เจียงเสวี่ยอิ๋งคนนี้ไม่เป็นแล้วสตรีเย่อหยิ่ง 80s

เจียงเสวี่ยอิ๋งคนนี้ไม่เป็นแล้วสตรีเย่อหยิ่ง 80s

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-02-10
Oleh:  sanvittayamOngoing
Bahasa: Thai
goodnovel12goodnovel
Belum ada penilaian
80Bab
2.3KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

พรลดาแม่ค้าขายอาหารออนไลน์ถูกคนรักโกงเงินไป แต่ยังดีที่อีกฝ่ายได้นำที่ดินบ้านสวนมาจำนองไว้ หญิงสาวจึงตัดสินใจที่จะม่เริ่มต้นใหม่ที่นี่ แต่เมื่อมาถึงกลับไม่เป็นอย่างที่คิด เพราะบ้านสวนแห่งนี้แทบจะเป็นที่รกร้างอยู่แล้ว แต่ความซวยไม่ได้มีแค่นี้ เมื่อคอแห้งอยากกินน้ำมะพร้าว ขณะที่กำลังสอยมะพร้าวอยู่นั้น กลับถูกลูกมะพร้าวตกใส่หัวจนเธอต้องเข้ามาอยู่ในร่างของ หญิงสาวที่ชื่อ เจียงเสวี่ยอิ๋ง ในยุค 80 เจียงเสวียอิ๋งเป็นคนที่เอาแต่ใจและเย่อหยิ่ง เธอมีแม่ที่คอบเลี้ยงดูและเอาใจใส่จนเกินไป ส่วนน้องสาวกลับกลายเป็นเด็กรับใช้ให้พี่สาว พอได้รับความทรงจำมา พรลดาแทบอยากจะตายอีกรอบ แต่ทำไม่ได้จึงต้องยอมรับชะตากรรม เมื่อมาอยู่ในร่างนี้แล้ว สิ่งแรกที่ต้องทำคือปรับตัวเองให้ได้ และต้องทำให้น้องสาวเลิกกลัว และครอบครัวกลัวมาเป็นครอบครัวอีกครั้ง และต่อมาเธอตั้งใจว่าจะทำการค้าโดยการขายอาหารเพื่อให้ครอบครัวมีกินมีใช้ และส่งน้องสาวเพียงคนเดียวให้เรียนต่ออย่างที่หวัง เจียงเสวี่ยหนิงคนใหม่จะทำได้อย่างที่ตั้งใจหรือไม่ ตามมาเอาใจช่วยเธอได้เลยค่ะ

Lihat lebih banyak

Bab 1

พรลดาแสนดวงซวย 1.1

"Bu, Alhamdulillah ini ada beras bisa untuk tambah-tambah kebutuhan ibu," ucapku seraya meletakkan dua kilo beras diatas meja dekat kompor. Didalam plastik itu juga ada gula satu kilo dan teh satu kotak.

Ibu membuka bungkusan plastik itu, seketika mukanya berubah masam, "kalau gak niat ngasih, lebih baik gak usah ngasih sekalian Tur, ini mah cuma cukup untuk makan sehari!" cela ibu seraya meletakan dengan kasar gula kedalam plastik.

"Mbok ya dicontoh adikmu Guruh, dia kalau ngasih ibu itu minimal satu karung, bukan yang lima kilo tapi yang dua puluh kilo. Belum lagi gula, teh, kopi, perlengkapan mandi juga gak ketinggalan. Udah gitu ninggalin uang lagi. Lah kamu? Jangankan uang, beras aja cuma dua kilo kamu kasih ke ibu, kok kayak ngasih makan ayam aja." sungut ibu.

Aku hanya diam, ada rasa nyeri dalam dadaku, memang nasibku tidak seberuntung Guruh, selepas lulus kuliah dia langsung diterima bekerja di perusahaan asing dengan gaji yang tinggi, sedangkan aku? Aku hanya lulusan SMA yang tak mempunyai pekerjaan tetap.

Dahlia--istriku hanya menatap sendu, tangannya masih sibuk dengan seabrek cucian piring. Dia adalah wanita paling sabar yang pernah aku temui. Dia selalu ringan tangan jika berada di rumah ibu, mencuci baju, cuci piring, bersih-bersih rumah dan banyak lagi. Ibu tidak akan tinggal diam jika melihat Dahlia duduk didepan televisi.

Berbeda dengan Fika--istri Guruh, wanita itu sama sekali tak pernah menyentuh pekerjaan apapun di rumah ibu. Sesekali jika aku lagi tidak mengerjakan apa-apa aku yang membantu Dahlia.

