Masukนางแต่งงานกับชายขาพิการ ดูแลเขาอย่างดีช่วยรักษาเขาจนหาย แต่พอเขาเดินได้ก็รีบไปหาคนรักเก่าที่ทิ้งเขาไป พวกเขาใส่ร้ายว่านางคบชู้เพื่อแต่งหญิงคนนั้นเข้ามาแทนที่ นางล้างมลทินแล้วจากไปมีสามีใหม่ ที่ทั้งรักและเอาอกเอาใจนาง แต่บิดามารดาเขารังเกียจนาง ไหนจะองค์หญิงเอาแต่ใจผู้นั้นที่จ้องจะแย่งสามีนาง ต่อมานางถูกใส่ร้ายว่าวางยาองค์หญิง เขามองนางด้วยสายตาผิดหวัง แล้วอุ้มองค์หญิงจากไป ปล่อยให้นางถูกทางการจับไปทรมาน นางฟื้นขึ้นมาพร้อมทรงจำที่หายไป แต่ได้สามีใหม่ที่หล่อเหลาและคลั่งรักยิ่งนัก
Lihat lebih banyakMatahari bersinar terik di atas langit, suara cicada yang menempel di pohon berbunyi sangat nyaring. Seorang lelaki paruh baya berlari tergopoh-gopoh ke arah rumah panggung yang di terasnya duduk seorang pria berpakaian modis dengan laptop terbuka di meja hadapannya. Mendengar langkah seseorang yang tergopoh itu, atensi si pria teralihkan padanya.
"Ada apa?" tanya si pria, suaranya terdengar berat dan tegas.
"Tu-tuan...!" lelaki paruh baya itu berhenti di bawah tangga teras, napasnya terengah-engah. "Tuan Sakha... ada yang pingsan di ladang!" serunya susah payah.
Berbanding terbalik dengan kepanikan lelaki itu, ekspresi di wajah Sakha justru tidak berubah. Sakha melipat layar laptopnya dengan hati-hati, kemudian berdiri dan mendekati salah satu pekerjanya itu.
"Di mana dia?" tanya Sakha.
Lelaki itu buru-buru menunjukkan jalan menuju ladang yang dia maksud.
Sakha mengikutinya di belakang. Saat mereka sampai di ladang, terik sinar matahari semakin terasa menyengat. Di tengah ladang yang ditumbuhi jagung itu, berkumpul beberapa orang yang juga merupakan pekerja tani yang bekerja di ladang Sakha, mereka tampak mengerumuni sesuatu.
"Hei, minggir-minggir! Ini Tuan Sakha sudah saya panggilkan," seru lelaki yang tadi melapor.
Lantas semua pasang mata tertuju pada Sakha yang berjalan mendekat, beberapa mata menatapnya terkejut.
"Pak Ji! Kenapa manggil Tuan Sakha? Kamu ini, merepotkan saja! Tau ini siang bolong begini!" omel Inah, memukul pelan bahu Parji, lelaki itu masih ngos-ngosan, sibuk mengatur napasnya.
"Habisnya... kasihan Ririn. Daripada membiarkannya di sini, panas-panasan, yang ada keadaannya malah makin memburuk, lebih baik kita panggil Tuan Sakha. Lagipula itu sudah menjadi salah satu tanggung jawabnya untuk memastikan kesehatan dan keselamatan pekerjanya," Parji membalas ucapan Inah dengan suara pelan.
Tepat setelah itu, Sakha sampai di dekat mereka dan langsung menatap ke bawah, ke seorang perempuan yang dibaringkan di atas tikar lusuh, cahaya matahari menerpanya, wajahnya pucat dan berkeringat deras, keningnya berkerut-kerut seperti seseorang yang kesakitan.
"Bagaimana ini, Tuan? Rumahnya lumayan jauh dari sini, kita ndak tahu bagaimana harus membawanya pulang," kata Parji.
Tanpa pikir panjang, Sakha menjawab, "Biar saya yang bawa dia."
Jawaban itulah yang para pekerjanya tunggu, jelas terlihat dari kelegaan di wajah mereka sesaat setelah Sakha mengatakan demikian.
Sakha berjongkok, menatap wajah perempuan itu untuk beberapa saat. Dia tampak lusuh sekali, pikir Sakha. Bajunya itu dulu pasti berwarna putih, tapi sekarang sudah cokelat dan ujungnya sedikit sobek. Dari lipatan pakaiannya, Sakha menduga dia mengenakan beberapa lapis pakaian. Wajah perempuan itu juga kotor karena debu dan pucat.
