FAZER LOGINเพราะความซ่าชั่ววูบ! ‘เพลิง’ นักศึกษานุ่มหล่อสายซ่าดันแอบขโมยรถสปอร์ตหรูของคุณพ่อไปขับเล่น จนเกิดอุบัติเหตุพังยับเยินปาไปสามสิบล้านบาท! นอกจากจะถูกพี่ชายแท้ๆ ตบกบาลสั่งสอนจนหัวคลอนแล้ว ยังถูกครอบครัวลอยแพไร้ทางออก ทางรอดเดียวที่หลงเหลืออยู่คือการก้มหัวขอกู้เงินจากเพื่อนสนิทของพี่ชาย... ‘เจสสิก้า’ นักธุรกิจสาวพราวเสน่ห์ สายเปย์ เฉียบแหลม และไม่เคยขาดทุนให้ใคร! ในเมื่อน้องชายเพื่อนตกอับมาถึงที่ ประจวบเหมาะกับที่เธอถูกผู้ใหญ่กดดันให้แต่งงานทางธุรกิจ หญิงสาวจึงยื่นข้อเสนอสุดอุกอาจที่เด็กหนุ่มไม่อาจปฏิเสธ “มาแต่งงานเป็นสามีชั่วคราวให้พี่ แล้วพี่จะลดเงินต้นให้ แถมคิดดอกเบี้ยแบบเป็นกันเอง” จากเด็กหนุ่มมหาวิทยาลัยสุดซ่า ต้องกลายมาเป็น ‘สามีล้างหนี้’ ย้ายเข้ามาอยู่คอนโดหรู คอยรับคอยส่ง และสวมบทสามีสุดคลั่งรักตบตาคนทั้งโลก! แต่ใครจะไปคิดว่าพี่สาวเจ้าหนี้คนนี้จะชอบแกล้ง ยั่ว และต้อนเขาจนมุมอยู่ทุกวัน... หนี้เงินสามสิบล้านอาจจะมีวันจ่ายหมด... แต่หนี้หัวใจที่ถลำลึกไปแล้วนั้น ยิ่งจ่าย ก็ยิ่งทบต้นจนถอนตัวไม่ขึ้น!
Ver mais“Mas Rafli, aku ingin bicara,” ucapku sambil menatap punggungnya yang sibuk dengan telepon genggam.
Dia mendongak sekilas, lalu kembali menatap layar ponselnya. “Nanti saja, Farah. Aku sedang membalas pesan Karina.” Jantungku mencelos. Lagi-lagi, Karina. Aku mendekatinya, berdiri di depan sofa tempat dia duduk. "Apa yang dia mau sekarang?" tanyaku, mencoba terdengar tenang, meski dalam hatiku sudah berkecamuk. "Alia sedang demam. Dia butuh seseorang untuk membantunya mengantar Alia ke dokter," jawab Mas Rafli tanpa menatapku. Aku berusaha menahan amarah yang perlahan menggerogoti kesabaranku. “Dia tidak bisa menghubungi orang lain? Bukannya Karina punya keluarga atau teman lain selain kamu?” Mas Rafli menghela napas panjang, meletakkan ponselnya di meja. “Kamu tahu sendiri, Farah. Setelah Yudhi meninggal, Karina tidak punya siapa-siapa. Aku tidak bisa membiarkannya sendirian.” Nada suaranya seolah mengatakan bahwa aku ini tidak berperasaan, bahwa aku salah karena mempertanyakan perhatiannya pada sahabat lamanya itu. “Aku tahu Karina kehilangan suaminya, Mas. Aku juga tahu dia butuh dukungan. Tapi kamu sadar tidak, kamu selalu ada untuk dia dan hampir tidak pernah ada untuk aku? Aku ini istrimu,” suaraku bergetar, separuh karena marah, separuh karena ingin menangis. Mas Rafli menatapku, wajahnya sedikit mengerut. "Kamu ini kenapa sih? Bukannya aku juga selalu pulang ke rumah? Kamu masih punya aku, Farah. Karina hanya punya aku." Kata-katanya menghantamku lebih keras daripada