra mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Bi Rina berhenti. "Aku ingin tahu... Aku ingin tahu siapa kamu sebenarnya," katanya pada Leo, suaranya gemetar. "Tapi setiap kali aku mencoba, aku merasa seperti... aku tenggelam. Kenapa?" Leo terlihat ingin mengatakan sesuatu, tetapi ia menunduk, tak sanggup menjawab. Sandra mendesak lebih keras, hampir berteriak, "Siapa kamu, Leo? Apa yang sebenarnya terjadi padaku?" Tidak ada jawaban. Leo hanya berdiri di sana, diam, dengan wajah penuh rasa sakit. Ibu Leo mencoba mendekat, tetapi Sandra mundur, menggelengkan kepala. "Semua ini... semua ini terasa salah. Aku tidak tahu apa yang benar, atau siapa yang bisa kupercaya," katanya, suaranya mulai tersendat. Rasa pening mulai menjalar di kepalanya. Pandangannya mulai berputar, dan tubuhnya terasa lemas.Sandra mulai kehilangan keseimbangan. Ketika Sandra mulai goyah, rasa pening yang menyerangnya menjadi semakin tak tertahankan. Pandangannya buram, tubuhnya terasa lemas, dan akhirnya ia roboh. Bi Rina dengan sigap menangkapnya, namun Leo lebih cepat melangkah maju, wajahnya diliputi kepanikan. "Sandra!" seru Leo, suaranya pecah. Ia berlutut di sebelahnya,kedua tangannya mencoba menangkapnya. "Kamu baik-baik saja? Sandra, tolong jawab aku!" Namun, Sandra mengangkat tangannya yang gemetar, menahan Leo untuk menjaga jarak. Matanya yang redup menatapnya dengan kesedihan bercampur ketegasan. "Jangan... jangan sentuh aku," bisiknya lirih. Leo tertegun, tangannya menggantung di udara sebelum akhirnya ia mundur perlahan, meskipun raut wajahnya penuh rasa cemas. "Aku hanya ingin memastikan kamu—" "Jangan," potong Sandra, nadanya memohon sekaligus tegas. Ia memalingkan wajah, menatap Bi Rina. "Bi Rina... tolong bawa aku pergi dari sini," katanya, suaranya semakin lemah. Bi Rina mengangguk, menopang tubuh Sandra yang gemetar. "Ayo, Nak. Kita pergi sekarang," katanya lembut namun tegas. Leo hanya bisa duduk membeku di tempatnya, menyaksikan Bi Rina membawa Sandra keluar dari ruangan itu. Napasnya berat, dadanya terasa sesak, namun ia tak punya pilihan selain membiarkan mereka pergi. Ketika Bi Rina membawa Sandra keluar dari ruangan itu, Sandra menoleh sekali lagi ke arah Leo. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi kata-kata itu tak pernah keluar. Sebaliknya, hanya satu pikiran yang berputar di kepalanya ,"Siapa aku sebenarnya? Dan siapa dia bagiku?"