Sakha menduga alasannya sampai pingsan begini adalah karena dehidrasi. Tanpa menunggu lebih lama, Sakha pun mengangkat tubuh wanita itu ke dalam gendongannya, dia sedikit terkejut karena ringannya tubuh itu, Sakha tidak menduganya karena tubuh perempuan itu tampak berisi.
"Saya akan membawanya ke rumah, kalian lanjutkan saja pekerjaan kalian," kata Sakha.
"Baik, Tuan."
"Ya, Tuan."
"Terima kasih, Tuan."
Sakha mengangguk, kemudian berbalik dan melangkah pergi.
Bekerja di tengah siang bolong seperti ini memang selalu berat, tapi Sakha sudah mengatur semua waktu dan dia tidak ingin terik matahari menjadi penghalang, dia bahkan memberikan upah lebih kepada para pekerjanya yang bekerja pada siang hari.
Saat sampai di rumah peristirahatan yang tersembunyi di kebun dengan pepohonan rindang, Sakha baru menyadari bahwa tubuh perempuan di dalam gendongannya terasa panas sekali, padahal cahaya matahari sudah tidak terlalu mengenai mereka karena daun di pepohonan.
Sakha masuk ke dalam rumah, membaringkan perempuan itu ke ranjang di salah satu kamar yang terdapat di sana. Kamar itu tidak pernah terpakai, kecuali kamar di sebelahnya yang biasanya Sakha gunakan untuk tidur siang saat menunggui pekerja di ladang.
Sebenarnya, Sakha juga tidak tahu harus melakukan apa, jadi dia mengambil hapenya untuk menelepon seseorang.
"Galih, sepulang kamu membeli benih, langsung ke rumah peristirahatan. Bawa mobil," kata Sakha, setelah mendapatkan jawaban yang dia inginkan, Sakha mematikan hapenya lalu menatap perempuan itu. Sakha menyentuh dahi perempuan itu, terasa panas. Peluh terus saja mengalir di pelipisnya.
Sakha berpikir apa yang harus dia lakukan, kemudian perhatiannya tertuju pada pakaian lusuh yang perempuan itu kenakan. Sakha menyentuhnya pelan, sedikit jijik karena kotor, tapi Sakha mencoba untuk mengabaikannya kemudian membuka kemeja yang perempuan itu kenakan. Dan benar seperti dugaannya, perempuan itu mengenakan baju berlapis-lapis, yang mau tidak mau harus Sakha lepas sampai menyisakan kaus berwarna putih bersih yang telah basah oleh keringat.
Pantas saja ringan, tubuhnya kurus sekali, batin Sakha. Baju berlapis-lapis memang membuat tubuh si perempuan tampak lebih berisi.
Sakha kemudian mengambil handuk kecil, membasahinya dengan air dingin, lalu mengelap peluh di wajah perempuan itu.
Bulu mata yang panjang bergerak-gerak, kelopak mata terbuka, memperlihatkan manik mata hitam kelam yang langsung tertuju menatap mata Sakha. Sakha terhenyak sebentar, tangannya yang tadi bergerak langsung berhenti.
"Kamu pingsan, saya mencoba membantu kamu," kata Sakha, tapi sepertinya perempuan itu tidak mendengarnya. Saat Sakha hendak berucap lagi, mata perempuan itu kembali tertutup.
Sakha terdiam menatapnya, kemudian melepas handuk di tangannya dan mengambil lagi hapenya. Menelepon Galih, menyuruh bawahannya itu untuk cepat.
Tidak lama kemudian, Galih pun datang, betapa terkejutnya dia melihat bosnya berada di dalam kamar dengan seorang gadis berpenampilan lusuh dan kotor di ranjangnya.
"Bawa gadis ini pulang," Sakha berkata.
Galih mematung di ambang pintu, mulutnya terbuka.
Sakha mendelik tajam padanya. "Kamu mendengarku, Galih, bawa dia pergi."
"Apa yang sudah..."
"Dia pingsan di ladang jagung sehingga aku harus menggendongnya sampai sini."
Dengan penjelasan singkat itu, Galih pun mendekat, memandang wajah perempuan itu.
"Kamu mengenalnya?" tanya Sakha.
Galih mengangguk. "Dia anak Pak RT yang tukang hutang itu," jawab Galih. Sebenarnya Sakha tidak memerlukan jawaban yang seperti itu, tapi yang penting sekarang dia tahu kemana Galih harus membawa perempuan itu.
Sakha baru saja hendak ke luar, tapi kemudian dia teringat akan sesuatu. "Sejak kapan anak perempuan pria itu bekerja di ladangku?" tanyanya heran.