Kami memang tidak tinggal serumah dengan ibu, jarak rumah kami dengan rumah ibu sekitar satu jam perjalanan. Aku jarang berkunjung kerumah ibu, disamping aku tak mau melihat istriku dijadikan pembatu gratisan, sikap ibu yang membedakan dengan dua saudaraku yang lainnya yang membuatku enggan berkunjung.

Kalau tidak Dahlia yang merengek untuk jenguk ibu, mungkin setahun sekali aku berkunjung kesana.

"Istrimu juga itu disuruh kerja, biar gak enak-enakan dirumah, bantu-bantu suami kerja kan gak salah, orang Fika yang suaminya kerja bergaji besar saja masih sibuk kerja, gak nodong gaji suami melulu." sambung ibu tak kalah pedas.

"Dahlia juga kerja bu, tapi memang rezeki kami sudah ditakar sama Allh hanya segini," jawabku membela Dahlia.

Dahlia hanya diam sambil terus fokus dengan pekerjaannya. Sesekali wanita yang telah delapan tahun menemaniku menyeka sudut netranya.

Tak kutanggapi lagi ocehan ibu yang akan memanjang bagai kereta api jika aku terus menanggapinya.

"Setelah cuci piring kita langsung pulang," bisiku ditelinga Dahlia.

"Iya mas," jawabnya singkat.

"Biar mas cari Rhido dulu di lapangan." Kuusap kepala wanitku itu untuk sekedar memberinya penguatan.

Semenjak kepergian bapak, ibu menjadi tanggung jawab kami--anak-anaknya, selain menerima uang pensiun bapak, kami selalu membawakan keperluan ibu, bukan kami, tapi saudaraku lebih tepatnya, karena aku hanya membawa sekedarnya saja, itu menurut ibu, tetapi untuk kami jelas itu sudah cukup untuk disantap tiga atau empat hari. Saudaraku ada dua, Guruh--adik bungsuku dan mbak Tika--kakak tertua.

Bapak meninggal empat tahun yang lalu karena serangan jantung. Dulu ibu tidak sekasar sekarang, karena selalu diingatkan bapak ketika sudah membandingkan kami bertiga.

Mbak Tika mempunyai suami yang bekerja di perkebunan milik pemerintah, sementara mbak Tika sendiri membuka toko sembako dirumah.

Aku? Tak ada yang bisa dibanggakan dari diriku, aku bersyukur bisa bekerja di pabrik roti milik Pak Haji Mansur. Aku bekerja dari jam delapan pagi hingga jam empat sore. Sementara Dahlia menjadi guru honor di SD tempat kami tinggal.

Di lapangan, Rhido tengah asyik bermain layang-layang, peluhnya membajiri wajahnya yang putih. Kulitnya mewarisi ibunya, sedangkan mata elangnya mewarisi aku, bapaknya.

"Do, udah main layang-layangnya. Kita mau pulang!" seruku pada Rhido.

"Nanggung Pak, masih jam segini," teriaknya

"Ibumu nanti sore mau pengajian," sambungku.

Dengan kesal anak itu menggulung senar layang-layangnya yang masih terbang tinggj. Ridho sebenarnya betah tinggal disini, dulu dia sebagai cucu kesayangan ibu, ketika masih balita, namun seiring berjalannya waktu, ibu lebih menyayangi Sindi--anaknya Guruh. Sementara anak mbak Tika sudah sekolah SMA.

Walaupun kasih sayang ibu terhadap Rhido tak seperti dulu, tetapi anak yang mempunyai tinggi hampir setinggi ibunya itu tetap betah berlama-lama di rumah mbahnya.

Rhido termasuk anak yang tidak pernah memikirkan perkataan orang sampai kehati. Jika mbahnya mulai ngomel, maka dia akan main sampai sore.

Kadang aku yang tidak tega melihat Ridho yang dibedakan dengan cucu ibu yang lain. Waktu itu, ibu pulang dari pasar, kebetulan ada aku, Ridho dan Sindi dirumah ibu, tapi dengan teganya ibu hanya membelikan jajanan untuk Sindi. Sedangkan Ridho sama sekali tidak dibelikan.

"Ridho kan sudah besar, gak perlulah oleh-oleh kalau mbah dari pasar kan?" ucap ibu ketika memberikan jajanan pada Sindi, padalah tangannya sudah menengadah minta bagiannya.