ตอนที่ 55 ภาพฝันที่ไม่เลือนหาย วันเวลาผันผ่านไป เดือนแล้วเดือนเล่า ปีแล้วปีเล่า หลี่ซานยังคงใช้ชีวิตอยู่ในถ้ำอันเงียบสงบกลางเทือกเขาสูงใหญ่ ที่ซึ่งเขาปลีกวิเวกจากโลกภายนอกอย่างสิ้นเชิง ถ้ำแห่งนี้กลายเป็นที่พำนักของความทรงจำและหัวใจที่แตกสลาย ชายหนุ่มนั่งอยู่ริมธารน้ำตกเล็กๆ ภายในถ้ำ สูดลมหายใจเข้าลึกๆ รับความเย็นบริสุทธิ์ของอากาศยามเช้า ปล่อยให้สายน้ำที่ไหลรินชะล้างความเจ็บปวดในจิตใจ “เฟิ่งอวี้…” หลี่ซานกระซิบชื่อนั้นแผ่วเบา ราวกับจะเรียกหาชายหนุ่มให้กลับมา ความทรงจำถึงเฟิ่งอวี้ยังคงชัดเจนในใจของหลี่ซาน ราวกับว่าชายหนุ่มยังคงอยู่เคียงข้างเขาตลอดเวลา ทุกรอยยิ้ม ทุกสัมผัส ทุกคำพูด ยังคงตรึงอยู่ในห้วงลึกของจิตใจ ภาพของเฟิ่งอวี้ในวันแรกที่พบกัน ความโหดร้าย ความเจ้าเล่ห์ รวมถึงวันที่เขาพยายามที่จะเปลี่ยนแปลงตัวเองเพื่อพิสูจน์ความจริงใจ และวันที่เขาจากไปอย่างไม่มีวันหวนกลับ ภาพเหล่านี้ผุดขึ้นมาในความคิดของหลี่ซานไม่เคยว่างเว้น เขาหวนนึกถึงวันที่เขาโอบกอดร่างของเฟิ่งอวี้ที่ไร้วิญญาณไว้แน่น ก่อนจะจากสำนักเมฆาขาวมา ละทิ้งทุกสิ่งทุกอย่างไว้เบื้องหลัง
ตอนที่ 54 ความสูญเสีย หลี่ซานโอบกอดร่างที่ไร้วิญญาณของเฟิ่งอวี้ไว้แน่น เสียงร้องไห้ด้วยความเจ็บปวดดังระงมไปทั่วบริเวณ เขาสั่นสะท้านไปทั้งร่าง ความรู้สึกผิดบาปและความสูญเสียถาโถมเข้าใส่เขาอย่างรุนแรง เขาได้สูญเสียคนที่เขารักไปแล้วจริงๆ แม้ว่าเฟิ่งอวี้จะเป็นมารร้าย แต่ในช่วงเวลาสุดท้าย ชายหนุ่มกลับแสดงความรักที่บริสุทธิ์และจริงใจให้เขาเห็น เสิ่นหยวนและหลันเฟิงยืนนิ่งอยู่ไม่ไกล ใบหน้าของพวกเขาเต็มไปด้วยความตกใจและสับสน พวกเขาไม่คิดว่าเหตุการณ์จะลงเอยเช่นนี้ พวกเขาตั้งใจจะกำจัดมารร้าย แต่กลับกลายเป็นว่าพวกเขาได้พรากชีวิตของคนที่อาจารย์ของพวกเขารักไปแล้ว “อาจารย์…” เสิ่นหยวนเอ่ยขึ้นด้วยน้ำเสียงสั่นเครือ หลี่ซานเงยหน้าขึ้นมองเสิ่นหยวน ดวงตาของเขาแดงก่ำไปด้วยน้ำตาและความเจ็บปวด “เจ้า…เจ้าทำอะไรลงไป!” เสียงของเขาเต็มไปด้วยความตัดพ้อและความสิ้นหวัง เสิ่นหยวนรู้สึกผิดอย่างแสนสาหัส เขาไม่เคยเห็นอาจารย์ของเขาอยู่ในสภาพเช่นนี้มาก่อน “ข้า…ข้าไม่คิดว่า…” หลันเฟิงเดินเข้ามาใกล้ เขาคุกเข่าลงข้างๆ หลี่ซาน “อาจารย์…พวกเราเพียงต้องการปกป้องท่าน…”
ตอนที่ 53 ความจริงที่ไม่อาจทนรับ ท่ามกลางความมืดมิดของยามค่ำคืน แม้ด้านนอกของเรือนพักจะเกิดการปะทะอย่างรุนแรง แต่เพราะม่านมนต์ที่หลี่ซานร่ายครอบคลุมเรือนเอาไว้ ทำให้เขามิอาจได้ยินสิ่งที่เกิดขึ้นด้านนอกแม้แต่น้อย หลี่ซานยังคงนอนพลิกตัวไปมาบนเตียงอย่างรู้สึกกระสับกระส่าย ความรู้สึกไม่สบายใจเกาะกินจิตใจของเขาอย่างบอกไม่ถูก ราวกับมีบางสิ่งบางอย่างกำลังจะเกิดขึ้น ลางสังหรณ์อันเฉียบคมของเขา ทำให้เขารู้สึกได้ถึงพลังปราณที่รุนแรงผิดปกติกำลังปะทุขึ้นในบริเวณเรือนพักของเขา หัวใจของเขาเต้นรัวด้วยความกังวลอย่างที่ไม่เคยเป็นมาก่อน สัญชาตญาณทำให้เขาต้องรีบก้าวออกมาจากเรือนพักด้วยความเร่งรีบที่สุดเท่าที่จะทำได้ เพียงก้าวเท้าออกมาจากเรือนพัก ภาพที่ปรากฏต่อหน้าทำให้หลี่ซานถึงกับเบิกตากว้างด้วยความตกใจสุดขีด เขามองเห็นเสิ่นหยวน ศิษย์เอกของเขากำลังปลดปล่อยพลังปราณสีขาวบริสุทธิ์อันรุนแรงมหาศาลพุ่งเข้าใส่เฟิ่งอวี้อย่างจัง ร่างของเฟิ่งอวี้ที่นั่งนิ่งรับปราณนั้นอย่างไร้การป้องกันตนเอง ดวงตาหลับพริ้มราวกับกำลังรอคอยความตายที่กำลังจะมาถึง “หยุดเดี๋ยวนี้!” หลี่ซานตะ