"Oh bukan, ini bukan si Mawar sama Melati, namanya kalau tidak salah Ririn."
Pantas saja, batin Sakha, dia tidak melihat perempuan lusuh ini saat terakhir kali dia berkunjung ke rumah Fahrul Jamal, Pak RT tukang hutang yang dibilang Galih itu. Karena setahu Sakha, Jamal hanya memiliki dua putri yang sangat cantik dan sering dijuluki sebagai kembang desa, siapa yang akan menduga bahwa gadis lusuh di hadapannya sekarang juga merupakan putri pria itu.
"Kamu sudah menyampaikan pesanku pada Pak RT itu, kan?"
"Sudah, Tuan, kemarin malam. Dia tampaknya agak syok, tapi juga tidak punya pilihan lain."
"Hm, baguslah."
"Ngh... Tuan."
"Apa?"
Galih tampak ragu-ragu. "Apakah... Tuan sudah membicarakan perihal akan menikah lagi dengan nyonya-nyonya di rumah?"
Karena pertanyaan Galih itu, Sakha menatapnya memicing. "Siapa yang menelepon kamu?"
"Nyonya Henia, Tuan," jawab Galih.
"Hm, sejak kapan kamu jadi punya mulut ember begitu, Galih?"
"Bu-bukan saya yang kasih tau, Tuan! Nyonya Henia bilang dia dengar desas-desusnya saja dari warga desa yang suka begosip."
Sakha terdiam untuk beberapa saat, bergumam, "Seharusnya saya tidak membawa mereka kemari." Setelah mengucapkan itu, Sakha pun berlalu pergi.
*to be continued*
" จะเป็นหรือไม่ไม่สำคัญ ในเมื่อข้าลืมท่านไปแล้ว ข้าไม่อยากรื้อฟื้นอีก ว่ากันว่าคนเรามักจะเลือกลืมความทรงจำที่เจ็บปวด แสดงว่าข้ากับท่านคงมีเรื่องราวไม่ดีเกิดขึ้น ข้าถึงได้ลืมท่านที่เป็นสามี ในเมื่อข้าลืมท่านแล้วท่านก็ลืมข้าไปเถอะ"" ไม่ หลานเอ๋อข้าจะลืมเจ้าได้ยังไง ในชีวิตนี้ข้ารักเจ้าคนเดียว และมีเจ้าเป็นภรรยาของข้าแค่คนเดียวเท่านั้น"หว่านเอ๋อเดินเข้ามาพร้อมถ้วยน้ำแกงบำรุงนางมัวแต่ตุ๋นน้ำแกงอยู่ เลยปล่อยให้เมิ่งอันหลานอยู่คนเดียว ไม่รู้ว่าจางฮั่นแอบเข้ามาตอนไหน" หลานเอ๋อเขาทำอะไรเจ้ารึเปล่า นี่ท่านเข้ามาทำไม"" ทำไมถึงคิดว่าข้าจะทำอะไรนาง นางเป็นภรรยาของข้านะ"" คนอย่างท่านเชื่อถือไม่ได้หรอก ปากบอกว่ารัก แต่ทุกครั้งที่นางมีอันตรายท่านไม่เคยช่วยนางเลย ตรงกันข้ามกับไปอยู่กับหญิงอื่น"" ข้า ข้าไม่ได้ตั้งใจให้เป็นแบบนั้น หากย้อนเวลาได้ข้าจะไม่"" เวลามันย้อนคืนไม่ได้หรอก"หว่านเอ๋อพูดแทรก"หลานเอ๋อ เจ้าอยากให้ข้าเล่าเรื่องของเจ้ากับเขาไหม"เมิ่งอันหลานมองหน้าจางฮั่นก่อนจะพยักหน้า ตลอดการเล่าของหว่านเอ๋อจางฮั่นมองเมิ่งอันหลานตลอดเวลา นางมีสีหน้าเรียบเฉยไม่แสดงอารมณ์ความรู้สึกใดๆเขาเห็นแบ