pukulan fisik mana pun. Hanya punya aku. Aku yang berdiri di sini, yang berbagi tempat tidur dengannya, yang mengandung anaknya, tiba-tiba terasa seperti orang asing di hidupnya. “Kamu serius, Mas? Apa kamu lupa kalau aku juga sedang membutuhkanmu? Aku hamil, dan aku bahkan harus pergi ke pemeriksaan kehamilan sendiri karena kamu lebih memilih menemani Alia yang merupakan anak Karina.” Dia terlihat canggung sejenak, seolah berusaha mencari pembenaran. "Aku minta maaf soal itu, Farah. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan Alia merasa kehilangan sosok ayah. Dia masih kecil. Kamu harus mengerti." "Apa aku juga harus mengerti kalau aku ini prioritas terakhir bagimu? Karina dan Alia selalu lebih penting, Mas. Selalu.” Aku menunggu. Menunggu dia menyangkal, menunggu dia mengatakan aku salah, menunggu dia memelukku dan meyakinkanku bahwa aku salah paham. Tapi dia hanya diam. Diam yang menyakitkan. “Farah, aku tidak mau bertengkar. Karina butuh aku malam ini. Aku janji, aku akan bicara denganmu nanti.” Dia mengambil jaketnya dari sofa dan berjalan menuju pintu. “Kalau begitu, kapan aku butuh kamu, aku harus antre ya?” tanyaku dengan nada penuh luka. Langkahnya terhenti, tetapi dia tidak berbalik. “Aku akan pulang secepatnya.” Lalu pintu itu tertutup di belakangnya, meninggalkanku dalam kesunyian yang dingin. Aku duduk di meja makan, menatap makanan yang tidak tersentuh. Tanganku refleks mengusap perutku yang mulai membesar. “Kamu dengar itu, Nak? Sepertinya Ayahmu lebih peduli pada orang lain daripada kita.” Air mata jatuh tanpa bisa kutahan lagi. Aku tidak pernah merasa serendah ini sebelumnya. Karina. Nama itu seperti duri yang menusukku setiap kali disebut. Aku tahu Mas Rafli dan Karina sudah bersahabat sejak lama, bahkan sebelum aku hadir di hidupnya. Aku juga tahu mereka dekat, tapi kedekatan itu berubah menjadi ancaman bagiku setelah Yudhi meninggal. Satu bulan pertama, aku mencoba mengerti. Aku ikut mengantar Mas Rafli ke rumah duka, ikut memberi semangat pada Karina. Tapi perlahan, aku mulai merasa disingkirkan. Karina mulai sering menghubungi Mas Rafli untuk hal-hal kecil. Dari meminta diantar ke pasar, memperbaiki keran bocor, hingga sekadar menemani ngobrol. Dan Mas Rafli selalu ada untuknya. Selalu. Aku mengambil ponselku dan membuka galeri foto. Ada foto kami berdua dari satu tahun lalu, saat Mas Rafli masih penuh perhatian. Dia tersenyum lebar di foto itu, memelukku