ตอนที่ 52 ความจริงเปิดเผย ในขณะที่หลี่ซานกำลังพยายามข่มใจให้แข็งแกร่ง และยอมปล่อยมือจากเฟิ่งอวี้เพื่อความปลอดภัยของทุกฝ่าย อีกด้านหนึ่งของสำนักเมฆาขาว เสิ่นหยวนและหลันเฟิง ศิษย์เอกทั้งสองที่เพิ่งเดินทางกลับมาถึงสำนักเมฆาขาว หลังจากที่ออกเดินทางไปประชุมและเยี่ยมเยียนสำนักต่างๆ ตามเทียบเชิญที่ได้รับมานานเกือบปีก็กำลังเผชิญหน้ากับความจริงอันน่าตกตะลึง “หลงจู ระหว่างที่พวกข้าไม่อยู่ มีเรื่องอันใดเกิดขึ้นในสำนักหรือไม่” เสิ่นหยวนถามออกมาด้วยน้ำเสียงขึงขัง ดวงตาคมกริบของเขากวาดมองไปรอบๆ สำนักอย่างนึกหวาดระแวง เขาสัมผัสได้ถึงพลังปราณบางอย่างที่แปลกไปจากเดิม พลังปราณที่แฝงกลิ่นอายของมาร แม้จะเจือจางลงไปมากก็ตาม มันทำให้เขาอดนึกระแวดระวังขึ้นมาอย่างช่วยไม่ได้ หลังจากที่เคยมีประสบการณ์ตรงในการต่อสู้กับเฟิ่งอวี้เมื่อหลายปีก่อน หลงจูรีบเข้ามารายงานเรื่องราวที่เกิดขึ้นอย่างละเอียด ตั้งแต่การมาถึงของเฟิ่งอวี้ ศิษย์คนใหม่ผู้มีพรสวรรค์ การที่เฟิ่งอวี้สามารถเข้าใกล้หลี่ซานได้อย่างผิดปกติ และเรื่องราวที่เพิ่งเกิดขึ้นเมื่อไม่กี่วันก่อน รวมถึงการบาดเจ็บของเฟิ่งอวี้โดยไม่ทราบสาเ
ตอนที่ 51 จำนน เช้าวันต่อมา หลี่ซานได้รับจดหมายจากเสิ่นหยวนและหลันเฟิงอีกครั้ง พวกเขาทั้งสองกำลังเดินทางกลับสำนักเมฆาขาว พร้อมกับรายงานเรื่องเบาะแสของเฟิ่งอวี้ที่ถูกพบในบริเวณใกล้สำนัก พวกเขาหมายมั่นอย่างแน่วแน่ที่จะกำจัดเฟิ่งอวี้ให้สำเร็จให้จงได้ “เฟิ่งอวี้ เจ้าไม่อาจอยู่ที่นี่ได
ตอนที่ 49 กลับใจ วันเวลาผ่านไปอย่างเชื่องช้า ความมุ่งมั่นของเฟิ่งอวี้ ในการเปลี่ยนแปลงตัวเองนั้นชัดเจนขึ้นทุกวันตามที่เขาได้ให้คำมั่นสัญญาไว้กับหลี่ซาน เขาทิ้งวิชาปราณมืดทั้งหมดและหันมาศึกษาปราณบริสุทธิ์ของสำนักเมฆาขาวอย่างจริงจัง และที่สำคัญที่สุด เขาไม่เคยห่างจากหลี่ซานเลยแม้แต่วินาทีเดี
ตอนที่ 46 ไม่อาจยอมรับ เมื่อแสงอรุณรุ่งมาเยือนอีกครั้ง เผยให้เห็นภาพของหลี่ซานที่นอนแน่นิ่งอยู่บนเตียง ร่างกายของเขาเต็มไปด้วยรอยแดงช้ำที่เกิดจากฝีมือของเฟิ่งอวี้ ผิวขาวเนียนที่เคยไร้ตำหนิ บัดนี้ประดับด้วยรอยดูดเม้มและรอยขีดข่วนบางเบา ดวงตาของเขาทอดมองเพดานด้วยแววตาที่ว่างเปล่า ความรู้สึกป
ตอนที่ 47 รักษา ยามวิกาลในสำนักเมฆาขาว ลมหนาวพัดโชยกระทบใบหน้าของหลี่ซานที่ยืนอยู่ท่ามกลางความมืดมิด ร่างสูงสง่าของเขาโอบประคองร่างบอบบางของเฟิ่งอวี้ที่แน่นิ่งอยู่ในอ้อมแขน ใบหน้าของเฟิ่งอวี้ซีดขาวราวกับหิมะ เลือดสีแดงฉานซึมออกจากมุมปากเป็นทางยาว กลิ่นคาวเลือดคละคลุ้งในอากาศผสมผสา