Dengan berat hati, dia tarik kembali tangannya yang sudah terlanjur terulur, dan dia hanya menelan ludah melihat Sindi dengan lahapnya memakan jajanan tersebut.

"Mas Ridho mau?" tanya Sindi dengan mulut penuh makanan. Ridho hanya mengangguk.

"Ini untuk mas Ridho." Sindi mencuil makananya dan memberikan pada Ridho. Kemudian dengan sekali hap, makanan itu sudah habis didalam mulut Ridho.

Hatiku teriris melihat pemandangan itu, air mataku seperti hendak runtuh, namun kutahan dengan sekuat tenaga.

"Mas, pulang yuk, udah mau hujan." Akhirnya kuajak pulang anak lelakiku itu. Terkadang aku memamgginya denga sebutan 'mas', karena dia anak pertama dan berharap bisa memberikan adik untuk Ridho.

Ridho menurut, dia naik keboncengan motor bututku.

"Insyaallah kalau Bapak gajian, Bapak belikan ya." Hiburku. Karena uangku memang tingal sepuluh ribu lagi didompet.

Tin ... Tin ... Suara sapaan dari mas Rahmat membuyarkan lamunanku.

"Tur, dari mana?" tanya mas Rahmat. Mas Rahmat adalah tetangga tidak jauh dari rumah ibu. Dia masih ada hubungan keluarga dari pihak bapak, tapi tidak terlalu dekat.

"Ini jemput Rhido, mas," jawabku, kemudian menghentikan laju motorku didekat motor mas Rahmat.

"Minggu depan anakku yang ketiga mau aqiqah, datang ya, ajak istrimu juga, kalau bisa sehari sebelum hari H, tadi aku kerumah ibumu, tapi kamu gak ada, Dahlia juga gak ada, gak apa-apa ya, aku ngomong disini." sambung mas Rahmat.

"Alah santai aja lho mas, gak apa-apa. Insyaallah kami datang."

Setelah ngobrol sebentar, aku pamit pulang. Sesampainya dirumah ibu, Dahlia sudah bersiap dengan tasnya yang sudah terlihat usang, semenjak menikah denganku, dia belum pernah membeli tas untuk pergi-pergi. Bukan tidak ingin membelikan, tetapi uang yang kami dapat dari bekerja hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan membayar cicilan.

"Sudah siap dek?" tanyaku pada Dahlia yang duduk di teras.

"Sudah mas."

"Aku pamit ibu dulu ya." Dahlia menggangguk.

Aku kebelakang untuk mencari keberadaan ibu. Wanita yang sudah mengiijak usaia 60 tahun itu tengah memanggil ayamnya.

"Ker ... Ker ... Ker."

"Bu Guntur pa ...." Kata-kataku terhenti ketika melihat ibu sedang memberi makan ayam dengan beras yang kubawa tadi.