erat di sebuah taman bunga. Waktu itu, aku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Tapi sekarang? Aku merasa seperti orang asing dalam pernikahanku sendiri. * Suaraku tercekat ketika mendengar pintu depan terbuka. Langkah kaki Mas Rafli terdengar mendekat. Aku melirik jam dinding. Sudah hampir tengah malam. Dia masuk ke ruang tamu dan langsung menuju dapur tanpa melihatku. Aku menegakkan tubuhku, menunggu dia berbicara lebih dulu, tapi dia hanya mengambil segelas air dan duduk di kursi. "Alia baik-baik saja?" tanyaku akhirnya, dengan nada yang sengaja kutahan agar tidak terdengar sinis. Dia mengangguk sambil meminum airnya. “Alia sudah tidur. Dokter bilang itu hanya demam biasa.” Aku menunggu dia menanyakan bagaimana kabarku atau bayinya. Tapi tidak ada. Hanya hening. “Mas Rafli,” aku memecah kesunyian. “Kamu benar-benar tidak melihat ada yang salah dengan semua ini?” Dia mendongak. “Salah? Maksud kamu apa?” Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan diriku. “Kamu tidak sadar kalau selama ini kamu mengabaikan aku? Kamu tidak sadar kalau aku merasa sendirian dalam pernikahan ini?” Dia menghela napas berat, seperti orang yang lelah menghadapi omelan yang sama. “Farah, aku sudah bilang, Karina butuh bantuan. Dia itu sahabatku. Apa kamu mau aku meninggalkannya begitu saja?” “Bukan begitu, Mas Rafli! Aku tidak menyuruhmu meninggalkan Karina. Aku hanya ingin kamu berhenti memperlakukannya seperti prioritas utama dalam hidupmu. Aku istrimu, Mas. Aku juga berhak mendapatkan perhatianmu.” “Farah, kamu ini terlalu sensitif. Jangan terlalu dipikirkan. Kamu tahu aku sayang sama kamu.” “Sayang?” Aku tertawa pahit. “Kalau kamu benar-benar sayang, kenapa aku tidak merasa begitu? Kenapa aku selalu merasa seperti bayang-bayang di hidupmu?” Dia berdiri, wajahnya terlihat lelah. “Farah, aku capek. Aku harus bekerja, membantu Karina, dan sekarang menghadapi keluhanmu setiap hari. Aku butuh istirahat.” Kata-katanya membuat dadaku sesak. Aku berdiri, menahan air mata yang hampir tumpah. “Kalau kamu capek, Mas, aku juga capek. Tapi aku tidak pernah memilih untuk lari dari masalah. Aku menghadapi semuanya karena aku pikir kita akan menghadapi ini bersama. Tapi aku salah.” Aku melangkah menuju kamar, meninggalkannya di ruang tamu. Tapi sebelum aku masuk, aku berhenti di ambang pintu dan berbalik menatapnya. “Mas Rafli,” suaraku rendah namun tegas. “Kalau kamu terus seperti ini, kamu akan