ยามเซิน จางฮั่นกับเจียเหรินก็มาถึงบ้านพักบนยอดเขา มองดูสมุนไพรที่วางตากอยู่น่าจะใช่ที่นี่ไม่ผิดแน่ มีคนออกมาเลือกเก็บสมุนไพรที่ตากอยู่ใส่ตะกร้า เจียเหรินรีบเข้าไปถามทันที" รบกวนสอบถามหน่อย ที่นี่คือบ้านพักของหมอซูใช่หรือไม่"เชี่ยนฝูกับหม่าหยูมองหน้ากัน ก่อนที่หม่าหยูจะถามกลับ" ใช่ ท่านมาหาอาจารย์รึ "" เปล่าข้ามาหาหว่านเอ๋อ"" ส่วนข้ามาหาหลานเอ๋อ"" เชี่ยนฝู หม่าหยู ได้หรือยัง ทำไมออกมานานจัง"ได้ยินเสียงที่คุ้นเคยเจียเหรินรีบหันควับกลับไปดู แล้วก็ได้พบกับคนที่เขาคิดถึงอยู่ทุกวัน" หว่านเอ๋อ"หว่านเอ๋อขมวดคิ้วมองเจียเหริน เขามาที่นี่ได้ยังไง มองเลยไปข้างหลังยังมีจางฮั่นอีกคน นี่มันวันอะไรกันเนี่ย ทั้งห่าวตี้หลุนทั้งจางฮั่นถึงได้มาที่นี่พร้อมกัน นางถอนหายใจหนักๆ ห่าวตี้หลุนไม่เท่าไหร่เพราะเมิ่งอันหลานบอกว่าไม่ได้รักเขาแค่สงสาร ยังไงเรื่องของนางกับเขาก็จบแล้ว เป็นไปไม่ได้ที่จะเริ่มต้นใหม่ แต่จางฮั่น เมิ่งอันหลานรักเขาหากได้พบกันอีกครั้งไม่รู้ว่านางจะเป็นเช่นไรเชี่ยนฝูกับหม่าหยูถืออ่างน้ำแช่ว่านสมุนไพรเข้าไปวางลง เมิ่งอันหลานก็เอามือเอาเท้าลงแช่ " หือ พวกเจ้ามองข้าทำไมไม่ต้องกลัวข้า
เมิ่งอันหลานขมวดคิ้ว ชายผู้นี้ดูหน้าคุ้นๆแต่นางก็ไม่เคยรู้จักเขามาก่อน" ท่านพูดเพ้อเจ้ออะไร ข้าไม่เคยรู้จักท่านหว่านเอ๋อเราไปกันเถอะ"เมิ่งอันหลานจูงมือหว่านเอ๋อเดินออกมา แต่ห่าวตี้หลุนก็รีบมาขวางหน้า ยังคุกเข่าลง" หลานเอ๋อข้ารู้ว่าเจ้าโกรธข้าอยู่ แต่อย่าพูดแบบนี้เลย อย่าบอกว่าเราไม่รู้จักกัน อย่าบอกว่าเจ้าไม่รู้จักข้า เราเป็นสามีภรรยากันนะ"ภาพในหัวฉายขึ้นมา เป็นภาพที่นางใส่ชุดเจ้าสาวสีแดงทำพิธีกราบไหว้ฟ้าดิน มีชายตรงหน้าเป็นเจ้าบ่าว แต่แล้วภาพก็ตัดมาที่หย่งคัง นางสะบัดหัวไล่ความมึนงง" ไม่ ท่านไม่ใช่สามีข้า"" หลานเอ๋อ ข้าห่าวตี้หลุนเป็นสามีของเจ้า"" ไม่ ท่านไม่ใช่ อย่าเข้ามาใกล้ข้า"หย่งคังกับเมิ่งสิงโจวรีบเดินเข้ามา หย่งคังดึงเมิ่งอันหลานมาโอบกอด นางกอดซบเขาพูดเสียงออดอ้อน" สามี เขาทำให้ข้ากลัว"" ไม่ต้องกลัวข้าอยู่นี่ ข้าจะพาเจ้ากลับไปพัก"ห่าวตี้หลุนมองภาพที่ทั้งคู่กอดกัน นางเรียกชายคนนั้นว่าสามี นี่มันเรื่องอะไรกัน" เจ้า เจ้าเป็นใครปล่อยนางเดี๋ยวนี้นะ"หย่งคังจ้องหน้าห่าวตี้หลุนสายตาดุดัน ก่อนจะอุ้มเมิ่งอันหลานออกไป ห่าวตี้หลุนจะตามแต่ถูกเมิ่งสิงโจวขวางเอาไว้" ท่านคือห่าว