****

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya
Tidak ada komentar
80 Bab
พรลดาแสนดวงซวย 1.1
พรลดาแสนดวงซวยที่ดินผืนหนึ่งกลางชนบทอันเงียบสงัด ไร้ร่องรอยของชีวิตชีวา ดินแห้งแข็งแตกระแหง แทบจะไม่มีพืชผลให้เห็นเลย เหมือนถูกละทิ้งผืนดินนี้จากเจ้าของคนเก่าต้นมะม่วงและมะพร้าวไม่กี่ต้น จากที่เคยยืนต้นเขียวขจีตอนนี้เหลือเพียงกิ่งก็านที่แห้งเหี่ยว แถมใบเหลืองกรอบยังร่วงหล่นเกลื่อนพื้นไปหมด บางต้นมีเปลือกไม้หลุดลอกเผยให้เห็นเนื้อไม้แห้งแตกระแหง ที่กำลังรอวันล้มลงอย่างโดดเดี่ยวใกล้กันนั้นมีบ่อปลาขนาดไม่ใหญ่มาก ขอบบ่อทรุดโทรมตะไคร่น้ำจับหนาแน่น ผืนน้ำขุ่นข้นไร้การเคลื่อนไหวท่ามกลางความรกร้างนั้น มีบ้านไม้หลังเล็กใต้ถุนสูงตั้งอยู่เงียบงัน ตัวบ้านสร้างด้วยไม้เก่าซึ่งผ่านกาลเวลามาอย่างยาวนาน หลังคามุงสังกะสีเก่าเป็นสนิมมีรอยรั่วให้เห็นชัด บางแผ่นงอแอ่นจากแรงลมและฝน ผนังไม้สีหม่นแตกร้าว บางจุดก็แยกออกจากกันจนเห็นแสงลอดผ่านได้ เสาบ้านแตกลายงา บันไดไม้ที่ดูเก่าแถมยังมีรอยผุพังให้เห็นอย่างชัดเจนความเงียบงันปกคลุมทั่วบริเวณ เสียงเดียวที่ได้ยินคือเสียงสายลมพัดผ่านกิ่งไม้แห้งไหว สะท้อนให้เห็นความอ้างว้างของที่ดินผืนนี้ ที่ไม่มีใครเหลียวแล!!หญิงสาวขับรถเข้ามาในพื้นที่บ้านด้วยสีหน้าที่บอกไม่ถ
Baca selengkapnya
พรลดาแสนดวงซวย 1.2
สายตาของเด็กน้อยมองสำรวจพี่สาวที่ยืนอยู่ตรงหน้าอย่างไม่วางตา ก่อนจะเอ่ยถามขึ้นมาว่า “พี่มาจากในเมืองเหรอครับ ทำไมผมไม่คุ้นหน้าเลยล่ะ”“อ้อ...พี่มาจากรุงเทพฯ น่ะ” พรลดาตอบกลับด้วยรอยยิ้ม ไม่แปลกหรอกที่เด็กคนนี้จะไม่คุ้นหน้าเธอ จากนั้นจึงพูดประโยคต่อมาว่า “แล้วมีใครที่พี่สามารถติดต่อได้บ้างไหม พวกลูกหลานยายเปี่ยงน่ะ”เด็กชายทำท่าทางครุ่นคิดอยู่พักหนึ่ง ก่อนจะตอบออกมา“ยายเปี่ยงแกมีหลานชายอยู่คนหนึ่งน่ะครับ ชื่อพี่ธาดา แต่ว่าเขาไม่กลับมาที่นี่เลยตั้งแต่ตอนที่ยายเปี่ยงตายน่ะครับ เห็นว่าย้ายไปอยู่กรุงเทพฯ นี่แหละ”“อ้อ...” พรลดาพยักหน้าเข้าใจ เพราะหลานยายเปี่ยงที่เด็กคนนี้พูดถึงคือคนรักของเธอเอง ตอนนี้เหมือนฝ่ายนั้นจะหายสาบสูญไปแล้ว แม้ว่าสัญญาณมือถือจะติดต่อได้แต่ไม่มีคนรับสายก็ตามเมื่อเห็นท่าทางพี่สาวคนสวยตรงหน้า คราวนี้เป็นเด็กชายที่ถามบ้าง “แล้วพี่มาหายายเปี่ยงทำไมเหรอครับ”“อ๋อ..พอดีว่าพี่เป็นคนที่ซื้อที่ดินผืนนี้จากหลานชายของยายเปี่ยงน่ะ แล้วกำลังจะย้ายมาอยู่ที่นี่”สีหน้าของเด็กชายดูเหมือนจะดีใจขึ้นมา เมื่อเห็นว่ามีพี่สาวย้ายมาอยู่ใกล้ ๆ กัน จึงพูดออกไปด้วยรอยยิ้ม “ยินดีต้อนรับครับ