kehilangan aku.” Aku tidak menunggu responsnya. Aku masuk ke kamar dan mengunci pintu, membiarkan air mata yang kutahan akhirnya mengalir deras. Di luar, aku mendengar suara ponselnya berbunyi. Dan meskipun aku tidak bisa mendengar percakapannya, aku tahu pasti siapa yang menelepon. Aku terbangun beberapa jam kemudian karena mendengar suara langkah kaki. Pintu kamar terbuka perlahan, dan aku berpikir Mas Rafli akhirnya datang untuk meminta maaf. Tapi suara itu tidak berhenti di pintu kamar. Langkah kaki itu beranjak menuju pintu depan. Aku bangkit dari tempat tidur dan mengintip dari balik tirai jendela. Mas Rafli keluar dari rumah, naik ke mobil, dan pergi. Aku tidak tahu ke mana dia pergi di tengah malam seperti ini, tapi di dalam hatiku, aku tahu jawabannya. Dia pergi menemui Karina, batinku dengan hati teriris. * Bersambung... Terima kasih telah membaca ❤️ในมุมมองของคุณมณฑา การที่เพลิงทำตัวระยำตำบอน แอบไปติดต่อผู้หญิงอื่นและทิ้งลูกสาวเธอให้อับอายกลางงานสังคม มันไม่ใช่เรื่องแย่เสียทีเดียว... แต่มันคือ ‘โอกาสทอง’ต่างหาก! โอกาสที่เธอเฝ้ารอมานาน ในการกำจัดลูกเขยจอมปลอม ที่มีทั้งเบื้องหลังตระกูลเน่าเฟะและคอยเป็นตัวถ่วงความเจริญของลูกสาว ให้หลุดพ้นออกไปจากชีวิตของเจสสิก้าได้อย่างชอบธรรม โดยที่ตระกูลราเชลไม่ต้องเสียชื่อเสียงแม้แต่น้อย!คุณมณฑาหันกลับมามองลูกสาวที่กำลังยืนตัวสั่นด้วยความโกรธ มือเรียวของเจสสิก้ากำหมัดแน่นจนเส้นเลือดปูดโปน ผู้เป็นแม่จึงค่อย ๆ ยกมือขึ้นแตะไหล่ลูกสาวเบา ๆ แววตาทอประกายความเหี้ยมเกรียมและเด็ดเดี่ยวบรรยากาศภายในห้องรับรองส่วนตัวหลังเวทีงานแถลงข่าวคุกรุ่นไปด้วยความตึงเครียด ราวกับมีมวลอากาศร้อนระอุแผ่ซ่านอยู่รอบตัว หลังเหตุการณ์อับอายที่เฌอเบลล์จงใจทิ้งระเบิดลูกใหญ่ไว้ เจสสิก้าก็ปลีกตัวเดินเลี่ยงเข้ามาด้านใน ทว่ายังไม่ทันจะได้สงบสติอารมณ์ ผู้เป็นแม่อย่าง คุณมณฑาก็ก้าวตามเข้ามาติด ๆ ด้วยสีหน้าบึ้งตึงและแววตาที่เต็มไปด้วยความขัดเคืองใจ“แกเห็นหรือยังล่ะยัยเจส?!” คุณมณฑาเปิดฉากขึ้นทันที น้ำเสียงแข็งกร้าวและเต็มไปด้วยคว
สำหรับมณฑาแล้ว... ต่อให้เธอจะไม่ค่อยชอบขี้หน้าลูกเขยอย่างเพลิงสักเท่าไหร่ แต่ศักดิ์ศรีและความเหนือกว่าของตระกูลราเชล ไม่มีวันยอมให้เด็กกะโปโลอย่างเฌอเบลล์มาเหยียบย่ำศักดิ์ศรีตบหน้าลูกสาวตัวเองเด็ดขาด!“ขอบใจมากนะจ๊ะสำหรับคำอวยพร...