" สามี ข้าเจ็บ"เขาเดินเข้าไปลูบผมนางเบาๆ" วันนี้พอแค่นี้ก่อน พรุ่งนี้พวกข้าจะมานวดให้ศิษย์พี่ใหม่"พอเอามือเอาเท้าออกจากอ่างว่านยาสมุนไพร นางรู้สึกเบามือเบาเท้ามาก" เป็นอย่างไร"" ไม่เจ็บแล้ว"หย่งคังอุ้มนางขึ้นมาพาเดินกลับไปห้องพักเมิ่งสิงโจวจะตามแต่หว่านเอ๋อขวางเอาไว้"ข้ารู้ว่าเจ้าทั้งห่วงและหวงพี่สาวเจ้ามาก ข้าเองก็ห่วงนางเหมือนกัน แต่ตอนนี้ข้าอยากให้นางมีความสุข แม้ระยะเวลาสั้นๆ ไว้ให้นางหายดีก่อนถึงเวลานั้นค่อยบอกความจริงกับนางก็ยังไม่สาย"เมิ่งสิงโจวครุ่นคิดนัก เว่ยหลงมาตบไหล่"ข้าก็คิดเช่นเดียวกันกับแม่นางหว่าน เจ้าไม่เห็นรึว่าพี่สาวของเจ้าเวลาอยู่กับคุณชายของเรา นางดูยิ้มแย้มมีชีวิตชีวาแค่ไหนแต่ละวันเรียกหาแต่ สามี สามี"เมิ่งสิงโจวถอนหายใจ ตั้งแต่เมิ่งอันหลานฟื้นขึ้นมานางก็เอาแต่ติดหย่งคังแจ คำก็สามี สองคำก็สามี สามีกำมะลอหน่ะสิ ไหนบอกว่าความทรงจำของนางหยุดลงเมื่อสามปีก่อนไง ตอนนั้นนางมีอะไรก็ อาโจว อาโจว นางไม่เคยรู้จักพบเจอหย่งคังมาก่อน เขาไม่เข้าใจว่าพอนางฟื้นมา ทำไมถึงได้เข้าใจว่าหย่งคังเป็นสามีไปได้ ทำไมไม่คิดถึงห่าวตี้หลุนสามีคนแรกของนาง " คุณชายเรามาถึงแล้ว เขาที
เหิงกงกงหยิบเอาราชโองการออกมาประกาศ" จางฮั่นรับราชโองการ ด้วยองค์หญิงฉิงฮวามีความประพฤติผิดร้ายแรง ไม่เหมาะสมคู่ควรกับจางฮั่น หัวหน้าองครักษ์หน่วยอินทรีผู้อาจหาญและสง่างาม จึงขอยกเลิกราชโองการสมรสก่อนหน้า จบราชโองการ"" ขอบพระทัยฝ่าบาท ขอฝ่าบาททรงพระเจริญหมื่นๆปี"ฉิงฮวาส่ายหน้าทั้งน้ำตา นางรับไม่
" เจ้า พวกเจ้าโกหก ไม่จริงเพคะพวกมันใส่ร้ายหม่อมฉัน"" จนขนาดนี้แล้วเจ้ายังจะแก้ตัวอีกรึ"หยุนเสียงตะคอกเสียงดังจนฉิงฮวาสะดุ้งน้ำตาคลอ นางเชิดหน้าไม่ยอมรับผิดชี้ไปที่ต้าหวัง" เจ้า ข้าไม่เคยเห็นหน้าเจ้า ยิ่งไม่เคยพบกันเป็นการส่วนตัว แล้วจะมาว่าข้าสั่งให้เจ้าทำได้ยังไง"" จริงที่ท่านไม่ได้มาพบข้าเป็
" เฮ่อ ข้ารู้ว่าเจ้าเสียใจกับเรื่องที่เกิดขึ้น แต่จะทำยังไงได้ ในเมื่อทั้งพยานหลักฐานก็ชี้ชัดไปที่นางว่านางเป็นทำ เจ้าเองก็ยังสงสัยนางไม่ใช่รึ "" ใช่ ข้าสงสัยนาง ข้าไม่ยอมเชื่อใจนาง ไม่ควร ไม่ควรเลย ข้าเป็นสามีของนางแต่ไม่ยืนหยัดปกป้องนาง กลับไปเฝ้าองค์หญิงอำมหิตผู้นั้น แล้วปล่อยให้นางต้องถูกทรมาน
เมิ่งสิงโจวมองหน้าหย่งคัง" เจ้าไม่ต้องห่วง เรื่องนี้ฉิงฮวาทำผิด นางต้องได้รับโทษสาสม รวมกับครั้งก่อนที่นางก่อเรื่องให้คนไปลักพาตัวพี่สาวเจ้าไปทำร้ายด้วย"" แล้วฝ่าบาทกับฮองเฮาจะยอมหรือพะย่ะค่ะ"" เรื่องนี้ข้าจะจัดการเอง ฉิงฮวาเอาแต่ใจแล้วยังโหดเหี้ยม หากไม่ลงโทษนางภายภาคหน้าไม่รู้นางจะก่อเรื่องใหญ












Ulasan-ulasan