Baca selengkapnya
ความฝันที่แปลกประหลาด 1.1
ความฝันที่แปลกประหลาดหลังจากได้ทำความสะอาดห้องนอนเสร็จเรียบร้อยแล้ว จากนั้นจึงได้มาทำความสะอาดห้องโถงห้องโถงก็เป็นเพียงแค่ห้องที่ว่าง ซึ่งมันอยู่ติดกับห้องนอนก็เท่านั้น นั่นเพราะว่าบ้านหลังนี้ไม่ได้ใหญ่ จึงไม่มีพื้นที่ต้องให้ทำความสะอาดมากส่วนห้องน้ำก็อยู่นอกตัวบ้านไปทางด้านหลัง พอคิดถึงข้อนี้ขึ้นมาก็อดที่จะหวั่นใจไม่ได้ เพราะเธอไม่เคยอยู่บ้านแบบที่ห้องน้ำแยกออกจากตัวบ้านมาก่อน‘ออกจะน่ากลัวอยู่นะ’ หญิงสาวคิดในใจการทำความสะอาดห้องน้ำเป็นส่วนที่ยากที่สุด แต่พรลดาก็ตั้งใจทำจนสะอาด พอทำเสร็จหมดแล้วก็ไม่มีปัญหา จึงขึ้นมานั่งให้หายเหนื่อยบนบ้าน‘ทำความสะอาดหมดแล้ว บ้านน้อยหลังนี้น่าอยู่ขึ้นเยอะ’ หญิงสาวพูดกับตัวเองแล้วรู้สึกภูมิใจที่ทำความสะอาดบ้านหลังนี้เสร็จเรียบร้อย และทำให้น่าอยู่ยิ่งขึ้นขณะกำลังคิดอะไรเพลิน ๆ ก็มีเสียงเรียกดังขึ้น“พี่ลดาอยู่ไหมครับ” เสียงของฝุ่นดังขึ้นมาจากใต้ถุนบ้าน“อยู่จ้า ฝุ่นมีอะไรเหรอ” หญิงสาวตะโกนลงมาจากบนบ้านเช่นกัน“แม่ให้เอายากันยุงมาให้พี่น่ะครับ คิดว่าคืนนี้ยุงน่าจะมีเยอะ อีกอย่างก็ไม่แน่ใจว่าที่นี่มีมุ้งหรือเปล่า” เด็กชายตอบพลางเดินขึ้นบันไดมาด้วย จ
Baca selengkapnya
ความฝันที่แปลกประหลาด 1.2
“เอาที่ดินบ้าอะไรเนี่ยมาจำนองกับฉัน ไม่เห็นจะมีประโยชน์เลย! จะกินมะพร้าวลูกเดียวก็ยังยากเย็น!!”ขณะที่กำลังบ่นเหงื่อก็ซึมเต็มหน้า เธอเขวี้ยงไม้สอยทิ้งลงกับพื้นอย่างหงุดหงิดเมื่อสอยมะพร้าวไม่ได้เสียทีทันใดนั้น เสียง พลั่ก! ดังขึ้น พร้อมกับมะพร้าวลูกใหญ่ที่เธอพยายามสอยเมื่อครู่ร่วงลงมาพอดี หนำซ้ำดันกระแทกเข้ากลางศีรษะของพรลดาอย่างจัง จึงทำให้ร่างของหญิงสาวเซถลาถอยหลังไปหนึ่งก้าว ก่อนจะทรุดฮวบลงกับพื้นหญ้าพร้อมกับหมดสติใบหน้าของเธอสงบราวกับเข้าสู่นิทราอันแสนเงียบงัน ทิ้งไว้เพียงเสียงลมพัดแผ่วเบารอบกายหลังจากที่ทุกอย่างดับสนิท พรลดาก็ฝันถึงเรื่องราวของคนคนหนึ่ง เธอมีชื่อว่า เจียงเสวี๋ยวอิ๋ง เด็กสาววัยสิบเจ็ดที่เพิ่งเรียนจบชั้นมัธยมปลายมาอย่างทุลักทุเล เพราะว่าเธอนั้นเรียนอ่อนมาก และที่จบมาได้ส่วนหนึ่งก็เพราะเหล่าอาจารย์ช่วยถึงจะเรียนอ่อนอย่างไรแต่เพราะเธอเป็นคนที่สวยมาก หน้าตาน่ารักเหมือนตุ๊กตากระเบื้องเคลือบ ท่าทีหยิ่งยโสนั้นเสริมให้เธอดูเหมือนกับคุณหนูแสนเอาแต่ใจ ถึงแม้ว่าฐานะทางบ้านจะไม่ได้ร่ำรวยเลยก็ตามแต่เพราะเมื่อก่อนพ่อของเธอเป็นทหารที่พอมีตำแหน่ง เลยทำให้บ้านพอมีฐานะอยู่บ้าง