แล้วก็... ขอบคุณเรื่องดอกไม้ด้วยนะจ๊ะ ถึงแม้ว่ารสนิยมบางอย่างมันจะดู พยายาม มากเกินไปหน่อยก็เถอะ” คุณมณฑายกมุมปากขึ้นเป็นรอยยิ้มที่ไปไม่ถึงดวงตา น้ำเสียงทุ้มเรียบแฝงความเย่อหยิ่งและคมกริบราวกับใบมีดอาบน้ำผึ้งมัทนาชะงักรอยยิ้มค้างทันที สีหน้าเริ่มเจื่อนลงเล็กน้อยเมื่อโดนพี่สาวสาดคำพูดแทงใจดำ แต่มณฑายังไม่ยอมหยุดแค่นั้น ผู้เป็นแม่หันไปโอบไหล่ลูกสาวสุดที่รัก พร้อมกับเชิดหน้าขึ้นเล็กน้อยเพื่อประกาศศักดาให้ทุกคนในบริเวณนั้นได้ยินชัด ๆ“แน่นอนอยู่แล้วล่ะจ๊ะมัทนา... ลูกสาวของพี่คนนี้ทั้งสวย ทั้งเก่ง ทั้งร่ำรวย และเพียบพร้อมไปด้วยความสามารถระดับท็อปของวงการ ผู้หญิงหน้าไหนในสังคมนี้ก็ไม่มีวันก้าวขึ้นมาเทียบเคียงหรือทาบรัศมีได้หรอก” มณฑาจงใจเน้นเสียงคำว่า 'ไม่มีวันเทียบได้' พร้อมกับกวาดสายตามองเฌอเบลล์ตั้งแต่หัวจรดเท้าด้วยหางตา“อีกอย่าง... คนเราน่ะนะ ถ้าพื้นฐานจิตใจ
แสงไฟแฟลชยังคงสาดส่องระยิบระยับ เสียงปรบมือแสดงความยินดีดังเกรียวกราวไปทั่วห้องจัดเลี้ยงหรูหรา เมื่อการแถลงข่าวเปิดตัวโครงการบ้านจัดสรรหมื่นล้านดำเนินมาถึงช่วงท้าย ทว่าท่ามกลางบรรยากาศชื่นมื่นนั้น... ร่างสูงของเพลิงที่ควรจะยืนเคียงข้างภรรยากลับหายลับไปจากสายตาอย่างกะทันหัน เจสสิก้าขมวดคิ้วมุ่นด้วยความแปลกใจ เธอกวาดสายตามองหาร่างของสามีในนามไปทั่วบริเวณ แต่ก็ไร้วี่แวว ไม่มีแม้แต่คำบอกกล่าวหรือเสียงกระซิบลาใด ๆ ทั้งสิ้น จู่ ๆ เขาก็เดินหายออกไปจากงานดื้อ ๆ ทิ้งให้เธอยืนรับหน้าแขกเหรื่อและสื่อมวลชนตามลำพังในจังหวะที่หญิงสาวกำลังยืนหน้าตึงด้วยความหงุดหงิด คุณมณฑาผู้เป็นแม่ก็ถือโอกาสเดินเข้ามาประชิดตัว สีหน้าของผู้เป็นแม่เต็มไปด้วยความไม่พอใจอย่างปิดไม่มิด ดวงตาคมกริบมองตามทิศทางที่เพลิงเพิ่งเดินหายออกไป“เห็นหรือยังยัยเจส? ผัวแกมันไว้ใจได้ที่ไหนล่ะ! ทำตัวลับ ๆ ล่อ ๆ เดี๋ยวดีเดี๋ยวร้าย นึกจะมาก็มา นึกจะหายหัวไปก็หายโดยไม่แม้แต่จะขออนุญาตแกสักคำ” คุณมณฑาเอ่ยเสียงต่ำลอดไรฟันด้วยความหมั่นไส้ระคนระแวงเจสสิก้าเม้มริมฝีปากแน่น ความรู้สึกหงุดหงิดในอกเริ่มทวีความรุนแรงขึ้น เมื่อนึกถึงท่าทีเย็นชาแ
“ก็งานมันบังคับนี่ครับ... ผมต้องทำหน้าที่สามีที่ดีให้สมกับเงินที่พี่จ้างมาหน่อย” เพลิงกระซับวงแขนที่โอบเอวเธอให้แน่นขึ้น ดวงตาคู่คมพราวระยับด้วยความกวนประสาทที่เธอไม่ได้เห็นมานานในจังหวะที่ทั้งคู่กำลังยืนยิ้มแย้มหยอกล้อกันอย่างแนบเนียนต่อหน้าสื่อ ร่างของ คุณมณฑา ผู้เป็นแม่ยายก็ก้าวเข้ามาประชิดตัวด้วยใบหน้าบึ้งตึง ดวงตาคมปลาบกวาดมองลูกเขยตัวดีตั้งแต่หัวจรดเท้าด้วยความหมั่นไส้ระคนชิงชังเป็นทุนเดิมอยู่แล้ว“ทำตัวเป็นปาท่องโก๋ติดกันแจเชียวนะ นายเพลิง! เจสสิก้ากล้าพานายมางานเปิดตัวยิ่งใหญ่แบบนี้ด้วยเหรอ... สร้างภาพเก่งนักนะแกน่ะ!” คุณมณฑาเอ่ยเสียงลอดไรฟันด้วยความไม่สบอารมณ์ พลางส่งค้อนวงใหญ่ให้เพลิงไม่ได้สะดุ้งสะเทือนกับคำเหน็บแนมนั้นเลยแม้แต่น้อย ชายหนุ่มกลับระบายยิ้มกว้าง แสร้งทำเป็นตีหน้าซื่อตาใสแล้วขยับเข้าไปคลอเคลียเจสสิก้าให้หนักข้อขึ้นไปอีกต่อหน้าแม่ยาย“โถ คุณแม่ครับ... จะให้ผมทำตัวห่างเหินกับภรรยาสุดที่รักได้ยังไงล่ะครับ ก็เจสสิก้าทั้งสวยทั้งเก่งขนาดนี้ ผมรักและหลงจนแทบจะถอนตัวไม่ขึ้นแล้วจริงไหมครับที่รัก?” พูดจบเพลิงก็หันไปส่งสายตาหวานเชื่อมใส่เจสสิก้า จนหญิงสาวถึงกับทำตัวไม่ถู
avaliações