Baca selengkapnya
ฉันคือเจียงเสวี่ยอิ๋งเหรอเนี่ย 1.1
ฉันคือเจียงเสวี่ยอิ๋งเหรอเนี่ย“พะ พี่...ฟื้นแล้วเหรอคะ เป็นยังไงบ้าง” เจียงเสวี่ยหนิงเอ่ยถาม ทว่าเสียงของเธอดูจะตะกุกตะกักไม่น้อย คล้ายกับกลัวคนตรงหน้าเสียเหลือเกิน“เอ่อ...”พรลดากำลังจะเอ่ยปากพูด แต่ก็ต้องหยุดชะงักเมื่อใบหน้าของหญิงสาวตรงหน้าเหมือนกับคนในความฝันของเธอก่อนหน้านี้ไม่ผิดเพี้ยน“ฟะ...ฟื้นแล้ว หมายความว่ายังไง” เธอถามย้ำเพื่อความมั่นใจพอได้ยินอย่างนั้น เจียงเสวี่ยหนิงจึงพูดต่อด้วยน้ำเสียงแผ่วเบา “ฟื้นแล้วก็ดีค่ะ เดี๋ยวฉันเช็ดตัวให้นะคะ” เมื่อเห็นพี่สาวตื่นขึ้นมาเจียงเสวี่ยหนิงก็เหมือนหนูเห็นแมว เอาแต่ก็มหน้าไม่กล้าสบตา พอเธอเอ่ยถามก็ตอบเสียงเบาหวิวจนฟังไม่รู้เรื่อง และยังเข้ามาดูแลเธอตั้งแต่เอาน้ำใส่อ่างมาล้างหน้าให้ราวกับตัวเองเป็นคนรับใช้แค่ตื่นขึ้นมาแล้วพบว่าไม่ใช่บ้านตัวเอง พรลดารู้สึกแปลกใจมาก อีกทั้งยังพบกับน้องสาวที่อยู่ในฝันนั่น ตอนนี้คิดยังไงก็คิดไม่ออกว่านี่มันเกิดอะไรขึ้นกันแน่เมื่อเจียงเสวี่ยหนิงยกน้ำมาให้ พรลดาจึงตัดสินใจก็มมองหน้าตัวเองที่สะท้อนอยู่บนผิวน้ำในอ่างล้างหน้า ก่อนจะตกใจแทบสิ้นสติเพราะใบหน้าในอ่างนั้นเป็นใบหน้าอันแสนเยาว์วัยของสาวแรกรุ่น แล
Baca selengkapnya
ฉันคือเจียงเสวี่ยอิ๋งเหรอเนี่ย 1.2
และเมื่อนึกย้อนไปถึงความทรงจำที่พรั่งพรูเข้ามาในหัวก่อนหน้านี้ก็พอจะสรุปได้ว่า ครอบบครัวนี้คือบ้านตระกูลเจียง บิดาของเจียงเสวี่ยอิ๋งเป็นทหาร และได้สละชีวิตของตัวเองไปในสนามรบเมื่อสิบกว่าปีก่อนโดยทิ้งบ้านหลังนี้เอาไว้ให้ครอบครัวพร้อมกับเงินอีกจำนวนหนึ่ง ที่คาดว่าจะสามารถให้สามคนแม่ลูกใช้กันได้จนกว่าลูกสาวทั้งสองจะเรียนจบ ซึ่งตอนนี้เจียงเสวี่ยอิ๋งก็เรียนจบชั้นมัธยมปลายเป็นที่เรียบร้อยแล้ว จะเหลือก็แต่เจียงเสวี่ยหนิงผู้เป็นน้องสาวที่ยังคงอยู่ชั้นมัธยมต้นมารดาของเจียงเสวี๋ยอิ๋งเป็นหญิงวัยกลางคนอายุสามสิบแปดปีตอนนี้เธอทำงานอยู่ที่โรงงานเสื้อผ้า เงินเดือนก็ไม่ได้มากสักเท่าไร เพียงแค่พอเป็นค่าใช้จ่ายสำหรับใช้เดือนต่อเดือนเท่านั้น หากวันไหนที่เจียงเสวี่ยอิ๋งอยากซื้อของใช้เพิ่ม เธอก็จำเป็นต้องควักเงินเก็บออกมาให้ลูกสาวเมื่อเห็นว่าลูกสาวฟื้นขึ้นมาแล้ว เซี่ยเป่าเจิ้นก็รีบเข้ามาดูทันที สีหน้าท่าทางของเธอดูเป็นห่วงเป็นใยอย่างมาก การที่ลูกสาวคนโตเกิดอุบัติเหตุอย่างไม่คาดคิดแล้วสลบไปถึงหนึ่งวันหนึ่งคืนเต็ม ๆ ทำเอาหัวใจของคนเป็นแม่แทบแตกสลายแล้วพูดออกมาด้วยน้ำเสียงสั่นเครือ “เป็นยังไงบ้างลูก ยังเ
Baca selengkapnya
ยอมรับความจริง 1.1
ยอมรับความจริงเห็นว่าลูกสาวคนเล็กออกไปแล้ว เซี่ยเป่าเจิ้นจึงหันมาพูดกับลูกสาวคนโต “เสี่ยวอิ๋ง พักต่ออีกสักหน่อยก่อนนะ เดี๋ยวค่อยออกมากินข้าว แม่จะไปตามหมอมาดูอาการให้สักหน่อย เผื่อว่ายังมีอะไรร้ายแรง”“ไม่ต้องไปตามหมอหรอกค่ะแม่ ฉันไม่เป็นอะไรแล้วจริง ๆ” หญิงสาวยังคงยืนยันคำเดิม ตอนนี้เธอไม่มีอาการเจ็บป่วยหลงเหลือแล้ว“ถ้าอย่างนั้นก็พักผ่อนเถอะนะ แม่ไม่กวนแล้ว” เมื่อเห็นลูกสาวยืนยันว่าไม่เป็นอะไร จึงยิ้มให้ลูกสาวสุดที่รักอีกครั้ง ก่อนจะเดินออกจากห้องไปเมื่อเห็นว่าแม่ไปแล้ว จึงได้คิดถึงเรื่องราวทั้งหมดอีกครั้งหญิงสาวเข้าใจสถานการณ์ดีว่าที่เซี่ยเป่าเจิ้นไม่ชอบลูกสาวคนเล็ก นั่นก็เพราะว่าผิดหวังที่เจียงเสวี่ยหนิงเกิดมาเป็นผู้หญิง เพราะเธอและสามีหวังไว้ว่าลูกคนที่สองอยากให้เป็นผู้ชายอีกทั้งเจียงเสวี่ยหนิงตอนอยู่ในท้องยังตัวโตมาก เลยทำให้เซี่ยเป่าเจิ้นคลอดยากแถมยังตกเลือดจนตั้งท้องไม่ได้อีก จึงสร้างความเสียใจให้กับเธอและสามีเป็นอย่างมาก เนื่องจากเธอยังไม่มีลูกชายสืบสกุลเลยและที่สำคัญหลังจากนั้นไม่นาน สามีของเธอก็เสียชีวิตในสนามรบ ทำให้เซี่ยเป่าเจิ้นมองว่าลูกสาวคนเล็กเป็นตัวอัปมงคล เกิดม
Baca selengkapnya
ยอมรับความจริง 1.2
“นี่ลูกแม่เก่งจังเลย ขนาดไม่เคยทำอาหารยังรู้เลยว่าต้องใส่อะไรเพิ่ม อาหารถึงจะอร่อย” เซี่ยเป่าเจิ้นพูดออกมาอย่างภาคภูมิใจที่ลูกสาวคนโตรู้ว่าต้องใส่อะไรเพิ่มเพื่อให้รสชาติอาหารออกมาดีขึ้น ทว่าคนที่ภูมิใจยิ่งกว่าเห็นจะเป็นสาวน้อยที่นั่งอยู่ตรงข้าม เพราะตั้งแต่เกิดมาเธอเพิ่งเคยได้รับคำชมเป็นครั้งแรก และยิ่งเป็นคำชมจากพี่สาวด้วยแล้ว ยิ่งทำให้เธอมีสีหน้าที่ดีขึ้นมาไม่น้อย“เห็นไหมเสี่ยวหนิง หัดเรียนรู้จากพี่เขาเอาไว้บ้าง ต่อไปจะได้เก่งเหมือนพี่เขาอย่างไรล่ะ” เธอหันไปบอกกับลูกสาวคนเล็กอย่างภาคภูมิใจในตัวลูกสาวคนโต ครั้งนี้เลยไม่มีการดุด่าเหมือนที่ผ่านมาจากนั้นเซี่ยเป่าเจิ้นคอยเอาใจใส่ดูแลเจียงเสวี่ยอิ๋งอย่างใกล้ชิดไม่ต่างจากกำลังเลี้ยงลูกน้อยคนหนึ่ง ทั้งพยายามป้อนข้าวทั้ง ๆ ที่บอกไปแล้วว่ากินเองได้ แต่ว่าผู้เป็นแม่ก็ไม่ยอมเมื่อกินข้าวเสร็จแล้วยังปอกส้มให้กินอีก เจียงเสวี่ยอิ๋งรู้สึกว่ามันออกจะมากเกินไป มากจนน่าอึดอัด นั่นเพราะว่าชาติที่แล้วเธอเองก็เป็นหญิงแกร่งคนหนึ่ง ที่จากบ้านมาแล้วสู้ด้วยตัวเองตั้งแต่สมัยเรียนดังนั้นการที่มีคนดูแลถึงขนาดนี้หญิงสาวเลยมองว่ามันก็แปลกอยู่มาก“พอแล้วค่ะแม
Baca selengkapnya
ยังคงอยู่ที่เดิม 1.1
ยังคงอยู่ที่เดิมเช้าวันใหม่เริ่มต้นขึ้นแล้ว แต่เจียงเสวี่ยอิ๋งยังคงนอนนิ่งอยู่ใต้ผ้าห่มบนเตียง เสียงไก่ขันจากบ้านของเพื่อนบ้านดังแทรกเข้ามาผ่านหน้าต่างไม้ ทว่าร่างกายของเธอยังไม่ยอมขยับ มือน้อยยังกำผ้าห่มไว้อย่างแน่นหนาหญิงสาวตื่นแล้ว!! แต่ยังคงหลับตาอยู่ พร้อมกับรอฟังเสียงต่าง ๆ ในใจนั้นคาดหวังว่าจะได้ยินจากโลกเดิมของเธอและพอได้ยินเสียงไก่ขัน ทำให้เธอจิตนการไปถึงบ้านไม้ของยายเปี่ยง หญิงสาวพยายามคิดว่าเสียงไก่พวกนี้อาจจะดังมาจากเล้าไก่ที่บ้านของฝุ่น หวังว่าเมื่อตื่นขึ้นมาก็จะได้พบว่าตอนนี้เธอนอนอยู่ในบ้านสวนหลังน้อยหลังนั้นอีกครั้ง และได้กลับคืนสู่ชีวิตปกติเสียทีแต่แล้วโชคกลับไม่เข้าข้างเธอเลยแม้แต่น้อย เพราะว่าเมื่อลืมตาขึ้นมา สิ่งแรกที่เห็นก็คือบ้านอิฐหลังเดิมของครอบครัวเจียง!!“เฮ้อ...จะมีทางไหนที่สามารถกลับไปได้บ้างละเนี่ย” หญิงสาวถอนหายใจออกมาอย่างเหนื่อยหน่ายที่เธอตื่นขึ้นมาก็ยังอยู่บ้านเจียงอีกครั้งเมื่อพยายามคิดหาหนทางอยู่หลายครั้งในที่สุดแล้วเธอก็ต้องยอมรับว่าหลุดเข้ามาอยู่ในประเทศจีนยุค 80 เหมือนเดิมขณะที่กำลังตบตีกับความคิดของตนเองอยู่นั้น เสียงประตูดังขึ้นสองสามครั้ง
Baca selengkapnya
ยังคงอยู่ที่เดิม 1.2
หลังจากบ่นชุดใหญ่ หญิงสาวก็ค่อย ๆ เพ่งมองเข้าไปที่ลูกมะพร้าวกลางฝ่ามือ จากนั้นก็รู้สึกเหมือนมีพลังงานอะไรบางอย่างดูดเธอให้เข้าไปในลูกมะพร้าวนั่นฉับพลันเธอก็มาโผล่ที่บ้านไม้หลังเก่าของยายเปี่ยง ที่ที่เธออยู่ก่อนหน้านี้อย่างไรล่ะ“จริงหรือเปล่าเนี่ย ให้ตายสิ!” เจียงเสวี่ยอิ๋งร้องออกมาอย่างดีใจ ในที่สุดเธอก็หาทางกลับมาที่นี่ได้แล้วจากนั้นก็ไม่รอช้า หญิงสาวรีบวิ่งไปที่รถของตัวเองทันทีนั่นเพราะว่าตั้งใจจะขับกลับกรุงเทพฯ ให้เร็วที่สุดทว่าเมื่อเธอไปถึงรถ แล้วเห็นเงาตัวเองสะท้อนในกระจกก็พบว่าเงานั้นเป็นหน้าตาของเจียงเสวี่ยอิ๋งไม่ใช่พรลดา จึงเข้าใจได้ว่า ที่นี่คือมิติที่เธอถามหาไม่ใช่การกลับไปมายังยุคปัจจุบัน!!“นี่คือมิติสินะ ไม่ใช่ฉันได้กลับมาบ้านยุคปัจจุบัน แต่อย่างไรก็ต้องลองดู เผื่อฉันจะกลับไปได้”เจียงเสวี่ยอิ๋งพูดขึ้นกับตัวเองพร้อมกับยกมือขวาขึ้นมา แล้วมองไปที่ลูกมะพร้าวอีกครั้ง เพื่อความมั่นใจหญิงสาวจึงนึกถึงบ้านเจียง พอลืมตาขึ้นมาก็กลับมานั่งบนเตียงในห้องนอนเหมือนเดิมหญิงสาวอุตส่าห์ดีใจคิดว่าตนเองจะได้กลับไปยังโลกเดิม สุดท้ายแล้วก็เป็นเพียงแค่มิติเท่านั้น ตอนนี้จึงเข้าใจแล้วว่า ไม
Baca selengkapnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status